Hepatitis B
Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. Informasi dalam artikel ini hanya boleh digunakan untuk penjelasan ilmiah; bukan untuk diagnosis diri dan tidak dapat menggantikan diagnosis medis. Wikipedia tidak memberikan konsultasi medis. Jika Anda perlu bantuan atau hendak berobat, berkonsultasilah dengan tenaga kesehatan profesional. |
| Hepatitis B | |
|---|---|
| Pembesaran mikroskop elektron dari virus hepatitis B | |
| Spesialisasi | Penyakit menular, gastroenterologi |
| Gejala | Tidak ada, warna kulit kekuningan, kelelahan, urin berwarna gelap, nyeri perut[1] |
| Komplikasi | Sirosis, kanker hati[2] |
| Awitan umum | Munculnya gejala-gejala dapat memerlukan waktu hingga enam bulan[1] |
| Durasi | Jangka pendek atau panjang[3] |
| Penyebab | Virus hepatitis B yang menyebar melalui beberapa cairan tubuh[1] |
| Faktor risiko | Penggunaan obat-obatan terlarang melalui suntikan intravena, hubungan seksual, cuci darah, tinggal bersama orang yang terinfeksi[4][5] |
| Metode diagnostik | Pemeriksaan darah[1] |
| Pencegahan | Vaksin hepatitis B[1] |
| Pengobatan | Obat antivirus (tenofovir, interferon), transplantasi hati[4] |
| Frekuensi | 296 juta (dunia, 2019),[1] 2,4% populasi (Indonesia, 2023)[6] |
| Kematian | 820.000 (dunia, 2019),[1] 21,7 per 100.000 penduduk (Indonesia, 2022)[7] |
Hepatitis B adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV) yang menyerang hati.[1][8] Penyakit ini termasuk ke dalam jenis hepatitis akibat virus.[9] Hepatitis B dapat menyebabkan infeksi akut maupun kronis.[1]
Banyak orang yang tidak mengalami gejala setelah terpapar virus. Pada sebagian orang lainnya, gejala-gejala dapat muncul 30 hingga 180 hari setelah terpapar. Gejala-gejala tersebut dapat berupa timbulnya sakit secara mendadak dan cepat disertai mual, muntah, kulit kekuningan, kelelahan, urin berwarna kuning gelap, dan nyeri perut.[1] Gejala-gejala selama infeksi akut biasanya berlangsung selama beberapa minggu, meskipun beberapa orang mungkin merasa sakit sampai enam bulan.[10] Kematian akibat tahap akut infeksi HBV jarang terjadi.[11] Infeksi HBV yang berlangsung lebih dari enam bulan biasanya dianggap sebagai kronis.[1] Kemungkinan terjadinya hepatitis B kronis lebih tinggi pada individu yang terinfeksi HBV dalam usia muda. Sekitar 90% individu yang terinfeksi selama proses persalinan atau segera setelah lahir mengalami hepatitis B kronis,[10] sedangkan kurang dari 10% individu yang terinfeksi setelah usia lima tahun mengalami kasus kronis.[5] Sebagian besar penderita hepatitis B kronis tidak bergejala; namun, sirosis dan kanker hati pada akhirnya akan terjadi[2] pada sekitar 25% infeksi HBV kronis.[4]
Virus hepatitis B ditularkan melalui paparan darah atau cairan tubuh.[4] Di daerah-daerah di mana penyakit ini umum ditemukan, infeksi pada sekitar masa persalinan atau akibat kontak dengan darah orang lain selama masa kanak-kanak merupakan cara penularan hepatitis B yang paling sering terjadi.[4] Di daerah-daerah di mana penyakit ini jarang ditemukan, penggunaan obat-obatan terlarang melalui suntikan intravena dan hubungan seksual merupakan jalur penularan yang paling sering.[4] Faktor-faktor risiko lainnya adalah bekerja di bidang layanan kesehatan, transfusi darah, cuci darah, tinggal bersama orang yang terinfeksi, bepergian ke negara-negara dengan prevalensi yang tinggi, dan tinggal di panti atau penjara.[4][5] Pembuatan tato dan akupuntur menjadi penyebab sejumlah besar kasus pada tahun 1980-an, tetapi hal ini sudah lebih jarang terjadi seiring dengan membaiknya proses sterilisasi.[12] Virus hepatitis B tidak dapat ditularkan melalui aktivitas berpegangan tangan, berbagi alat makan, berciuman, berpelukan, batuk, bersin, atau menyusui.[5] Infeksi ini dapat didiagnosis 30 hingga 60 hari setelah paparan.[4] Diagnosis hepatitis B biasanya dikonfirmasi oleh pemeriksaan darah untuk mendeteksi komponen virus dan antibodi terhadap virus.[4] Virus hepatitis B adalah salah satu dari lima virus hepatitis utama: A, B, C, D, dan E.[13] Selama fase awal infeksi, penatalaksanaan didasarkan pada gejala yang dialami pasien.[4] Pada mereka yang mengalami penyakit kronis, obat-obatan antivirus seperti tenofovir atau interferon dapat berguna, tetapi harga obat-obatan ini mahal.[4] Transplantasi hati kadang direkomendasikan untuk kasus-kasus sirosis atau karsinoma hepatoseluler.[4]
Sejak tahun 1982, infeksi hepatitis B dapat dicegah melalui vaksinasi.[4][14] Sampai tahun 2022, vaksin hepatitis B 98% hingga 100% efektif mencegah terjadinya infeksi.[1] Vaksin tersebut diberikan dalam beberapa dosis; setelah dosis awal, diperlukan dua atau tiga dosis vaksin tambahan di kemudian hari untuk memperoleh perlindungan penuh.[1] World Health Organization (WHO) merekomendasikan agar bayi menerima vaksin dalam periode 24 jam setelah lahir jika memungkinkan.[1] Hingga akhir tahun 2021, berbagai program nasional telah menyediakan vaksin hepatitis B untuk para bayi di 190 negara.[15][16] Untuk mencegah penyebaran infeksi, WHO merekomendasikan agar seluruh darah yang didonorkan diuji hepatitis B sebelum digunakan untuk transfusi. Penggunaan profilaksis antivirus untuk mencegah penularan dari ibu ke anak juga direkomendasikan, begitu pula praktik hubungan seksual yang aman, termasuk penggunaan kondom.[1] Pada tahun 2016, WHO menetapkan target untuk mengeliminasi hepatitis viral sebagai ancaman terhadap kesehatan masyarakat dunia pada tahun 2030. Pencapaian target ini akan membutuhkan pengembangan terapi pengobatan untuk menyembuhkan hepatitis B kronis, pencegahan penularannya, serta penggunaan vaksin untuk mencegah terjadinya infeksi baru.[17][18][19]
Hingga tahun 2019, diperkirakan sebanyak 296 juta orang, atau 3,8% dari total populasi dunia, mengalami infeksi hepatitis B kronis. Pada tahun yang sama, terdapat 1,5 juta kasus infeksi akut baru dan 820.000 kematian akibat HBV.[1] Sirosis dan kanker hati merupakan penyebab utama sebagian besar kematian terkait HBV.[20] Prevalensi hepatitis B paling tinggi adalah di Afrika (menyerang 7,5% total populasi benua tersebut) dan di wilayah Pasifik Barat (5,9%).[21] Tingkat infeksi hepatitis B di Eropa dan Amerika masing-masing adalah sebesar 1,5% dan 0,5%.[21] Menurut beberapa perkiraan, sekitar sepertiga populasi dunia pernah terinfeksi hepatitis B pada suatu waktu dalam hidupnya.[20] Hepatitis B awalnya dikenal dengan nama "hepatitis serum".[22]
Gejala dan tanda
Infeksi akut virus hepatitis B berkaitan dengan hepatitis viral akut, yaitu suatu penyakit yang dimulai dengan gangguan kesehatan umum, hilang nafsu makan, mual, muntah, nyeri tubuh, demam ringan, dan urin berwarna gelap, yang kemudian berkembang menjadi jaundis. Penyakit ini berlangsung selama beberapa minggu dan kemudian berangsur-angsur membaik pada sebagian besar penderita. Sebagian kecil penderita dapat mengalami bentuk penyakit hati yang lebih berat yang dikenal sebagai gagal hati fulminan yang dapat berakibat fatal. Infeksi hepatitis B dapat sepenuhnya tanpa gejala dan tidak terdiagnosis.[23]
Infeksi kronis virus hepatitis B dapat tidak bergejala atau dapat berkaitan dengan peradangan hati kronis (hepatitis kronis), yang dalam jangka waktu beberapa tahun dapat berkembang menjadi sirosis. Jenis infeksi ini secara signifikan meningkatkan kejadian karsinoma hepatoseluler (HCC; kanker hati). Di seluruh Eropa, hepatitis B dan C menyebabkan sekitar 50% karsinoma hepatoseluler.[24][25] Pembawa kronis virus dianjurkan untuk menghindari konsumsi alkohol karena meningkatkan risiko sirosis dan kanker hati. Hepatitis B telah dikaitkan dengan terjadinya glomerulonefritis membranosa.[26]
Gejala-gejala ekstrahepatik ditemukan pada 1-10% orang yang terinfeksi HBV dan meliputi sindrom menyerupai penyakit serum, vaskulitis nekrotikans akut (poliarteritis nodosa), glomerulonefritis membranosa, dan akrodermatitis papular pada masa kanak-kanak (sindrom Gianotti-Crosti).[27][28] Sindrom menyerupai penyakit serum terjadi pada hepatitis B akut dan sering mendahului timbulnya jaundis.[29] Gambaran klinisnya meliputi demam, ruam kulit, dan poliarteritis. Gejala-gejala tersebut sering kali mereda segera setelah timbulnya jaundis, tetapi dapat bertahan selama periode hepatitis B akut.[30] Sekitar 30–50% orang dengan vaskulitis nekrotikans akut (poliarteritis nodosa) merupakan pembawa HBV.[31] Terdapat laporan kasus nefropati terkait HBV pada orang dewasa, tetapi hal ini lebih sering terjadi pada anak-anak.[32][33] Glomerulonefritis membranosa merupakan bentuk yang paling umum.[30] Gangguan hematologi yang diperantarai sistem imun lainnya, seperti krioglobulinemia campuran esensial dan anemia aplastik, telah dilaporkan sebagai bagian dari manifestasi ekstrahepatik infeksi HBV, tetapi hubungannya belum dipastikan secara jelas. Oleh karena itu, penyakit-penyakit tersebut kemungkinan tidak memiliki keterkaitan etiologis dengan HBV.[30]
Penyebab
Penularan
Penularan hepatitis B terjadi akibat paparan terhadap darah yang mengandung virus atau cairan tubuh yang mengandung virus. HBV 50 hingga 100 kali lebih menular daripada human immunodeficiency virus (HIV).[34] HBV dapat ditularkan melalui beberapa jalur penularan. Pada penularan vertikal, HBV ditularkan dari ibu ke anak saat persalinan.[1] Tanpa adanya intervensi, seorang ibu dengan HBsAg positif memiliki risiko sebesar 20% untuk menularkan HBV kepada bayinya pada saat persalinan. Risiko ini mencapai 90% jika sang ibu juga positif HBeAg.[butuh rujukan]
