Hans Jeschonnek
| Hans Jeschonnek | |
|---|---|
Jeschonnek pada tahun 1941 | |
| Lahir | (1899-04-09)9 April 1899 Hohensalza, Kekaisaran Jerman |
| Meninggal | 18 Agustus 1943(1943-08-18) (umur 44) Gołdap, Jerman Nazi |
| Pengabdian | Kekaisaran Jerman Republik Weimar Jerman Nazi |
| Dinas/cabang | Luftwaffe |
| Pangkat | Generaloberst |
| Perang/pertempuran | |
| Penghargaan | Salib Kesatria dari Salib Besi |
| Hubungan | Gert Jeschonnek (saudara laki-laki) |
Hans Jeschonnek (9 April 1899 – 18 Agustus 1943) adalah seorang penerbang militer Jerman dalam Luftstreitkräfte selama Perang Dunia I, perwira staf umum dalam Reichswehr pada periode antarperang, serta seorang Generaloberst dan Kepala Staf Umum di Luftwaffe, cabang peperangan udara dari Wehrmacht selama Perang Dunia II.
Ia lahir pada tahun 1899 dan masuk militer sebagai kadet pada tahun 1909. Setelah dilatih sebagai perwira di sebuah akademi militer, ia menerima pangkat perwiranya pada tahun 1914 dan bertugas sebagai pasukan infanteri di Front Barat. Pada tahun 1916, ia pindah ke Luftstreitkräfte dan dilatih sebagai penerbang tempur. Jeschonnek menembak jatuh dua pesawat musuh menjelang kekalahan Jerman pada bulan November 1918, dan dianugerahi Salib Besi kelas ke-2 dan ke-1.
Jeschonnek tetap bertahan di militer dengan bergabung ke dalam Reichswehr, angkatan bersenjata Republik Weimar. Ia bertempur dalam Pemberontakan Silesia pada tahun 1919 dan kemudian bertugas sebagai perwira staf umum junior pada dekade 1920-an. Pada tahun 1933, Partai Nasional Sosialis (Nazi) merebut kekuasaan di Jerman di bawah kepemimpinan Adolf Hitler. Jeschonnek sangat mengagumi Hitler. Di bawah kepemimpinan sekutu dekat Hitler, Hermann Göring, yang menjabat sebagai panglima tertinggi Luftwaffe yang baru dibentuk, karier Jeschonnek melonjak drastis dari Hauptmann (Kapten) pada tahun 1932 menjadi Generalmajor pada tahun 1939. Pada bulan November 1938, Jeschonnek diangkat menjadi kepala staf umum dalam usia yang baru 39 tahun. Melesatnya karier Jeschonnek sebagian bergantung pada kesetiaannya yang membabi buta dan tanpa tanya kepada Hitler dan Göring.
Saat Perang Dunia II meletus, Jeschonnek mengalihkan haluan Luftwaffe keluar dari doktrin-doktrin berbasis luas dari periode antarperang. Ia adalah penganut konsep perang jangka pendek, yang dikenal sebagai perang Blitzkrieg. Jeschonnek mengabaikan produksi industri, intelijen militer, logistik, pertahanan udara, pengeboman strategis, serta pembentukan pasukan cadangan yang menjadi penopang suatu organisasi militer. Metode perang Jeschonnek didasarkan pada pengerahan penuh Luftwaffe untuk operasi dukungan udara dekat yang bekerja sama dengan Angkatan Darat Jerman.
Kemenangan-kemenangan militer hingga tahun 1942 sebagian besar menutupi kegagalan Jeschonnek, Göring, dan Oberkommando der Luftwaffe (Komando Tinggi Angkatan Udara). Ketika upaya perang Jerman mulai gagal di Front Timur dan Front Afrika Utara pada tahun 1942 dan 1943, Serangan Bom Gabungan oleh Inggris dan Amerika Serikat memulai strategi untuk menghancurkan Luftwaffe dalam sebuah perang atrisi (penghabisan) yang gagal diantisipasi oleh Jeschonnek dan Göring.
Pada tahun 1943, Jeschonnek mengalami tekanan mental akibat kegagalan serta ketidakmampuan Luftwaffe dalam mempertahankan wilayah Jerman. Merasa posisinya dirongrong oleh Göring dan para bawahannya, Jeschonnek menembak dirinya sendiri pada tanggal 18 Agustus 1943. Aksi bunuh diri ini ditutupi oleh Göring demi menjaga moral publik Jerman serta mencegah kekuatan musuh mendapatkan keuntungan intelijen.
Kehidupan awal, karier, dan Perang Dunia I
Jeschonnek lahir pada tanggal 9 April 1899 di kota Hohensalza (Inowroclaw), Kerajaan Prusia. Ia merupakan putra dari seorang guru bernama Dr. phil. Friedrich Karl Jeschonnek[Note 1] dan istrinya, Klara Emma Karoline.[1] Ia memiliki tiga saudara laki-laki dan seorang saudara perempuan dari pernikahan pertama ayahnya, serta empat saudara tiri laki-laki dari pernikahan kedua ayahnya.[2] Tiga dari saudara laki-lakinya memilih untuk bertugas di Reichswehr; saudara laki-lakinya yang bernama Paul meninggal dunia saat bertugas di Rechlin pada tanggal 29 Juni 1929.[2] Gert Jeschonnek bertugas selama 34 tahun sebagai perwira angkatan laut.[2] Dari tahun 1905 hingga April 1908, Jeschonnek bersekolah di Bürgerschule (sekolah warga) di Bromberg (sekarang Bydgoszcz), dan kemudian melanjutkan selama satu tahun di Gimnasium setempat. Pada tahun 1909, ia bergabung dengan Korps Kadet militer di Köslin (sekarang Koszalin). Pada bulan April 1913, ia pindah ke Akademi Militer Utama Prusia (Preußische Hauptkadettenanstaltcode: de is deprecated ) di Lichterfelde.[1]

Ia diangkat menjadi Leutnant ohne Patent (letnan dua tanpa pangkat resmi) pada tahun 1914 dalam usia 15 tahun.[2] Pada bulan-bulan pertama Perang Dunia I, ia bertugas di sebuah resimen infanteri:[3] Resimen Infanteri Silesia Hilir ke-50.[4] Pada tahun 1915, Jeschonnek menerima pangkat resmi Leutnant-nya dalam usia 16 tahun.[2] Jeschonnek pindah ke Luftstreitkräfte (Dinas Udara Kekaisaran) pada usia 17 tahun.[4] Ia bergabung dengan Jagdstaffel 40 (Skuadron Tempur 40) di Front Barat. Menjelang berakhirnya Perang Dunia I, Jeschonnek telah menembak jatuh dua pesawat musuh serta dianugerahi Salib Besi kelas ke-1 dan kelas ke-2.[5]
Menyusul kekalahan Jerman, runtuhnya Kekaisaran Jerman, dan gencatan senjata pada bulan November 1918, Jeschonnek bergabung dengan Reichswehr dan mengabdi pada Republik Weimar. Ia bertempur dalam Pemberontakan Silesia sebagai anggota Resimen Kavaleri ke-6 Reichswehr.[5] Jeschonnek juga bergabung dengan detasemen udara Freikorps, yaitu Grenzschutz Fliegerabteilungen (GFA), dan terbang dalam konflik yang sama.[6] Ia kemudian bekerja di bawah Kurt Student di Inspektorat Peralatan Senjata dalam Departemen Persenjataan Angkatan Darat dari tahun 1923 hingga 1928, serta menempuh pendidikan di Staf Umum. Keterbatasan peralatan Jerman pada masa ini memberi kesempatan bagi Jeschonnek untuk mengunjungi sejumlah negara lain dan menerbangkan beberapa pesawat Belanda, Swedia, dan Swiss.[5] Pada tahun 1928, ia lulus dari Kriegsakademie (Akademi Perang) sebagai lulusan terbaik di angkatannya. Pada bulan April 1929, Jeschonnek mulai bekerja untuk Inspektorat 1 (L), cabang peperangan udara dari Kementerian Reichswehr (Reichswehrministerium) di bawah komando Hellmuth Felmy. Departemen tersebut secara rahasia bertanggung jawab atas pembangunan pesawat militer yang sebenarnya dilarang oleh Perjanjian Versailles.[5][7]
Jeschonnek adalah salah satu dari 300 penerbang, termasuk 168 perwira, yang menjadi bagian dari embrio staf udara pada tanggal 1 November 1930.[8] Ia menjabat sebagai pemimpin seksi di Truppenamt dan Waffenamt hingga tahun 1935.[9] Jeschonnek terlibat dalam perdebatan di antara para perwira di Truppenamt pada tahun 1932 mengenai kemandirian penerbangan militer. Kepala departemen tersebut dari tahun 1930 hingga 1934, Kurt von Hammerstein-Equord, keberatan dengan usulan staf udara untuk menjadikan angkatan udara masa depan sebagai cabang yang semi-independen. Ia mengusulkan untuk membaginya menjadi tiga cabang, dengan angkatan darat memegang kendali atas sebagian besarnya. Penolakan Equord dibantah oleh Jeschonnek dalam sebuah makalah yang menganjurkan sentralisasi seluruh penerbangan, baik militer maupun sipil, di bawah satu kantor. Perdebatan mengenai organisasi angkatan udara ini terselesaikan dengan cepat setelah Nazi berkuasa.[10]
Luftwaffe
Pada tanggal 30 Januari 1933, Adolf Hitler dan Partai Nazi naik ke tampuk kekuasaan. Kaum Nasional Sosialis merombak Reichswehr dan mengubah namanya menjadi Wehrmacht pada tahun 1935. Angkatan bersenjata ini kemudian dibagi menjadi beberapa cabang. Pada tanggal 1 Mei 1933, Kementerian Penerbangan (Reichsluftfahrtministerium) didirikan. Jeschonnek — dalam usia yang baru 34 tahun — diangkat sebagai ajudan bagi Sekretaris Negara Erhard Milch.[11] Kedua pria ini pada akhirnya saling bermusuhan[12] ketika Milch mengajukan permohonan agar Jeschonnek diadili di mahkamah militer akibat serangkaian kecelakaan yang terjadi setelah para kru udara diperintahkan terbang rendah dalam kondisi cuaca buruk.[13]
Secara bersamaan, Jeschonnek memegang komando lapangan sebagai perwira komandan Kampfgeschwader 152 (Sayap Pengebom 152). Pada bulan Maret 1934, ia dipromosikan menjadi Hauptmann (Kapten) saat memimpin KG 152. Pada tanggal 1 April 1935, ia dinaikkan pangkatnya menjadi Mayor.[11] Pada tanggal 1 Oktober 1936, Jeschonnek diangkat sebagai Kepala Grup Pelatihan III Wilayah Administrasi Udara I di Greifswald. Masa-masa Jeschonnek di sini dianggap sebagai masa paling bahagia dalam kariernya. Ia dapat berperan aktif dalam menguji dan mengevaluasi pesawat yang membawa Luftwaffe ke garis depan teknologi penerbangan.[11] Jeschonnek bertugas sebagai pemimpin seksi, dengan membawahi tiga perwira aktif, sebelas mantan perwira, dan lima belas insinyur berpangkat perwira.[14] Ia menjadi pendukung kuat konsep Schnellbomber (pengebom cepat) selama ditempatkan di sana. Visi ini kelak memainkan peran penting dalam pengadaan pesawat Jerman.[15]
Staf Umum
Pada tanggal 20 April 1937, Jeschonnek dipromosikan menjadi Oberstleutnant (letnan kolonel) dan masuk ke Kementerian Penerbangan (Reichsluftfahrtministerium) sebagai Kepala Cabang 1 Staf Umum.[16] Jeschonnek merupakan anak didik dari Walther Wever, kepala staf di OKL (Komando Tinggi Angkatan Udara). Pada tahun 1936, Wever menetapkannya sebagai penerus dirinya sekaligus Kepala Staf Operasi Luftwaffe jika terjadi mobilisasi.[11] Wever mengakui kecerdasan dan bakatnya; Jeschonnek pun dianggap sebagai "wunderkind" (anak ajaib) di Staf Umum.[9] Namun, Wever yang sama sekali tidak menduga akan ajal yang menjemputnya lebih cepat, tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat pada bulan Juni 1936. Padahal, Jeschonnek hampir menyelesaikan masa pembelajarannya di bawah bimbingan Wever—seorang perwira staf yang sangat berbakat—dalam hal kepemimpinan, pelatihan, dan organisasi. Dalam reorganisasi setelah kematian Wever, Jeschonnek menjadi kepala Staf Operasi Luftwaffe pada tanggal 1 Februari 1938 dan dipromosikan menjadi Oberst (kolonel) pada bulan November.[17] Dalam usia 39 tahun, senioritas pangkat tersebut tergolong tidak biasa bagi militer profesional di masa damai. Desakan Hitler untuk melakukan pembangunan militer secara cepat menciptakan peluang unik bagi promosi pangkat yang lebih awal ini.[18]
Jeschonnek memainkan peran sekunder dalam intrik politik di internal Luftwaffe. Pada tahun 1937, kepala staf saat itu, Albert Kesselring, mundur dari jabatannya setelah berselisih dengan Milch. Setelah kematian Wever, Milch melancarkan kampanye untuk menempatkan sebagian besar fungsi dan komando di bawah yurisdisinya agar ia bisa menjadi kepala staf secara de facto. Pada tanggal 1 Juni 1937, kepala perwira personalia Hans-Jürgen Stumpff menggantikan Kesselring. Stumpff menentang aksi perebutan kekuasaan oleh Milch. Pada tanggal 6 Desember 1937, ia mengirim sebuah memorandum kepada Göring untuk mengeluhkan bahwa Staf Umum dan kantor Milch sering kali mengeluarkan arahan tanpa adanya konsultasi terlebih dahulu.[19] Ia menyebut ketiadaan garis demarkasi yang jelas dalam rantai komando sebagai hal yang "merusak dan tidak dapat diterima."[19]

Stumpff berpendapat bahwa Milch sebaiknya memimpin bagian pengadaan, urusan teknis, dan produksi, sedangkan Staf Umum mengatur komando lapangan, perencanaan perang, pelatihan, serta operasi. Di sisi lain, Milch mengusulkan pembentukan dua komando dengan kedudukan yang setara sebagai langkah terencana untuk merongrong posisi kepala staf. Jeschonnek menentang atasannya sendiri demi berpihak kepada Milch. Dalam sebuah memo kepada Göring pada bulan Januari 1938, Jeschonnek menyatakan bahwa Staf Umum harus "bebas dari beban pemberat", tetap berukuran kecil, dan hanya berfokus pada urusan-urusan di tingkat operasional.[19] Usulan Jeschonnek ini bertolak belakang dengan pandangan Wever mengenai suplai dan pemeliharaan, yang pernah berpesan: "Jangan katakan — Itu bukan tugas Staf Umum."[19] Göring mengabaikan Stumpff. Pada bulan Februari 1938, ia membentuk jabatan Inspektur Jenderal Luftwaffe yang melapor langsung kepadanya dan mengawasi 10 direktorat angkatan udara. Direktorat-direktorat tersebut diizinkan untuk melapor kepada Stumpff mengenai urusan suplai dan pemeliharaan.[19]
Karena gagal meyakinkan rekan-rekan sejawatnya dalam aspek strategis dan teknis, Jeschonnek berusaha memenuhi tugasnya kepada Hitler, yang ia pandang sebagai pahlawan pribadinya.[9] Pada tanggal 7 November 1938,[20] kepemimpinan Nazi mengusulkan peningkatan kekuatan Luftwaffe sebanyak lima kali lipat.[9] Jeschonnek menerbitkan rencana pembentukan angkatan udara berkekuatan 10.700 pesawat per 1 Januari 1942 – dengan 5.000 pesawat pengebom — tetapi rencana tersebut mendapat tentangan dalam konferensi OKL pada tanggal 28 November.[20] Sebagian besar perwira staf menentang program tersebut dengan alasan bahwa Jerman kekurangan bahan baku untuk melakukan ekspansi sebesar itu. Jeschonnek sebaliknya menuntut kepercayaan dan kepatuhan buta kepada Hitler: "Saya berpandangan bahwa adalah tugas kita untuk tidak mengecewakan Führer. Jika beliau telah memerintahkan program ini, beliau juga mengetahui cara untuk melaksanakannya."[9] Jeschonnek lebih memilih untuk menyerahkan urusan teknis produksi kepada orang lain, yaitu Milch dan Udet yang tidak memiliki kualifikasi di bidang tersebut. Ia menunjukkan ketidaktertarikan yang jelas terhadap urusan non-operasional yang menjemukan ini. Akibatnya, jurang pemisah antara ambisi Staf Umum dan perencana produksi Udet semakin melebar sebelum perang dimulai.[21] Milch sempat mencoba mempermalukan Jeschonnek di depan Göring, tetapi ia dibuat bungkam ketika Göring justru mendukung rencana Jeschonnek tersebut.[22]
