Presiden Amerika Serikat petahana adalah Donald Trump. Masa jabatannya akan selesai pada siang hari, 20 Januari 2029
Presiden dan wakil presiden Amerika Serikat dipilih melalui Dewan Elektoral, yang ditentukan oleh jumlah senator dan perwakilan dengan tambahan tiga perwakilan untuk Washington, D.C. Mayoritas 270 suara dibutuhkan untuk memenangkan pemilihan. Empat puluh delapan negara bagian menggunakan sistem pemenang mengambil semua (winner-take-all), di mana negara bagian memberikan semua suara elektoral mereka kepada pemenang suara populer. Di Maine dan Nebraska, dua suara dialokasikan kepada pemenang suara populer, sementara masing-masing distrik kongres memiliki satu suara. Suara elektoral disahkan oleh para elektor negara bagian pada bulan Desember dan oleh Kongres pada tanggal 6 Januari.[1] Calon presiden dipilih dalam pemilihan pendahuluan presiden, yang dilakukan melalui pemilihan pendahuluan yang diselenggarakan oleh pemerintah negara bagian atau kaukus yang diselenggarakan oleh partai-partai negara bagian yang mengikat delegasi konvensi kepada para kandidat.[2] Konvensi yang dimediasi terjadi ketika seorang kandidat tidak menerima mayoritas suara pada putaran pertama pemungutan suara,[3] atau ketika seorang calon menarik percalonannya.[4]
Hari pemilihan di Amerika Serikat diadakan pada hari Selasa pertama setelah hari Senin pertama di bulan November.[5] Pemilihan presiden 2028 akan berlangsung pada tanggal 7 November 2028.
Kelayakan
Konstitusi Amerika Serikat membatasi jabatan presiden hanya kepada individu yang berusia minimal tiga puluh lima tahun, telah menjadi penduduk Amerika Serikat selama minimal empat belas tahun, dan merupakan warga negara kelahiran asli.[6] Pasal tiga dari Amandemen Keempat Belas mencegah pejabat federal, negara bagian, dan militer yang masih menjabat maupun yang sudah pensiun untuk memegang jabatan—termasuk kepresidenan—jika mereka telah "terlibat dalam pemberontakan atau perlawanan" terhadap Amerika Serikat.[7] Seorang terpidana kejahatan dapat menjabat sebagai presiden.[8] Presiden petahana Donald Trump beserta mantan presiden Bill Clinton, George W. Bush dan Barack Obama tidak memenuhi syarat untuk dipilih kembali untuk masa jabatan ketiga, karena Amandemen Kedua Puluh Dua melarang siapa pun untuk dipilih sebagai presiden lebih dari dua kali.[9]
Peta elektoral
Peta dari Cook Partisan Voting Index menunjukkan level partisan setiap negara bagian Amerika Serikat. Negara bagian yang kompetitif ditandai dengan warna yang lebih terang.
Kebanyakan negara bagian di Amerika Serikat tidak kompetitif saat pemilihan presiden, lebih sering memilih berdasarkan partai karena demografi yang sudah lama berlangsung dan perbedaan ideologi. Di Kolese Elektoral Amerika Serikat, ini menyebabkan calon presiden untuk fokus bertarung di negara ayunan yang tidak memilih secara konsisten. Memenangkan salah satu negara bagian ini dapat mengubah tatanan politik selama pemilihan presiden dan negara-negara bagian tersebut sangat krusial untuk kemenangan salah satu calon. Pada 2028, negara-negara bagian yang kemungkinan akan memanas adalah negara-negara Sabuk Karat seperti Pennsylvania, Wisconsin dan Michigan, serta negara-negara Sabuk Matahari seperti Arizona, Nevada, Georgia dan Carolina Utara, semuanya memilih Trump dengan margin kecil pada pemilihan umum Presiden Amerika Serikat 2024.[10][11][12] Selain itu, ada kemungkinan bahwa beberapa negara bagian kubu Demokrat yang bisa saja menjadi negara ayunan seperti New Jersey[13][14] dan Minnesota[15] dimana Harris memenangkan negara bagian tersebut secara tipis, walaupun pada 2025 tren tersebut mulai menyurut balik melawan Trump.[16]