Penularan horizontal pada masa awal kehidupan dapat terjadi melalui gigitan, lesi, praktik kebersihan tertentu, atau kontak lain dengan sekresi tubuh. Meskipun HBV ditemukan pada hampir seluruh hasil sekresi dan ekskresi tubuh, hanya darah, air mani, dan sekresi vagina yang terbukti bersifat menularkan.[35][36] Penularan horizontal pada dewasa diketahui terjadi melalui hubungan seksual,[37] transfusi darah dan transfusi produk darah manusia lainnya,[38] serta penggunaan berulang jarum dan alat suntik yang terkontaminasi.[39] Aktivitas menyusui setelah pemberian imunoprofilaksis yang tepat tidak tampak berkontribusi terhadap penularan HBV dari ibu ke anak.[40]
Virologi
Struktur

Virus Hepatitis B (HBV) merupakan anggota famili hepadnavirus.[41] Partikel virus (virion) terdiri atas selubung lipid luar dan sebuah inti nukleokapsid ikosahedral yang tersusun dari protein inti. Virion-virion ini berdiameter 30–42 nm. Nukleokapsid menyelubungi DNA virus dan DNA polimerase virus yang memiliki aktivitas transkriptase balik.[42] Selubung luar virus mengandung protein-protein yang terintegrasi yang terlibat dalam pengikatan virus pada sel-sel yang rentan serta masuknya virus ke dalam sel-sel tersebut. Virus ini adalah salah satu virus hewan berselubung terkecil. Virion berukuran 42 nm yang mampu menginfeksi sel hati (hepatosit) disebut sebagai "partikel Dane".[43] Selain partikel Dane, terdapat juga badan berbentuk filamen dan sferis tanpa inti nukleokapsid dalam serum individu yang terinfeksi.[44] Partikel-partikel ini tidak menular dan tersusun dari lipid dan protein yang membentuk permukaan virion, yang disebut sebagai antigen permukaan (HBsAg), dan diproduksi secara berlebihan selama siklus hidup virus.[45]
Genom

Genom HBV tersusun dari DNA sirkular, namun strukturnya tidak biasa karena DNA tersebut tidak sepenuhnya beruntai ganda. Salah satu ujung untai panjang yang utuh terikat pada DNA polimerase HBV. Genom virus memiliki panjang 3.020–3.320 basa nukleotida (untuk untai panjang yang utuh) dan 1.700–2.800 basa nukleotida (untuk untai pendek).[46] Untai sense-negatif (non-penyandi) bersifat komplementer terhadap mRNA virus. DNA virus ditemukan di dalam nukleus segera setelah sel terinfeksi. DNA yang sebagian beruntai ganda kemudian menjadi sepenuhnya beruntai ganda melalui penyelesaian sintesis untai sense (+) dan penghilangan molekul protein dari untai sense (−) dan sekuens pendek RNA dari untai sense (+). Basa non-penyandi dihilangkan dari ujung-ujung untai sense (−), kemudian ujung-ujung tersebut disambungkan kembali. Terdapat empat gen yang diketahui dikodekan oleh genom, disebut C, X, P, dan S. Protein inti dikodekan oleh gen C (HBcAg), dan kodon awalnya didahului oleh kodon awal AUG dalam hulu rangka yang darinya protein pre-core dihasilkan. HBeAg dihasilkan oleh pemrosesan proteolitik protein pre-core. Pada beberapa galur virus yang langka yang dikenal sebagai mutan pre-core virus hepatitis B, tidak ditemukan HbeAg.[47] DNA polimerase dikodekan oleh gen P. Gen S adalah gen yang mengodekan antigen permukaan (HBsAg). Gen HBsAg merupakan satu rangka baca terbuka yang panjang, tetapi mengandung tiga rangka kodon awal (ATG) yang membagi gen tersebut ke dalam tiga bagian: pre-S1, pre-S2, dan S. Akibat adanya beberapa kodon awal, terbentuk[48] polipeptida dengan tiga ukuran berbeda yang disebut polipeptida besar (urutan dari bagian permukaan ke dalam: pre-S1, pre-S2, dan S), polipeptida tengah (pre-S2, S), dan polipeptida kecil (S).[49] Terdapat gugus miristil, yang berperan penting dalam proses infeksi, pada ujung terminal dari bagian preS1 pada protein besar (L).[50] Selain itu, N-terminus protein L memiliki titik pelekatan virus dan titik pengikatan kapsid. Oleh karena itu, termini-N dari setengah molekul protein L berada di luar membran dan setengah lainnya berada di dalam membran.[51]
Fungsi dari protein yang dikodekan oleh gen X belum dipahami sepenuhnya, tetapi dikaitkan dengan terjadinya kanker hati. Protein tersebut menstimulasi gen yang memicu pertumbuhan sel dan menonaktifkan molekul-molekul yang meregulasi pertumbuhan.[52]
Patogenesis

Siklus hidup virus hepatitis B bersifat kompleks. Hepatitis B adalah salah satu dari sedikit pararetrovirus (non-retrovirus yang masih menggunakan transkripsi balik dalam proses replikasi mereka) yang diketahui. Virus tersebut masuk ke dalam sel dengan berikatan pada NTCP[53] pada permukaan sel dan mengalami endositosis. Karena replikasi virus melibatkan RNA yang disintesis enzim inang, DNA genom virus harus dikirim ke nukleus sel oleh protein inang bernama kaperon. DNA melingkar yang sebagian beruntai ganda virus kemudian dibentuk menjadi beruntai ganda penuh oleh DNA polimerase HBV, mengubah genom menjadi DNA melingkar kovalen tertutup (cccDNA). cccDNA ini berfungsi sebagai cetakan untuk transkripsi empat mRNA virus oleh RNA polimerase inang. mRNA terbesar (yang lebih panjang daripada genom virus) digunakan untuk membuat salinan genom yang baru dan untuk membuat protein inti kapsid dan DNA polimerase virus. Keempat transkrip virus ini mengalami pemrosesan lebih lanjut dan kemudian membentuk virion progeni (keturunan) yang dilepaskan dari sel atau dikembalikan ke nukleus dan didaur ulang untuk menghasilkan salinan yang lebih banyak lagi.[48][54] mRNA panjang tersebut kemudian diangkut kembali ke sitoplasma, di mana protein P virion (DNA polimerase) mensintesis DNA melalui aktivitas transkriptase baliknya. Selain ke reservoir cccDNA nukleusnya, fragmen-fragmen DNA virus hepatitis B dapat berintegrasi ke dalam genom inang, khususnya pada kasus-kasus infeksi kronis, dan integrasi ini berperan dalam perkembangan kanker hati.[55]
Serotipe dan genotipe
Virus ini dibagi ke dalam empat serotipe besar (adr, adw, ayr, ayw) berdasarkan epitop antigenik yang ditampilkan pada protein selubungnya, dan ke dalam delapan genotipe besar (A–H). Genotipe-genotipe tersebut memiliki distribusi geografis yang berbeda yang digunakan dalam penelusuran evolusi dan penyebaran virus. Perbedaan antar genotipe memengaruhi tingkat keparahan penyakit, perjalanan penyakit dan kemungkinan terjadinya komplikasi, serta respons terhadap terapi dan vaksinasi.[56][57] Terdapat dua genotipe lain, I dan J, tetapi keduanya belum diterima secara luas hingga tahun 2015.[58] Keanekaragaman genotipe virus tidak tersebar secara merata di seluruh wilayah dunia. Sebagai contoh, genotipe A, D, dan E banyak ditemukan di Afrika, sementara genotipe B dan C banyak ditemukan di Asia.[59]
Genotipe-genotipe tersebut memiliki perbedaan pada setidaknya 8% sekuens mereka dan dilaporkan pertama kali pada tahun 1988 ketika enam genotipe (A–F) pertama kali diidentifikasi.[60] Sejak saat itu, ada dua genotipe lain (G dan H) yang telah diidentifikasi.[61] Saat ini, sebagian besar genotipe terbagi ke dalam berbagai subgenotipe dengan karakteristik yang berbeda.[62]
Mekanisme
Virus hepatitis B terutama mengganggu fungsi hati dengan bereplikasi di hepatosit.[53] Virion berikatan dengan sel inang melalui domain pre-S pada antigen permukaan virus dan kemudian diinternalisasi melalui endositosis. Reseptor spesifik pre-S HBV utamanya diekspresikan di hepatosit; tetapi, DNA dan protein virus juga telah terdeteksi pada beberapa titik ekstrahepatik, menunjukkan bahwa reseptor seluler HBV mungkin juga terdapat pada sel-sel ekstrahepatik.[63]
Selama infeksi HBV, respons imun inang menyebabkan kerusakan hepatoseluler dan klirens virus. Meskipun respons imunitas bawaan tidak berperan penting dalam proses ini, respons imun adaptif, khususnya limfosit T sitotoksik (CTL) spesifik virus, berkontribusi terhadap sebagian besar kerusakan hati terkait infeksi HBV. CTL mengeliminasi infeksi HBV dengan membunuh sel-sel yang terinfeksi dan menghasilkan sitokin antivirus, yang kemudian digunakan untuk membersihkan HBV dari hepatosit viabel.[64] Meskipun kerusakan hati diinisiasi dan dimediasi oleh CTL, sel-sel inflamasi nonspesifik antigen dapat memperburuk imunopatologi yang diinduksi CTL, dan trombosit yang diaktifkan di titik infeksi dapat memfasilitasi akumulasi CTL di hati.[65]
Diagnosis

Tes (asai) untuk mendeteksi infeksi virus hepatitis B melibatkan uji serum atau darah yang mendeteksi antigen virus (protein yang diproduksi oleh virus) atau antibodi yang diproduksi oleh inang. Interpretasi hasil tes ini bersifat kompleks.[66]
Antigen permukaan hepatitis B (HBsAg) paling sering digunakan untuk skrining keberadaan infeksi. HBsAg merupakan antigen virus pertama yang terdeteksi selama infeksi. Namun, pada awal infeksi, antigen ini mungkin belum terdeteksi dan pada tahap lanjut infeksi, antigen ini dapat tidak terdeteksi karena sedang dieliminasi oleh inang. Virion menular mengandung "partikel inti" dalam yang membungkus genom virus. Partikel inti berbentuk ikosahedral tersebut terbuat dari 180 atau 240 salinan protein inti, atau dikenal sebagai antigen inti hepatitis B, atau HBcAg. Selama periode 'jendela' ini, inang tetap terinfeksi tetapi berhasil mengeliminasi virus, sehingga antibodi IgM spesifik terhadap antigen inti hepatitis B (anti-HBc IgM) merupakan satu-satunya bukti serologis penyakit. Oleh karena itu, sebagian besar panel diagnostik hepatitis B mengandung HBsAg dan anti-HBc total (baik IgM dan IgG).[67]

Segera setelah HBsAg terdeteksi, antigen lain yang disebut antigen hepatitis B e (HBeAg) juga akan terdeteksi. Secara tradisional, keberadaan HBeAg dalam serum inang dikaitkan dengan tingkat replikasi virus yang jauh lebih tinggi dan peningkatan kemampuan menularkan infeksi. Namun, varian virus hepatitis B tidak menghasilkan antigen 'e', jadi aturan ini tidak selalu benar.[68] Secara keseluruhan, hanya sebagian kecil kasus hepatitis B yang terdiagnosis yang ditemukan memiliki antigen 'e'. Selama perjalanan alami infeksi, HBeAg dapat dibersihkan, dan antibodi terhadap antigen 'e' (anti-HBe) akan segera muncul setelahnya. Konversi ini biasanya dikaitkan dengan penurunan nyata dalam replikasi virus.