Pada tanggal 1 Februari 1939, Jeschonnek menggantikan Stumpff sebagai Kepala Staf Umum Luftwaffe (Chef des Generalstabs der Luftwaffe). Pada tanggal 14 Agustus 1939, ia dipromosikan menjadi Generalmajor. Jeschonnek memiliki kecerdasan yang memadai untuk menyandang pangkat senior tersebut, tetapi kurangnya pengalaman dalam komando tingkat tinggi, baik di masa damai maupun perang, dalam organisasi yang semakin besar dan kompleks membuat dirinya tidak mampu mengendalikannya.[17] Seperti yang ditulis oleh seorang analis, "Sejak meraih pangkat kolonel, kenaikan pangkatnya berlangsung tergesa-gesa dan tidak kukuh. Menghadapi tanggung jawab berat yang tidak sanggup ia pikul telah menjadi garis takdirnya."[17] Analis kedua menyimpulkan bahwa pemikiran Jeschonnek mengenai urusan udara terlalu picik dan belum matang untuk posisi yang dipercayakan kepadanya.[23] Latar belakang pendidikan Jeschonnek turut memengaruhi hal ini. Ia meremehkan pentingnya teknologi dalam operasi militer, dan pandangan rendahnya terhadap para insinyur merupakan cerminan khas dari jajaran kepemimpinan Luftwaffe, mulai dari Göring ke bawah.[24] Sebagian besar perwira Luftwaffe merupakan lulusan sekolah klasik (Humanistische Gymnasien), alih-alih sekolah teknis (Real-gymnasien). Hanya lima persen dari perwira tersebut, tidak termasuk Jeschonnek, yang memiliki gelar di bidang teknis. Keterbatasan-keterbatasan ini mempertegas kelemahan Wehrmacht yang terlalu menitikberatkan kajian taktis dan operasional daripada intelijen dan logistik.[24]
Kenaikan pangkat Jeschonnek yang cepat barangkali mencerminkan kesetiaannya kepada Hitler dan Nasional Sosialis.[25] Jeschonnek tidak pernah mempertanyakan kebijakan Hitler dan selalu mematuhi perkataan sang Führer dalam urusan-urusan penting.[25] Meskipun hukum militer melarang perwira aktif menjadi anggota partai politik, Jeschonnek beserta beberapa perwira lain di jajaran elit Luftwaffe dikenal sebagai simpatisan ideologi Nazi yang fanatik, yang membuat angkatan ini mendapat reputasi sebagai angkatan yang bernuansa Nazi.[26] Namun, upaya untuk menanamkan ideologi kepada para perwira staf Luftwaffe secara umum tidak lebih sukses di angkatan udara dibandingkan di angkatan darat.[26] Kelak, pada tahun 1944, SS mengusulkan agar Luftwaffe ditempatkan di bawah komandonya karena dinilai kurang berkomitmen terhadap Nasional Sosialis.[26] Ketertarikan Jeschonnek terhadap rezim baru ini berakar pada pelatihannya sebagai perwira Prusia yang menekankan disiplin, pengorbanan diri yang keras dalam menjalankan tugas, dan kepatuhan pada hierarki militer. Jeschonnek berusaha keras untuk memanifestasikan idealisme ini. Hitler sendiri sering menekankan tradisi beserta kebajikan-kebajikan keprusiaan ini dalam pidato dan proklamasinya.[27]
Pengangkatan perwira muda yang memiliki pembawaan militer teladan didorong oleh Hitler dan orang kepercayaan terdekatnya, Reichsmarschall Hermann Göring, yang menjabat sebagai panglima tertinggi Luftwaffe. Göring lebih menyukai karakteristik perwira yang lebih muda daripada orang-orang yang dulunya adalah seniornya, karena mereka mencerminkan "pandangan Komando Tinggi" yang khas.[28] Penunjukan ini juga menguntungkan kepentingan Göring sendiri; jika Luftwaffe gagal, ia bisa melimpahkan kesalahannya kepada mereka. Seiring berjalannya waktu, celaan yang terus-menerus dari Göring kepada Jeschonnek menurunkan perannya menjadi sekadar pembantu operasi, tidak peduli seberapa gigihnya Jeschonnek mempertahankan kebijakannya sendiri.[28]
Pada akhirnya, hubungan mereka memburuk. Göring merasa terancam oleh kepala stafnya sendiri, sehingga ia sering kali melangkahi wewenang Jeschonnek dan menghindari nasihatnya. Keputusan-keputusan Göring terkesan amatir dan merusak. Jeschonnek tidak memiliki ketegasan karakter untuk menantang Göring dan tidak bisa berbuat banyak selain menanggung konsekuensinya.[4] Posisi Jeschonnek yang lebih rendah dalam hal usia dan pangkat merongrong otoritasnya saat berhadapan dengan perwira staf dan komandan lapangan lain yang berkarakter kuat dan kejam seperti Felmy, Kesselring, Hugo Sperrle, atau Wolfram von Richthofen.[28][9]
Kepala Staf
Kementerian Penerbangan direorganisasi setelah penunjukan Jeschonnek. Jabatan Kepala Staf kembali disubordinasikan langsung di bawah Göring untuk urusan operasional. Jeschonnek menyampaikan ringkasan risalah rapat staf kepada Sekretaris Negara Milch. Persaingan memperebutkan kekuasaan dan pengaruh ini segera berubah menjadi perebutan kekuasaan yang turut andil dalam kemunduran Luftwaffe. Konsekuensi dari reorganisasi ini adalah wilayah tanggung jawab Jeschonnek menjadi terbatas. Inspektorat pelatihan dan persenjataan ditempatkan di bawah Direktur Pelatihan, yang disubordinasikan kepada Milch dalam kapasitasnya sebagai Inspektur Jenderal Luftwaffe. Beban kerja Jeschonnek memang berkurang, tetapi hal ini merampas pengaruh langsungnya terhadap pelatihan serta memperlambat evaluasi Staf Operasi terhadap pengalaman tempur. Untuk membenahi hal tersebut, jabatan Jenderal untuk Tugas Khusus (General zur besonderen Verwendung) dibentuk untuk menggabungkan seluruh inspektorat pada bulan September 1939, dengan perintah untuk bekerja sama secara erat dengan Jeschonnek. Cabang I (Operasi), Cabang III (Pelatihan), dan Cabang V (Angkatan Udara Asing) menjadi satu-satunya elemen yang tetap berada di bawah komando langsung Jeschonnek. Organisasi, pemeliharaan, suplai, dan persenjataan seluruhnya ditempatkan di bawah Kuartermaster Jenderal dari kantor baru tersebut.[29] Jeschonnek menunjuk Oberstleutnant (Letnan Kolonel) Otto Hoffmann von Waldau sebagai kepala operasi di Staf Umum.[24]
Pengaruh Jeschonnek terhadap Luftwaffe selama masanya menjabat sebagai kepala staf cenderung sangat negatif.[9] Jeschonnek harus bersusah payah untuk meyakinkan para perwira yang lebih senior bahwa pandangannya tentang kekuatan udara adalah pandangan yang benar.[9] Visi Jeschonnek tentang kekuatan udara memiliki kelemahan mendalam yang mengindikasikan bahwa dirinya tidak mendalami tren kontemporer dalam doktrin udara.[9] Jeschonnek berpandangan bahwa perang di masa depan harus dilancarkan dengan intensitas tinggi dan diselesaikan dengan cepat. Menurutnya, angkatan udara harus dikerahkan sepenuhnya dan seluruh pasukan cadangan serta material harus diterjunkan langsung ke aksi garis depan. Tidak boleh ada personel terlatih tempur termasuk instruktur penerbangan yang ditahan di belakang. Pendekatan semacam ini mungkin memberikan efektivitas maksimum pada awal perang, tetapi secara efektif telah "menggadaikan" masa depan Luftwaffe.[30]
Hermann Plocher, kepala staf operasi, mendesak Jeschonnek untuk mempertimbangkan kembali keputusannya dan bersiap menghadapi perang jangka panjang, tetapi atasannya tersebut menolak peringatan itu.[30] Secara khusus, Plocher memperingatkan Jeschonnek mengenai perlunya pembangunan pasukan cadangan secara cepat, baik untuk personel penerbang maupun pesawat. Ia menegaskan bahwa hanya melalui aliran bala bantuan yang berkesinambungan dari hasil pelatihan dan produksi berkelanjutan, kerugian yang diperkirakan terjadi saat perang meletus dapat sedikit teratasi, sehingga kekuatan operasional unit-unit militer tidak merosot terlalu cepat di bawah batas minimum yang mutlak. Namun, Jeschonnek bersikeras, "Kita harus menjalankan perang jangka pendek; oleh karena itu, segala sesuatu harus dikerahkan langsung ke dalam aksi sejak awal."[27] Keputusan ini, yang tidak pernah berubah hingga aksi bunuh dirinya pada tahun 1943, membuat Luftwaffe tidak siap untuk bertempur dalam sebuah perang atrisi melawan koalisi musuh.[31]
Jeschonnek juga tidak bersiap menghadapi kemungkinan-kemungkinan darurat. Sebagai Kepala Staf, ia bertanggung jawab untuk melakukan hal tersebut tanpa memedulikan preferensi pribadinya. Kesediaannya untuk memercayai jaminan Hitler bahwa perang jangka panjang tidak akan terjadi mencerminkan keyakinannya bahwa Hitler adalah seorang jenius politik dan militer, yang pandangannya sejalan dengan prasangka pribadinya mengenai cara melakoni perang di masa depan. Pidato Hitler pada tanggal 23 Mei 1939 mengenai subjek tersebut sangat memukau Jeschonnek.[32] Seorang sejarawan menulis: "Jeschonnek tidak memiliki kemampuan penilaian yang diperlukan untuk jabatannya."[33]

Jeschonnek telah merasakan sendiri sulitnya melakukan pengeboman mendatar (level bombing) bersama KG 152. Bersama Ernst Udet, ia pun menjadi pendukung kuat konsep pengebom tukik. Dukungan Jeschonnek terhadap ide Udet untuk menambahkan kemampuan menukik pada semua pesawat pengebom konvensional telah menunda dan menghambat pengembangan serta produksi desain pengebom mendatar yang menjanjikan, yang pada akhirnya merugikan upaya perang Jerman.[9] Di sisi lain, Udet juga dipromosikan ke jabatan yang sebenarnya tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Ia diangkat sebagai kepala departemen teknis termasuk Kantor Persenjataan Udara, tempat ia mengendalikan penelitian dan pengembangan. Udet tidak memiliki keahlian teknis atau rekayasa untuk jabatan tersebut dan merupakan seorang administrator yang buruk.[34] Terlepas dari keterbatasan pribadi Udet, ada 26 departemen yang melapor langsung kepadanya.[34]
Jeschonnek tidak suka menerima nasihat dari para bawahannya. Ia cenderung bersikap sarkastis dan kasar terhadap para perwira junior.[35] Ia juga merasa canggung dalam acara-acara sosial dan lebih suka menghabiskan waktu bersama segelintir orang dekatnya. Jeschonnek tidak memiliki kepribadian untuk menginspirasi bawahannya dan digambarkan sebagai seorang "intelektual yang dingin."[36] General der Flieger Rudolf Meister, penerus Hoffmann von Waldau sebagai Kepala Staf Operasi Luftwaffe, mengatakan bahwa sebagian besar waktu stafnya dibiarkan dalam ketidaktahuan, “Jeschonnek tidak pernah melaporkan rincian apa pun kepada saya. Jeschonnek umumnya tidak mengizinkan Staf Operasinya untuk memberikan nasihat. Keputusan dibuat pada pagi hari di Pos Komando, sehingga Staf Operasi biasanya dihadapkan pada fait accompli (kenyataan yang sudah terjadi)." Jenderal Meister menilai Jeschonnek sulit didekati, sehingga ia tidak dapat memberikan banyak pengaruh. “Jeschonnek itu dingin, sopan, tetapi ketus.”[37]
Dalam diskusi dengan Kepala Staf Operasi Luftwaffe yang akan meletakkan jabatannya, Paul Deichmann, Jeschonnek menentang ide pengebom berat dengan menegaskan bahwa tujuannya adalah untuk menghancurkan target—bahkan target industri sekalipun—dengan jumlah bom sesedikit mungkin. Menurutnya, pesawat pengebom tukik seperti Junkers Ju 88 dapat mencapai hal tersebut. Ketika diingatkan bahwa Ju 88 tidak memiliki jangkauan dan kecepatan yang diperlukan untuk menghindari pertahanan musuh serta melakukan pengeboman strategis, Jeschonnek menolak untuk membahas masalah itu lebih lanjut. Keangkuhan tersebut merupakan "ciri khas Jeschonnek yang percaya bahwa ia sendirilah yang memiliki pengalaman untuk menilai urusan semacam itu."[38] Göring, Udet, dan Jeschonnek memandang jenis pesawat tersebut sebagai "pengebom ajaib."[39]
Proyek pengebom Ural yang dirintis oleh Wever dan dilanjutkan oleh Kesselring serta Stumpf, terwujud dalam bentuk Heinkel He 177. Pesawat ini menjadi satu-satunya pengebom berat yang masuk dalam masa dinas dengan jumlah yang signifikan. Ketika Jeschonnek dan Udet mengunjungi maketnya pada tahun 1939, mereka mendukung produksi kilat untuk pesawat tersebut.[27] Namun, jenis pesawat ini harus dilengkapi dengan rem tukik (dive brakes), meskipun belum dapat dipastikan apakah hal tersebut merupakan perintah dari Kantor Teknis (Technische Amt) atau Staf Umum.[38] Begitu Jeschonnek mengadopsi konsep peperangan udara yang menjadikannya pendukung ide-ide yang disebut blitzkrieg, ia mungkin tidak memikirkan lebih jauh mengenai perang melawan kekuatan industri besar seperti Uni Soviet serta kebutuhan akan pesawat pengebom berat.[27]
Jeschonnek memandang peperangan udara terutama dari sudut pandang pesawat tempur. Ia tidak melakukan apa pun untuk mengembangkan pesawat angkut atau pesawat pengintai. Program produksi Wilhelm Wimmer berhasil memperbaiki situasi ini pada bulan September 1939, tetapi kekuatan pasukan ini mengalami kemunduran seiring berjalannya perang.[30] Fokus Jeschonnek pada persiapan perang jangka pendek, khususnya pada pesawat taktis dengan mengorbankan pesawat pengebom strategis, berperan lebih besar daripada perwira lainnya dalam mengalihkan Luftwaffe keluar dari doktrin berbasis luas yang dianjurkan oleh Kesselring dan Wever—tokoh-tokoh yang menganggap pesawat pengebom, tingkat operasional, dan operasi strategis sebagai sebuah prioritas.[30] Jeschonnek, yang merupakan penerbang veteran, justru memiliki pandangan yang jauh lebih picik tentang kekuatan udara dibandingkan dengan para mantan perwira angkatan darat tersebut.[40] Dukungan Jeschonnek terhadap operasi gabungan dengan angkatan darat tidak menghalangi Staf Umum untuk melaksanakan simulasi perang guna menguji alat bantu navigasi dan unit pemandu khusus, yang merupakan prasyarat penting bagi efektivitas operasi pengeboman malam hari.[41]
