Higiene anal[1] merujuk pada praktik (pembersihan anal,[2] atau dalam bahasa sehari-hari cebok) yang dilakukan pada anus untuk menjaga higiene pribadi, biasanya segera atau tidak lama setelah defekasi. Pembersihan anal juga dapat terjadi saat mandi pancuran atau mandi. Pembersihan pascadefekasi jarang dibahas secara akademis,[2] sebagian karena tabu sosial yang melingkupinya. Tujuan ilmiah dari pembersihan pascadefekasi adalah untuk mencegah paparan terhadap patogen.[2]
Proses pembersihan pascadefekasi sering kali melibatkan pembasuhan anus dan bagian dalam bokong dengan air. Pembersihan berbasis air biasanya melibatkan penggunaan air mengalir dari wadah genggam dan tangan untuk membasuh, atau penggunaan air bertekanan melalui perangkat penyemprot, seperti bidet. Dalam kedua metode tersebut, sanitasi tangan setelahnya sangat penting[2] untuk mencapai tujuan utama pembersihan pascadefekasi. Namun, banyak orang sepanjang sejarah justru menyeka atau menggosok area tersebut, yang paling umum dalam sejarah modern menggunakan tisu toilet.
Sejarah
Instrumen pembersihan anal yang dikenal sebagai chūgi dari zaman Nara (710 hingga 784) di Jepang. Gulungan modern di latar belakang ditampilkan sebagai perbandingan ukuran.[1]
Orang Romawi kuno mungkin menggunakan tersoriumcode: la is deprecated (Yunani Kuno: xylospongiumcode: grc is deprecated ), yang terdiri dari spons pada tongkat kayu. Tongkat tersebut direndam dalam saluran air di depan toilet, dan kemudian dimasukkan melalui lubang yang dibuat di bagian depan toilet[4] untuk pembersihan anal.[5][6]Tersoriumcode: la is deprecated tersebut digunakan bersama oleh orang-orang yang menggunakan kakus umum. Untuk membersihkan spons tersebut, mereka mencucinya di dalam ember berisi air dan garam atau cuka. Namun, ini menjadi tempat berkembang biak bagi bakteri, yang menyebabkan penyebaran penyakit di kakus tersebut.[butuh rujukan]
Penggunaan tisu toilet pertama kali dimulai di Tiongkok kuno sekitar abad ke-2 SM.[1][7] Menurut Charlier (2012), dokter Prancis François Rabelais pernah berargumen mengenai ketidakefektifan tisu toilet pada abad ke-16.[1] Tisu toilet komersial pertama yang tersedia ditemukan oleh pengusaha Amerika Joseph Gayetty pada tahun 1857, seiring dengan fajar Revolusi Industri Kedua.[8]
Fasilitas pascadefekasi berkembang seiring peradaban manusia, demikian pula halnya dengan pembersihan pascadefekasi. Menurut Fernando,[9] terdapat bukti arkeologis penggunaan toilet di Sri Lanka abad pertengahan, mulai dari Kompleks Abhayagiri abad ke-6 di Anuradhapura; Biara Pamsukulika abad ke-10 di Ritigala, serta Baddhasimapasada dan kompleks rumah sakit Alahana Pirivena di Polonnaruwa; hingga toilet rumah sakit abad ke-12 di Mihintale.[butuh rujukan] Toilet-toilet ini ditemukan memiliki sistem perpipaan dan saluran pembuangan yang lengkap dengan instalasi pengolahan bertahap. Menurut Buddhisme, etika toilet (Wachchakutti Wattakkandaka dalam bahasa Pali) dirinci oleh Buddha sendiri dalam Tripitaka, koleksi ajaran Buddha yang paling awal.[butuh rujukan]
Metode umum
Membasuh
Di negara-negara yang memiliki tradisi budaya dominan Katolik,[10]Ortodoks Timur,[11]Hindu, Buddha,[12] atau Islam, air biasanya digunakan untuk pembersihan anal. Hal ini juga dipraktikkan dalam beberapa budaya Protestan, seperti di Finlandia.[13] Proses pembersihan biasanya dilakukan melalui perangkat bertekanan (misalnya, bidet atau pancuran bidet) atau wadah tak bertekanan (misalnya, lota atau aftabeh) bersamaan dengan tangan seseorang; banyak budaya menegaskan bahwa hanya tangan kiri yang boleh digunakan untuk tugas ini. Membasuh terkadang diikuti dengan pengeringan area yang telah dibersihkan menggunakan handuk kain.
