Nama Pedius terutama dikaitkan dengan lex Pedia, undang-undang yang menyediakan dasar bagi penuntutan orang-orang yang dituduh terlibat dalam pembunuhan Caesar. Pengadilan berdasarkan undang-undang tersebut berakhir dengan penghukuman para terdakwa secara in absentia, termasuk Marcus Junius Brutus dan Gaius Cassius Longinus.[3][4]
Setelah Oktavianus meninggalkan Roma untuk berunding dengan Markus Antonius dan Marcus Aemilius Lepidus, Pedius ditinggalkan untuk mengurus kota. Ia meninggal pada akhir 43 SM, tidak lama setelah kabar mengenai persekutuan para calon triumvir dan daftar pertama orang-orang yang akan dihukum tiba di Roma.[5]
Keluarga dan asal-usul
Quintus Pedius berasal dari gens Pedia, keluarga plebeius yang tidak termasuk keluarga politik terbesar Republik. Fasti Triumphales menyebutnya sebagai Q. Pedius M. f., yaitu Quintus Pedius putra Marcus. Hal tersebut mendukung identifikasi ayahnya sebagai seorang Marcus Pedius yang kemungkinan berasal dari kalangan equites.[6][1]
Ibunya bernama Julia dan merupakan anggota keluarga Caesar. Hubungan tepat Pedius dengan Julius Caesar telah diperdebatkan karena sumber kuno tidak sepenuhnya selaras.
Suetonius menyebut Oktavianus, Lucius Pinarius, dan Pedius sebagai cucu laki-laki dari saudari-saudari Caesar ketika menjelaskan surat wasiat sang diktator. Namun, sejumlah kajian prosopografi modern menilai Pedius lebih mungkin merupakan putra Julia, saudari Caesar, sehingga ia adalah keponakan Caesar dan bukan cucu-keponakannya.[7][8][1]
Tahun kelahirannya tidak diketahui. Perkiraan sekitar 92 SM kadang digunakan dalam karya modern, tetapi tidak didukung oleh catatan kelahiran kuno yang pasti.[3]
Karier awal
Perang Galia
Pedius pertama kali tercatat dalam karya Caesar mengenai Perang Galia. Pada 57 SM, Caesar membentuk dua legiun baru di Galia Cisalpina dan memerintahkan Pedius, yang disebut sebagai legatusnya, untuk membawa legiun tersebut ke Galia lebih jauh.[9]
Penugasan itu menunjukkan bahwa Pedius telah memperoleh kepercayaan Caesar dalam tahap awal kampanye. Seorang legatus dapat diberi tanggung jawab memimpin pasukan, menjaga komunikasi, mengatur perekrutan, atau menjalankan tugas administratif atas nama gubernur.
Berdasarkan rekonstruksi magistratur Republik oleh T. Robert S. Broughton, Pedius kemungkinan bertugas di Galia antara 58 dan 56 SM.[2]
Pencalonan sebagai aedilis
Pada 55 SM, Pedius mencalonkan diri untuk jabatan aedilis, tetapi tidak terpilih. Kekalahan dalam pemilihan tidak menghentikan kariernya dan ia tetap berada dalam lingkungan politik Caesar.[10]
Tidak banyak informasi mengenai kegiatan Pedius antara berakhirnya penugasan awalnya di Galia dan pecahnya perang saudara pada 49 SM.
Perang Saudara Caesar
Dukungan kepada Caesar
Ketika perang pecah antara Caesar dan koalisi senator yang dipimpin Pompeius Magnus, Pedius berpihak kepada Caesar. Oxford Classical Dictionary menempatkannya sebagai pendukung Caesar sejak 49 SM.[1]
Pada 48 SM, Pedius menjadi praetor. Dalam tahun yang sama ia dikirim dengan sebuah legiun untuk menghadapi pemberontakan anti-Caesar yang dipimpin Marcus Caelius Rufus dan Titus Annius Milo di Italia selatan.[2]
Milo berusaha menghimpun kekuatan di daerah sekitar Compsa, tetapi terbunuh dalam pertempuran. Caelius kemudian juga tewas ketika mencoba meneruskan pemberontakan. Peran Pedius dalam operasi ini memperlihatkan bahwa pemerintahan Caesar mempercayainya untuk menekan gangguan di Italia ketika perang utama masih berlangsung.