Mantan negara ayunan seperti Florida, Ohio dan Iowa tidak lagi dianggap sebagai kompetitif karena sejak 2016 mereka memilih calon dari Partai Republik, terutama Donald Trump. Mereka juga kerap memilih calon-calon Partai Republik untuk jabatan lain di tingkat federal dan daerah dengan margin yang semakin tinggi setiap pemilu dan dianggap sebagai negara bagian yang solid dengan Partai Republik.[17][18][19] Sebaliknya, Colorado, Virginia, New Hampshire dan New Mexico memilih calon-calon Demokrat dengan margin yang semakin tinggi setiap pemilu sejak 2008.[20] Karena catatan pemilu mereka yang memilih Demokrat bahkan saat kemenangan oleh Republik secara nasional, Distrik Kongres ke-2 Nebraska diberikan julukan "Titik Biru".[21][22]
Calon Presiden
Partai Republik
Menyatakan ketertarikan
Ron DeSantis
Ron DeSantis adalah Gubernur Florida ke-46 sejak 2019 dan sebelumnya pernah mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika Serikat pada 2024. Menurut Konstitusi Florida, DeSantis tidak boleh mencalonkan kembali untuk masa jabatan ketiga sebagai Gubernur. Ia menyatakan keterbukaan untuk mencalonkan diri kembali sebagai calon presiden dalam sebuah podcast dengan Sean Hannity pada Maret 2026.[23]Florida Phoenix mendeskripsikan pernyataan DeSantis sebagai "membiarkan pintunya terbuka" untuk potensi percalonan.[24]
Paul Paul digambarkan sebagai calon potensial pada akhir Mei oleh CNN, yang menyebutnya sebagai senator dengan "ambisi 2028", menguraikan kritiknya terhadap RUU One Big Beautiful Act Trump yang disampaikan di Iowa.[29] Dalam sebuah acara di Shepherdsville, Kentucky, pada Juli 2025, Paul menolak untuk mengesampingkan kemungkinan mencalonkan diri sebagai presiden, dan menyatakan keinginannya untuk memiliki seseorang dari Partai Republik yang mendukung perdagangan internasional.[30] Pada September 2025, Paul menyatakan minatnya untuk mencalonkan diri sebagai presiden pada tahun 2028 dalam beberapa wawancara.[31][32] Pada Desember 2025, Paul menyatakan bahwa ia tidak akan mendukung JD Vance jika Vance memutuskan untuk mencalonkan diri pada 2028.[33]
Marco Rubio
Marco Rubio adalah Sekretaris Luar Negeri Amerika Serikat dan mengabdi Senator dari Florida pada 2011 sampai 2025. Ia pernah mencalonkan diri sebagai calon presiden untuk Partai Republik Amerika Serikat pada pemilihan umum Presiden Amerika Serikat 2016 namun ia kalah melawan Donald Trump. Sepanjang sejarah kepresidenan Amerika Serikat, ada sebanyak enam mantan Sekretaris Luar Negeri yang dipilih menjadi presiden, dan Rubio menjadi salah satu kandidat kuat menurut CNN.[34] Pada Mei 2025, Presiden Trump menyatakan bahwa Rubio merupakan sosok yang kuat untuk menggantikannya.[35][36] Menurut The Wall Street Journal, Rubio berencana untuk mencalonkan diri dengan JD Vance sebagai calon wakil presiden,[37] namun kemudian dispekulasikan bahwa Rubio dan Vance akan saling melawan.[38] Sumber lain menyatakan bahwa Rubio akan mengakui JD Vance sebagai calon presiden yang kuat dan Rubio akan "membantu dengan sekuat tenaga sebagai wakil presiden".[39] Di pasar prediksi, banyak yang berspekulasi bahwa JD Vance menjadi calon terkuat menggantikan Donald Trump dibandingkan Rubio.[40] Menurut Vanity Fair, Rubio menyatakan bahwa ia tidak akan mencalonkan diri jika Vance maju sebagai calon presiden.[41] Menurut Politico, Rubio akan kemungkinan maju sebagai calon wakil presiden untuk Vance, dengan Donald Trump berulang kali menyatakan bahwa Vance dan Rubio dinamakan sebagai dua penerus politik Trump.[39]
JD Vance