Menyeka
Di beberapa bagian dunia berkembang dan di daerah lain di mana air mungkin tidak selalu dapat digunakan, seperti saat perjalanan berkemah, material seperti materi nabati (dedaunan), bola lumpur, salju, bonggol jagung, dan batu terkadang digunakan untuk pembersihan anal.[14][15] Ketersediaan sarana higienis untuk pembersihan anal di toilet atau tempat defekasi sangat penting bagi kesehatan masyarakat secara keseluruhan. Ketiadaan material yang layak di rumah tangga, dalam keadaan tertentu, dapat dikorelasikan dengan jumlah episode diare per rumah tangga.[16] Sejarah higiene anal, dari dunia Yunani-Romawi hingga Tiongkok kuno dan Jepang kuno, melibatkan penggunaan spons dan tongkat secara luas, serta air dan kertas.
Penyertaan fasilitas pembersihan anal sering kali terabaikan dalam desain toilet umum atau toilet bersama di negara-negara berkembang. Dalam sebagian besar kasus, material untuk pembersihan anal tidak tersedia di dalam fasilitas tersebut. Memastikan pembuangan material pembersihan anal yang aman sering kali terabaikan, yang dapat menyebabkan adanya puing-puing tidak higienis di dalam atau di sekitar toilet umum yang berkontribusi terhadap penyebaran penyakit.[17]
Penggunaan air di negara-negara Muslim sebagian disebabkan oleh etika toilet Islam yang menganjurkan pembasuhan setelah setiap kali buang air besar.[butuh rujukan] Terdapat ketentuan yang fleksibel ketika air langka: batu atau kertas dapat digunakan sebagai pengganti untuk pembersihan setelah buang air besar.[butuh rujukan]
Di Turki, semua toilet gaya Barat memiliki nozel kecil di bagian tengah belakang bibir toilet. Nozel ini disebut taharet musluÄŸu dan dikendalikan oleh keran kecil yang ditempatkan dalam jangkauan tangan di dekat toilet. Alat ini digunakan untuk membasahi tangan guna membasuh anus. Tisu toilet basah juga dapat digunakan. Setelah itu, anus dikeringkan dengan tisu toilet. Toilet jongkok di Turki tidak memiliki nozel jenis ini (sebagai gantinya, digunakan ember kecil berisi air dari keran yang mudah dijangkau atau pancuran bidet).[butuh rujukan]
Alternatif lain menyerupai pancuran miniatur dan dikenal sebagai "keran kesehatan", pancuran bidet, atau "pistol bokong" (bum gun). Alat ini umumnya ditemukan di sebelah kanan toilet di mana ia mudah dijangkau. Alat ini umum digunakan di Dunia Muslim. Di India, bejana lota sering digunakan untuk membersihkan diri dengan air, meskipun pancuran atau nozel umum ditemukan pada toilet baru.[butuh rujukan]
Pada awal 1990-an, Rizwan Sajan dan Anis Sajan yang berbasis di Dubai mendirikan perusahaan Danube Group dan mulai menjual pancuran bidet genggam yang disebut Shattaf. Alat ini segera menyebar luas di sebagian besar Dunia Arab dan Asia.[18]
Beberapa orang di Eropa dan Amerika menggunakan bidet untuk pembersihan anal dengan air. Bidet adalah perlengkapan kamar mandi yang umum di banyak negara Eropa Barat dan Eropa Selatan serta banyak negara Amerika Selatan,[22][23][24] sementara pancuran bidet lebih umum di Finlandia[25] dan Yunani. Ketersediaan bidet sangat bervariasi dalam kelompok negara ini. Terlebih lagi, bahkan di tempat bidet tersedia, alat ini mungkin memiliki kegunaan lain selain untuk membasuh anal. Di Italia, pemasangan bidet di setiap rumah tangga dan hotel menjadi wajib menurut hukum pada tanggal 5 Juli 1975.[23]
Sebuah toilet Jepang dengan bidet terintegrasi yang menyemprotkan air untuk pembersihan. Pancuran air digunakan untuk membasuh anus dan bokong setelah defekasi.