Operasi dukungan angkatan darat tetap memegang peranan yang sangat penting. Sepanjang dekade 1920-an, para penerbang telah dilatih dalam fungsi ini. Pengalaman Perang Saudara Spanyol oleh Legiun Kondor membantu menyempurnakan taktik dan teknik yang diperlukan dalam mengorganisasi serta mengoordinasikan operasi bersama pasukan darat. Pengalaman tersebut memungkinkan sejumlah besar penerbang memperoleh keterampilan navigasi yang diperlukan untuk melaksanakan operasi pengeboman strategis di masa depan. Pada bulan Juni 1939, Jeschonnek menulis sebuah kajian yang di dalamnya ia menyatakan, "dukungan udara dekat adalah misi tersulit yang dapat diberikan kepada angkatan udara" dan hal itu menuntut "hubungan kerja sama yang paling erat antara para komandan Luftwaffe dan unit-unit angkatan darat yang didukung."[42] Richthofen, yang menjabat sebagai kepala staf untuk Hugo Sperrle di Legiun Kondor, telah menyelesaikan banyak dari masalah ini dan operasinya di Spanyol,[43] memengaruhi rencana serangan terhadap Polandia pada tahun 1939.[42]
Jeschonnek sangat terkesan oleh dampak yang diberikan Luftwaffe terhadap operasi darat di Spanyol. Ia memahami bahwa dukungan darat terutama akan dicapai melalui penyekatan udara, tetapi ia mengalihkan sumber daya yang sangat besar untuk misi dukungan udara dekat. Pada tahun 1939, Jeschonnek membentuk "divisi pertempuran jarak dekat" (Nahkampfdivision) di bawah komando Richthofen, sang spesialis dukungan darat.[44] Penekanan yang diberikan pada pelatihan dukungan darat memungkinkan Luftwaffe untuk memimpin dalam operasi dukungan dekat dan dapat dikatakan merupakan angkatan udara "paling" mumpuni di dunia dalam bidang tersebut menjelang meletusnya Perang Dunia II.[44]
Perang Dunia II
Pada bulan Juni 1939 dalam Studi Medan Staf Umum, Jeschonnek menyatakan dengan tegas bahwa saat permusuhan dimulai, Luftwaffe tidak boleh mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghancurkan angkatan udara musuh. Operasi dukungan udara dekat untuk angkatan darat adalah hal yang paling penting.[butuh rujukan] Pernyataan-pernyataannya merupakan penolakan terhadap doktrin udara yang ditetapkan oleh mentornya, Wever, dan Helmuth Wilberg pada dekade 1920-an dan 1930-an dalam Pelaksanaan Perang Udara[45] yang sebenarnya juga turut disusun oleh Jeschonnek.[46]
Para pemimpin udara Jerman telah diwajibkan oleh doktrin untuk membangun keunggulan udara pada awal perang.[47] Jeschonnek mengingkari poin ini tepat sebelum meletusnya perang, di mana ia menyatakan bahwa operasi dukungan darat hanya boleh menggantikan misi keunggulan udara jika menawarkan “kemungkinan untuk menghasilkan hasil yang mutlak, segera, dan masuk akal.”[48] Saat Luftwaffe bersiap untuk Fall Weiss, kekuatan udara Jerman melakukan persiapan untuk menghancurkan angkatan udara musuh dalam beberapa jam pertama.[49][48] Sebuah analisis menyebutkan bahwa Jeschonnek memberikan arahan yang bimbang dan kontradiktif pada masa ini.[50]
Pada tanggal 1 September 1939, Jerman menginvasi Polandia yang menandai dimulainya Perang Dunia II. Menjelang perang tersebut, OKL (Komando Tinggi Luftwaffe) telah menyelesaikan beberapa masalah krusial yang dihadapi oleh angkatan mereka saat bertransisi ke generasi pesawat berikutnya pada tahun 1937 dan 1938. Pasukan antipesawat Jerman, pasukan lintas udara (Fallschirmjäger), dan kemampuan dukungan dekat memungkinkan angkatan ini untuk memberikan dampak yang tidak dapat ditandingi oleh kekuatan Eropa lainnya pada tahun 1939.[51]
Namun, tetap ada masalah mendasar dalam karakter kepemimpinannya. Göring, Udet, Milch, dan Jeschonnek tidak dapat berpikir jangka panjang. Demi kepentingan produksi, mereka membatasi pengembangan pada beberapa pesawat saja, yaitu He 177, Ju 88, dan Messerschmitt Me 210. Keputusan tersebut bukan dimaksudkan untuk menghentikan penelitian dan pengembangan jenis pesawat lain, melainkan telah menimbulkan dampak buruk yang tidak dapat diperbaiki di bidang itu, dan kesalahan ini baru disadari pada tahun 1942. Saat itu semuanya sudah terlambat. Luftwaffe melakoni pertempuran-pertempuran pada tahun 1943–1944 pada dasarnya dengan desain pesawat yang sama seperti yang mereka miliki pada tahun 1939.[51]
Kemenangan awal
Invasi Jerman ke Polandia dimungkinkan oleh Pakta Molotov–Ribbentrop pada bulan Agustus 1939, di mana Jerman Nazi dan Uni Soviet membagi wilayah Polandia di antara mereka, sementara pihak yang disebut terakhir memberikan bantuan ekonomi yang besar kepada Hitler. Jeschonnek telah memberikan pengarahan kepada Göring mengenai rencana invasi tersebut pada tanggal 25 April 1939. Sebanyak 2.152 pesawat tempur dikerahkan dalam Luftflotte 1 dan 4.[52]
Jeschonnek menelepon Kedutaan Besar Jerman di Moskow pada pagi hari tanggal 1 September 1939 untuk meminta agar Uni Soviet tetap mengaktifkan pemancar stasiun radio Minsk yang menyiarkan identitasnya, sehingga para pilot pengebom Jerman dapat menggunakannya sebagai alat bantu navigasi.[53] Angkatan Udara Polandia dan Angkatan Darat Polandia memberikan perlawanan yang sengit, meskipun pada tanggal 14 September pihak yang disebut pertama hanya mampu memberikan perlawanan secara sporadis.[54] Kampanye militer tersebut berjalan sukses, hingga terjadi serangan balasan Polandia yang dikenal sebagai Pertempuran Bzura. OKL yang terkejut mulai mempertimbangkan Operasi Wasserkante — nama sandi untuk pengeboman Warsawa.[55]

Jeschonnek menelepon Alexander Löhr yang mengomandani Luftflotte 4 pada tanggal 13 September dan menuntut serangan bom pembakar di utara Warsawa. Area Ghetto, yang terletak tepat di sebelah utara Stasiun Kereta Api Danzig, kemungkinan turut dimasukkan ke dalam operasi tersebut. Sebuah kontingen kecil dari KG 4, yang hanya terdiri dari dua Staffeln (skuadron), di bawah komando Martin Fiebig menjatuhkan muatan bom bakar dan bom daya ledak tinggi dengan perbandingan 50:50. Unit dari Fliegerdivision 1 tersebut menjatuhkan 7.000 bom bakar, dan Fiebig melaporkan kepada Jeschonnek bahwa wilayah Ghetto telah terbakar.[55] OKL menolak permintaan yang diajukan oleh Richthofen pada tanggal 22 September untuk melakukan "eksperimen berupa serangan penghancuran dan teror", karena pengeboman dalam Pengepungan Warsawa telah menghancurkan 10 persen wilayah kota, merusak 40 persen, dan menewaskan sekitar 40.000 orang[56] termasuk kemungkinan total 6.000 non-kombatan.[57] Jeschonnek menolak perintah tersebut, dengan menegaskan bahwa tujuan pengeboman Warsawa hanyalah untuk mempercepat kapitulasi kota tersebut, "tidak lebih dari itu."[58]
Jeschonnek dianugerahi Salib Kesatria dari Salib Besi pada tanggal 27 Oktober 1939 setelah Polandia menyerah.[59] Dalam hitungan hari setelah kekalahan tersebut, Jeschonnek diperintahkan untuk membantu perencanaan Fall Gelb, sebuah invasi ke Belgia dan Prancis yang dijadwalkan dimulai pada tanggal 12 November 1939. OKW melayangkan protes karena ketidaksiapan angkatan bersenjata pada saat itu.[59] Göring dan Jeschonnek keberatan atas dikecualikannya Belanda dari rencana invasi tersebut. Hitler tidak bergeming, sehingga Jeschonnek mendekati OKW dan memperingatkan bahwa pihak Inggris mungkin akan menggunakan lapangan terbang Belanda untuk menyerang wilayah Ruhr. Pada tanggal 14 November, OKW menerima argumen tersebut. Jeschonnek terbukti sangat berambisi untuk menduduki Belanda; ia menemui Alfred Jodl pada tanggal 6 Februari 1940 untuk mengusulkan jaminan netralitas Belgia demi memastikan bahwa Belanda akan diinvasi, bersama dengan Denmark dan Norwegia. Hitler menyetujui usulan-usulan Jeschonnek tersebut pada tanggal 20 November 1939.[59]
Ia mulai mengadakan diskusi untuk merumuskan cara terbaik bagi Luftwaffe dalam mendukung rencana ini. Dalam diskusi dengan Jodl, Jeschonnek mengkaji kelayakan Luftwaffe untuk menahan pergerakan musuh di Prancis utara beberapa hari sebelum serangan di barat dimulai. Rencana tersebut awalnya diterima. Kondisi cuaca menunda serangan tersebut sepanjang musim dingin.[60] Pada tanggal 11 Januari 1940, Jeschonnek berargumen bahwa serangan untuk mendukung invasi ke Negara-Negara Rendah tidak dapat dimulai dalam tiga hari — Luftwaffe kemudian akan melancarkan serangan pendahuluan terhadap pangkalan udara Sekutu sebelum invasi darat dimulai pada tanggal 17 Januari. Pada hari yang sama, Insiden Mechelen terjadi. Rencana-rencana tersebut akhirnya dibatalkan dan rencana yang disusun oleh Manstein pun diberlakukan pada bulan Februari. Serangan ditunda hingga bulan Mei.[61]
Selama periode jeda tersebut, Göring berusaha mendapatkan izin untuk menyerang dok dan galangan kapal di Britania, tetapi Hitler menolak untuk mengizinkan pengalihan kekuatan udara sampai Fall Gelb dimulai dan pangkalan-pangkalan di Negara-Negara Rendah telah dikuasai. Arahan OKW Nomor 9 mengizinkan peletakan ranjau melalui udara dan laut di pelabuhan serta muara sungai Britania. Fliegerdivision 9 dibentuk di bawah komando Joachim Coeler untuk tujuan ini. Terjadi kekurangan ranjau dan pesawat yang parah. Jeschonnek tidak membantu dan menolak mengerahkan Heinkel He 111, Dornier Do 17, atau Dornier Do 217—yang saat itu masih dalam pengembangan—untuk operasi angkatan laut.[62] Terlepas dari kurangnya kerja sama Jeschonnek dalam perang di laut, ia didekati oleh Großadmiral Erich Raeder, panglima tertinggi Kriegsmarine (Angkatan Laut), untuk membantu perencanaan invasi ke Denmark dan Norwegia, Unternehmen Weserübung.[63] Sebuah arahan untuk invasi tersebut diterbitkan pada tanggal 1 Maret 1940. Göring mengeluh kepada Hitler bahwa 110 perwira OKL telah diberi tahu mengenai operasi tersebut sebelum dirinya. Ia juga marah karena unit-unit Luftwaffe disubordinasikan di bawah angkatan darat. Jodl dan Jeschonnek terpaksa merumuskan jalan kompromi di mana permintaan pasukan tempur dari angkatan darat disaring terlebih dahulu melalui OKL yang kemudian mengeluarkan perintahnya.[64] Luftwaffe memainkan peran vital dalam Kampanye Norwegia yang berlangsung selama tujuh minggu.[65]
Pada tanggal 10 Mei 1940, serangan dimulai dan berakhir pada tanggal 3 Juni dengan penaklukan Belanda serta Belgia, disusul dengan diusirnya Angkatan Darat Britania dari Dunkerque. Fase kedua dari operasi tersebut yang dinamakan Fall Rot, selesai dalam waktu tiga minggu. Pesawat pengebom tukik memainkan peran penting dalam Pertempuran Prancis dan di Norwegia yang untuk sementara waktu membenarkan visi peperangan Jeschonnek.[66]
Kampanye militer Jeschonnek dan Göring bukanlah tanpa cacat. Di tengah Pertempuran Hannut, Fliegerkorps VIII pimpinan Richthofen diperintahkan untuk membantu penerobosan Jerman di Sedan sehari setelah dimulainya pertempuran tank Hannut. Richthofen tidak mengetahui niat Jeschonnek hingga hari tersebut, yang menunjukkan kurangnya kerja staf dan perwira staf yang kompeten. Karena rencana penerobosan tersebut berada dalam bahaya, sebuah kompromi pun dicapai. Richthofen hanya diwajibkan mengirimkan sebagian pasukannya ke Sedan karena kendala logistik.[67][68]
Pada tanggal 24 Mei, OKW memerintahkan pasukan Jerman untuk menghentikan pergerakan maju menuju Dunkerque. Jeschonnek mendukung penuh sesumbar Göring bahwa Luftwaffe dapat menghancurkan kantong pertahanan tersebut dan mencegah Evakuasi Dunkerque. Kegagalan serangan udara Jerman ini memungkinkan Britania menarik sebagian besar pasukan reguler mereka dari benua tersebut.[69]
Sisa kampanye militer berjalan dengan cepat. Prancis menyerah pada tanggal 25 Juni 1940. Jeschonnek turut menikmati keberhasilan Luftwaffe tersebut. Pada tanggal 19 Juli 1940, Jeschonnek dipromosikan menjadi General der Flieger dalam usia 40 tahun.[70]
Perang melawan Britania
Pasca-Gencatan Senjata 22 Juni 1940, OKW percaya bahwa perang ini sudah dimenangkan. Euforia yang membubung saat itu juga dirasakan oleh Göring dan OKL. Meskipun demikian, pada tanggal 30 Juni 1940, Göring mengeluarkan arahan yang memerintahkan OKL untuk menyusun rencana operasi superioritas udara di atas Inggris jika diperlukan.[71] Arahan tersebut menyimpulkan, "selama angkatan udara musuh belum dihancurkan, prinsip dasar dari pelaksanaan perang udara adalah menyerang unit-unit udara musuh di setiap kesempatan baik yang memungkinkan—siang dan malam, di udara, maupun di darat—tanpa memedulikan misi-misi lainnya."[72] Göring berharap bahwa dengan meraih kemenangan dalam pertempuran udara, rencana invasi ke Britania dapat dihindari karena Pemerintah Churchill akan dipaksa untuk menyerah atau mencapai kesepakatan damai dengan Jerman.[73]