JD Vance merupakan Wakil Presiden Amerika Serikat dibawah Donald Trump dan sebelumnya ia menjabat sebagai Senator dari Ohio dari 2023 sampai 2025. Pada Mei 2025, Trump menyebut Vance sebagai calon yang kuat untuk menggantikannya.[35][36] Menurut wawancara dengan NBC News, Vance menyatakan bahwa ia tidak merasa ia harus menjadi calon presiden utama pada 2028 dan menyatakan bahwa ia memiliki hubungan harmonis dengan Rubio.[42] Menurut beberapa komentator politik, Vance adalah sosok yang akan mengantikan Trump pada 2028.[38][43] Dalam wawancara pada November 2025, Vance mengaku bahwa ia sudah merenungkan keputusan untuk maju pada 2028 dan berencana akan berbicara dengan Trump setelah pemilihan pertengahan 2026, namun ia menyatakan bahwa ia akan fokus terhadap memenangkan pemilihan Kongres 2026 terlebih dahulu.[44] Pada awal 2026, pasar prediksi menspekulasikan bahwa Vance adalah calon yang terkuat untuk menggantikan Trump.[40][45]
Menolak
Beberapa tokoh ini menolak untuk maju sebagai calon presiden yakni:
Andy Beshear merupakan Gubernur Kentucky sejak 2019. Sebelumnya, ia masuk dalam daftar kandidat calon wakil presiden untuk pemilihan umum 2024.[55] Dalam wawancara dengan WDRB pada Mei 2025, Beshear mengatakan bahwa ia "akan mempertimbangkan" untuk mencalonkan diri sebagai presiden pada tahun 2028.[56] Ia juga menyebutkan keinginan untuk maju sebagai presiden di wawancara dengan Vanity Fair pada Juli,[57] wawancara dengan National Public Radio pada Oktober,[58] dan sebuah kunjungan ke New Hampshire pada akhir bulan.[59][60] Dalam sebuah profil di Politico pada Januari 2026, Beshear berpendapat bahwa statusnya sebagai "seseorang yang telah memenangkan tiga pemilihan tingkat negara bagian berturut-turut di negara bagian dengan dukungan Trump lebih dari 30%," menjadikannya kandidat yang paling berpeluang menang bagi Partai Demokrat.[61] Saat mengumumkan buku barunya pada Februari 2026, Beshear mengisyaratkan kemungkinan untuk mencalonkan diri sebagai presiden pada tahun 2028.[62][63]
Kamala Harris merupakan wakil presiden perempuan pertama di sejarah Amerika Serikat, mengabdi sebagai wakil presiden untuk Presiden Joe Biden dari 2021 sampai 2025. Ia menjadi calon presiden untuk Partai Demokrat pada pemilihan umum Presiden Amerika Serikat 2024 setelah Biden mundur, namun ia dikalahkan oleh Donald Trump.[68] Setelah pemilu 2024, Harris berencana untuk maju dalam pemilihan Gubernur California 2026 tapi pada Juli 2025 Harris memutuskan untuk tidak maju.[69][70] Dalam kunjungan ke Chicago sebagai bagian dari acara promosi bukunya yang berjudul 107 Days, Harris menyatakan ketidakpastiannya untuk kembali maju.[71] Ia kemudian diwawancara oleh Laura Kuenssberg dari BBC News pada Oktober 2025 menyatakan ia kemungkinan akan kembali maju menjadi calon presiden dengan berkata "saya belum selesai".[72] Pada Februari 2026, jajakan pendapat menghasilkan bahwa jika Harris akan kembali melawan Trump, maka Harris akan berkemungkinan menang.[73][74]
Gavin Newsom
Gavin Newsom adalah Gubernur California ke-40 sejak 2019. Newsom secara luas dipandang sebagai seorang calon kuat pada pemilihan umum 2028 menurut media-media besar seperti Reuters,[75] dan Associated Press.[76] Ia kerap dipandang sebagai salah satu calon pengganti Joe Biden setelah Biden mundur dari percalonannya pada September 2023.[77] Setelah tanggapan Newsom pada unjuk rasa di Los Angeles pada 2025, dilaporkan bahwa potensinya sebagai calon presiden meningkat dengan signifikan.[78][79] Suaranya semakin keras pada Agustus 2025 akibat Election Rigging Response Act dan Newsom sendiri mengejek Trump di media sosial.[80][81][82] Dalam sebuah interview di CBS News Sunday Morning, Newsom menyatakan bahwa ia akan mempertimbangkan untuk maju sebagai calon presiden setelah pemilihan umum Amerika Serikat 2026, berkata ia akan "mempertimbangkan dengan serius" dan menambahkan, "Ya, saya akan berbohong jika tidak".