Jika inang mampu mengatasi infeksi, pada akhirnya HBsAg akan menjadi tidak terdeteksi dan hal ini akan diikuti dengan munculnya antibodi IgG terhadap antigen permukaan hepatitis B dan antigen inti hepatitis B (IgG anti-HBs dan IgG anti-HBc).[41][69] Waktu antara hilangnya HBsAg dan munculnya anti-HBs disebut periode jendela. Seseorang dengan HBsAg negatif tetapi anti-HBs positif dapat berarti telah sembuh dari infeksi atau telah divaksinasi sebelumnya.[69]
Individu dengan HBsAg tetap positif setidaknya selama enam bulan dianggap sebagai pembawa hepatitis B.[70] Pembawa virus mungkin mengidap hepatitis B kronis, yang ditunjukkan dengan peningkatan kadar serum alanina aminotransferase (ALT) dan penanda peradangan hati, jika individu pembawa tersebut berada dalam fase klirens imun dari infeksi kronis. Pembawa yang telah mengalami serokonversi ke status HBeAg negatif, khususnya mereka yang memperoleh infeksi saat dewasa, memiliki multiplikasi virus yang sangat sedikit dan karenanya mungkin berisiko kecil mengalami komplikasi jangka panjang atau menularkan infeksi ke orang lain.[71] Namun, terdapat kemungkinan bagi penderita untuk memasuki fase "immune escape", meskipun langka terjadi, dengan reaktivasi hepatitis HBeAg-negatif dan kembali menunjukkan tanda-tanda penyakit meskipun sebelumnya telah mengalami kontrol sistem imun penuh. Hal ini mengakibatkan replikasi virus yang tinggi dan progresivitas penyakit yang lebih cepat ke arah sirosis dibandingkan dengan perjalanan penyakit yang biasa. Individu-individu tersebut umumnya akan memiliki antibodi anti-Hbe yang dapat terdeteksi, namun tidak memiliki HBeAg yang dapat terdeteksi dalam serum.[72]

Tes PCR telah dikembangkan untuk mendeteksi dan mengukur jumlah DNA HBV, yang disebut beban virus, dalam spesimen klinis. Tes ini digunakan untuk menilai status infeksi seseorang dan untuk memantau pengobatan.[73] Individu dengan beban virus yang tinggi secara khas memiliki gambaran hepatosit ground glass pada biopsi.[74]
Pencegahan
Vaksin
Pemberian vaksin pada bayi untuk pencegahan hepatitis B telah direkomendasikan secara rutin di Amerika Serikat sejak tahun 1991.[75] Pemberian dosis pertama vaksin umumnya direkomendasikan dalam 24 jam setelah kelahiran bayi.[76] Vaksin hepatitis B adalah vaksin pertama yang terbukti dapat mencegah kanker, khususnya kanker hati.[77]
Sebagian besar vaksin diberikan dalam 3 dosis dalam beberapa bulan. Respons protektif terhadap vaksin didefinisikan sebagai konsentrasi antibodi anti-HBs sekurang-kurangnya 10 mIU/ml pada serum penerima vaksin. Vaksin lebih efektif diberikan pada anak-anak dan 95% penerima vaksin memiliki antibodi dengan kadar antibodi protektif. Kadar antibodi tersebut turun menjadi sekitar 90% pada usia 40 tahun dan menjadi sekitar 75% pada usia 60 tahun. Proteksi yang diberikan oleh vaksin bersifat jangka panjang, bahkan sesudah konsentrasi antibodi turun di bawah 10 mIU/ml. Untuk bayi baru lahir dari ibu dengan HBsAg positif: vaksin hepatitis B saja, imunoglobulin hepatitis B saja, atau kombinasi vaksin dan imunoglobulin hepatitis B, semuanya efektif mencegah terjadinya hepatitis B.[78] Kombinasi vaksin dan imunoglobulin hepatitis B lebih unggul dibandingkan vaksin saja.[78] Kombinasi ini mencegah penularan HBV pada periode perinatal pada 86% hingga 99% kasus.[79]
Pemberian tenofovir pada trimester kedua atau ketiga dapat menurunkan risiko penularan HBV dari ibu ke anak sebesar 77% ketika dikombinasikan dengan pemberian imunoglobulin hepatitis B dan vaksin hepatitis B, khususnya pada ibu hamil dengan kadar DNA virus hepatitis B yang tinggi.[80] Namun, tidak tersedia cukup bukti bahwa pemberian imunoglobulin hepatitis B saja selama masa kehamilan dapat mengurangi angka penularan ke bayi yang baru lahir.[81] Tidak ada uji klinis acak terkontrol yang telah dilakukan untuk menilai efek vaksin hepatitis B selama masa kehamilan dalam mencegah infeksi bayi. [82]
Semua orang yang berisiko terpapar cairan tubuh seperti darah harus menerima vaksin jika belum pernah menerimanya.[75] Tes untuk memastikan efektivitas imunisasi dan pemberian dosis vaksin tambahan kepada mereka dengan kekebalan yang belum cukup memadai direkomendasikan.[75]
Dalam studi tindak lanjut selama 10 hingga 22 tahun, tidak ada kasus hepatitis B pada individu dengan sistem imun normal yang telah divaksinasi. Hanya ada kasus infeksi kronis langka yang telah didokumentasikan.[83] Vaksinasi sangat direkomendasikan untuk kelompok berisiko tinggi seperti tenaga kesehatan, penderita gagal ginjal kronis, dan laki-laki yang berhubungan seks dengan sesama laki-laki.[84][85][86]
Kedua jenis vaksin hepatitis B, yaitu vaksin turunan plasma (PDV) dan vaksin rekombinan (RV), memiliki efektivitas yang serupa dalam mencegah infeksi pada kelompok tenaga kesehatan maupun kelompok penderita gagal ginjal kronis.[84][85] Terdapat satu perbedaan yang ditemukan dalam kelompok tenaga kesehatan: pemberian RV melalui rute intramuskuler secara signifikan lebih efektif dibandingkan dengan rute intradermal.[84]
Lainnya
Pada teknologi reproduksi berbantuan, pencucian sperma bagi laki-laki dengan hepatitis B tidak diperlukan untuk mencegah penularan, kecuali jika pasangan perempuan belum mendapatkan vaksinasi yang efektif.[87] Pada perempuan dengan hepatitis B, risiko penularan dari ibu ke anak pada IVF tidak berbeda dengan risiko pada konsepsi spontan.[87]
Individu yang berisiko tinggi tertular dianjurkan untuk menjalani skrining karena tersedia pengobatan yang efektif bagi mereka yang terbukti terinfeksi.[88] Kelompok yang dianjurkan menjalani skrining mencakup mereka yang belum menerima vaksin dan salah satu dari kelompok berikut: orang yang berasal dari wilayah dunia dengan prevalensi hepatitis B lebih dari 2%, individu dengan HIV, pengguna obat intravena, laki-laki yang berhubungan seksual dengan sesama laki-laki, dan mereka yang tinggal dengan penderita hepatitis B.[88] Skrining selama masa kehamilan juga direkomendasikan di Amerika Serikat.[89]
Pengobatan
Infeksi hepatitis B akut biasanya tidak membutuhkan terapi dan kebanyakan orang dewasa dapat mengeliminasi infeksi secara spontan.[90][91] Pengobatan antivirus dini mungkin diperlukan pada kurang dari 1% orang dengan perjalanan infeksi yang sangat agresif (hepatitis fulminan) atau kondisi imunokompromais. Di sisi lain, pengobatan terhadap infeksi kronis mungkin diperlukan untuk mengurangi risiko sirosis dan kanker hati. Individu yang mengalami infeksi kronis disertai dengan peningkatan kadar alanina aminotransferase serum, penanda kerusakan hati, dan DNA HBV merupakan kandidat untuk menjalani terapi.[92] Terapi berlangsung selama enam bulan hingga satu tahun tergantung pada pengobatan dan genotipe.[93] Durasi terapi ketika obat dikonsumsi lewat mulut lebih bervariasi dan biasanya berlangsung lebih dari satu tahun.[94]
Meskipun tidak ada obat yang dapat mengeliminasi infeksi HBV sepenuhnya, obat-obatan tersebut dapat menghentikan replikasi virus sehingga meminimalkan kerusakan hati. Hingga tahun 2024, terdapat tujuh obat yang memperoleh lisensi untuk pengobatan infeksi hepatitis B di Amerika Serikat. Obat-obatan tersebut meliputi obat antivirus lamivudin, adefovir, tenofovir disoproksil, tenofovir alafenamida, telbivudin, dan entekavir, serta dua modulator sistem imun interferon alfa-2a dan Peginterferon alfa-2a. Pada tahun 2015, WHO merekomendasikan tenofovir atau entecavir sebagai obat lini pertama.[95] Pasien yang telah mengalami sirosis adalah pihak yang paling membutuhkan pengobatan.[95]
Penggunaan interferon, yang membutuhkan suntikan setiap hari atau tiga kali seminggu, telah digantikan oleh interferon PEGylated kerja lama, yang disuntikkan hanya sekali seminggu.[96] Namun, beberapa individu mungkin memiliki respons yang jauh lebih baik daripada yang lain, dan hal ini mungkin disebabkan oleh genotipe virus yang menginfeksi atau faktor keturunan individu tersebut. Pengobatan ini mengurangi replikasi virus di hati sehingga menurunkan beban virus (jumlah partikel virus yang diukur dalam darah).[97] Respons terhadap pengobatan berbeda-beda antar genotipe. Terapi interferon dapat menghasilkan tingkat serokonversi antigen e sebesar 37% pada genotipe A, tetapi hanya 6% pada tipe D. Genotipe B memiliki tingkat serokonversi yang serupa dengan tipe A, sedangkan genotipe tipe C hanya mengalami serokonversi pada 15% kasus. Tingkat kehilangan antigen e yang menetap setelah terapi adalah ~45% pada tipe A dan B, tetapi hanya 25–30% pada tipe C dan D.[98]
Tampaknya rencana WHO pada tahun 2016 untuk tercapainya eliminasi penyakit ini pada tahun 2030 tidak akan terwujud. Namun, berbagai kemajuan terus dicapai dalam pengembangan terapi pengobatan. Pada tahun 2010, Hepatitis B Foundation melaporkan bahwa 3 obat tahap praklinis dan 11 obat tahap klinis yang sedang dikembangkan dengan mekanisme kerja yang sebagian besar serupa. Pada tahun 2020, mereka melaporkan bahwa terdapat 17 obat tahap praklinis dan 32 obat tahap klinis yang sedang dikembangkan dengan mekanisme beragam.[17]
Prognosis
|
no data
<10
10–20
20–40
40–60
60–80
80–100
|
100–125
125–150
150–200
200–250
250–500
>500
|
Infeksi virus hepatitis B dapat berlangsung akut (sembuh secara spontan) atau kronis (berlangsung lama). Pasien dengan infeksi akut sembuh secara spontan dalam beberapa minggu hingga bulan.