Pihak Britania menolak tawaran perdamaian dari Hitler. Sebagai tanggapan, Hitler menyiapkan rencana darurat berupa Operasi Singa Laut, sebuah pendaratan amfibi di Britania. Dalam konferensi mengenai Singa Laut di Berlin pada tanggal 31 Juli 1940, tidak ada satu pun perwakilan Luftwaffe yang hadir dan Göring mengabaikan panggilan Hitler untuk menghadiri konferensi-konferensi yang bertujuan membangun kerja sama antar-angkatan tersebut.[71] Wakilnya, Jeschonnek, bersikap lebih proaktif. Ia menghadiri konferensi bersama Hitler pada tanggal 18 Juli untuk membahas strategi militer umum melawan Britania. Dalam kesempatan itu, Hitler secara terbuka merenungkan sikap tidak bersahabat Stalin dan memberi tahu mereka yang hadir bahwa invasi ke Uni Soviet merupakan strategi cadangan jika Singa Laut dibatalkan.[74] Pada hari yang sama, Göring dan para komandan Luftflotten-nya bertemu di Carinhall, tetapi hanya mendiskusikan hal-hal sekunder terkait serangan udara yang akan datang yang dinamai Adlertag.[74]
Sementara angkatan darat dan angkatan laut mengambil langkah tentatif menuju perencanaan serangan amfibi, OKL terlibat dalam perdebatan internal mengenai gugus target mana yang harus diserang demi meraih kendali di udara. Pada tanggal 11 Juli, Jeschonnek memerintahkan agar pelayaran pantai diserang sebagai pembuka sebelum pertempuran utama melawan RAF dimulai. Kedua komandan Luftflotten, Sperrle dan Kesselring, mendahului perintah Jeschonnek karena kebimbangan OKL membuat mereka tidak memiliki banyak pilihan tindakan lain. Operasi udara terhadap pelayaran di Selat Inggris tersebut memulai apa yang disebut oleh para penerbang Jerman sebagai fase Kanalkampf dari Pertempuran Britania.[75]
Sperrle dan Kesselring salah menghitung, atau disesatkan oleh intelijen, sehingga meremehkan jumlah pesawat tempur yang tersedia bagi Komando Tempur (Fighter Command) — mereka memperkirakan total pesawat RAF sebanyak 450 pesawat, padahal angka sebenarnya adalah 750.[76] Kegagalan intelijen yang kronis mengenai produksi, sistem pertahanan, dan kinerja pesawat Britania menghambat operasi udara Jerman sepanjang pertempuran tersebut.[77] Joseph Schmid, kepala perwira intelijen Jeschonnek, menjadi pihak utama yang bertanggung jawab atas pemberian informasi yang tidak akurat serta terdistorsi kepada para komandan udara senior Jerman yang memicu rasa percaya diri berlebih yang luar biasa.[78]
Seiring berjalannya Pertempuran Britania, Jeschonnek, Göring, dan Kesselring mulai memercayai laporan kemenangan yang terlampau optimistis dari para penerbang Jerman serta intelijen palsu dari Schmid yang mengisyaratkan bahwa RAF Fighter Command berada di ambang kehancuran.[79] Informasi intelijen tersebut menjadi faktor yang mendorong Göring untuk mengalihkan kekuatan udaranya ke London pada tanggal 7 September, sebagai upaya untuk memancing sisa-sisa pasukan Komando Tempur ke dalam pertempuran. Hanya Sperrle yang keberatan.[79] Sperrle memperkirakan kekuatan pesawat tempur Britania mencapai 1.000 unit, sebuah penilaian yang jauh lebih akurat.[80] Pada tanggal 14 September 1940, dalam sebuah pertemuan dengan Jeschonnek, Hitler bersikap kritis terhadap jajaran kepemimpinan dan curiga terhadap laporan tempur mereka. Sebaliknya, Jeschonnek menganggap pertempuran udara telah dimenangkan dan mendesak Hitler untuk melancarkan kampanye pengeboman terhadap London sebagai pukulan terakhir.[81]
Hitler ingin mempertahankan ancaman invasi dengan melanjutkan serangan udara terhadap target-target militer dan fasilitas umum di ibu kota Britania.[81] Jeschonnek merasa bahwa lokasi industri militer dan sipil terletak terlalu berjauhan untuk dapat meruntuhkan moral musuh hanya dengan menyerang industri militer. Sebaliknya, ia mendesak dilakukannya serangan terhadap kawasan pemukiman. Namun, Hitler menolak. Ia memerintahkan agar hanya target militer di London yang boleh dibom.[82] Jeschonnek sendiri sudah menganggap London sebagai target bahkan sebelum dimulainya Adlerangriff, sebuah pandangan yang juga disetujui oleh para perwira senior lainnya.[83]
Strategi Jeschonnek tidak mendapat dukungan dari Göring. Dalam sebuah percakapan dengan Jeschonnek, Göring bertanya kepada kepala stafnya tersebut apakah ia benar-benar berpikir bahwa Britania akan menyerah. Jeschonnek menanggapi bahwa rakyat Jerman tidak akan menyerah dalam kondisi yang sama, tetapi orang Britania memiliki mental yang lebih lemah. Di sisi lain, Göring tidak meragukan keteguhan hati Britania.[84] Pada tanggal 15 September, serangan besar-besaran di siang hari terhadap London berhasil dipukul mundur oleh RAF. The Blitz malam hari pun dimulai dengan sungguh-sungguh seiring meredanya pertempuran siang hari, karena hal tersebut menjadi satu-satunya cara untuk melanjutkan perang udara melawan Britania. Analisis pascaperang telah membantah mitos bahwa keputusan Jerman untuk menyerang London dan menghentikan serangan terhadap lapangan terbang telah menyelamatkan Komando Tempur; pertahanan Britania pada dasarnya tetap utuh.[85][86][87][88]
Beberapa jam sebelum serangan Coventry, Göring pergi berlibur dan menyerahkan komando Luftwaffe kepada Milch. Jeschonnek, yang enggan bertugas di bawah musuhnya, mengikuti jejak Göring. Keduanya baru kembali bertugas pada akhir Januari 1941.[89] The Blitz tidak mengganggu upaya perang Britania secara substansial. Pengeboman tersebut menimbulkan kerusakan parah pada kota-kota—Plymouth, Southampton, Coventry, London, Cardiff, Bristol, Birmingham, Belfast, Sheffield, Hull, dan Manchester dibom secara besar-besaran dengan dampak tertentu terhadap produksi. Liverpool Blitz terbukti sangat merusak dok dan pelayaran.[90] Secara umum, OKL gagal mengembangkan strategi yang tepat selama kampanye malam hari tersebut. Diskusi di tingkat tertinggi Luftwaffe lebih berputar di sekitar taktik udara daripada strategi yang berimplikasi pada kampanye militer tersebut menjadi kian tanpa arah.[91] Sekitar 40.000 orang tewas dan 46.000 lainnya terluka pada saat pengeboman berakhir pada bulan Juni 1941.[92]
Aspek teknis dari kampanye militer ini menjadi lebih sulit pada tahun 1941. Tindakan penangkal Britania sejak Februari 1941 mulai memengaruhi akurasi pengeboman.[93] Solusi Jeschonnek untuk melaksanakan pengeboman strategis yang efektif tanpa pesawat pengebom berat (di mana ia turut bertanggung jawab sebagian atas ketiadaan pesawat tersebut) adalah dengan mengerahkan segelintir kru udara pilihan yang sangat terlatih untuk melakukan serangan bedah terhadap target-target industri penting.[94] Operasi-operasi ini memang menawarkan peluang keberhasilan, tetapi hanya berupa "tusukan jarum" yang mempertaruhkan kru-kru pesawat yang tak tergantikan. Kerugian pesawat di pihak Jerman sangatlah besar, tetapi hilangnya kru udara yang terlatih dan berpengalaman jauh lebih menggerogoti kekuatan Luftwaffe.[94] Menjelang invasi ke Uni Soviet, kekuatan armada pengebom Jerman memiliki 200 pesawat pengebom lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah yang mereka miliki pada tanggal 10 Mei 1940.[93]
Atlantik dan Mediterania
Pada akhir tahun 1940, Jeschonnek dan OKL diperintahkan untuk membuat persiapan guna membantu Benito Mussolini setelah kegagalan Invasi Italia ke Mesir dan Invasi Italia ke Yunani pada bulan September dan Oktober 1940. Dalam kunjungan ke Roma, Jeschonnek mendapati bahwa Regia Aeronautica (Angkatan Udara Italia) sangat membutuhkan dukungan.[95] Jeschonnek menahan diri untuk tidak menawarkan peralatan dalam jumlah besar kepada pihak Italia karena dirinya, seperti para perwira lain yang berprasangka rasial, tidak menganggap orang Italia mampu menggunakan pesawat Jerman secara efektif.[96] Prasangka buruk serta pandangan yang berkembang bahwa perang akan berlangsung singkat membuat OKL percaya bahwa membantu Italia adalah upaya yang sia-sia. Pandangan ini memastikan kekalahan dan hilangnya wilayah Afrika Utara dari tangan Kekuatan Poros pada akhirnya.[96]
Jeschonnek setuju untuk melepaskan formasi spesialis penyekatan maritim, Fliegerkorps X, ke Sikilia. Pada tanggal 14 Desember 1940, sebanyak 14.389 personel, 226 pesawat tempur, dan 31 pesawat angkut diperintahkan menuju Italia dan Afrika Utara untuk menaruh ranjau di Suez serta memutus jalur-jalur pelayaran Laut Mediterania. Korps udara tersebut segera terlibat dalam pengeboman target-target di Malta.[95] Jeschonnek dan Hitler melihat bahaya langsung yang ditimbulkan oleh pulau tersebut dan mendorong Mussolini untuk "melumpuhkannya".[97] Kegagalan OKL untuk mengembangkan torpedo udara sebelum perang membawa dampak buruk pada operasi-operasi di Mediterania. Atas perintah tegas Hitler, Jeschonnek bergegas melakukan persiapan untuk membentuk unit semacam itu.[98] Hingga bulan Oktober 1940, Jeschonnek mengabaikan pengembangan torpedo udara.[99]
Jeschonnek melibatkan dirinya dalam Kampanye Balkan — Invasi Jerman ke Yugoslavia dan invasi ke Yunani. Jeschonnek mendukung penggunaan pasukan penerjun payung dalam Pertempuran Kreta serta keinginan Kurt Student untuk menggunakan Kreta sebagai titik tolak (staging post) bagi invasi ke Siprus dan wilayah Terusan Suez.[100] Jeschonnek terbang ke Athena untuk mengawasi invasi Kreta tersebut. Di tengah pertempuran, ia menerima kabar bahwa Bismarck telah tenggelam. Ia mengirimkan pesan melalui mesin Enigma yang berhasil dicegat oleh Ultra, untuk menanyakan keberadaan putra dari salah satu stafnya, seorang kadet (midshipman), yang berada di atas kapal tersebut.[101]
Atlantik dan Mediterania
Pada akhir tahun 1940, Jeschonnek dan OKL diperintahkan untuk membuat persiapan guna membantu Benito Mussolini setelah kegagalan Invasi Italia ke Mesir dan Invasi Italia ke Yunani pada bulan September dan Oktober 1940. Dalam kunjungan ke Roma, Jeschonnek mendapati bahwa Regia Aeronautica (Angkatan Udara Italia) sangat membutuhkan dukungan.[95] Jeschonnek menahan diri untuk tidak menawarkan peralatan dalam jumlah besar kepada pihak Italia karena dirinya, seperti para perwira lain yang berprasangka rasial, tidak menganggap orang Italia mampu menggunakan pesawat Jerman secara efektif.[96] Prasangka buruk serta pandangan yang berkembang bahwa perang akan berlangsung singkat membuat OKL percaya bahwa membantu Italia adalah upaya yang sia-sia. Pandangan ini memastikan kekalahan dan hilangnya wilayah Afrika Utara dari tangan Kekuatan Poros pada akhirnya.[96]
Jeschonnek setuju untuk melepaskan formasi spesialis penyekatan maritim, Fliegerkorps X, ke Sisilia. Pada tanggal 14 Desember 1940, sebanyak 14.389 personel, 226 pesawat tempur, dan 31 pesawat angkut diperintahkan menuju Italia dan Afrika Utara untuk menaruh ranjau di Suez serta memutus jalur-jalur pelayaran Laut Mediterania. Korps udara tersebut segera terlibat dalam pengeboman target-target di Malta.[95] Jeschonnek dan Hitler melihat bahaya langsung yang ditimbulkan oleh pulau tersebut dan mendorong Mussolini untuk "melumpuhkannya".[97] Kegagalan OKL untuk mengembangkan torpedo udara sebelum perang membawa dampak buruk pada operasi-operasi di Mediterania. Atas perintah tegas Hitler, Jeschonnek bergegas melakukan persiapan untuk membentuk unit semacam itu.[98] Hingga bulan Oktober 1940, Jeschonnek mengabaikan pengembangan torpedo udara.[99]
Jeschonnek melibatkan dirinya dalam Kampanye Balkan — Invasi Jerman ke Yugoslavia dan invasi ke Yunani. Jeschonnek mendukung penggunaan pasukan penerjun payung dalam Pertempuran Kreta serta keinginan Kurt Student untuk menggunakan Kreta sebagai titik tolak bagi invasi ke Siprus dan wilayah Terusan Suez.[100] Jeschonnek terbang ke Athena untuk mengawasi invasi Kreta tersebut. Di tengah pertempuran, ia menerima kabar bahwa Bismarck telah tenggelam. Ia mengirimkan pesan melalui mesin Enigma yang berhasil dicegat oleh Ultra, untuk menanyakan keberadaan putra dari salah satu stafnya, seorang perwira muda yang berada di atas kapal tersebut.[101]

Kemenangan di Kreta datang terlambat bagi Poros untuk memanfaatkannya, khususnya guna mendukung pemberontakan di Irak. Meskipun demikian, Hitler memerintahkan dukungan udara Jerman untuk para pemberontak atas saran dari diplomat Fritz Grobba. Jeschonnek memerintahkan Walter Junck, komandan Jagdfliegerführer 3 (Jafü 3—Pemimpin Penerbang Pemburu) di Prancis, pergi ke Irak untuk membentuk Fliegerführer Irak (Komando Penerbangan Irak). Operasi tersebut berujung pada bencana dan berakhir pada tanggal 1 Juni 1941 dengan kerugian 19 pesawat.[102] Karena disesatkan oleh Grobba, Jeschonnek menyeret Junck ke pengadilan militer, tetapi perwira senior tersebut dibebaskan dari tuduhan.[102] Ketidakmampuan pihak Italia mendorong Jeschonnek untuk mengusulkan agar Kesselring dikirim ke Mediterania guna mendukung pengepungan Malta dan Kampanye Afrika Utara. Konsekuensi dari saran ini menyebabkan Göring memerintahkan Kesselring dan seluruh armada udaranya, Luftflotte 2, ke teater tersebut.[103] Pemindahan kekuatan udara Kesselring dari Front Timur pada bulan Oktober 1941 secara tak terhindarkan melemahkan kekuatan Luftwaffe di Uni Soviet.[104]