Komando di Hispania
Pada 46 SM, Pedius dan Quintus Fabius Maximus memimpin pasukan Caesar di Hispania untuk menghadapi sisa-sisa kubu Pompeian. Pihak lawan memperoleh dukungan dari putra-putra Pompeius, terutama Gnaeus Pompeius dan Sextus Pompeius.[1][2]
Komando awal para legatus Caesar tidak berhasil mengakhiri perlawanan. Caesar kemudian datang sendiri ke Hispania dan memimpin kampanye yang berakhir dengan kemenangan dalam Pertempuran Munda pada 17 Maret 45 SM.
Pedius tetap terlibat dalam operasi sesudah Munda. Ia menghadapi pasukan Sextus Pompeius dan membantu mengamankan wilayah setelah pasukan utama Pompeian dikalahkan.
Triumf tahun 45 SM
Pedius kembali ke Roma dan memperoleh hak menyelenggarakan triumf atas Hispania. Fasti Triumphales mencatat:
Q. Pedius M. f., proconsul, ex Hispania, Idibus Decembribus.
Catatan itu menempatkan triumf Pedius pada 13 Desember 45 SM dan menyebutnya sebagai prokonsul yang kembali dari Hispania.[6]
Pemberian triumf tersebut tidak biasa karena Pedius pada dasarnya bertugas sebagai legatus Caesar dan bukan panglima independen dengan kemenangan strategis yang sepenuhnya miliknya. Cassius Dio mengkritik pemberian kehormatan serupa kepada bawahan Caesar sebagai penyimpangan dari kebiasaan lama.[11]
Triumf Pedius tetap penting sebagai bukti kedudukannya dalam lingkaran Caesar. Plinius Tua kemudian mengenangnya sebagai seorang mantan konsul dan penerima triumf.[12]
Surat wasiat Caesar
Caesar dibunuh pada 15 Maret 44 SM. Surat wasiatnya menetapkan Oktavianus sebagai penerima tiga perempat harta dan anak angkatnya. Lucius Pinarius dan Quintus Pedius berbagi seperempat sisanya, sehingga masing-masing memperoleh seperdelapan.[7]
Appianus mencatat bahwa Pedius dan Pinarius semula berusaha melindungi hak mereka dan Oktavianus atas warisan Caesar ketika berbagai gugatan diajukan terhadap harta tersebut. Keduanya kemudian menyerahkan bagian masing-masing kepada Oktavianus, yang membutuhkan sumber daya untuk membayar warisan kepada rakyat dan membangun kedudukan politiknya.[13]
Tindakan tersebut menghubungkan Pedius dengan kebangkitan awal Oktavianus. Namun, sumber yang masih bertahan tidak menjelaskan apakah penyerahan warisan terutama didorong hubungan keluarga, loyalitas politik, tekanan keadaan, atau gabungan ketiganya.
Konsulat tahun 43 SM
Krisis setelah Mutina
Pada awal 43 SM, Senat bekerja sama dengan Oktavianus untuk melawan Markus Antonius. Konsul biasa tahun itu, Aulus Hirtius dan Gaius Vibius Pansa Caetronianus, meninggal setelah pertempuran di sekitar Mutina.
Oktavianus kemudian menuntut jabatan konsul. Ketika tuntutannya tidak segera dipenuhi, ia bergerak menuju Roma dengan pasukannya. Pemilihan diselenggarakan dalam keadaan tekanan militer yang kuat.