Anak-anak lebih sulit untuk mengeliminasi infeksi dibandingkan orang dewasa. Lebih dari 95% orang yang terinfeksi saat dewasa atau pada masa anak-anak yang sudah cukup besar akan sembuh sepenuhnya dan membentuk kekebalan terhadap virus. Namun, hanya 30% anak usia dini dan hanya 5% bayi yang tertular HBV dari ibu mereka pada saat proses persalinan yang dapat mengatasi infeksi HBV.[99] Kelompok tersebut memiliki risiko 40% seumur hidupnya untuk mengalami kematian akibat sirosis atau karsinoma hepatoseluler.[96] Pada mereka yang terinfeksi dalam usia antara satu sampai enam tahun, 70% akan mengatasi infeksi.[100]
Hepatitis D (HDV) dapat terjadi hanya bersamaan dengan infeksi hepatitis B, karena HDV menggunakan antigen permukaan HBV untuk membentuk kapsid.[101] Ko-infeksi dengan hepatitis D meningkatkan risiko terjadinya sirosis hati dan kanker hati.[102] Poliarteritis nodosa lebih sering ditemukan pada orang dengan infeksi hepatitis B.
Sirosis
Tersedia sejumlah pemeriksaan untuk menilai derajat sirosis yang ada. Elastografi transien (FibroScan) merupakan metode pemeriksaan pilihan, namun biayanya tinggi.[95] Indeks rasio aspartat aminotransferase terhadap trombosit dapat digunakan apabila biaya menjadi pertimbangan.[95]
Reaktivasi
DNA virus hepatitis B tetap berada di tubuh setelah infeksi, dan pada beberapa orang, termasuk pada mereka dengan HBsAg yang tidak terdeteksi, penyakit ini dapat kambuh.[103][104] Meskipun jarang terjadi, reaktivasi virus paling sering terjadi setelah konsumsi alkohol atau penggunaan obat-obatan terlarang,[105] atau pada individu dengan gangguan sistem kekebalan.[106] HBV mengalami beberapa siklus replikasi dan nonreplikasi. Sekitar 50% pembawa virus dengan manifestasi klinis mengalami reaktivasi akut. Laki-laki dengan kadar ALT dasar sebesar 200 UL/L tiga kali lebih berisiko untuk mengalami reaktivasi dibandingkan mereka dengan kadar yang lebih rendah. Meskipun reaktivasi dapat terjadi secara spontan,[107] orang yang menjalani kemoterapi memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami reaktivasi.[108] Obat-obatan imunosupresan meningkatkan replikasi HBV sekaligus menghambat fungsi sel T sitotoksik di hati.[109] Risiko reaktivasi bervariasi tergantung pada profil serologi; mereka dengan HBsAg yang terdeteksi dalam darah berada dalam risiko tertinggi, namun mereka yang hanya memiliki antibodi terhadap antigen inti juga berada dalam risiko. Adanya antibodi terhadap antigen permukaan, yang dianggap sebagai penanda imunitas, tidak menyingkirkan risiko reaktivasi.[108] Terapi dengan antivirus profilaksis dapat mencegah morbiditas serius yang berhubungan dengan reaktivasi HBV.[108]
Epidemiologi

Pada tahun 2022, sekitar 254 juta orang mengalami infeksi HBV kronis. Sebanyak 1,2 juta kasus infeksi HBV akut juga terjadi di tahun yang sama.[110] Prevalensi hepatitis B di berbagai wilayah dunia berkisar dari sekitar 7,5% di Afrika hingga 0,5% di Amerika.[21]
Metode utama penularan HBV dan prevalensi infeksi HBV kronis pada wilayah-wilayah tertentu sering kali saling berhubungan satu sama lain. Pada populasi dengan prevalensi HBV sebesar 8% atau lebih, yang diklasifikasikan sebagai prevalensi tinggi, penularan vertikal (biasanya terjadi selama persalinan) adalah metode penularan yang paling umum terjadi, meskipun tingkat penularan pada masa kanak-kanak dini juga dapat signifikan dalam populasi-populasi ini.[111] Pada tahun 2021, 19 negara Afrika memiliki prevalensi yang berkisar antara 8% hingga 19%, menempatkan mereka dalam kategori dengan prevalensi tinggi.[112] Prevalensi HBV yang tinggi juga didapatkan di Mongolia.[113][114] Afrika sub-Sahara memiliki prevalensi HBV tertinggi, dengan prevalensi lebih dari 15% di Eritrea, Guinea, Liberia dan Eswatini pada tahun 2017.[115]
Pada wilayah dengan prevalensi moderat, yaitu di mana 2–7% populasi mengalami infeksi kronis, penyakit ini sebagian besar menular secara horizontal, sering kali di antara anak-anak, namun juga terjadi secara vertikal.[116] Prevalensi HBV Tiongkok berada pada batas atas kategori prevalensi moderat dengan prevalensi sebesar 6,89% pada tahun 2019.[117] Prevalensi HBV di India juga termasuk moderat yaitu sebesar 2–4%.[118]
Di Eropa, sebagian besar negara-negara Eropa Barat memiliki prevalensi yang rendah di bawah 1%, tetapi prevalensi menengah ditemukan pada beberapa bekas negara-negara Blok Timur, dengan prevalensi tertinggi terdapat pada wilayah Balkan dan bekas negara-negara Uni Soviet.[115] Pada tahun 2017, prevalensi tertinggi di Eropa terdapat di Moldova dan Albania (masing-masing memiliki prevalensi sebesar 9,61% dan 9%) serta di Rumania, Kazakhstan, dan Turki (masing-masing memiliki prevalensi menengah sebesar 5,49%, 4,95% dan 4,29%).[115] Namun demikian, prevalensi HBV di banyak negara Eropa Timur sangat bervariasi antar generasi karena penerapan standar kebersihan yang baru di fasilitas kesehatan dan dimasukkannya vaksin hepatitis B ke dalam skema imunisasi nasional pada tahun 1990-an seperti yang terjadi di Rumania, menurunkan prevalensi HBV secara signifikan.[119]
Negara-negara dengan prevalensi HBV rendah meliputi Australia (0,9%),[120] negara-negara di wilayah Eropa menurut WHO (dengan rata-rata 1,5%),[21] dan sebagian besar negara-negara di Amerika Utara dan Selatan (dengan rata-rata 0,28%).[121][122]
Di Indonesia, prevalensi hepatitis B pada tahun 2023 adalah 2,4% (kategori moderat), turun dari tahun 2013 yaitu sebesar 7,1%.[6] Data tahun 2022 menunjukkan angka kematian akibat hepatitis B di Indonesia adalah sebesar 21,7 per 100.000 penduduk.[7] Di Amerika Serikat, diperkirakan 0,26% populasi hidup dengan infeksi HBV pada tahun 2018.[123]
Sejarah
Penemuan DNA HBV pada sisa-sisa manusia purba menunjukkan bahwa HBV telah menginfeksi manusia setidaknya selama sepuluh milenium, baik di Eurasia maupun di Amerika.[124][125][126] Hal ini membantah anggapan bahwa hepatitis B berasal dari Dunia Baru dan menyebar ke Eropa sekitar abad ke-16.[126] Subgenotipe C4 virus hepatitis B hanya ditemukan pada penduduk asli Australia, yang menunjukkan asal usul yang sangat tua hingga sekitar 50.000 tahun yang lalu.[127][128][129] Tetapi, analisis terhadap genom-genom HBV purba menunjukkan bahwa nenek moyang bersama paling baru dari seluruh galur HBV yang diketahui diperkirakan berasal dari antara 20.000 hingga 12.000 tahun yang lalu,[124] menunjukkan bahwa seluruh genotipe HBV memiliki asal-usul yang lebih baru. Evolusi HBV pada manusia diketahui mencerminkan peristiwa-peristiwa sejarah manusia yang telah diketahui seperti migrasi awal manusia ke Amerika pada akhir era Pleistosen dan transisi Neolitik di Eropa.[124] Penelitian DNA purba juga menunjukkan bahwa beberapa galur virus hepatitis purba masih menginfeksi manusia, sedangkan galur-galur lainnya telah punah.[124][125]
Catatan paling awal mengenai epidemi yang disebabkan oleh virus hepatitis B dibuat oleh Lurman pada tahun 1885.[130] Terjadi wabah cacar di Bremen pada tahun 1883 dan sebanyak 1.289 pekerja galangan kapal divaksin menggunakan limfa dari orang lain. Setelah beberapa minggu, dan hingga delapan bulan kemudian, 191 pekerja yang divaksinasi jatuh sakit dengan gejala jaundis dan didiagnosis dengan hepatitis serum. Pekerja lain yang diinokulasi dengan limfa dari gelombang yang berbeda tetap sehat. Karya ilmiah Lurman, yang sekarang dianggap sebagai sebuah contoh klasik penelitian epidemiologi, membuktikan bahwa limfa yang terkontaminasi menjadi sumber wabah tersebut. Di kemudian hari, beberapa wabah serupa dilaporkan terjadi setelah diperkenalkannya penggunaan jarum hipodermik pada tahun 1909, dan yang lebih penting, pemakaian ulang jarum untuk pemberian Salvarsan dalam terapi sifilis.