Saudara laki-laki Jeschonnek bertugas di Kriegsmarine dan ia bersimpati pada keinginan angkatan laut untuk mendapatkan dukungan udara yang memadai dalam Pertempuran Atlantik.[105] Karl Dönitz, perwira tinggi untuk U-boat, mengambil alih kendali atas satu unit pada awal tahun 1941, yang segera direbut kembali oleh Göring. Sebuah kompromi akhirnya disepakati dan sebuah komando dibentuk, yaitu Fliegerführer Atlantik (Komandan Penerbangan Atlantik) di bawah kendali Luftwaffe. Operasi antipelayaran tidak mendapatkan perhatian yang semestinya sepanjang perang; sikap keras kepala Göring serta kebutuhan di teater-teater perang lainnya terus menyedot kekuatan udara Jerman. Pada tanggal 5 September 1942, Ulrich Kessler yang mengomandani formasi tersebut menyatakan kepada Jeschonnek bahwa Fliegerführer Atlantik sudah seperti "mayat hidup" dan harus dibubarkan.[106] Kessler mengeluhkan penarikan unit-unit pengebom untuk mengebom Britania dan menegaskan bahwa memutus "ruang pelayaran" musuh adalah satu-satunya cara untuk mengalahkan Britania.[106] Pada bulan Februari 1943, ketika pertempuran mencapai puncaknya, Dönitz menuntut pesawat jarak jauh dari Göring, tetapi ditolak dengan alasan tidak ada pesawat cocok yang tersedia. Hitler mengintervensi dan memerintahkan enam pesawat Blohm & Voss BV 222 ke Atlantik. Jeschonnek mengulur-ulur waktu sehingga pesawat-pesawat tersebut baru tersedia pada musim panas. Hanya empat Junkers Ju 290 dan 10 pesawat Ju 88H yang dimodifikasi yang berhasil disediakan sebelum kekalahan U-boat dalam Mei Hitam.[107]
Dalam sebuah keberhasilan yang menonjol, kapal tempur Scharnhorst, Gneisenau, dan kapal penjelajah Prinz Eugen menyelesaikan sebuah sortie penyerangan ke Samudra Atlantik. Terjebak di pelabuhan Brest, kapal-kapal tersebut mendapat serangan udara dari Komando Pengebom RAF. Pada tanggal 12 Januari 1942 Wolfsschanze, Hitler memerintahkan penarikan mundur kapal-kapal tersebut yang berisiko tinggi melalui Selat Inggris. Luftwaffe diperintahkan untuk menyediakan payung udara dan serangan udara pengalihan. Jeschonnek menjanjikan sekitar 250 pesawat, tetapi menolak memperkuat wilayah Selat dengan pesawat tempur tambahan.[108] Operasi Donnerkeil (Operasi Sambaran Petir) menjadi nama sandi untuk rencana payung udara tersebut. Keberadaan operasi ini sangat dirahasiakan sehingga Jeschonnek dan Galland harus menandatangani sumpah kerahasiaan saat mereka meninggalkan Markas Besar Hitler. Donnerkeil menjadi keberhasilan bagi Luftwaffe yang hanya kehilangan 22 pesawat.[109]
Sejak tahun 1943, Luftwaffe memfokuskan Teater Mediterania sebagai area untuk penyekatan maritim. Generalmajor Johannes Fink diangkat untuk mengomandani Fliegerdivision 2 pada bulan November 1942 yang berbasis di Marseille. Fink menganjurkan kampanye militer yang agresif di Mediterania barat dan mengusulkan untuk menyerang setiap konvoi yang menuju ke timur dengan dua unitnya, KG 26 (torpedo) dan KG 100 (rudal). Unsur-unsur dari KG 77 mulai beralih menggunakan torpedo pada waktu itu guna mendongkrak kekuatan tempur. Fink bahkan menawarkan pengunduran dirinya kepada Jeschonnek jika keinginannya tersebut ditolak. Namun, hanya 26 kapal yang berhasil ditenggelamkan dari bulan Januari hingga Agustus 1943 dan divisi tersebut gagal mencegah jatuhnya Tunisia pada bulan Mei 1943.[110] Penerus Jeschonnek, Günther Korten, sempat membuat rencana untuk meningkatkan kekuatan pasukan antipelayaran, tetapi posisi mereka kian terpinggirkan menjelang akhir tahun 1943.[111]
Perang melawan Uni Soviet
Pada tanggal 22 Juni 1941, Jerman menginvasi Uni Soviet. Sebelum kampanye militer tersebut dimulai, Jeschonnek berujar, "akhirnya perang yang sesungguhnya!"[112] Kepala staf umum tersebut kurang memperhatikan atrisi (penyusutan kekuatan) yang telah terjadi dalam Pertempuran Britania dan Pertempuran Prancis sebelumnya. Keputusan untuk menyerang negara terbesar di dunia dengan angkatan udara yang secara kuantitas berukuran sama dengan tahun sebelumnya, serta lebih lemah dalam hal pengalaman dan pelatihan kru, terbukti menjadi kesalahan fatal.[112] Pada tanggal 27 Februari 1941, Jeschonnek memberi tahu Franz Halder bahwa rasio pesawat terhadap ruang udara sangat rendah dan dukungan udara hanya dapat dijamin untuk area-area yang esensial. Sebaliknya, OKW memperingatkan para komandan lapangan angkatan darat untuk bersiap menghadapi paparan serangan udara musuh yang lebih besar daripada kampanye militer sebelumnya.[113]
Kampanye militer ini diawali dengan berbagai keberhasilan. Angkatan Udara Uni Soviet menderita kerugian besar yang melumpuhkan kekuatan mereka. Hal ini berdampak pada angkatan darat Jerman yang berhasil merangsek maju hingga ke pinggiran Leningrad, Rostov, dan Moskow. Menjelang akhir tahun 1941, jelas terlihat bahwa Barbarossa telah gagal.[114] Kekuatan tempur Luftwaffe berada dalam kondisi genting. Dalam hal kekuatan pengeboman, Luftwaffe hampir tidak memiliki kemampuan yang tersisa. Pada bulan Desember 1941, armada pengebom hanya memiliki 47,1 persen dari kekuatan yang diizinkan; dan hanya 51 persen dari kekuatan tersebut yang siap beroperasi. Dengan demikian, dari kekuatan yang diizinkan sebanyak 1.950 pesawat pengebom, Luftwaffe hanya memiliki 468 pesawat yang siap beroperasi pada tanggal 6 Desember 1941, atau hanya 24 persen dari jumlah pesawat yang diizinkan. Kekuatan keseluruhan merosot dari 3.451 pesawat pada bulan Juni menjadi 2.749 pesawat pada bulan Desember 1941. Udet, Göring, dan Jeschonnek semuanya turut menanggung bagian dari kesalahan ini.[115]
Program produksi tahun 1942 rancangan Milch, yang disebut "program Göring", didasarkan pada asumsi kekalahan Uni Soviet. Kegagalan angkatan darat di Moskow menimbulkan kesulitan dalam meningkatkan produksi pesawat. Hitler memerintahkan pihak industri untuk membatalkan rencana tersebut seiring berlanjutnya kerugian angkatan darat dan operasi militer di Front Timur. Milch memberi tahu Jeschonnek bahwa hal ini menandakan penurunan kapasitas produksi dalam industri pesawat terbang, serta menambah kesulitan dalam mencari tenaga kerja dan bahan baku.[116]
Milch menggantikan Udet setelah Udet bunuh diri dan berupaya keras untuk meningkatkan produksi. Di internal OKL, masih terdapat skeptisisme yang besar mengenai skala rencana tersebut. Pada bulan Maret 1942, Jeschonnek keberatan atas desakan Milch untuk meningkatkan produksi pesawat tempur. Jeschonnek konon berkata, "Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dengan lebih dari 360 pesawat tempur!"[117] Menjelang Juni 1942, Jeschonnek telah mengubah pandangannya dan menyetujui perlunya produksi bulanan setidaknya 900 pesawat tempur pada musim dingin 1943/44. Seorang sejarawan menulis, "mengingat tingkat atrisi pada tahun 1940 dan 1941, komentar Jeschonnek pada bulan Maret hanya dapat digambarkan sebagai hal yang luar biasa."[117] Jeschonnek tetap mempertahankan pandangan bahwa Luftwaffe adalah senjata serangan dan meskipun ia bersimpati kepada Adolf Galland, ia terus membangun unit-unit penyerang dan melatih pilot-pilot serangan darat dengan mengorbankan Jagdwaffe. Jeschonnek sangat meyakini bahwa kekalahan Uni Soviet dan bukannya pertahanan udara, merupakan prasyarat bagi keberhasilan kelanjutan perang. Hitler dan Göring mendukung dominasi produksi pesawat pengebom di atas pesawat tempur. [118]
Sepanjang tahun 1942, ukuran kekuatan Luftwaffe di Front Timur kian menyusut. Pada pertengahan November, Pertempuran Stalingrad mengarah pada bencana ketika Angkatan Darat ke-6 terkepung. Dalam upaya untuk memulihkan prestise yang hilang, Göring meyakinkan Hitler bahwa pasukan tersebut dapat dipasok melalui udara. Jeschonnek dan staf umum menyetujui jembatan udara tersebut hampir tanpa komentar. Pada tanggal 24 November, Richthofen mencatat serangkaian percakapan di mana ia mendesak dilakukannya penerobosan segera. Jeschonnek tampaknya tidak memberikan pendapat. Diamnya Jeschonnek memastikan OKH tidak mendapat dukungan dari staf udara dalam upayanya membujuk Hitler untuk meninggalkan Stalingrad dan membebankan tugas yang mustahil kepada armada udara untuk memasok kembali angkatan darat yang berada di dalam kantong pengepungan tersebut.[119]
Diketahui bahwa Hitler dan Jeschonnek telah bertemu di Berghof beberapa hari sebelumnya untuk membahas masalah tersebut. Jeschonnek meyakinkan Hitler bahwa kesuksesan di Kantong Demyansk dapat diulang kembali asalkan ada pesawat dan lapangan terbang yang memadai. Hitler lebih memilih untuk mempertahankan angkatan darat di Stalingrad dan memerintahkan Manstein untuk menerobos masuk ke kota tersebut, setelah pada bulan September menyatakan bahwa angkatan darat Jerman tidak akan dapat diusir.[120] Jeschonnek segera menyadari kesalahannya saat merencanakan hal-hal teknis dari jembatan udara tersebut dan mendesak Göring untuk memperingatkan Hitler bahwa tonase yang dibutuhkan tidak akan dapat dikirimkan, tetapi atasannya menganggap hal itu sudah terlambat dan menolak. Göring telah memberikan janjinya kepada Hitler dan melarang Jeschonnek mengatakan apa pun.[121] Göring menelepon Hitler untuk meyakinkannya kembali dan bahkan meminta Hitler untuk bertanya kepada Milch jika ia ragu mengenai detailnya. Pada tahun 1946, Milch mengetahui tentang percakapan ini dan menulis dalam buku hariannya, "penipuan ditambah ketidakmampuan sama dengan satu Reichsmarschall!"[121] Tidak ada satu pun dari staf umum yang tampaknya menghargai kondisi mengerikan yang harus dihadapi oleh para kru jembatan udara saat beroperasi. Sepanjang pengepungan tersebut, satu-satunya perwira senior yang turun ke front adalah von Richthofen dan Milch. Pihak yang disebut terakhir direndahkan oleh jenderal-jenderal Luftwaffe lainnya karena dianggap "hanya seorang warga sipil."[122]

Setelah kekalahan di Stalingrad dan kegagalan dalam Fall Blau, pengaruh Jeschonnek sebagai kepala staf menurun. Untuk menjauh dari Göring, ia melobi untuk mendapatkan komando Luftflotte 4 yang dikosongkan oleh Richthofen pada musim semi 1943. Namun, karena alasan yang tidak diketahui, permohonan Jeschonnek ditolak dan jabatan tersebut diberikan kepada Otto Dessloch.[123] Peningkatan produksi memungkinkan pengiriman pesawat dalam jumlah besar untuk Operasi Citadel pada bulan Juli 1943. Jeschonnek mencatat kepada Göring bahwa kerugian non-tempur sangat memengaruhi kesiapan tempur. Tingginya atrisi dan berkurangnya waktu pelatihan bagi para pilot menjadi penyebab utama masalah tersebut.[124] Dalam upaya yang terlambat untuk menyeimbangkan peta kekuatan di medan perang, Jeschonnek dan perwira staf operasinya, Rudolf Meister, menjadi penggerak utama dalam serangan terhadap sektor-sektor industri,[125] meskipun angkatan darat mungkin telah memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menekan OKL agar mengebom pabrik-pabrik tank sebelum Citadel dimulai.[126]
Pada pertengahan tahun 1943, Staf Umum menyimpulkan bahwa pengerahan kekuatan udara Jerman yang kian menyusut untuk mendukung angkatan darat tampaknya tidak akan membuahkan hasil strategis.[127] Sebelum Citadel, Jeschonnek dan OKL menjajaki dan melaksanakan kampanye pengeboman strategis terhadap industri persenjataan Soviet, di samping misi-misi tingkat operasional yang lebih biasa dilakukan. Penyekatan transportasi kereta api terbilang cukup sukses, tetapi sebelum serangan tersebut Jeschonnek mencatat bahwa, "kekuatan Luftwaffe tidak cukup untuk menjamin kemenangan."[128] Seorang sejarawan mengamati bahwa "fakta bahwa Jeschonnek menganggap kekuatan Luftwaffe tidak memadai bahkan untuk tugas mendukung Citadel secara langsung, memberikan satu lagi contoh ketidakmampuan kepemimpinan Luftwaffe dalam menyelaraskan tujuan dengan kemampuan yang ada,"[129] yang menyingkap jurang pemisah antara doktrin dan kapabilitas.[130] Pengakuan Jeschonnek ini kontras dengan percakapannya dengan kepala staf Robert Ritter von Greim, Fritz Kless, yang membahas upaya penggunaan 20–30 pesawat untuk melakukan "serangan teror" yang bertujuan meruntuhkan moral Soviet di kota-kota di belakang garis depan.[129]
Kless and Jeschonnek membentuk sebuah Generalkommando (staf khusus) untuk mengawasi pembentukan armada pengebom jarak jauh. Kelompok pengebom strategis ini bersifat independen dan berada di bawah komando langsung OKL, bukan di bawah armada udara induk.[131] Komando tersebut rencananya akan dinamai Panglima Udara Tertinggi Timur dan kemudian ditetapkan sebagai Fliegerkorps IV oleh penerus Jeschonnek, Korten.[131] Jeschonnek mengorganisasi armada udara untuk operasi tersebut dan mempertimbangkan pembentukan staf terpisah untuk "penelitian target, yang ditugaskan untuk mempelajari dan menilai industri perang Rusia secara keseluruhan serta memanfaatkan semua penelitian yang dapat diakses."[132]
Luftflotte 6 pimpinan Robert Ritter von Greim, dengan sejumlah dukungan dari Luftflotte 4, ditugaskan 7 Geschwader pengebom untuk melaksanakan serangan tersebut[133] — KG 55, KG 3, KG 4, KG 27, KG 51, KG 53, dan KG 100.[134] Bahkan Richthofen, eksponen utama dalam hal dukungan darat, menyetujui operasi tersebut. Dirasakan bahwa Luftwaffe dapat memberikan bantuan yang lebih besar kepada angkatan darat dengan cara ini.[135] Pabrik Nomor 24 di Oblast Kuybyshev memproduksi 25% dari seluruh mesin penerbangan di Uni Soviet dan 85% dari seluruh mesin Ilyushin Il-2, Pabrik Nomor 26 di Ufa dengan 31% dari total produksi dan 60% dari seluruh produksi mesin pesawat tempur, Pabrik Nomor 16 di Kazan yang memproduksi 12% dari total dan 60% dari seluruh mesin pesawat pengebom sedang, Pabrik Nomor 45 di Moskwa dengan 5% dari total tetapi 15% dari mesin IL-2, dan terakhir Pabrik Nomor 466 di Gorky dengan 5% dari total dan 10% dari seluruh produksi mesin pesawat tempur menjadi target-targetnya.[136] Tiga dari 5 pabrik bantalan peluru berada dalam jangkauan; pabrik karet sintetis di Yaroslavl (23% dari total produksi) serta kilang minyak dan pabrik baja semuanya turut dipertimbangkan. Peta intelijen yang tersisa menunjukkan bahwa pabrik minyak mentah dan bantalan peluru di Saratov juga dipertimbangkan.[137] Pada fase akhir, produksi tank dan kendaraan tempur lapis baja menerima beban utama dari serangan-serangan tersebut. Fasilitas di Gorky paling menarik perhatian karena memproduksi 15% dari T-34 dan merupakan pabrik terbesar di barat Ural. Akibat kesalahan, para perencana menargetkan Pabrik Kendaraan Bermotor Negara No. 1 Molotov, pabrik mobil terbesar di negara itu yang sebenarnya memproduksi T-60 dan T-70 yang kurang mengancam. Pabrik Krasnoye Sormovo No. 112 ditargetkan karena produksinya terhadap amunisi.[138]