Pada 19 Agustus 43 SM, Oktavianus dan Pedius dipilih sebagai konsul pengganti. Oktavianus baru berusia sekitar sembilan belas tahun dan memilih Pedius sebagai kolega yang lebih tua, berpengalaman, serta mempunyai hubungan keluarga dengan Caesar.[3][14]
Cassius Dio menggambarkan Pedius lebih sebagai bawahan Oktavianus daripada kolega yang setara. Penilaian tersebut mencerminkan dominasi kekuatan militer Oktavianus, tetapi Pedius tetap menjalankan fungsi hukum dan administratif penting selama masa jabatan singkatnya.[14]
Pengesahan adopsi Oktavianus
Salah satu langkah awal pemerintahan konsuler baru adalah memperkuat kedudukan Oktavianus sebagai anak angkat dan ahli waris Caesar.
Adopsi melalui surat wasiat telah diakui secara pribadi, tetapi Oktavianus menginginkan pengesahan melalui keputusan rakyat. Langkah tersebut mengukuhkan nama Gaius Julius Caesar dan kedudukannya dalam keluarga sang diktator.[4]
Lex Pedia
Isi dan tujuan
Atas prakarsa politik pemerintahan baru, Pedius mengajukan undang-undang yang kemudian dikenal sebagai lex Pedia. Undang-undang tersebut mengatur pengadilan terhadap orang-orang yang membunuh Caesar atau dianggap mengetahui serta membantu rencana pembunuhan.[3][4]
Dasar dakwaan yang tepat tidak sepenuhnya dinyatakan dalam sumber. Kathryn Welch menilai perkara tersebut mungkin dibingkai sebagai vis atau kekerasan publik, bukan sebagai suatu kejahatan khusus bernama “pembunuhan diktator”.[3]
Undang-undang ini membatalkan perlindungan politik yang sebelumnya dinikmati para pembunuh Caesar setelah kompromi dan amnesti Maret 44 SM.
Pengadilan para pembunuh Caesar
Appianus menyatakan bahwa satu hari diumumkan untuk pengadilan seluruh terdakwa. Tuduhan diajukan baik terhadap orang yang melakukan pembunuhan maupun orang yang dianggap mengetahuinya. Beberapa terdakwa bahkan tidak berada di Roma pada saat peristiwa terjadi.[4]
Para terdakwa tidak hadir dan semuanya dinyatakan bersalah. Putusan menyebabkan mereka dilarang memperoleh api dan air, suatu bentuk pengasingan sipil, dan harta mereka dapat disita.[3]
konspirator lain dan sejumlah orang yang dianggap membantu mereka.
Pengadilan tersebut bukan bagian yang sama dengan proskripsi Triumvirat Kedua. Lex Pedia merupakan proses pengadilan terhadap pembunuh Caesar, sedangkan proskripsi kemudian merupakan kebijakan politik yang jauh lebih luas dan memungkinkan pembunuhan serta penyitaan terhadap berbagai lawan para triumvir.[3]
Arti politik
Bagi Oktavianus, penuntutan para pembunuh Caesar membantu menunjukkan bahwa ia adalah pembalas yang sah dan pemimpin utama pihak Caesar. Pembentukan pengadilan juga menempatkan lawan-lawan utamanya di luar perlindungan hukum sebelum perang melawan Brutus dan Cassius.[3]
Nama Pedius melekat pada undang-undang karena ia menjadi pengusul resminya sebagai konsul. Namun, Appianus dan penulis modern menempatkan inisiatif politik utamanya pada Oktavianus.[4][3]
Rekonsiliasi dengan Antonius dan Lepidus
Setelah menyelesaikan urusan di Roma, Oktavianus bergerak ke Italia utara untuk berunding dengan Antonius dan Lepidus. Pedius ditinggalkan di Roma.
Pedius meyakinkan Senat agar tidak membuat permusuhan dengan Antonius dan Lepidus tidak dapat dipulihkan. Senat kemudian menyetujui pencabutan keputusan yang sebelumnya menyatakan keduanya sebagai musuh negara.[15][2]
Kebijakan ini membuka jalan bagi pertemuan Oktavianus, Antonius, dan Lepidus di dekat Bononia. Ketiganya kemudian membentuk Triumvirat Kedua, yang menerima kewenangan resmi melalui lex Titia pada November 43 SM.
Proskripsi dan kematian
Menurut narasi Appianus, kabar bahwa Oktavianus, Antonius, dan Lepidus sedang berdamai menimbulkan kecemasan di Roma. Masyarakat khawatir para pemimpin tersebut akan menyusun daftar musuh untuk dibunuh.