Wabah hepatitis B terbesar yang pernah tercatat adalah kasus infeksi pada sekitar 330.000 tentara Amerika selama Perang Dunia II. Terjadinya wabah tersebut dikaitkan dengan vaksin demam kuning yang dibuat menggunakan serum darah manusia yang terkontaminasi, dan setelah menerima vaksinasi, sekitar 50.000 tentara mengalami jaundis.[131]
Virus hepatitis B baru ditemukan pada tahun 1966 ketika Baruch Blumberg, saat itu bekerja di National Institutes of Health (NIH), menemukan antigen Australia (di kemudian hari dikenal sebagai antigen permukaan hepatitis B, atau HBsAg) di dalam darah masyarakat Aborigin Australia.[132] Meskipun keberadaan virus telah dicurigai sejak penelitian yang dipublikasikan oleh Frederick MacCallum pada tahun 1947,[133] David Dane dan rekan-rekannya menemukan partikel virus tersebut pada tahun 1970 melalui mikroskop elektron.[134] Pada tahun 1971, FDA mengeluarkan perintah skrining suplai darah pertamanya kepada bank darah.[135] Pada awal tahun 1980-an, genom virus hepatitis B telah berhasil diurutkan,[136] dan vaksin pertama mulai diuji.[137]
Masyarakat dan budaya
Hari Hepatitis Sedunia, yang diperingati setiap 28 Juli, bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dunia akan hepatitis B dan hepatitis C serta mengampanyekan pencegahan, diagnosis, dan pengobatannya. Peringatan ini telah dipimpin oleh World Hepatitis Alliance sejak tahun 2007 dan pada bulan Mei 2010, gerakan ini menerima dukungan global dari WHO.[138]
Lihat pula
Referensi
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 "Hepatitis B Fact Sheet". World Health Organization. 24 Juni 2022. Diarsipkan dari asli tanggal 9 Agustus 2022. Diakses tanggal 9 Agustus 2022.
- 1 2 Chang MH (Juni 2007). "Hepatitis B virus infection". Semin Fetal Neonatal Med. 12 (3): 160–167. doi:10.1016/j.siny.2007.01.013. PMID 17336170.
- ↑ Vos, Theo; et al. (8 Oktober 2016). "Global, regional, and national incidence, prevalence, and years lived with disability for 310 diseases and injuries, 1990-2015: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2015". Lancet. 388 (10053): 1545–1602. doi:10.1016/S0140-6736(16)31678-6. PMC 5055577. PMID 27733282.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 "Hepatitis B Fact sheet N°204". World Health Organization. Juli 2014. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 9 November 2014. Diakses tanggal 4 November 2014.
- 1 2 3 4 "Hepatitis B FAQs for the Public – Transmission". U.S. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 11 Desember 2011. Diakses tanggal 29 November 2011.
- 1 2 "Angka Hepatitis B dan C di Indonesia Turun". Kementerian Kesehatan. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 26 Juli 2018. Diakses tanggal 26 Mei 2026.
- 1 2 "Indonesia". Coalition for Global Hepatitis Elimination (dalam bahasa Inggris). 23 Oktober 2025. Diakses tanggal 28 Mei 2026.
- ↑ Logan CM, Rice MK (1987). Logan's Medical and Scientific Abbreviations. J. B. Lippincott and Company. hlm. 232. ISBN 0-397-54589-4.
- ↑ "Hepatitis MedlinePlus". U.S. National Library of Medicine. Diakses tanggal 19 Juni 2020.
- 1 2 Centers for Disease Control and Prevention (30 Maret 2022). "Hepatitis B Questions and Answers for the Public - Symptoms". Diarsipkan dari asli tanggal 9 Agustus 2022. Diakses tanggal 9 Agustus 2022.
- ↑ Rubin R, Strayer DS (2008). Rubin's Pathology: clinicopathologic foundations of medicine (Edisi ke-5). Philadelphia: Wolters Kluwer/Lippincott Williams & Wilkins. hlm. 638. ISBN 9780781795166.
- ↑ Thomas HC (2013). Viral Hepatitis (Edisi ke-4). Hoboken: Wiley. hlm. 83. ISBN 9781118637302.
- ↑ Global hepatitis report 2017 (PDF). World Health Organization. 2017. ISBN 978-92-4-156545-5.
- ↑ Pungpapong S, Kim WR, Poterucha JJ (2007). "Natural History of Hepatitis B Virus Infection: an Update for Clinicians". Mayo Clinic Proceedings. 82 (8): 967–975. doi:10.4065/82.8.967. PMID 17673066.
- ↑ "Immunization coverage- Global immunization coverage 2021". World Health Organization. 14 Juli 2022. Diarsipkan dari asli tanggal 10 Agustus 2022. Diakses tanggal 10 Agustus 2022.
- ↑ Williams R (2006). "Global challenges in liver disease". Hepatology. 44 (3): 521–526. doi:10.1002/hep.21347. PMID 16941687. S2CID 23924901.
- 1 2 Block, Timothy M.; Chang, Kyong-Mi; Guo, Ju-Tao (29 September 2021). "Prospects for the Global Elimination of Hepatitis B". Annual Review of Virology. 8 (1): 437–458. doi:10.1146/annurev-virology-091919-062728. ISSN 2327-056X. PMID 34586871.
- ↑ Cox, Andrea L.; El-Sayed, Manal H.; Kao, Jia-Horng; Lazarus, Jeffrey V.; Lemoine, Maud; Lok, Anna S.; Zoulim, Fabien (September 2020). "Progress towards elimination goals for viral hepatitis". Nature Reviews Gastroenterology & Hepatology (dalam bahasa Inggris). 17 (9): 533–542. doi:10.1038/s41575-020-0332-6. ISSN 1759-5053. PMC 7376316. PMID 32704164.
- ↑ COMBATING HEPATITIS B AND C TO REACH ELIMINATION BY 2030. Geneva, Switzerland: World Health Organization. Mei 2016. Diakses tanggal 6 Januari 2022.
- 1 2 Nelson, Noele P.; Easterbrook, Philippa J.; McMahon, Brian J. (November 2017). "Epidemiology of Hepatitis B Virus Infection and Impact of Vaccination on Disease". Clinics in Liver Disease. 20 (4): 607–628. doi:10.1016/j.cld.2016.06.006. PMC 5582972. PMID 27742003.
- 1 2 3 4 World Health Organization (2021). "Global progress report on HIV, viral hepatitis and sexually transmitted infections, 2021" (PDF). World Health Organization. Diakses tanggal 10 Agustus 2022.
- ↑ Barker LF, Shulman NR, Murray R, Hirschman RJ, Ratner F, Diefenbach WC, Geller HM (1996). "Transmission of serum hepatitis. 1970". Journal of the American Medical Association. 276 (10): 841–844. doi:10.1001/jama.276.10.841. PMID 8769597.
- ↑ Terrault N, Roche B, Samuel D (Juli 2005). "Management of the hepatitis B virus in the liver transplantation setting: a European and an American perspective". Liver Transpl. 11 (7): 716–32. doi:10.1002/lt.20492. PMID 15973718. S2CID 19746065.
- ↑ El-Serag HB, Rudolph KL (Juni 2007). "Hepatocellular carcinoma: epidemiology and molecular carcinogenesis". Gastroenterology. 132 (7): 2557–76. doi:10.1053/j.gastro.2007.04.061. PMID 17570226.
- ↑ El-Serag HB (22 September 2011). "Hepatocellular carcinoma". New England Journal of Medicine. 365 (12): 1118–27. doi:10.1056/NEJMra1001683. PMID 21992124.
- ↑ Gan SI, Devlin SM, Scott-Douglas NW, Burak KW (Oktober 2005). "Lamivudine for the treatment of membranous glomerulopathy secondary to chronic hepatitis B infection". Canadian Journal of Gastroenterology. 19 (10): 625–9. doi:10.1155/2005/378587. PMID 16247526.
- ↑ Dienstag JL (Februari 1981). "Hepatitis B as an immune complex disease". Seminars in Liver Disease. 1 (1): 45–57. doi:10.1055/s-2008-1063929. PMID 6126007. S2CID 9699144.
- ↑ Trepo C, Guillevin L (Mei 2001). "Polyarteritis nodosa and extrahepatic manifestations of HBV infection: the case against autoimmune intervention in pathogenesis". Journal of Autoimmunity. 16 (3): 269–74. doi:10.1006/jaut.2000.0502. PMID 11334492.
- ↑ Alpert E, Isselbacher KJ, Schur PH (Juli 1971). "The pathogenesis of arthritis associated with viral hepatitis. Complement-component studies". The New England Journal of Medicine. 285 (4): 185–9. doi:10.1056/NEJM197107222850401. PMID 4996611.
- 1 2 3 Liang TJ (Mei 2009). "Hepatitis B: the virus and disease". Hepatology. 49 (5 Suppl): S13–21. doi:10.1002/hep.22881. PMC 2809016. PMID 19399811.
- ↑ Gocke DJ, Hsu K, Morgan C, Bombardieri S, Lockshin M, Christian CL (Desember 1970). "Association between polyarteritis and Australia antigen". Lancet. 2 (7684): 1149–53. doi:10.1016/S0140-6736(70)90339-9. PMID 4098431.
- ↑ Lai KN, Li PK, Lui SF, Au TC, Tam JS, Tong KL, Lai FM (May 1991). "Membranous nephropathy related to hepatitis B virus in adults". The New England Journal of Medicine. 324 (21): 1457–63. doi:10.1056/NEJM199105233242103. PMID 2023605.