Serangan tersebut dibuka dengan menyerang Gorky pada tanggal 4 Juni 1943. Sebanyak 420 pesawat pengebom dikerahkan dan 636 ton bom dijatuhkan.[138] Tujuh serangan besar, yang terdiri dari 682 sortie, dilancarkan terhadap Gorky dan 1.105 ton bom dijatuhkan. Pabrik mobil Molotov, yang memang memproduksi suku cadang T-34, mengalami kerusakan parah. Sementara itu, pabrik Krasnoye tetap tidak tersentuh.[139] Pada tanggal 9 dan 20 Juni, pabrik karet Yaroslavl SK 1 dihujani 324 ton bom. Intelijen Jerman memilih target tersebut berdasarkan pengetahuan mereka mengenai kerentanan industri mereka sendiri terhadap hilangnya produksi karet. Pabrik tersebut rusak berat. Target-target minyak di Saratov menerima 181 ton bom dari tanggal 12 hingga 15 Juni — SU 66 75 dan SU 65 76 merupakan titik sumbat, karena meskipun Uni Soviet memiliki cadangan minyak yang sangat besar, hanya sedikit pabrik yang dapat menyuling minyak mentah menjadi bahan bakar penerbangan beroktan tinggi.[140]
Di tengah-tengah serangan tersebut, Albert Speer, menteri persenjataan, beserta para teknokrat lainnya, dengan memanfaatkan pengalaman dari serangan Komando Pengebom RAF di atas Jerman, melakukan intervensi dan mulai ikut campur dalam pemilihan target. Speer membentuk sebuah "Komite Kerja untuk Target Ekonomi bagi Serangan Udara" pada tanggal 23 Juni 1943.[131] Perwira penghubung Joachim von Ribbentrop, Walther Hewel, bahkan merasa perlu menyurati Jeschonnek pada tanggal 12 Juni berisi rekomendasi mengenai target-target di pedalaman Soviet. Dukungan Hewel sangat krusial dalam membujuk Hitler untuk menyetujui serangan terhadap pembangkit listrik demi menyelaraskannya dengan langkah penerus Jeschonnek, Korten, dan Speer pada musim gugur 1943.[131] Dampak jangka panjang dari pengeboman terhadap kekuatan militer Soviet dipastikan akan dapat diabaikan, bahkan seandainya operasi itu berhasil sekalipun.[141] Kesediaan Jeschonnek untuk menuruti rekomendasi angkatan darat demi mengebom pabrik-pabrik tank serta rekomendasi komite tersebut kemungkinan besar berakar dari kegagalan intelijen sebelum perang dalam mengumpulkan informasi yang tepat mengenai lokasi dan potensi industri persenjataan Soviet. Informasi intelijen semacam itu sebenarnya tidak akan diperlukan lagi andai Operasi Barbarossa berhasil, tetapi kegagalan serangan tersebut membuat "angkatan bersenjata Jerman harus membayar mahal harganya."[142]
Jeschonnek mendukung serangan Kursk dengan sebagian besar kekuatan udara Jerman karena meyakini bahwa Pertempuran Kursk akan membuahkan kemenangan besar.[143] Dalam pertempuran ini, Luftwaffe menimbulkan kerugian besar pada Angkatan Udara Merah serta memegang peran krusial dalam menghalau Operasi Kutuzov dan mencegah pengepungan Angkatan Darat ke-9 dan Angkatan Darat Panzer ke-2.[144][145]
Meskipun demikian, kegagalan akhir dari serangan Kursk yang menyusul kekalahan Jerman di Afrika Utara menyebabkan Hitler berbalik menentang Jeschonnek. Göring sebenarnya sudah menyarankan kepada Hitler agar Jeschonnek diganti dari jabatannya sebagai Kepala Staf Udara, tetapi Hitler keberatan.[143]
Pertahanan Reich dan kejatuhan

Pada tahun 1939, Komando Pengebom RAF memulai operasi pengeboman terhadap pelabuhan-pelabuhan Jerman. Operasi tersebut menandai dimulainya salah satu kampanye militer terlama di masa perang bagi Luftwaffe — dikenal sebagai Pertahanan Reich (Reichsverteidigung). Pada tanggal 21 September 1939, Jeschonnek mengeluarkan sebuah arahan yang menuntut pasukan pemburu Jerman (Jagdwaffe) untuk melindungi Jerman dengan cara yang "terkait langsung dengan konsep strategis [yaitu, ofensif] demi kelanjutan jalannya perang udara."[146] Mayoritas unit pemburu harus tetap berada di bawah Luftflotten mereka masing-masing, alih-alih berada di bawah komando pertahanan udara. Pada tahun 1940, sebuah publikasi yang dikeluarkan oleh OKL menyatakan bahwa pasukan pemburu diharapkan untuk melakukan operasi ofensif dan defensif, tetapi "tugas-tugas defensif ini dilaksanakan dengan cara yang ofensif."[146]
Pola pikir ofensif ini berjalan baik di dekat garis depan, tetapi membuat Fliegerkorps dan Fliegerdivision tidak memiliki pengalaman dalam pertahanan udara. Selain itu, koordinasi dengan pasukan antipesawat menjadi rumit karena hanya dapat dikoordinasikan di tingkat Luftflotten.[146] Solusi sementara adalah pembentukan Jagdfliegerführer (Unit Komando Pemburu—Jafü) pada akhir tahun 1939 untuk melaksanakan segala jenis operasi pesawat pemburu. Keberhasilan awal di Prancis dan Norwegia pada tahun 1940 mengurangi urgensi kebutuhan akan pertahanan Jerman sehingga komando-komando ini dikirim ke Selat Inggris.[147] Kekalahan dalam Pertempuran Britania tertutupi oleh kemenangan-kemenangan militer dalam Kampanye Balkan tahun 1941 dan 1942 serta fase-fase pembuka di Front Timur. Masuknya Amerika Serikat ke dalam perang tampaknya tidak membawa banyak perubahan. Angkatan Udara ke-8 sempat babak belur pada tahun 1942 dan para pilot Luftflotte 3 menghormati musuh baru tersebut. Namun, wilayah Jerman sendiri pada dasarnya tetap aman dari serangan siang hari sepanjang tahun 1942. Pertahanan pesawat pemburu di barat tampaknya mampu bertahan dengan baik, mendorong Jeschonnek untuk berujar kepada salah satu stafnya, "Galland bisa menangani pertahanan [siang hari] di barat hanya dengan satu Geschwader."[148]
Sikap Jeschonnek terhadap ancaman Amerika bersifat kontradiktif. Atase militer Jerman di Washington, D.C., Jenderal Friedrich von Boetticher, menyusun laporan yang sangat terperinci mengenai B-17 Flying Fortress dan perkembangan pesawat Amerika. Jeschonnek merasa terkesan sehingga ia mengirim Boetticher untuk menemui Hitler. Namun, Hitler mengabaikan data tersebut setelah Göring meyakinkannya bahwa pesawat itu berkualitas buruk. Jeschonnek kemudian menulis surat kepada Boetticher, "kita habis sudah. Selama bertahun-tahun, berdasarkan laporan-laporan Anda, saya telah meneruskan tuntutan kepada Hitler dan Göring, tetapi selama bertahun-tahun pula permintaan saya untuk memperluas Luftwaffe tidak pernah dijawab. Kita tidak lagi memiliki pertahanan udara yang saya minta dan yang sebenarnya dibutuhkan. Tuntutan-tuntutan yang saling bertentangan telah dibuat oleh Hitler. Kita tidak punya waktu lagi."[149] Satu bulan kemudian, ia justru menyela sebuah presentasi mengenai ancaman Angkatan Udara Angkatan Darat Amerika Serikat (USAAF) dengan pernyataan; "Setiap pesawat pengebom bermesin empat yang dibangun Sekutu membuat saya senang karena kita akan menjatuhkan pesawat-pesawat pengebom bermesin empat ini sama seperti kita menjatuhkan pesawat bermesin dua dan penghancuran sebuah pesawat pengebom bermesin empat merupakan kerugian yang jauh lebih besar bagi musuh."[149] Orang-orang terdekat Jeschonnek tahu bahwa kepala staf mereka memahami situasi yang sebenarnya, tetapi ia tidak mampu menegaskan dirinya di depan umum, maupun di hadapan Hitler dan Göring.[149]
Akhir tahun 1942 menjadi bencana bagi upaya perang Jerman; Stalingrad, Alamein, pendaratan Torch, ditambah dengan meningkatnya intensitas serangan malam hari oleh Komando Pengebom yang melebur ke dalam Serangan Pengebom Gabungan, membuat Jeschonnek sangat tertekan. Hitler dan Göring bertekad untuk merebut kembali inisiatif dan mempertahankan armada udara yang kuat di garis depan sembari meningkatkan ukuran pasukan pemburu malam dan siang hari di Jerman. Jeschonnek sempat meminta komando lapangan untuk melarikan diri dari tekanan yang kian menumpuk, tetapi permohonannya ditolak. Setelah itu, ia tetap "mendesak maju" dengan ambisi-ambisi yang tidak dapat diatasi tersebut.[150] Jeschonnek berharap bahwa pertahanan malam dan siang hari yang kian berkembang dapat menghalau serangan Anglo-Amerika sementara Wehrmacht merebut kembali inisiatif di Uni Soviet.[150] Jeschonnek menyadari bahwa USAAF mewakili jenis ancaman yang berbeda dibandingkan Komando Pengebom; orang Amerika mencoba menghancurkan target-target spesifik. Pada akhir Juni 1943 — Blitz Week [en] — Jeschonnek meminta daftar terbaru dari Speer mengenai titik-titik krusial dalam ekonomi perang yang membutuhkan perlindungan tambahan.[151]
Perang udara telah bergeser dari pertempuran di sepanjang pinggiran Eropa yang diduduki Jerman menjadi perang atrisi (penyusutan kekuatan) di atas langit Jerman. Pada bulan Juli, 18,1% dari kekuatan pesawat pemburu Jerman yang beroperasi pada hari pertama bulan tersebut telah lenyap. Pada bulan Agustus 1943, sebanyak 248 pesawat pemburu bermesin tunggal dan 86 bermesin ganda hancur. Hal yang lebih mencemaskan, pesawat pengawal Amerika berhasil melakukan penetrasi yang lebih dalam ke dalam ruang udara Jerman sehingga membatasi jumlah waktu dan ruang yang dimiliki oleh para pilot pemburu Jerman untuk mencegat pesawat pengebom Amerika. Jeschonnek dan rekan-rekan perwira stafnya telah mengabaikan landasan industri, teknis, dan logistik yang menjadi tumpuan dalam perang modern; "kebutaan aneh yang membuatnya bertanya-tanya pada awal tahun 1942 tentang apa yang akan dilakukan Luftwaffe dengan 360 pesawat pemburu kini telah menjerumuskan angkatan udara dan negaranya ke dalam situasi yang tanpa harapan."[152]
Jeschonnek juga gagal mengenali sinyal peringatan bahwa kekuatan udara Britania terus berkembang. Ia masih berpikir dalam kerangka angkatan udara yang ofensif dan lebih memilih untuk membalas menyerang kota-kota Britania, guna "melawan teror dengan teror", sebuah pandangan yang sejalan dengan Hitler. Kekuatan pesawat pemburu malam Jerman tidak memadai, dan baik Jeschonnek maupun Göring tidak menaruh simpati besar pada cabang tersebut. Menurut Beppo Schmid, Jeschonnek bekerja dengan sangat “enggan dalam hal pertahanan udara."[153] Sebagai contoh dari ketidakpedulian Jeschonnek terhadap pertahanan udara, ia mencopot 150 baterai antipesawat dari Jerman pada bulan Desember 1942 dan mengirimkannya ke Italia sebelum keputusan tersebut dibatalkan pada musim semi berikutnya. Front Timur menyedot sejumlah besar baterai bergerak sehingga merampas kemampuan Jerman untuk membangun titik-titik pertahanan kuat — yang merupakan salah satu aset luar biasa mereka. Pertahanan tersebut belum diselaraskan dengan teknologi terbaru; sekitar 30 persen di antaranya kekurangan peralatan pengukur jarak dan hanya 25–30 persen yang memiliki radar sendiri.[154] Konsekuensi dari keputusan-keputusan ini membuat Luftwaffe tidak mampu mencegah kehancuran kota-kota Jerman dan melindungi penduduk mereka.[153]
Setelah kekalahan mereka dalam Pertempuran Teluk Heligoland pada tahun 1939, pihak Britania menghentikan serangan siang hari dan beralih ke pengeboman malam hari. Penunjukan Arthur Harris sebagai Panglima Udara Komando Pengebom mengubah jalannya perang malam tersebut. Pengeboman kawasan menjadi metode taktis untuk menghancurkan target setelah keluarnya Laporan Butt yang memberatkan pada tahun 1941. Sebagai hasil dari alat bantu navigasi yang lebih baik dan desain pesawat pengebom berat yang baru, Britania melancarkan serangan udara yang merusak ke kota-kota Jerman, yang dimulai dengan serangan terhadap Lübeck pada bulan Maret 1942 dan berlanjut dengan pengeboman Hamburg pada bulan Juli 1943.[155] Pada bulan Juni 1940, Luftwaffe masih belum memiliki sekolah pelatihan pesawat pemburu malam yang layak.[156] Pada akhir tahun 1941, OKL sebenarnya memiliki waktu untuk membangun armada pemburu malam yang mampu menimbulkan kerugian besar bagi RAF, tetapi OKL memilih untuk tidak melakukannya, kemungkinan karena berada di bawah ilusi bahwa Uni Soviet akan segera runtuh sehingga unit-unit udara dapat dialihkan ke Barat untuk pertahanan udara.[155] Efek kejut dari Hamburg terhadap OKL mendorong urgensi yang lebih besar untuk menciptakan taktik dan teknologi baru guna mengatasi ofensif Britania, terlebih saat itu Jerman telah kehilangan keunggulannya dalam pertempuran gelombang radio.[157] Kepemimpinan Nazi, khususnya Speer dan Goebbels, terguncang oleh dampak serangan tersebut yang menghancurkan 40% produksi perusahaan besar dan 80% perusahaan kecil, bersama dengan 75% instalasi listrik, 90% sistem gas, dan 60% sistem air.[158]
Jeschonnek, sebagai Kepala Staf Umum, tidak cukup fleksibel untuk melampaui aspek tradisi yang paling kaku serta orientasi intelektualnya sendiri yang sempit. Manajemen pertahanan udaranya dinilai "lamban" dan penuh improvisasi. Saran-saran untuk memodernisasi dan merampingkan pertahanan udara "tetap menjadi misteri baginya."[159] Kesselring mengakui hal ini, tetapi menambahkan bahwa, "penggabungan pertahanan udara nasional menjadi satu armada udara tunggal merupakan jasanya."[159] Keputusan Jeschonnek tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan pandangan jauh ke depan, melainkan merupakan tindakan reaktif terhadap peristiwa yang sedang terjadi.[159]