Di Jepang, INAX Sanitarina 61 (1967) adalah toilet bidet elektronik komersial pertama dengan fungsi semprotan air hangat dan pengeringan. Toilet bidet INAX Sanitarina F1 (1976) memperkenalkan dudukan toilet yang dipanaskan.[26] Antara tahun 1978 dan 1980, TOTO mengembangkan washlet pertama, Washlet G. Alat ini menampilkan fitur semprotan air hangat, dudukan yang dipanaskan, dan fungsi pengering.[27]
Pada tahun 1980, dudukan toilet "tanpa kertas" dipopulerkan di Jepang. Dudukan toilet semprot, yang umum dikenal dengan merek dagang Toto Washlet, biasanya merupakan kombinasi dari penghangat dudukan, bidet, dan pengering, yang dikendalikan oleh panel elektronik atau kendali jarak jauh di sebelah dudukan toilet. Sebuah nozel yang ditempatkan di bagian belakang mangkuk toilet mengarahkan pancuran air ke anus dan bertujuan untuk membersihkan. Banyak model memiliki fungsi "bidet" terpisah yang diarahkan ke depan untuk pembersihan vagina. Dudukan toilet semprot hanya umum pada toilet gaya Barat, dan tidak digabungkan dalam toilet jongkok gaya tradisional. Beberapa toilet bidet Jepang modern, terutama di hotel dan area publik, diberi label dengan piktogram untuk menghindari masalah bahasa, dan sebagian besar model yang lebih baru memiliki sensor yang akan menolak untuk mengaktifkan bidet kecuali seseorang sedang duduk di toilet.
Di negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Filipina,[29]Thailand, Brunei, Malaysia, dan Timor Leste,[30] kamar mandi rumah biasanya memiliki gayung plastik lebar berukuran sedang (disebut gayungcode: id is deprecated di Indonesia, tabocode: fil is deprecated di Filipina, ขันcode: th is deprecated (khancode: th is deprecated ) dalam bahasa Thai) atau cangkir besar, yang juga digunakan untuk mandi. Di Thailand, "bum gun" (semprotan bidet genggam) dapat ditemukan di mana-mana.[31] Beberapa keran kesehatan berupa set logam yang dipasang pada mangkuk kloset, dengan bukaan yang diarahkan ke anus. Toilet di tempat-tempat umum terutama menyediakan tisu toilet secara gratis atau melalui dispenser, meskipun gayung (sering kali berupa botol plastik yang dipotong atau kendi kecil) terkadang ditemui di beberapa tempat. Karena keragaman etnisnya, kamar kecil di Malaysia sering menampilkan kombinasi metode pembersihan anal di mana sebagian besar kamar kecil umum di kota-kota menawarkan tisu toilet serta bidet terintegrasi atau pancuran bidet genggam kecil (keran kesehatan) yang terhubung ke saluran air jika tidak ada bidet terintegrasi.
Di Vietnam, orang sering menggunakan pancuran bidet.[32][31] Alat ini biasanya tersedia baik di rumah tangga umum maupun tempat umum.
Di beberapa bagian dunia, terutama sebelum tisu toilet tersedia atau terjangkau, penggunaan koran, halaman buku telepon, atau produk kertas lainnya adalah hal yang umum. Di Amerika Utara, katalog Sears Roebuck yang didistribusikan secara luas juga merupakan pilihan populer hingga katalog tersebut mulai dicetak di atas kertas mengilap (pada saat itu beberapa orang menyurati perusahaan untuk mengeluh).[35][36] Dengan toilet siram, penggunaan koran sebagai tisu toilet kemungkinan besar akan menyebabkan penyumbatan.
Praktik ini berlanjut hingga hari ini di beberapa bagian Afrika; meskipun gulungan tisu toilet tersedia dengan mudah, harganya bisa cukup mahal, mendorong anggota masyarakat yang lebih miskin untuk menggunakan koran.