- ↑ Takekoshi Y, Tanaka M, Shida N, Satake Y, Saheki Y, Matsumoto S (November 1978). "Strong association between membranous nephropathy and hepatitis-B surface antigenaemia in Japanese children". Lancet. 2 (8099): 1065–8. doi:10.1016/S0140-6736(78)91801-9. PMID 82085. S2CID 28633855.
- ↑ "Hepatitis B FAQs for the Public". Centers for Disease Control and Prevention. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 Agustus 2015. Diakses tanggal 24 Agustus 2015.
- ↑ "Hepatitis B – the facts: IDEAS –Victorian Government Health Information, Australia". State of Victoria. 2009-07-28. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 18 September 2011. Diakses tanggal 2009-09-19.
- ↑ Custer B, Sullivan SD, Hazlet TK, Iloeje U, Veenstra DL, Kowdley KV (November–Desember 2004). "Global epidemiology of hepatitis B virus". Journal of Clinical Gastroenterology. 38 (10 Suppl 3): S158–68. doi:10.1097/00004836-200411003-00008. PMID 15602165. S2CID 39206739. Pemeliharaan CS1: Format tanggal (link)
- ↑ Fairley CK, Read TR (Februari 2012). "Vaccination against sexually transmitted infections". Current Opinion in Infectious Diseases. 25 (1): 66–72. doi:10.1097/QCO.0b013e32834e9aeb. PMID 22143117. S2CID 13524636.
- ↑ Buddeberg F, Schimmer BB, Spahn DR (September 2008). "Transfusion-transmissible infections and transfusion-related immunomodulation" (PDF). Best Practice & Research. Clinical Anaesthesiology. 22 (3): 503–17. doi:10.1016/j.bpa.2008.05.003. PMID 18831300. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 7 Agustus 2020. Diakses tanggal 17 Desember 2018.
- ↑ Hughes RA (Maret 2000). "Drug injectors and the cleaning of needles and syringes". European Addiction Research. 6 (1): 20–30. doi:10.1159/000019005. PMID 10729739. S2CID 45638523.
- ↑ Shi Z, Yang Y, Wang H, Ma L, Schreiber A, Li X, Sun W, Zhao X, Yang X, Zhang L, Lu W, Teng J, An Y (2011). "Breastfeeding of Newborns by Mothers Carrying Hepatitis B Virus: A Meta-analysis and Systematic Review". Archives of Pediatrics and Adolescent Medicine. 165 (9): 837–846. doi:10.1001/archpediatrics.2011.72. PMID 21536948.
- 1 2 Zuckerman AJ (1996). "Hepatitis Viruses". Dalam Baron S, et al. (ed.). Baron's Medical Microbiology (Edisi ke-4). University of Texas Medical Branch. ISBN 978-0-9631172-1-2. PMID 21413272. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 14 Juli 2009.
- ↑ Locarnini S (2004). "Molecular Virology of Hepatitis B Virus". Seminars in Liver Disease. 24: 3–10. CiteSeerX 10.1.1.618.7033. doi:10.1055/s-2004-828672. PMID 15192795. S2CID 260320531.
- ↑ Harrison T (2009). Desk Encyclopedia of General Virology. Boston: Academic Press. hlm. 455. ISBN 978-0-12-375146-1.
- ↑ McFadden, William M.; Sarafianos, Stefan G. (2023). "Biology of the hepatitis B virus (HBV) core and capsid assembly modulators (CAMs) for chronic hepatitis B (CHB) cure". Global Health & Medicine. 5 (4): 199–207. doi:10.35772/ghm.2023.01065. PMC 10461335. PMID 37655181.
- ↑ Howard CR (1986). "The Biology of Hepadnaviruses". Journal of General Virology. 67 (7): 1215–1235. doi:10.1099/0022-1317-67-7-1215. PMID 3014045.
- ↑ Kay A, Zoulim F (2007). "Hepatitis B virus genetic variability and evolution" (PDF). Virus Research. 127 (2): 164–176. doi:10.1016/j.virusres.2007.02.021. PMID 17383765.
- ↑ Buti M, Rodriguez-Frias F, Jardi R, Esteban R (Desember 2005). "Hepatitis B virus genome variability and disease progression: the impact of pre-core mutants and HBV genotypes". Journal of Clinical Virology. 34 (Suppl 1): S79–82. doi:10.1016/s1386-6532(05)80015-0. PMID 16461229.
- 1 2 Beck J, Nassal M (Januari 2007). "Hepatitis B virus replication". World Journal of Gastroenterology. 13 (1): 48–64. doi:10.3748/wjg.v13.i1.48. PMC 4065876. PMID 17206754.
- ↑ Glebe D, Urban S (Januari 2007). "Viral and cellular determinants involved in hepadnaviral entry". World Journal of Gastroenterology. 13 (1): 22–38. doi:10.3748/wjg.v13.i1.22. PMC 4065874. PMID 17206752.
- ↑ Watashi K, Wakita T (Agustus 2015). "Hepatitis B Virus and Hepatitis D Virus Entry, Species Specificity, and Tissue Tropism". Cold Spring Harbor Perspectives in Medicine. 5 (8) a021378. doi:10.1101/cshperspect.a021378. PMC 4526719. PMID 26238794.
- ↑ Carter J (2013). Virology: principles and applications. Saunders, Venetia. Hoboken, N.J.: Wiley. ISBN 978-1-118-62979-6. OCLC 865013042.
- ↑ Li W, Miao X, Qi Z, Zeng W, Liang J, Liang Z (2010). "Hepatitis B virus X protein upregulates HSP90alpha expression via activation of c-Myc in human hepatocarcinoma cell line, HepG2". Virol. J. 7 45. doi:10.1186/1743-422X-7-45. PMC 2841080. PMID 20170530.
- 1 2 Yan H, Zhong G, Xu G, He W, Jing Z, Gao Z, Huang Y, Qi Y, Peng B, Wang H, Fu L, Song M, Chen P, Gao W, Ren B, Sun Y, Cai T, Feng X, Sui J, Li W (2012). "Sodium taurocholate cotransporting polypeptide is a functional receptor for human hepatitis B and D virus". eLife. 1 e00049. doi:10.7554/eLife.00049. PMC 3485615. PMID 23150796.
- ↑ Bruss V (Januari 2007). "Hepatitis B virus morphogenesis". World J. Gastroenterol. 13 (1): 65–73. doi:10.3748/wjg.v13.i1.65. PMC 4065877. PMID 17206755.
- ↑ Thomas Tu; Magdalena A Budzinska; Nicholas A Shackel; Stephan Urban (10 April 2017). "HBV DNA Integration: Molecular Mechanisms and Clinical Implications". Viruses (dalam bahasa Inggris). 9 (4). doi:10.3390/V9040075. ISSN 1999-4915. PMC 5408681. PMID 28394272. Wikidata Q38732528.
- ↑ Kramvis A, Kew M, François G (Maret 2005). "Hepatitis B virus genotypes". Vaccine. 23 (19): 2409–23. doi:10.1016/j.vaccine.2004.10.045. PMID 15752827.
- ↑ Magnius LO, Norder H (1995). "Subtypes, genotypes and molecular epidemiology of the hepatitis B virus as reflected by sequence variability of the S-gene". Intervirology. 38 (1–2): 24–34. doi:10.1159/000150411. PMID 8666521.
- ↑ Araujo, NM (Desember 2015). "Hepatitis B virus intergenotypic recombinants worldwide: An overview". Infection, Genetics and Evolution. 36: 500–510. Bibcode:2015InfGE..36..500A. doi:10.1016/j.meegid.2015.08.024. PMID 26299884.
- ↑ Mohsen RT, Al-azzawi RH, Ad'hiah AH (2019). "Hepatitis B virus genotypes among chronic hepatitis B patients from Baghdad, Iraq and their impact on liver function". Gene Reports. 17 100548. doi:10.1016/j.genrep.2019.100548. S2CID 209577328.
- ↑ Norder H, Couroucé AM, Magnius LO (1994). "Complete genomes, phylogenic relatedness and structural proteins of six strains of the hepatitis B virus, four of which represent two new genotypes". Virology. 198 (2): 489–503. doi:10.1006/viro.1994.1060. PMID 8291231.
- ↑ Shibayama T, Masuda G, Ajisawa A, Hiruma K, Tsuda F, Nishizawa T, Takahashi M, Okamoto H (Mei 2005). "Characterization of seven genotypes (A to E, G and H) of hepatitis B virus recovered from Japanese patients infected with human immunodeficiency virus type 1". Journal of Medical Virology. 76 (1): 24–32. doi:10.1002/jmv.20319. PMID 15779062. S2CID 25288772.
- ↑ Schaefer S (Januari 2007). "Hepatitis B virus taxonomy and hepatitis B virus genotypes". World Journal of Gastroenterology. 13 (1): 14–21. doi:10.3748/wjg.v13.i1.14. PMC 4065870. PMID 17206751.
- ↑ Coffin CS, Mulrooney-Cousins PM, van Marle G, Roberts JP, Michalak TI, Terrault NA (April 2011). "Hepatitis B virus (HBV) quasispecies in hepatic and extrahepatic viral reservoirs in liver transplant recipients on prophylactic therapy". Liver Transpl. 17 (8): 955–62. doi:10.1002/lt.22312. PMID 21462295. S2CID 206211853.
- ↑ Iannacone M, Sitia G, Ruggeri ZM, Guidotti LG (2007). "HBV pathogenesis in animal models: Recent advances on the role of platelets". Journal of Hepatology. 46 (4): 719–726. doi:10.1016/j.jhep.2007.01.007. PMC 1892635. PMID 17316876.
- ↑ Iannacone M, Sitia G, Isogawa M, Marchese P, Castro MG, Lowenstein PR, Chisari FV, Ruggeri ZM, Guidotti LG (November 2005). "Platelets mediate cytotoxic T lymphocyte-induced liver damage". Nat. Med. 11 (11): 1167–9. doi:10.1038/nm1317. PMC 2908083. PMID 16258538.
- ↑ Bonino F, Chiaberge E, Maran E, Piantino P (1987). "Serological markers of HBV infectivity". Ann. Ist. Super. Sanità. 24 (2): 217–23. PMID 3331068.
- ↑ Karayiannis P, Thomas HC (2009). Mahy BW, van Regenmortel MH (ed.). Desk Encyclopedia of Human and Medical Virology. Boston: Academic Press. hlm. 110. ISBN 978-0-12-375147-8.