Hubungan Jeschonnek dengan Göring memburuk dengan cepat pada tahun 1943. Göring sangat menghargai Jeschonnek ketika angkatan bersenjata Jerman meraih kesuksesan. Saat hubungan mereka pertama kali meregang, Göring menghadiahi Jeschonnek seekor kuda tunggang untuk memperbaiki keretakan tersebut. Jeschonnek, seorang prajurit yang kaku dan hemat, tidak pernah bisa menemukan pendekatan yang tepat terhadap Göring yang menyukai informalitas. Göring sering bertindak sewenang-wenang terhadap Kepala Staf Umumnya dengan memberikan — seperti yang diceritakan Kesselring — "baik arahan yang tidak mungkin dipenuhi atau tidak memberikan arahan sama sekali".[160] Jika Jeschonnek tidak menangani berbagai hal sesuai keinginan Göring, sang Reichsmarschall akan naik pitam. Jeschonnek harus menahan kritik tajam yang makin sering terjadi sejak Hitler mulai menyingkirkan Göring dari kepercayaannya dan memilih untuk berurusan langsung dengan Jeschonnek: sebuah fakta yang membuat sang Reichsmarschall naik darah.[160] Musuh-musuh Jeschonnek di OKL, Ulrich Diesing dan Bernd von Brauchitsch, meracuni pikiran Göring untuk menentangnya. Beppo Schmid mengeklaim bahwa pembentukan staf umum kedua secara de facto yang dipimpin oleh von Brauchitsch merupakan puncak kejengkelan bagi Jeschonnek. Orang-orang ini sering bertemu dengan Göring dan menurunkan perintah tanpa sepengetahuan Jeschonnek. Sisi lain dari keretakan yang kian membesar ini adalah kecemburuan Göring terhadap popularitas Jeschonnek. Ia melarang Jeschonnek mengunjungi garis depan.[161] Jeschonnek menggantikan Göring dalam sesi pengarahan dan sering kali menjadi sasaran kritik Hitler terhadap Luftwaffe. Pada suatu kesempatan, Hitler menarik Jeschonnek ke samping dan meyakinkannya bahwa cercaan tersebut tidak ditujukan kepadanya. Masih belum jelas apakah Hitler pernah kehilangan kepercayaan pada Jeschonnek. Kalaupun pernah, tidak diketahui kapan hal itu terjadi. Hitler menyukai gaya Prusia Jeschonnek yang kaku serta gaya hidupnya yang sederhana.[162]
Kematian
Jeschonnek mempertahankan citra sebagai seorang pria yang keras, tetapi orang-orang yang mengenalnya dengan baik menggambarkannya sebagai sosok yang "hampir penakut" dan "pribadi yang lembut."[163] Menurut mereka, ia "membangun dinding di sekeliling dirinya. Demi menyembunyikan kerentanan batinnya, ia menampilkan pembawaan yang dingin, agak tidak puas, dan tampak sarkastis di depan umum."[163] Jenderal Meister menyatakan, "Göring memberi tahu saya bahwa suatu kali di Carinhall, setelah dimulainya Kampanye Rusia pada tahun 1941, Jeschonnek mengalami gangguan saraf, dan mengatakan bahwa tanggung jawab 'akan dilimpahkan kepadanya.' Saya kemudian menjelaskan kepadanya bahwa saya yang akan menanggung tanggung jawab tersebut. Istri saya menghibur pria yang sedang menangis itu.'"[163] Karakteristik depresi dan bahkan gangguan emosional membuat seorang sejarawan berspekulasi bahwa Jeschonnek mengidap gangguan manik-depresif. Kondisi mentalnya ini berakar dari situasi militer. Ia mencurahkan isi hatinya kepada von Seidel bahwa kesalahan-kesalahan fatal telah dibuat dan terus berlanjut. Pada tanggal 12 April 1943, Heinz Guderian mencatat bahwa ia sudah pasrah dan kehabisan tenaga.[163]
Jeschonnek sangat menyadari bahwa ia terlibat mendalam dalam kegagalan-kegagalan Luftwaffe; Göring tidak bisa disalahkan atas segalanya. Jeschonnek secara adil akan dimintai pertanggungjawaban atas penilaian berlebihan terhadap Ju 88 dan He 177; pembentukan angkatan udara tanpa cadangan yang tidak layak untuk menjalani perang berkepanjangan; persetujuannya untuk menghentikan pengembangan pesawat; membiarkan produksi pesawat tempur tetap rendah demi memprioritaskan pesawat pengebom sedang; kegagalannya dalam memobilisasi program persenjataan tahun 1939 dengan benar; penilaiannya yang tampaknya meremehkan ancaman udara Anglo-Amerika; persetujuannya terhadap operasi logistik udara di Stalingrad; kegagalannya dalam mengembangkan cabang udara strategis dan komando transportasi udara; serta keterlambatan dalam membentuk pasukan pertahanan udara. Di bawah beban kesalahan-kesalahan tersebut, ditambah dengan tidak adanya hubungan keluarga yang berarti atau keyakinan agama yang dapat memberikan stabilitas emosional, ia mempertimbangkan untuk bunuh diri. Ajudannya memberi tahu Kesselring, tepat sebelum digulingkannya Benito Mussolini, bahwa ia sempat harus merebut pistol dari tangan Jeschonnek dan memperingatkan bahwa sang jenderal mungkin akan mencoba melakukannya lagi.[163]
Pada tanggal 17 Agustus 1943, USAAF melaksanakan Misi Schweinfurt–Regensburg. Industri bantalan peluru mengalami kerusakan, tetapi Luftwaffe tampaknya meraih kemenangan defensif. Meskipun demikian, Göring melakukan panggilan telepon yang penuh cercaan kepada Jeschonnek sore itu. Jenderal Meister mengenang bahwa mereka juga berbicara tentang koordinasi pesawat pemburu malam dan artileri antipesawat. Pada siang harinya, Meister, seperti biasa, pergi bersama Jeschonnek menggunakan perahu kecil di danau Gołdap. Setelah itu, mereka minum sampanye untuk merayakan ulang tahun putri Jeschonnek sebelum berpisah.[163]

Malam itu, Komando Pengebom melaksanakan Operasi Hydra (1943) terhadap fasilitas di Peenemünde pada malam tanggal 17–18 Agustus 1943. Pertahanan udara Jerman gagal mengantisipasi serangan tersebut. Dalam kebingungan yang terjadi, sekitar 100 pesawat pemburu malam dikerahkan ke Berlin karena kota itu diyakini sebagai sasaran utama. Padahal, Komando Pengebom hanya melancarkan serangan pengalihan ke arah ibu kota sehingga situasi makin kacau. Satuan antipesawat Jerman kemudian salah mengira pesawat-pesawat pemburu malam mereka sendiri sebagai pesawat penyusup dan melepaskan tembakan. Luftwaffe kehilangan 12 pesawat pemburu malam; sembilan di antaranya jatuh dalam pertempuran melawan pesawat pengebom dan pesawat pemburu malam penyusup Britania.[164]
Meister melaporkan hasilnya kepada Jeschonnek di pagi hari; Jeschonnek menerimanya dengan tenang. Meister kemudian berangkat ke sebuah konferensi di mana Jeschonnek tidak muncul. Ajudan Jeschonnek sedang menyiapkan sarapan untuknya dan seorang perwira lain juga ingin menyampaikan laporan langsung kepadanya. Seorang sekretaris menelepon kantor Jeschonnek; ia menjawab dan berjanji akan segera datang. Ketika Jeschonnek tidak kunjung tiba, ajudannya pergi untuk mencarinya, tetapi mendapati sang jenderal sudah tewas dengan sebuah pistol di sisinya. Menurut ajudan tersebut, ia tidak mendengar suara tembakan meskipun hanya berjarak 10 meter (33 ft) dari kantor Jeschonnek. Sebuah catatan ditemukan berbunyi, "Saya tidak bisa lagi bekerja sama dengan Reichsmarschall. Hidup Sang Führer!" Catatan kedua ditemukan di dekatnya, yang mengecualikan Ulrich Diesing dan Bernd von Brauchitsch dari upacara pemakamannya.[163] Jeschonnek meninggalkan sebuah memorandum yang tampaknya ditujukan kepada Hitler, berisi desakan untuk mengubah kepemimpinan di dalam Luftwaffe. Göring menyita memo tersebut karena yakin bahwa Jeschonnek telah bersekongkol menentangnya.[165]
Sejarawan Richard Suchenwirth menulis bahwa setelah Perang Dunia I muncul dua aliran pemikiran di kalangan perwira: kelompok yang berhati-hati, yang takut bahwa konflik yang melibatkan Jerman hanya akan mendatangkan koalisi kuat yang menentang mereka, dan kelompok optimistis yang memercayai legenda tikam dari belakang serta ketidakterkalahan angkatan bersenjata Jerman.
Jeschonnek termasuk dalam lingkaran yang percaya akan masa depan yang agung dan penuh kemenangan. Perasaannya diperkuat oleh kesetiaan pribadinya kepada Hitler yang ia pandang sebagai seorang jenius tingkat pertama. Namun, dalam diri Jeschonnek tidak ada sifat iblis yang dapat membuatnya kebal terhadap lika-liku perang atau akal sehat. Sebaliknya, ia memiliki pikiran yang tajam dan jernih, yang pada akhirnya membuatnya mampu melihat kebenaran di balik berbagai peristiwa serta menyadari bahwa Hitler—dan dirinya sendiri yang mengikuti Hitler—telah keliru. Kemenangan tidak lagi dapat diraih dan kekalahan sudah pasti terjadi. Dengan kesadaran ini, kekuatan kepribadiannya hancur berantakan. Terlebih lagi, terdapat ancaman-ancaman yang mengancam posisinya serta masalah terkait Göring. Sebagai sosok yang patriotik, sensitif, ambisius, dan secara alami optimistis, Jeschonnek akhirnya mengantisipasi bencana yang mendekat. Bunuh diri baginya adalah satu-satunya cara yang tepat untuk mempertahankan topeng prajurit yang keras dan tak tergoyahkan. Jauh lebih kesepian daripada ratusan ribu kawan Jauh lebih kesepian daripada ratusan ribu rekan seperjuangannya, ia mengakhiri hidupnya sebagaimana ia menjalaninya: sebagai seorang anak zamannya.[166]
Göring mengubah tanggal kematian Jeschonnek menjadi 19 Agustus dalam upaya untuk menghapus hubungannya dengan Peenemünde. Tanggal ini dilaporkan dalam surat kabar Völkischer Beobachter. Menyembunyikan cara kematian Jeschonnek merupakan kepentingan kepemimpinan Nazi demi mencegah pihak Sekutu dan publik Jerman menarik kesimpulan apa pun darinya.[163] Atas permintaannya sendiri, Jeschonnek dimakamkan di Kamp Robinson di tepi Danau Goldap, tidak jauh dari Rominter Heath (sekarang di Polandia). Tempat peristirahatan terakhirnya masih dirawat secara aktif oleh Komisi Makam Perang Jerman dan terdapat sebuah batu peringatan dengan plakat yang ditulis dalam bahasa Jerman dan Polandia.
Setelah ia meninggal, posisinya digantikan oleh General der Flieger Günther Korten. Pada saat yang sama, Oberst Eckhard Christian dipindahkan ke Luftwaffe-Führungstab (staf pengarahan operasi udara). Setahun kemudian, pada 1 September 1944, Christian dipromosikan menjadi Generalmajor sekaligus diangkat sebagai kepala Luftwaffe-Führungstab atas perintah Hitler.[167]
Riwayat kepangkatan
| 10 Agustus 1914: | Fähnrich (Kandidat Perwira)[1] |
| Musim gugur 1914: | Leutnant (Letnan Dua)[1] |
| 1 April 1925: | Oberleutnant (Letnan Satu)[1] |
| 1 Juni 1932: | Hauptmann (Kapten)[1] |
| 1 April 1935: | Major (Mayor)[1] |
| 1 April 1937: | Oberstleutnant (Letnan Kolonel)[168] |
| 1 November 1938: | Oberst (Kolonel)[168] |
| 14 Agustus 1939: | Generalmajor (setingkat Brigadir Jenderal)[168] |
| 19 Juli 1940: | General der Flieger (Jenderal Penerbang), melompati pangkat Generalleutnant (setingkat Mayor Jenderal)[169] |
| 1 Februari 1942: | Generaloberst (Jenderal Kolonel)[170] |
Catatan
- ↑ Dalam bahasa Jerman, gelar Doktor Filsafat disingkat menjadi Dr. phil. (doctor philosophiae).
Referensi
Sitasi
- 1 2 3 4 5 6 7 Hümmelchen 2011, hlm. 97.
- 1 2 3 4 5 Suchenwirth 2017, hlm. 181.
- ↑ National Archives 2001, hlm. 35.
- 1 2 3 Nielsen 1968, hlm. 34–40.
- 1 2 3 4 Suchenwirth 2017, hlm. 181–182.
- ↑ Hooton 1994, hlm. 20–21.
- ↑ Murray 1983, hlm. 6.
- ↑ Hooton 1994, hlm. 71.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Corum 1997, hlm. 230.
- ↑ Corum 1997, hlm. 87–88.
- 1 2 3 4 Suchenwirth 2017, hlm. 182.
- ↑ Zabecki 2014, hlm. 481.
- ↑ Hooton 1999, hlm. 147.
- ↑ Corum 1997, hlm. 86.
- ↑ National Archives 2001, hlm. 34.
- ↑ Suchenwirth 2011, hlm. 97.
- 1 2 3 Suchenwirth 2017, hlm. 183.
- ↑ Suchenwirth 2017, hlm. 184.
- 1 2 3 4 5 Corum 1997, hlm. 227–228.
- 1 2 Hooton 1994, hlm. 150.
- ↑ Murray 1983, hlm. 100.
- ↑ Hooton 1994, hlm. 150–151.
- ↑ National Archives 2001, hlm. 401.
- 1 2 3 Hooton 1994, hlm. 151.
- 1 2 Zabecki 2014, hlm. 672.
- 1 2 3 Overy 1980a, hlm. 146.
- 1 2 3 4 Suchenwirth 2017, hlm. 192–193.
- 1 2 3 Suchenwirth 2017, hlm. 185–186.
- ↑ Suchenwirth 2017, hlm. 209.
- 1 2 3 4 Corum 1997, hlm. 231.
- ↑ Corum 1997, hlm. 285.
- ↑ Suchenwirth 2017, hlm. 195–200.
- ↑ Murray 1983, hlm. 11.
- 1 2 Murray 1983, hlm. 12.
- ↑ Hooton 1999, hlm. 142.
- ↑ Cooper 1981, hlm. 25.
- ↑ Suchenwirth 2017, hlm. 226.
- 1 2 Suchenwirth 2017, hlm. 191–192.
- ↑ Hooton 1994, hlm. 155.
- ↑ Corum 1997, hlm. 231, 248.
- ↑ Corum 1997, hlm. 241.
- 1 2 Corum 1997, hlm. 223.
- ↑ Corum 2008, hlm. 131–133, 140–141, 144.
- 1 2 Corum 1997, hlm. 248.
- ↑ Corum 1997, hlm. 138.
- ↑ Corum & Muller 1998, hlm. 118.
- ↑ Corum & Muller 1998, hlm. 75.
- 1 2 Muller 1992, hlm. 19–20.
- ↑ Hooton 1994, hlm. 172.
- ↑ Kreis 1988, hlm. 59.
- 1 2 Murray 1983, hlm. 20.
- ↑ Hooton 1994, hlm. 177.
- ↑ Cynk 1998, hlm. 74.
- ↑ Hooton 1994, hlm. 87.
- 1 2 Hooton 1994, hlm. 186.
- ↑ Hooton 1994, hlm. 187–188.
- ↑ Corum 2008, hlm. 21–23.
- ↑ Overy 2013, hlm. 61.
- 1 2 3 Hooton 1994, hlm. 193.
- ↑ Hooton 1994, hlm. 194–195.
- ↑ Hooton 1994, hlm. 194–196.
- ↑ Hooton 1994, hlm. 216.
- ↑ Hooton 1994, hlm. 216, 218.
- ↑ Hooton 1994, hlm. 219.
- ↑ Hooton 1994, hlm. 236–237.
- ↑ Suchenwirth 2017, hlm. 218.
- ↑ Hooton 1994, hlm. 250–251.
- ↑ Corum 2008, hlm. 196–197.
- ↑ Suchenwirth 2017, hlm. 205–206.
- ↑ Suchenwirth 2017, hlm. 207.
- 1 2 Hooton 1999, hlm. 17.
- ↑ Murray 1983, hlm. 45.
- ↑ Bungay 2000, hlm. 337.
- 1 2 Hooton 1999, hlm. 18.
- ↑ Bungay 2000, hlm. 122–124.
- ↑ Hough & Richards 2007, hlm. 140–141.
- ↑ Puri 2006, hlm. 1–23.
- ↑ Overy 1980a, hlm. 32.
