Kelas Raja Haji Fisabilillah, juga dikenal sebagai OPV 90M, adalah sebuah kelas kapal patroli lepas pantai Indonesia. Kelas ini dibuat oleh PT Noahtu Shipyard (yang sebelumnya dikenal sebagai PT Daya Radar Utama) di Bandar Lampung, Lampung. TNI Angkatan Laut sudah memesan tiga kapal dari kelasnya
Kapal kelas ini awalnya dirancang dengan panjang 90Â m (300Â ft) dan lebar 13,5Â m (44Â ft) untuk kapal pertama[2] dan panjang 60Â m (200Â ft) untuk kapal kedua.[3] Namun, selama konstruksi keduanya didesain ulang dengan panjang 98Â m (322Â ft) dan lebar 13,5Â m (44Â ft).[3][1] Kapal memiliki draft 4Â m (13Â ft) dan tinggi 6,5Â m (21Â ft).[4] Kelas ini memiliki berat perpindahan standar 1.800 ton berat perpindahan penuh 2.100 ton.[5] Kapal-kapal tersebut akan didukung oleh empat mesin diesel MAN 16V28/33STC yang menghasilkan 7.280Â kW (9.760Â shp),[3] dengan kecepatan tertinggi yang direncanakan 28 knot (52Â km/h), kecepatan jelajah 20 knot (37Â km/h), dan kecepatan ekonomis 15 knot (28Â km/h).[5] Kelas ini memiliki pelengkap 70 anggota awak dengan ketentuan untuk 24 personel tambahan.[3]
Berdasarkan sebuah video yang diunggah oleh galangan kapal pada tahun 2019, kapal-kapal ini akan dipersenjatai dengan satu meriam OTO Melara 76 mm, satu meriam Rheinmetall Oerlikon Millennium Gun 35 mm dan dua peluncur peluru kendali laras empat yang tidak diketahui jumlahnya.[2]Pada November 2022, Pemerintah Indonesia menandatangani kontrak untuk pemasangan peluru kendali Atmaca pada kapal-kapal tersebut.[6] Kelas ini juga mampu membawa sebuah helikopter dengan dek penerbangan dan fasilitas hanggar.[2]
Setelah peluncuran kedua kapal, TNI Angkatan Laut mengungkapkan bahwa kedua OPV tersebut akan dipersenjatai dengan meriam 76 mm dan 40 mm buatan Leonardo, meriam Orlikon KAA 20 mm didudukan SEINEL 20 RCWS buatan Escribano, rudal Atmaca buatan Roketsan dalam dudukan peluncur rudal laras empat, dan peluncur torpedo.[1]
Sensor dan sistem elektronik kapal yang direncanakan terdiri dari sistem manajemen tempur (CMS) HAVELSAN Advent, sistem penanggulangan elektronik radar Grup Elettronica dan umpan Terma A/S.[5][7][1]
Kontrak untuk kapal pertama diberikan pada 16 April 2020, dengan nilai kontrak Rp 1,079,100,000,000. Kontrak untuk kapal kedua diberikan pada 30 April 2020, dengan nilai kontrak Rp 1,085,090,000,000.[8] Konstruksi kedua kapal dimulai dengan pemotongan baja pertama pada 26 August 2021 di galangan kapal PT Noahtu Shipyard di Bandar Lampung, Lampung.[2][9]
Peletakan lunas kedua kapal dilakukan pada 6 November 2022.[10] Kedua kapal mengalami penundaan selama pembangunannya, yang menuai kritik. Meskipun kapal direncanakan akan diserahkan pada tahun 2023, proses pembangunannya baru mencapai 35% hingga Maret 2023.[8][11] Penundaan tersebut mungkin disebabkan oleh revisi desain kapal yang terjadi selama pembangunannya[3]
Kapal pemimpin dikelasnya, Raja Haji Fisabilillah, diluncurkan pada 18 September 2024.[12] Kapal kedua, Lukas Rumkorem, menyusul dua hari kemudian pada 20 September.[13] TNI Angkatan Laut berencana untuk mengoperasikan kedua kapal ke Komando Armada III di Indonesia timur.[1]
Dalam sebuah wawancara di Indo Defence 2024 yang diselenggarakan pada pertengahan bulan Juni 2025, Direktur dari galangan kapal Daya Radar Utama dan Batamec, Adi Susanto, menyatakan bahwa kapal ketiga sedang dalam proses konstruksi di Noahtu Shipyard di Batam, Kepulauan Riau. Pemotongan baja pertama untuk kapal ketiga dilakukan pada tanggal 7 Mei 2025. Ia juga mengatakan, TNI AL berencana memesan hingga 12 kapal kelas tersebut.[14]
Lunas OPV diletakkan di Batam pada tanggal 19 November 2025. Kapal tersebut direncanakan akan selesai pada tanggal 10 Agustus 2028.[15]