- ↑ Liaw YF, Brunetto MR, Hadziyannis S (2010). "The natural history of chronic HBV infection and geographical differences". Antiviral Therapy. 15 (3_suppl): 25–33. doi:10.3851/IMP1621. PMID 21041901. S2CID 25592461.
- 1 2 Kramvis, Anna; Chang, Kyong-Mi; Dandri, Maura; Farci, Patrizia; Glebe, Dieter; Hu, Jianming; Janssen, Harry L. A.; Lau, Daryl T. Y.; Penicaud, Capucine; Pollicino, Teresa; Testoni, Barbara; Van Bömmel, Florian; Andrisani, Ourania; Beumont-Mauviel, Maria; Block, Timothy M. (November 2022). "A roadmap for serum biomarkers for hepatitis B virus: current status and future outlook". Nature Reviews Gastroenterology & Hepatology (dalam bahasa Inggris). 19 (11): 727–745. doi:10.1038/s41575-022-00649-z. ISSN 1759-5045. PMC 9298709. PMID 35859026.
- ↑ Lok AS, McMahon BJ (Februari 2007). "Chronic hepatitis B". Hepatology. 45 (2): 507–39. doi:10.1002/hep.21513. hdl:2027.42/55941. PMID 17256718. S2CID 8713169.
- ↑ Chu CM, Liaw YF (November 2007). "Predictive factors for reactivation of hepatitis B following hepatitis B e antigen seroconversion in chronic hepatitis B". Gastroenterology. 133 (5): 1458–65. doi:10.1053/j.gastro.2007.08.039. PMID 17935720.
- ↑ Lazarevic, Ivana; Banko, Ana; Miljanovic, Danijela; Cupic, Maja (2019-08-24). "Immune-Escape Hepatitis B Virus Mutations Associated with Viral Reactivation upon Immunosuppression". Viruses (dalam bahasa Inggris). 11 (9): 778. doi:10.3390/v11090778. ISSN 1999-4915. PMC 6784188. PMID 31450544.
- ↑ Zoulim F (November 2006). "New nucleic acid diagnostic tests in viral hepatitis". Semin. Liver Dis. 26 (4): 309–317. doi:10.1055/s-2006-951602. PMID 17051445. S2CID 260317291.
- ↑ Su, Yih-Ping; Lin, Selena Y.; Su, Ih-Jen; Kao, Yu-Lan; Shen, Shih-Chun; Earl, Joshua P.; Ehrlich, Garth D.; Chen, Cheng-Yi; Huang, Wenya; Su, Ying-Hsiu; Tsai, Hung-Wen (Januari 2024). "Characterization of integrated hepatitis B virus DNA harboring pre-S mutations in hepatocellular carcinoma patients with ground glass hepatocytes". Journal of Medical Virology (dalam bahasa Inggris). 96 (1) e29348. doi:10.1002/jmv.29348. ISSN 0146-6615. PMC 10802935. PMID 38180275.
- 1 2 3 Schillie S, Murphy TV, Sawyer M, Ly K, Hughes E, Jiles R, et al. (Desember 2013). "CDC guidance for evaluating health-care personnel for hepatitis B virus protection and for administering postexposure management". MMWR. Recommendations and Reports. 62 (RR-10): 1–19. PMID 24352112. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 19 Juni 2017.
- ↑ COMMITTEE ON INFECTIOUS DISEASES; COMMITTEE ON FETUS AND NEWBORN (September 2017). "Elimination of Perinatal Hepatitis B: Providing the First Vaccine Dose Within 24 Hours of Birth". Pediatrics. 140 (3): e20171870. doi:10.1542/peds.2017-1870. PMID 28847980.
- ↑ Chan SL, Wong VW, Qin S, Chan HL (Januari 2016). "Infection and Cancer: The Case of Hepatitis B". Journal of Clinical Oncology. 34 (1): 83–90. doi:10.1200/JCO.2015.61.5724. PMID 26578611.
- 1 2 Lee C, Gong Y, Brok J, Boxall EH, Gluud C (April 2006). "Hepatitis B immunisation for newborn infants of hepatitis B surface antigen-positive mothers". The Cochrane Database of Systematic Reviews (2) CD004790. doi:10.1002/14651858.CD004790.pub2. PMID 16625613.
- ↑ Wong F, Pai R, Van Schalkwyk J, Yoshida EM (2014). "Hepatitis B in pregnancy: a concise review of neonatal vertical transmission and antiviral prophylaxis". Annals of Hepatology. 13 (2): 187–95. doi:10.1016/S1665-2681(19)30881-6. PMID 24552860.
- ↑ Hyun MH, Lee YS, Kim JH, Je JH, Yoo YJ, Yeon JE, Byun KS (Juni 2017). "Systematic review with meta-analysis: the efficacy and safety of tenofovir to prevent mother-to-child transmission of hepatitis B virus". Alimentary Pharmacology & Therapeutics. 45 (12): 1493–1505. doi:10.1111/apt.14068. PMID 28436552. S2CID 23620357.
- ↑ Eke AC, Eleje GU, Eke UA, Xia Y, Liu J (Februari 2017). "Hepatitis B immunoglobulin during pregnancy for prevention of mother-to-child transmission of hepatitis B virus". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 2017 (2) CD008545. doi:10.1002/14651858.CD008545.pub2. PMC 6464495. PMID 28188612.
- ↑ Sangkomkamhang US, Lumbiganon P, Laopaiboon M (November 2014). "Hepatitis B vaccination during pregnancy for preventing infant infection". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 2014 (11) CD007879. doi:10.1002/14651858.CD007879.pub3. PMC 7185858. PMID 25385500.
- ↑ Shepard CW, Simard EP, Finelli L, Fiore AE, Bell BP (2006). "Hepatitis B virus infection: epidemiology and vaccination". Epidemiologic Reviews. 28: 112–25. doi:10.1093/epirev/mxj009. PMID 16754644.
- 1 2 3 Chen W, Gluud C (Oktober 2005). "Vaccines for preventing hepatitis B in health-care workers". The Cochrane Database of Systematic Reviews (4) CD000100. doi:10.1002/14651858.CD000100.pub3. PMID 16235273.
- 1 2 Schroth RJ, Hitchon CA, Uhanova J, Noreddin A, Taback SP, Moffatt ME, Zacharias JM (19 Juli 2004). "Hepatitis B vaccination for patients with chronic renal failure". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 2010 (3) CD003775. doi:10.1002/14651858.CD003775.pub2. PMC 8406712. PMID 15266500.
- ↑ "Men Who Have Sex with Men | Populations and Settings | Division of Viral Hepatitis | CDC". Centers for Disease Control and Prevention (dalam bahasa American English). 31 Mei 2015. Diakses tanggal 13 Desember 2017.
- 1 2 Lutgens SP, Nelissen EC, van Loo IH, Koek GH, Derhaag JG, Dunselman GA (22 Juli 2009). "To do or not to do: IVF and ICSI in chronic hepatitis B virus carriers". Human Reproduction. 24 (11): 2676–8. doi:10.1093/humrep/dep258. PMID 19625309.
- 1 2 LeFevre ML (Juli 2014). "Screening for hepatitis B virus infection in nonpregnant adolescents and adults: U.S. Preventive Services Task Force recommendation statement". Annals of Internal Medicine. 161 (1): 58–66. doi:10.7326/M14-1018. PMID 24863637. S2CID 9394711.
- ↑ Owens DK, Davidson KW, Krist AH, Barry MJ, Cabana M, Caughey AB, et al. (Juli 2019). "Screening for Hepatitis B Virus Infection in Pregnant Women: US Preventive Services Task Force Reaffirmation Recommendation Statement". JAMA. 322 (4): 349–354. doi:10.1001/jama.2019.9365. PMID 31334800.
- ↑ Hollinger FB, Lau DT (Desember 2006). "Hepatitis B: the pathway to recovery through treatment". Gastroenterology Clinics of North America. 35 (4): 895–931. doi:10.1016/j.gtc.2006.10.002. PMID 17129820.(perlu mendaftar)
- ↑ HBV FAQs for Health Professionals | Division of Viral Hepatitis | CDC Diarsipkan 20 Agustus 2017 di Wayback Machine.
- ↑ Lai CL, Yuen MF (Juli 2007). "The natural history and treatment of chronic hepatitis B: a critical evaluation of standard treatment criteria and end points". Annals of Internal Medicine. 147 (1): 58–61. doi:10.7326/0003-4819-147-1-200707030-00010. PMID 17606962. S2CID 40746103.
- ↑ Alberti A, Caporaso N (Januari 2011). "HBV therapy: guidelines and open issues". Digestive and Liver Disease. 43 (Suppl 1): S57-63. doi:10.1016/S1590-8658(10)60693-7. PMID 21195373.
- ↑ Terrault NA, Bzowej NH, Chang KM, Hwang JP, Jonas MM, Murad MH (Januari 2016). "AASLD guidelines for treatment of chronic hepatitis B". Hepatology. 63 (1): 261–83. doi:10.1002/hep.28156. PMC 5987259. PMID 26566064.
- 1 2 3 4 GUIDELINES FOR THE PREVENTION, CARE AND TREATMENT OF PERSONS WITH CHRONIC HEPATITIS B INFECTION (PDF). World Health Organization. Maret 2015. ISBN 978924154905-9. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 19 Maret 2015.
- 1 2 Dienstag JL (2008). "Hepatitis B Virus Infection". New England Journal of Medicine. 359 (14): 1486–1500. doi:10.1056/NEJMra0801644. PMID 18832247.
- ↑ Pramoolsinsup C (Februari 2002). "Management of viral hepatitis B". Journal of Gastroenterology and Hepatology. 17 (Suppl): S125–45. doi:10.1046/j.1440-1746.17.s1.3.x. PMID 12000599. S2CID 26270129.(perlu berlangganan)
- ↑ Cao GW (Desember 2009). "Clinical relevance and public health significance of hepatitis B virus genomic variations". World Journal of Gastroenterology. 15 (46): 5761–9. doi:10.3748/wjg.15.5761. PMC 2791267. PMID 19998495.
- ↑ Bell SJ, Nguyen T (2009). "The management of hepatitis B". Aust Prescr. 32 (4): 99–104. doi:10.18773/austprescr.2009.048.
- ↑ Kerkar N (2005). "Hepatitis B in children: complexities in management". Pediatric Transplantation. 9 (5): 685–691. doi:10.1111/j.1399-3046.2005.00393.x. PMID 16176431. S2CID 6437448.