- 1 2 Stansky 2007, hlm. 26.
- ↑ Handel 1990, hlm. 439.
- 1 2 Hooton 1999, hlm. 27.
- ↑ Price 1990, hlm. 11.
- ↑ Cooper 1981, hlm. 151.
- ↑ Suchenwirth 2017, hlm. 212.
- ↑ Bungay 2000, hlm. 368-369.
- ↑ Price 1990, hlm. 12.
- ↑ Overy 2013, hlm. 32–33.
- ↑ Overy 2001, hlm. 38.
- ↑ Hooton 1999, hlm. 35.
- ↑ Hooton 1999, hlm. 37.
- ↑ Overy 1980a, hlm. 34, 36.
- ↑ Richards 1953, hlm. 217–218.
- 1 2 Murray 1983, hlm. 80.
- 1 2 Suchenwirth 2017, hlm. 211–212.
- 1 2 3 4 Hooton 1999, hlm. 77–78.
- 1 2 3 4 Cox & Gray 2002, hlm. 87.
- 1 2 Ansel 1972, hlm. 192.
- 1 2 Ansel 1972, hlm. 64–65.
- 1 2 Hooton 1999, hlm. 51.
- 1 2 Ansel 1972, hlm. 193–196, 210, 401.
- 1 2 Bercuson & Herwig 2001, hlm. 243.
- 1 2 Hooton 1999, hlm. 87–88.
- ↑ Hooton 1999, hlm. 89.
- ↑ Hardesty 1982, hlm. 215.
- ↑ Hooton 1999, hlm. 47.
- 1 2 Hooton 1999, hlm. 54.
- ↑ Hooton 1999, hlm. 56.
- ↑ Garrett 1978, hlm. 89.
- ↑ Hooton 1999, hlm. 116.
- ↑ Hooton 1999, hlm. 67, 68–69.
- ↑ Hooton 1999, hlm. 57–58.
- 1 2 Murray 1983, hlm. 55.
- ↑ Murray 1983, hlm. 93.
- ↑ Suchenwirth 2017, hlm. 215–218.
- ↑ Murray 1983, hlm. 99.
- ↑ Murray 1983, hlm. 136–137.
- 1 2 Murray 1983, hlm. 138.
- ↑ Boog et al. 2001, hlm. 608.
- ↑ Murray 1983, hlm. 151.
- ↑ Hayward 1998, hlm. 234–236.
- 1 2 Hayward 1998, hlm. 240–241.
- ↑ Suchenwirth 2017.
- ↑ Muller 1992, hlm. 137.
- ↑ Murray 1983, hlm. 158.
- ↑ Muller 1992, hlm. 113.
- ↑ Muller 1992, hlm. 112, 120.
- ↑ Corum & Muller 1998, hlm. 242–243.
- ↑ Muller 1992, hlm. 139.
- 1 2 Muller 1992, hlm. 140.
- ↑ Corum & Muller 1998, hlm. 243.
- 1 2 3 4 Muller 1992, hlm. 120.
- ↑ Muller 1992, hlm. 120–121.
- ↑ Muller 1992, hlm. 114, 120–121.
- ↑ Bergström 2007c, hlm. 19.
- ↑ Muller 1992, hlm. 114.
- ↑ Muller 1992, hlm. 115.
- ↑ Muller 1992, hlm. 115–116.
- 1 2 Muller 1992, hlm. 117.
- ↑ Muller 1992, hlm. 118.
- ↑ Muller 1992, hlm. 118–119.
- ↑ Muller 1992, hlm. 119.
- ↑ Muller 1992, hlm. 121.
- 1 2 National Archives 2001, hlm. 235–236.
- ↑ Bergström 2007c, hlm. 109.
- ↑ Suchenwirth 2017, hlm. 236.
- 1 2 3 Caldwell & Muller 2007, hlm. 42–43.
- ↑ Caldwell & Muller 2007, hlm. 43.
- ↑ Caldwell & Muller 2007, hlm. 67.
- 1 2 3 Caldwell & Muller 2007, hlm. 51–52.
- 1 2 Caldwell & Muller 2007, hlm. 69.
- ↑ Murray 1983, hlm. 181.
- ↑ Murray 1983, hlm. 181–182.
- 1 2 Suchenwirth 2017, hlm. 228–230.
- ↑ National Archives 2001.
- 1 2 Aders 1978, hlm. 49.
- ↑ Aders 1978, hlm. 17.
- ↑ Aders 1978, hlm. 81, 95.
- ↑ Murray 1983, hlm. 168–169.
- 1 2 3 Suchenwirth 2017, hlm. 231.
- 1 2 Suchenwirth 2017, hlm. 230–232.
- ↑ Suchenwirth 2017, hlm. 233.
- ↑ Suchenwirth 2017, hlm. 234–235.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 Suchenwirth 2017, hlm. 238–242.
- ↑ Aders 1978, hlm. 141.
- ↑ Suchenwirth 2017, hlm. 242–244.
- ↑ Suchenwirth 2017, hlm. 244.
- ↑ Joachimsthaler 1999, hlm. 299.
- 1 2 3 Hümmelchen 2011, hlm. 98.
- ↑ Hümmelchen 2011, hlm. 99.
- ↑ Hümmelchen 2011, hlm. 100.
Bibliografi
- Aders, Gebhard (1978). History of the German Night Fighter Force, 1917–1945. London: Janes. ISBN 978-0-354-01247-8.
- Ansel, Walter (1972). Hitler and the Middle Sea. Duke University Press. ISBN 978-0-8223-0224-7.
- Bercuson, David; Herwig, Holger (2001). The Destruction of the Bismarck. London: Overlook Press. ISBN 978-1-585-67192-2.
- Bergström, Christer (2007c). Kursk - The Air Battle: July 1943. Burgess Hill: Chevron/Ian Allan. ISBN 978-1-903223-88-8.
- Boog, Horst; Rahn, Werner; Stumpf, Reinhard; Wegner, Bernd (2001). Germany and the Second World War: Volume 6: The Global War. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-822888-2.
- Bungay, Stephen (2000). The Most Dangerous Enemy: A History of the Battle of Britain. London: Aurom Press. ISBN 978-1-85410-801-2.
- Caldwell, Donald; Muller, Richard (2007). The Luftwaffe over Germany: Defense of the Reich. London: Greenhill. ISBN 978-1-85367-712-0.
- Cooper, Matthew (1981). The German Air Force 1933–1945: An Anatomy of Failure. New York: Jane's. ISBN 0-531-03733-9.
- Corum, James (1997). The Luftwaffe: Creating the Operational Air War, 1918–1940. Kansas University Press. ISBN 978-0-7006-0836-2.
- Corum, James (2008). Wolfram von Richthofen: Master of the German Air War. Lawrence: University Press of Kansas. ISBN 978-0-7006-1598-8.
- Corum, James; Muller, Richard R. (1998). The Luftwaffe's Way of War: German Air Force Doctrine, 1911–1945. Nautical & Aviation. ISBN 978-1-8778-5347-0.
- Cox, Sebastian; Gray, Peter (2002). Air Power History: Turning Points from Kitty Hawk to Kosovo. Psychology Press. ISBN 978-0-7146-8257-0.
- Cynk, Jerzy (1998). Polish Air Force At War: The Official History: 1939-1943 volume 1. Schiffer. ISBN 978-0764305597.
- Fellgiebel, Walther-Peer [in Jerman] (2000) [1986]. Die Träger des Ritterkreuzes des Eisernen Kreuzes 1939–1945 — Die Inhaber der höchsten Auszeichnung des Zweiten Weltkrieges aller Wehrmachtteile [The Bearers of the Knight's Cross of the Iron Cross 1939–1945 — The Owners of the Highest Award of the Second World War of all Wehrmacht Branches] (dalam bahasa Jerman). Friedberg, Germany: Podzun-Pallas. ISBN 978-3-7909-0284-6.
- Garrett, Richard (1978). Scharnhorst and Gneisenau: The Elusive Sisters. London: Hippocrene Books. ISBN 0-7153-7628-4.
- Handel, Michael (1990). Intelligence and Military Operations. Routledge. ISBN 978-0-71464-060-0.
- Hardesty, Von (1982). Red Phoenix: The Rise of Soviet Air Power, 1941–1945. Washington, D.C.: Smithsonian Institution Press. ISBN 1-56098-071-0.
- Hayward, Joel S (1998). Stopped at Stalingrad: The Luftwaffe and Hitler's Defeat in the East, 1942-1943. Lawrence: University of Kansas. ISBN 978-0-7006-1146-1.
- Hooton, Edward (1994). Phoenix Triumphant: The Rise and Rise of the Luftwaffe. Arms & Armour. ISBN 978-1-85409-181-9.
- Hooton, E.R. (1999). Eagle in Flames: The Fall of the Luftwaffe. Weidenfeld Military. ISBN 978-1-85409-343-1.
- Hough, Richard; Richards, Denis (2007). Battle of Britain. Pen & Sword Military. ISBN 978-1-84415-657-3.
- Hümmelchen, Gerhard [in Jerman] (2011). "Generaloberst Hans Jeschonnek". Dalam Ueberschär, Gerd R. (ed.). Hitlers militärische Elite [Hitlers Military Elite] (dalam bahasa Jerman). Primus Verlag. hlm. 97–101. ISBN 978-3-89678-727-9.
- Joachimsthaler, Anton (1999) [1995]. The Last Days of Hitler: The Legends, the Evidence, the Truth. Trans. Helmut Bögler. London: Brockhampton Press. ISBN 978-1-86019-902-8.
- Kreis, John F. (1988). Air Warfare and Air Base Air Defense, 1914-1973. Washington: United States Government Printing Office. ISBN 978-0-91279-955-1.
- Muller, Richard (1992). The German Air War in Russia. New York City: Nautical & Aviation Pub Co of Amer. ISBN 978-1-877-85313-5.
- Murray, Williamson (1983). Strategy for Defeat: The Luftwaffe 1933–1945. Maxwell AFB: Air University Press. ISBN 978-1-58566-010-0.
- National Archives (2001). The Rise and Fall of the German Air Force: 1933-1945. London: Public Record Office. ISBN 978-1-903365304.
- Nielsen, Andreas L. (1968). German Air Force General Staff. Ayer Publishing. ISBN 0-405-00043-X.
- Overy, Richard (1980a). The Air War, 1939–1945. Washington: Potomac. ISBN 978-1-57488-716-7.
- Overy, Richard (2001). The Battle of Britain: The Myth and the Reality. New York: W.W. Norton. ISBN 978-0-393-02008-3.
- Overy, Richard J. (2013). The Bombing War: Europe 1939–1945. London & New York: Allen Lane. ISBN 978-0-7139-9561-9.
- Price, Alfred (1990). Battle of Britain Day: 15 September 1940. London: Greenhill books. ISBN 978-1-85367-375-7.
- Richards, Denis (1953). Royal Air Force 1939–1945: Volume I: The Fight at Odds. HMSO.
- Puri, Samir (June 2006). "The Role of Intelligence in Deciding the Battle of Britain". Intelligence and National Security. 21 (3): 416–439. doi:10.1080/02684520600750661. S2CID 154427425.
- Stansky, Peter (2007). The First Day of the Blitz. Yale University Press. ISBN 978-0-300-12556-6.
- Scherzer, Veit (2007). Die Ritterkreuzträger 1939–1945 Die Inhaber des Ritterkreuzes des Eisernen Kreuzes 1939 von Heer, Luftwaffe, Kriegsmarine, Waffen-SS, Volkssturm sowie mit Deutschland verbündeter Streitkräfte nach den Unterlagen des Bundesarchives [The Knight's Cross Bearers 1939–1945 The Holders of the Knight's Cross of the Iron Cross 1939 by Army, Air Force, Navy, Waffen-SS, Volkssturm and Allied Forces with Germany According to the Documents of the Federal Archives] (dalam bahasa Jerman). Jena, Germany: Scherzers Militaer-Verlag. ISBN 978-3-938845-17-2.
- Suchenwirth, Richard (2017) [1969]. Command and Leadership in the German Air Force. Kindle Version: Valmy Publishing/University Press of the Pacific. ISBN 978-1-41022-139-1.
- Zabecki, David T., ed. (2014). Germany at War: 400 Years of Military History. London: ABC-Clio. ISBN 978-1-59884-980-6.
Bacaan lanjutan
- Cargill Hall, R. (1998). Case Studies In Strategic Bombardment. University Press of the Pacific. ISBN 978-0-16-049781-0.
- Collier, B. (2004) [1957]. Butler, J. R. M. (ed.). The Defence of the United Kingdom. History of the Second World War United Kingdom Military Series (Edisi Naval & Military Press). London, UK: HMSO. ISBN 978-1-845-74055-9. Diakses tanggal 15 April 2016.
- Cox, Sebastian; James, T.C.G (2000). The Battle of Britain. Frank Cass. ISBN 0-7146-8149-0.
- Frieser, Karl-Heinz (2005). The Blitzkrieg Legend: The 1940 Campaign in the West. Annapolis: Naval Institute Press. ISBN 978-1-59114-294-2.
- Hooton, E.R. (2007a). Luftwaffe at War; Gathering Storm 1933–39. Vol. 1. London: Chevron/Ian Allan. ISBN 978-1-903223-71-0.
- Hooton, E.R. (2007b). Luftwaffe at War; Blitzkrieg in the West. Vol. 2. London: Chevron/Ian Allan. ISBN 978-1-85780-272-6.
- Mason, Francis K. (1969). Battle Over Britain. London: McWhirter Twins Ltd. ISBN 978-0-901928-00-9.
- Mitcham, Samuel (2007). Eagles of the Third Reich: Men of the Luftwaffe in World War II. Stackpole. ISBN 978-0-8117-3405-9.
- Mitcham, Samuel; Meuller, Gene (2012). Hitler's Commanders: Officers of the Wehrmacht, Luftwaffe, Kriegsmarine and Waffen SS. Rowman and Littlefield. ISBN 978-1-4422-1153-7.
- Neitzel, Sönke (2003). "Kriegsmarine and Luftwaffe Co-operation in the War against Britain". 10 (4). War in History.
- Overy, Richard (1980b). "Hitler and Air Strategy". Journal of Contemporary History. 15 (3): 405–421. doi:10.1177/002200948001500302. ISSN 0022-0094. S2CID 162229330.
- Price, Alfred (2010). The Hardest Day: The Battle of Britain: 18 August 1940. London: Haynes Publishing. ISBN 978-1-84425-820-8.
- Richards, Denis; Saunders, Hilary (1953). Royal Air Force 1939–1945: Volume II: The Fight Avails. HMSO.
- Webb, Edwin; Duncan, John (1990). Blitz over Britain. Turnbridge Wells, Kent: Spellmount. ISBN 978-0-946771-89-9.
- Williamson, Gordon; McGregor, Malcolm (2006). German Commanders in World War II (2). Oxford: Osprey Publishing. ISBN 978-1-84176-597-6.
| Jabatan militer | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Tidak ada |
Geschwaderkommodore Lehrgeschwader 1 1 Oktober 1936 – November 1936 |
Diteruskan oleh: Oberst Dr. Robert Knauss |
| Didahului oleh: Tidak ada |
Komandan Fliegerführer Irak 6 Mei 1941 – 29 Mei 1941 |
Diteruskan oleh: Tidak ada |
| Didahului oleh: General der Flieger Hans-Jürgen Stumpff |
Kepala Staf Umum Luftwaffe 1 Februari 1939 – 19 Agustus 1943 |
Diteruskan oleh: General der Flieger Günther Korten |
Kepala Staf Umum Jerman Wehrmacht | |
|---|---|
| Kepala staf umum Angkatan Darat |
|
| Kepala staf umum Luftwaffe |
|
| Kepala staf umum Kriegsmarine | |
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Orang | |
| Portal Akses topik terkait | |
| Temukan informasi lain di proyek saudari Wikimedia |
|
]