Ia lahir pada tahun 1905 pada sebuah keluarga Tionghoa Peranakan yang merupakan bagian dari Cabang Atas.[3] Kakek buyutnya, Phoa Tjeng Tjoan, menjabat sebagai Kapitan Cina Buitenzorg (kini Bogor) mulai tahun 1866 hingga 1878. Jabatan tersebut pun memberinya otoritas politik dan hukum atas komunitas Cina di wilayah tersebut. Phoa mendapat gelar turunan 'Sia' sejak lahir, karena merupakan keturunan dari pejabat Cina. Phoa juga merupakan keponakan buyut dari Phoa Keng Hek Sia.[2][3]
Setelah kembali ke Bandung pada tahun 1927, Phoa bergabung ke firma hukum dari pengacara C.W. Wormser asal Belanda. Setahun kemudian, Phoa pindah ke Batavia untuk membuka firma hukumnya sendiri.[2][3]
Seperti kakek buyut dan paman buyutnya, Phoa lalu juga masuk ke dunia politik. Ia pun menjadi pemimpin dari faksi pemuda dari Chung Hwa Hui (CHH), sebuah partai politik kanan-tengah yang sering dianggap sebagai perwakilan dari komunitas Cina di Hindia Belanda.[4]
Phoa kemudian tidak setuju dengan sejumlah kebijakan dari pimpinan CHH, seperti H. H. Kan dan Loa Sek Hie. Phoa tidak setuju dengan simpati pro-Belanda yang ditunjukkan oleh pimpinan CHH, dan lebih menginginkan agar CHH bersikap netral dalam perjuangan Indonesia untuk meraih kemerdekaan. Phoa bahkan mengindikasikan keinginannya untuk mendukung nasionalisme Indonesia.[5] Setelah berkonflik secara terbuka dengan H. H. Kan pada tahun 1934 mengenai dominasi H. H. Kan di CHH, Phoa akhirnya mengundurkan diri dari CHH.[4]
Walaupun begitu, Phoa tetap aktif di dunia politik. Pada tanggal 8 Mei 1939, Phoa ditunjuk oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai anggota independen di Volksraad.[4][2][3]
Tidak berselang lama setelah pindah ke Batavia pada tahun 1928, Phoa juga aktif di dunia pers. Pada tahun 1930, ia mengakusisi koran harian Perniagaan, yang kemudian diubah namanya menjadi Siang Po.[2][3] Koran tersebut menjadi cikal bakal dari Siang Po Printing Press, yang kemudian mengakusisi dan membuat sejumlah publikasi lain.[8] Setahun kemudian, pada tahun 1931, Siang Po Printing Press membeli koran harian Panorama, yang didirikan oleh Kwee Tek Hoay.[9]
Setelah Phoa mengundurkan diri dari CHH pada tahun 1934, korannya makin simpatik dengan gerakan nasionalis Indonesia.[4][8] Dewan editorial dari Panorama pun meliputi sejumlah nasionalis terkemuka, seperti Sanusi Pane, Amir Sjarifuddin, dan Mohammad Yamin, dengan Liem Koen Hian menjabat sebagai kepala editor.[8] Liem, serta Saeroen, juga berkontribusi di Siang Po. Pada pertengahan tahun 1936, Liem, Pane, Sjarifuddin, dan Yamin mendirikan koran harian lain, yakni Kebangoenan, yang juga dicetak oleh Siang Po Printing Press.[10]
Phoa juga merupakan pemilik dari dua publikasi, yakni majalah Si Pao dan Kong Hwa Po, yang editorialnya juga diawasi oleh Liem.[2][8]
Kehidupan pribadi
Phoa menikahi Laura Charlotte Ongkiehong, anak dari pemilik koran asal Ambon, Ong Kie Hong dan cucu dari Njio Tek Liem, Letnan Cina Ambon. Bersama keluarganya, Phoa lalu pindah ke Swiss, di mana ia tinggal hingga meninggal.[2][3]
Karya terkenal
De rechtstoestand der Chineezen in Indonesië (dalam bahasa Belanda). Chung Hwa Hui Tsa Chih, jaargang V, October–November (1926): 56-60.[11]
Aliran-Aliran dalam Siahwee Tionghoa (Lezing dari Mr. Phoa Liong Gie dalem Pauze dari Soiree Musicale Chung Hwa Hui Afd. Batavia (dalam bahasa Melayu). Batavia: Drukkerij Siang Po (1932): no page number.[12]
De Economische Positie der Chineezen in Nederlandsch-Indië (dalam bahasa Belanda). Koloniale Studiën 5:6 (1936): 97–119.[13]