Pedius berusaha menenangkan penduduk. Ia menyampaikan bahwa hanya tujuh belas orang yang telah ditetapkan untuk dihukum dan menyatakan perlindungan kepada pihak lain. Appianus kemudian menyebut bahwa Pedius kelelahan akibat situasi tersebut dan meninggal pada malam berikutnya.[5]
Penyebab medis kematiannya tidak diketahui. Pernyataan bahwa ia meninggal karena kelelahan, kecemasan, atau tekanan politik berasal dari tradisi naratif kuno dan tidak dapat didiagnosis lebih lanjut.
Setelah kematiannya, para triumvir memasuki Roma secara terpisah dengan pasukan masing-masing. Proskripsi kemudian berkembang jauh melampaui daftar awal yang disebutkan Pedius.[5]
Pedius meninggal ketika masih menjabat konsul. Masa konsulatnya hanya berlangsung beberapa bulan, dari 19 Agustus sampai akhir 43 SM.
Kehidupan pribadi dan keturunan
Pedius menikah dengan seorang perempuan bernama Valeria. Ia berasal dari keluarga Valerii Messallae dan mempunyai hubungan dekat dengan orator serta negarawan Marcus Valerius Messalla Corvinus.[16]
Putra mereka biasanya diidentifikasi sebagai Quintus Pedius Poplicola. Ia kemungkinan menjadi senator dan dikenal sebagai orator. Horatius menyebut Pedius Poplicola bersama Corvinus ketika membahas pembelaan perkara dalam bahasa Latin.[17]
Plinius Tua mencatat bahwa mantan konsul Quintus Pedius mempunyai seorang cucu bernama sama yang tidak dapat berbicara sejak lahir. Atas anjuran Messalla Corvinus dan persetujuan Augustus, anak tersebut diberi pendidikan melukis dan menunjukkan kemajuan sebelum meninggal ketika masih muda.[12]
Penyebutan Plinius membantu menghubungkan konsul Pedius dengan Quintus Pedius sang pelukis. Namun, rincian setiap generasi dalam garis keluarga itu tidak seluruhnya dapat direkonstruksi dengan pasti.
Penilaian sejarah
Pedius jarang tampil sebagai tokoh yang sepenuhnya mandiri dalam sumber. Kariernya hampir selalu berkaitan dengan Caesar atau Oktavianus:
ia menjadi legatus Caesar di Galia;
ia membantu menekan pemberontakan selama perang saudara;
ia memimpin pasukan Caesar di Hispania;
ia memperoleh triumf melalui tatanan kehormatan Caesar;
ia menyerahkan bagian warisannya kepada Oktavianus;
ia menjadi kolega konsuler pilihan Oktavianus;
ia mengajukan undang-undang untuk menghukum pembunuh Caesar.
Ketergantungan tersebut tidak berarti Pedius tidak mempunyai kemampuan politik. Penugasannya dalam komando militer, pemeliharaan ketertiban di Italia, pengelolaan Roma, dan perundingan dengan Senat menunjukkan bahwa ia dianggap sebagai pejabat yang dapat dipercaya.
Peran historisnya yang paling bertahan adalah sebagai pengusul lex Pedia. Kajian modern menekankan bahwa undang-undang itu perlu dibedakan dari proskripsi berikutnya. Pengadilan berdasarkan lex Pedia merupakan tahap penting dalam perjuangan Oktavianus untuk mengambil alih kepemimpinan kubu Caesar dan mengubah pembalasan atas kematian Caesar menjadi tindakan hukum negara.[3]
Garis waktu
Tahun
Peristiwa
57 SM
Membawa dua legiun baru ke Galia atas perintah Caesar
55 SM
Gagal terpilih sebagai aedilis
49 SM
Mendukung Caesar dalam perang saudara
48 SM
Menjadi praetor dan membantu menekan pemberontakan Caelius serta Milo
46 SM
Memimpin pasukan Caesar di Hispania bersama Quintus Fabius Maximus
17 Maret 45 SM
Terlibat dalam kampanye yang mencapai puncaknya pada Pertempuran Munda
12345Broughton, T. Robert S. (1952). The Magistrates of the Roman Republic. Vol.2. New York: American Philological Association. hlm.273, 302, 309, 335–337, 599.
