Porotta sering dijumpai sebagai makanan jalanan[9] maupun di restoran, dan juga disajikan pada pernikahan, festival keagamaan, serta jamuan. Roti ini dibuat dengan menguleni maida, telur (pada beberapa resep), minyak atau ghee, dan air. Adonan kemudian dipipihkan menjadi lapisan tipis, digulung membentuk spiral menjadi bola menggunakan lapisan-lapisan tipis tersebut. Bola adonan ini kemudian digiling hingga pipih, dipanggang di atas wajan, dan dipukul-pukul untuk menghasilkan lapisan berlapis yang renyah.[10][11]
Sejarah
Arkeolog dan antropolog kuliner Kurush F. Dalal menyatakan bahwa Malabar Porotta kemungkinan dibawa oleh pedagang Arab dari Asia Barat kuno. Ia menjelaskan bahwa "Kerala selalu memiliki hubungan perdagangan dengan Asia Barat sejak periode pra-Islam, sehingga roti ini kemungkinan dibawa oleh pelaut dan pedagang, lalu menjadi bagian dari cita rasa kuliner di Malabar Utara." Dalal juga menekankan bahwa meskipun porotta terbuat dari tepung halus, Kerala bukanlah wilayah penghasil gandum, sehingga asal-usulnya jelas berasal dari luar laut. Jurnalis kuliner Sonal Ved menambahkan bahwa Persia, Asia Tengah, dan Timur Tengah memiliki versi roti pipih berlapis masing-masing.[1][2][3]
Pedagang Muslim, dan kemudian pekerja migran dari India Selatan, diyakini turut menyebarkan popularitas porotta di Asia Tenggara, yang melahirkan varian seperti roti canai (diduga dinamai dari kota Chennai di Tamil Nadu), , dan varian lainnya. Pekerja kontrak dari India Britania juga memperkenalkan roti ini ke Karibia, di mana dikenal sebagai "buss-up-shut roti," merujuk pada cara roti dipukul setelah dimasak hingga lapisannya terbuka seperti 'baju sobek'. Varian lain menyebar ke Mauritius, Maladewa, dan Guyana dengan nama farata dan oil roti.[2][7][8]
Varian Ceylon Parotta diyakini berasal dari wilayah Jaffna yang berpenduduk Tamil di Sri Lanka. Pekerja migran dari sana yang bekerja di pelabuhan Tuticorin, India, memperkenalkannya ke pesisir Tamil Nadu. Di Tamil Nadu, varian lain yang populer antara lain coin parottas yang lebih kecil dan bulat, serta kothu parottas, yang dibuat dari sisa Parotta yang dicincang dan dicampur dengan rempah, telur, dan cabai.[4]