- ↑ Taylor JM (2006). "Hepatitis delta virus". Virology. 344 (1): 71–76. doi:10.1016/j.virol.2005.09.033. PMID 16364738.
- ↑ Oliveri F, Brunetto MR, Actis GC, Bonino F (November 1991). "Pathobiology of chronic hepatitis virus infection and hepatocellular carcinoma (HCC)". Ital J Gastroenterol. 23 (8): 498–502. PMID 1661197.
- ↑ Peters MG (Januari 2019). "Hepatitis B Virus Infection: What Is Current and New". Topics in Antiviral Medicine. 26 (4): 112–116. PMC 6372357. PMID 30641484.
- ↑ Vierling JM (November 2007). "The immunology of hepatitis B". Clin Liver Dis. 11 (4): 727–759, vii–759. doi:10.1016/j.cld.2007.08.001. PMID 17981227.
- ↑ Villa E, Fattovich G, Mauro A, Pasino M (Januari 2011). "Natural history of chronic HBV infection: special emphasis on the prognostic implications of the inactive carrier state versus chronic hepatitis". Digestive and Liver Disease. 43 (Suppl 1): S8–14. doi:10.1016/S1590-8658(10)60686-X. hdl:11380/697489. PMID 21195374.
- ↑ Katz LH, Fraser A, Gafter-Gvili A, Leibovici L, Tur-Kaspa R (Februari 2008). "Lamivudine prevents reactivation of hepatitis B and reduces mortality in immunosuppressed patients: systematic review and meta-analysis". Journal of Viral Hepatitis. 15 (2): 89–102. doi:10.1111/j.1365-2893.2007.00902.x. PMID 18184191. S2CID 37659362.
- ↑ Roche B, Samuel D (Januari 2011). "The difficulties of managing severe hepatitis B virus reactivation". Liver International. 31 (Suppl 1): 104–10. doi:10.1111/j.1478-3231.2010.02396.x. PMID 21205146. S2CID 19400774.
- 1 2 3 Mastroianni CM, Lichtner M, Citton R, Del Borgo C, Rago A, Martini H, Cimino G, Vullo V (September 2011). "Current trends in management of hepatitis B virus reactivation in the biologic therapy era". World Journal of Gastroenterology. 17 (34): 3881–7. doi:10.3748/wjg.v17.i34.3881. PMC 3198017. PMID 22025876.
- ↑ Bonacini, Maurizio. "Hepatitis B Reactivation". University of Southern California Department of Surgery. Diarsipkan dari asli tanggal 27 November 2008. Diakses tanggal 24 Januari 2009.
- ↑ "Hepatitis B". World Health Organization. Diakses tanggal 22 Desember 2024.
- ↑ Jennifer H. MacLachlan; Benjamin C. Cowie (May 2015). "Hepatitis B Virus Epidemiology". Cold Spring Harbor Perspectives in Medicine. 5 (5) a021410. Cold Spring Harbor Laboratory Press. doi:10.1101/cshperspect.a021410. PMC 4448582. PMID 25934461.
- ↑ World Health Organization (2021). "Viral Hepatitis Scorecard 2021: African Region". WHO Regional Office for Africa. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 10 Agustus 2022. Diakses tanggal 12 Agustus 2022.
- ↑ Ha, Emmeline; Kim, Frederic; Blanchard, Janice; Juon, Hee-Soon (2019). "Prevalence of Chronic Hepatitis B and C Infection in Mongolian Immigrants in the Washington, District of Columbia, Metropolitan Area, 2016–2017". Preventing Chronic Disease. 16 180104: E08. doi:10.5888/pcd16.180104. PMC 6362705. PMID 30676936.
- ↑ Dashtseren, B.; Bungert, A.; Bat-Ulzii, P.; Enkhbat, M.; Lkhagva-Ochir, O.; Jargalsaikhan, G.; Enkhbat, A.; Oidovsambuu, O.; Klemen, J.; Dashdorj, N.; Dashdorj, N.; Genden, Z.; Yagaanbuyant, D. (2017). "Endemic prevalence of hepatitis B and C in Mongolia: A nationwide survey amongst Mongolian adults". Journal of Viral Hepatitis. 24 (9): 759–767. doi:10.1111/jvh.12697. PMID 28211256.
- 1 2 3 "Hepatitis B surface antigen prevalence data by country of birth" (PDF). www.hpsc.ie.
- ↑ Alter MJ (2003). "Epidemiology and prevention of hepatitis B". Seminars in Liver Disease. 23 (1): 39–46. doi:10.1055/s-2003-37583. PMID 12616449. S2CID 25088865.
- ↑ Huai Wang; Peixuan Men; Yufeng Xiao; Pei Gao (18 September 2019). "Hepatitis B infection in the general population of China: a systematic review and meta-analysis". BMC Infectious Diseases. 19 (1): 811. doi:10.1186/s12879-019-4428-y. PMC 6751646. PMID 31533643.
- ↑ Madhumita Premkumar; Yogesh Kumar Chawla (15 Oktober 2021). "Chronic Hepatitis B: Challenges and Successes in India". Clinical Liver Disease. 18 (3): 111–116. doi:10.1002/cld.1125. PMC 8518333. PMID 34691396.
- ↑ Pitigoi, D.; Rafila, A.; Pistol, A.; Arama, V.; Molagic, V.; Streinu-Cercel, A. (2008). "Trends in hepatitis B incidence in Romania, 1989-2005". Euro Surveillance. 13 (2). PMID 18445385.
- ↑ Australasian Society for HIV, Viral Hepatitis and Sexual Health Medicine. "GESA Australian Consensus Recommendations". B Positive - Hepatitis B for Primary Care. Prevalence and epidemiology of hepatitis B. Diarsipkan dari asli tanggal 11 Agustus 2022. Diakses tanggal 11 Agustus 2022.
- ↑ Pan American Health Organization (Desember 2016). "Hepatitis B and C in the Spotlight. A public health response in the Americas, 2016" (PDF). IRIS PAHO. Diakses tanggal 11 Agustus 2022.
- ↑ "Global hepatitis report, 2017". World Health Organization. 19 April 2017. Diarsipkan dari asli tanggal 11 Agustus 2022. Diakses tanggal 11 Agustus 2022.
- ↑ H. Roberts; K.N. Ly; S. Yin; E. Hughes; E. Teshale; R. Jiles (7 Juni 2021). "Prevalence of Hepatitis B Virus (HBV) Infection, Vaccine-Induced Immunity, and Susceptibility among At-Risk Populations: U.S. Households, 2013-2018". Hepatology. 74 (5): 2353–2365. doi:10.1002/hep.31991. PMID 34097776. S2CID 235371274. Diakses tanggal 11 Agustus 2022.
- 1 2 3 4 Kocher, Arthur; Papac, Luka; Barquera, Rodrigo; Key, Felix M.; Spyrou, Maria A.; Hübler, Ron; Rohrlach, Adam B.; Aron, Franziska; Stahl, Raphaela; Wissgott, Antje; Bömmel, Florian van (8 Oktober 2021). "Ten millennia of hepatitis B virus evolution". Science (dalam bahasa Inggris). 374 (6564): 182–188. Bibcode:2021Sci...374..182K. doi:10.1126/science.abi5658. hdl:1826/17264. PMID 34618559. S2CID 238475573.
- 1 2 Mühlemann B, Jones TC, Damgaard PB, Allentoft ME, Shevnina I, Logvin A, et al. (Mei 2018). "Ancient hepatitis B viruses from the Bronze Age to the Medieval period". Nature. 557 (7705): 418–423. Bibcode:2018Natur.557..418M. doi:10.1038/s41586-018-0097-z. PMID 29743673. S2CID 13684815.
- 1 2 Ben Guarino (9 Mei 2018). "New strains of hepatitis B virus discovered in ancient human remains". The Washington Post. Diakses tanggal 9 Januari 2018.
- ↑ Davis, Jane (2013). "Molecular Epidemiology of Hepatitis B in the Indigenous People of Northern Australia". Journal of Gastroenterology and Hepatology. Juli 2013 (7): 1234–1241. doi:10.1111/jgh.12177. PMID 23432545. S2CID 5208526.
- ↑ Gerlich, Wolfram (2013). "Medical Virology of Hepatitis B: how it began and where we are now". Virology Journal. 2013, 10 239. doi:10.1186/1743-422X-10-239. PMC 3729363. PMID 23870415.
- ↑ Paraskevis, Dimitrios (2013). "Dating the Origin and Dispersal of Hepatitis B Virus Infection in Humans and Primates". Hepatology. 2013 (3): 908–916. doi:10.1002/hep.26079. PMID 22987324. S2CID 25933906.
- ↑ Lurman A (1885). "Eine icterus epidemic". Berl Klin Woschenschr (dalam bahasa Jerman). 22: 20–3.
- ↑ Marr, John S.; Cathey, John T. (2017). "The Yellow Fever Vaccine Misadventure of 1942". Journal of Public Health Management and Practice. 23 (6): 651–657. doi:10.1097/PHH.0000000000000565. ISSN 1078-4659. JSTOR 48517372. PMID 28492447.
- ↑ Alter HJ, Blumberg BS (Maret 1966). "Further studies on a "new" human isoprecipitin system (Australia antigen)". Blood. 27 (3): 297–309. doi:10.1182/blood.V27.3.297.297. PMID 5930797.
- ↑ MacCallum FO (1947). "Homologous serum hepatitis". Lancet. 2 (6480): 691–692. doi:10.1016/S0140-6736(47)90722-8.
- ↑ Dane DS, Cameron CH, Briggs M (April 1970). "Virus-like particles in serum of patients with Australia-antigen-associated hepatitis". Lancet. 1 (7649): 695–8. doi:10.1016/S0140-6736(70)90926-8. PMID 4190997.
- ↑ "Hepatitis B Vaccine History". Hepatitis B Foundation. Diakses tanggal 8 November 2020.
- ↑ Galibert F, Mandart E, Fitoussi F, Tiollais P, Charnay P (Oktober 1979). "Nucleotide sequence of the hepatitis B virus genome (subtype ayw) cloned in E. coli". Nature. 281 (5733): 646–50. Bibcode:1979Natur.281..646G. doi:10.1038/281646a0. PMID 399327.
- ↑ "Hepatitis B vaccine". Lancet. 2 (8206): 1229–1230. Desember 1980. doi:10.1016/S0140-6736(80)92484-8. PMID 6108398. S2CID 43614988.
- ↑ "Viral hepatitis" (PDF). World Health Organization. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 11 Agustus 2011.
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Lain-lain | |