[83] Pada Desember 2025, Axios melaporkan bahwa rival-rival di Partai Demokrat menganggap Newsom sebagai "calon terkuat" dan "orang yang harus dikalahkan".[84] Ketika ditanya mengenai percalonan presidennya pada Februari 2026, Newsom menyatakan "Ini terlalu dini".[85] Newsom kemudian berkata kepada The Guardian bahwa "Jika orang lain tidak memiliki semangat, tujuan, dan misi yang sama, maka ya, saya bisa membayangkan diri saya mengisi kekosongan itu."[86] Newsom mengungkapkan kepada Dana Bash dari CNN dan Jonathan Martin dari Politico bahwa percalonannya akan tergantung dari doa restu istri dan keempat anaknya, walaupun salah satu putranya memintanya untuk tidak mencalonkan diri untuk sementara waktu.[87][88]
Dispekulasi oleh media massa
John Fetterman
John Fetterman adalah seorang senator AS dari Pennsylvania sejak 2023 dan sebelumnya mengabdi sebagai Wakil Gubernur Pennsylvania dari 2019 sampai 2023. Fetterman sering dianggap sebagai salah satu anggota paling moderat di Kaukus Demokrat Senat, terutama karena melintasi garis partai untuk mengkonfirmasi beberapa calon anggota Kabinet Trump, dukungannya yang konsisten terhadap negara Israel, dan keputusannya untuk memilih bersama Partai Republik Senat untuk mengakhiri pertikaian penutupan pemerintahan. Fetterman dilaporkan "membuka semua pintu" untuk tahun 2028, termasuk mencalonkan diri kembali sebagai Senator serta mencalonkan diri sebagai presiden.[89] Namun ketika ditanya mengenai percalonan sebagai presiden, Fetterman hanya menjawab, "Ini masih 2025".[90]
Jon Ossoff
Jon Ossoff telah menjabat sebagai senator AS dari Georgia sejak 2021. Setelah pidato-pidatonya pada Februari 2026 di mana Ossoff menyebut anggota kabinet Donald Trump yang kaya sebagai "kelas Epstein" dan menyebut Trump sebagai "presiden yang hancur secara spiritual," ia menjadi subjek spekulasi bahwa jika berhasil terpilih kembali pada tahun 2026, ia dapat menjadi kandidat presiden pada tahun 2028.[91][92][93]
JB Pritzker
J. B. Pritzker mengabdi sebagai Gubernur Illinois ke-43 sejak 2019 dan merupakan salah satu pejabat publik terkaya di Amerika Serikat dengan jumlah kekayaan mencapai $3.7 triliun.[94] Kekayaan tersebut digunakan untuk mendanai kampanye politiknya sendiri, dan juga inisiatif aborsi nasional.[95][96] Pritzker juga dianggap sebagai pasangan potensial untuk Kamala Harris pada 2024.[97] Menurut Capitol News Illinois,[98]The New York Times,[99] dan The Hill,[100] Pritzker merupakan calon kuat Partai Demokrat dan ia tidak menutup kemungkinan untuk mencalonkan diri.[101][102] Pada 2023, Pritzker menyangkal fakta bahwa ia telah berbicara dengan Anggota DPR AS Dean Phillips secara langsung untuk maju sebagai calon presiden dengan upaya melawan percalonan kembali Joe Biden.[103][104] Pritzker juga mengincar masa jabatan ketiga sebagai Gubernur Illinois pada 2026.[105]
Menolak
Beberapa tokoh ini menolak untuk maju sebagai calon presiden yakni:
Elissa Slotkin, Senator dari Michigan (2025–sekarang) dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat dari MI-07 (2019–2025)[112]
Tim Walz, Gubernur Minnesota ke-41 (2019–sekarang), anggota Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat dari MN-01 (2007–2019) dan mantan calon wakil presiden 2024[113][114]
Catatan
↑Afiliasi politik Sanders adalah independen, namun ia masuk ke fraksi Partai Demokrat di Senat.
↑Pioneer, Tom Lawrence Special to the Black Hills (2025-07-17). "Walz: I will not run in 2028". Black Hills Pioneer (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-03-01.