Orang yang menderita wasir mungkin merasa lebih sulit untuk menjaga kebersihan area anal hanya dengan menggunakan tisu toilet dan mungkin lebih memilih untuk membasuh dengan air juga.[37]
Meskipun menyeka dari depan ke belakang meminimalkan risiko kontaminasi uretra, arah menyeka bervariasi berdasarkan jenis kelamin, preferensi pribadi, dan budaya.[butuh rujukan]
Beberapa orang menyeka area anal mereka sambil berdiri sementara yang lain menyekanya sambil duduk.[38]
Metode dan bahan lain
Tisu basah dan tisu gel
Saat membersihkan bokong bayi ketika mengganti popok, tisu basah sering kali digunakan, dikombinasikan dengan air jika tersedia. Karena tisu basah diproduksi dari tekstil plastik berbahan poliester atau polipropilena, produk ini terkenal berdampak buruk bagi sistem saluran pembuangan limbah karena tidak terurai, meskipun industri tisu basah bersikeras bahwa produk mereka dapat terurai secara hayati namun tidak "boleh disiram" (flushable).[39][40][41]
Sebagai produk abad ke-21, busa, semprotan, dan gel khusus dapat dikombinasikan dengan tisu toilet kering sebagai alternatif pengganti tisu basah. Gel pelembap dapat diaplikasikan pada tisu toilet untuk higiene pribadi atau untuk mengurangi iritasi kulit akibat diare. Produk ini disebut tisu gel.[42]
Pra-seka
Produk pra-seka (pre-wipes) dan metode baru telah diungkapkan untuk membantu pembersihan kulit di area anal. Pra-seka tersebut mengandung formulasi anti-lengket dan disekakan melintasi area anal pengguna sebelum defekasi untuk memberikan lapisan tipis formulasi anti-lengket pada area tersebut. Lapisan ini mengurangi jumlah materi feses yang tertinggal di area anal setelah defekasi dan mengurangi upaya pembersihan yang diperlukan. Berkurangnya upaya pembersihan ini menghasilkan kulit yang lebih bersih dan lebih sehat.[43]
Bahan alami
Batu, dedaunan, bonggol jagung, dan bahan alami serupa juga dapat digunakan untuk pembersihan anal.[44]: 162 
↑Fernando, Wickramarachchige Sugath Rohitha. An Examination of the Relationship Between Acculturative Stress and Lack of Facilities for Use of Water for Post Defecation Cleansing Among Sinhala Sri Lankan Immigrants in Australia, Canada and United States of America. A Dissertation Presented to the Dissertation Committee of the College of Health Sciences of Trident University International in Partial Fulfillment of the Requirements for the Degree of Doctor of Philosophy in Health Sciences. By Wickramarachchige Sugath Rohitha Fernando. Cypress, California, 2016. https://www.researchgate.net/publication/338717444_Fernando_Final_dissertataion_2-6-2017_-_Copy_1
↑E. Clark, Mary (2006). Contemporary Biology: Concepts and Implications. University of Michigan Press. hlm. 613. ISBN 978-0-7216-2597-3. Douching is commonly practiced in Catholic countries. The bidet ... is still commonly found in France and other Catholic countries.
↑E. Clark, Mary (2006). Contemporary Biology: Concepts and Implications. University of Michigan Press. hlm. 633. ISBN 978-0-7216-2597-3.
↑Roberto Zapperi: Zu viel Moralismus macht den Körper schmutzig., in: FAZ, 24 aprile 2010.
↑E. Clark, Mary (2006). Contemporary Biology: Concepts and Implications. University of Michigan Press. ISBN 978-0-7216-2597-3.
↑E. Clark, Mary (2006). Contemporary Biology: Concepts and Implications. University of Michigan Press. hlm. 613. ISBN 978-0-7216-2597-3. Douching is commonly practiced in Catholic countries. The bidet ... is still commonly found in France and other Catholic countries.
↑Made in Naples. Come Napoli ha civilizzato l'Europa (e come continua a farlo)[Made in Naples. How Naples civilised Europe (And still does it)] (dalam bahasa Italia). Addictions-Magenes Editoriale. 2013. ISBN 978-88-6649-039-5.
↑US 2005244480,Koenig, David; Duane Krzysik& David Biggs,"Pre-wipes for improving anal cleansing",diterbitkan tanggal 2005-11-03, diberikan kepada Kimberly-Clark Worldwide Inc. , since abandoned.