12345678910Welch, Kathryn (2014). "The lex Pedia of 43 BCE and its aftermath". Hermathena (196/197): 137–162. JSTOR26740133.
12345Appianus (1913). "95–96". The Civil Wars. Vol.3. Diterjemahkan oleh White, Horace. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press. Diakses tanggal 2026-08-03.
123Appianus (1913). "6–7". The Civil Wars. Vol.4. Diterjemahkan oleh White, Horace. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press. Diakses tanggal 2026-08-03.
12Suetonius (1914). "The Life of Julius Caesar, 83". The Lives of the Caesars. Vol.1. Diterjemahkan oleh Rolfe, J. C. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press. Diakses tanggal 2026-08-03.
↑Keaveney, Arthur; Madden, John (1988). "Lucius Pinarius, Quintus Pedius: Their Degrees of Kinship with Julius Caesar". Latomus. 47 (2): 354–357. JSTOR41540884.
↑Julius Caesar (1917). "2.2". The Gallic War. Diterjemahkan oleh Edwards, H. J. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press. Diakses tanggal 2026-08-03.
↑Pina Polo, Francisco (2012). "Veteres candidati: Losers in the elections in republican Rome". Dalam Marco Simón, Francisco (ed.). Vae Victis! Perdedores en el mundo antiguo. Barcelona: Universitat de Barcelona. hlm.63–82.
↑Cassius Dio (1916). "43.31". Roman History. Vol.6. Diterjemahkan oleh Cary, Earnest. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press. Diakses tanggal 2026-08-03.
12Plinius Tua (1952). "35.21". Natural History. Vol.9. Diterjemahkan oleh Rackham, H. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press. Diakses tanggal 2026-08-03.
↑Appianus (1913). "22–23". The Civil Wars. Vol.3. Diterjemahkan oleh White, Horace. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press. Diakses tanggal 2026-08-03.
12Cassius Dio (1917). "46.46–48". Roman History. Vol.6. Diterjemahkan oleh Cary, Earnest. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press. Diakses tanggal 2026-08-03.
↑Appianus (1913). "96". The Civil Wars. Vol.3. Diterjemahkan oleh White, Horace. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press. Diakses tanggal 2026-08-03.
↑Syme, Ronald (1989). The Augustan Aristocracy. Oxford: Clarendon Press. hlm.20, 206.
↑Horatius (1926). "Satires 1.10.28–30". Satires, Epistles and Ars Poetica. Diterjemahkan oleh Fairclough, H. Rushton. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press. Diakses tanggal 2026-08-03.
Sumber kuno
Appianus (1913). The Civil Wars. Diterjemahkan oleh White, Horace. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press.
Cassius Dio (1916). Roman History. Vol.6. Diterjemahkan oleh Cary, Earnest. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press.
Julius Caesar (1917). The Gallic War. Diterjemahkan oleh Edwards, H. J. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press.
Plinius Tua (1952). Natural History. Vol.9. Diterjemahkan oleh Rackham, H. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press.
Suetonius (1914). The Lives of the Caesars. Vol.1. Diterjemahkan oleh Rolfe, J. C. Cambridge, Massachusetts: Harvard University Press.
Bacaan lanjutan
Broughton, T. Robert S. (1952). The Magistrates of the Roman Republic. Vol.2. New York: American Philological Association.
Keaveney, Arthur; Madden, John (1988). "Lucius Pinarius, Quintus Pedius: Their Degrees of Kinship with Julius Caesar". Latomus. 47 (2): 354–357. JSTOR41540884.
Syme, Ronald (1989). The Augustan Aristocracy. Oxford: Clarendon Press.
Welch, Kathryn (2014). "The lex Pedia of 43 BCE and its aftermath". Hermathena (196/197): 137–162. JSTOR26740133.