HabushuUlar habu yang berada di dalam botol habushu
Habushu (ハブ酒) adalah minuman beralkohol yang berasal dari Kepulauan Ryukyu dan dibuat menggunakan dasar awamori (aamui dalam bahasa Okinawa), sejenis minuman keras khas Okinawa. Minuman ini juga dikenal dengan sebutan sake habu atau minuman anggur ular Okinawa. Nama “habushu” diambil dari ular habu (Protobothrops flavoviridis), anggota subfamili Crotalinae yang masih berkerabat dekat dengan ular derik dan Agkistrodon contortrix.[1] Ular habu yang digunakan dalam pembuatan minuman ini merupakan spesies berbisa yang berasal dari wilayah Asia Tenggara dan Timur, termasuk kepulauan besar seperti Filipina, Ryukyu, dan Jepang.[2]
Habushu terkenal karena mitos khasiatnya. Ular habu diketahui dapat melakukan aktivitas kawin hingga 26 jam lamanya, sehingga muncul kepercayaan di kalangan masyarakat bahwa mengonsumsi habushu dapat meningkatkan vitalitas dan mengatasi disfungsi seksual pada pria. Mitos ini berakar pada anggapan bahwa kekuatan atau stamina luar biasa dari ular tersebut akan terserap oleh siapa pun yang meminum minuman itu.[3]
Produksi
Proses pembuatan habushu dimulai dengan penyulingan beras yang telah dihancurkan dan difermentasi menggunakan cetakan koji untuk menghasilkan awamori sebagai dasar minuman. Awamori kemudian dicampur dengan madu dan rempah-rempah, menghasilkan cairan jernih berwarna kekuningan. Setelah itu, ular berbisa dimasukkan ke dalam campuran tersebut dan dibiarkan terendam selama proses penyimpanan hingga siap dikonsumsi. Dalam tradisi pembuatan habushu, awamori biasanya dibiarkan menua selama periode tertentu agar cita rasanya semakin kaya. Kandungan alkohol di dalamnya berfungsi melarutkan bisa ular, sehingga minuman menjadi aman untuk diminum.[4] Beberapa merek habushu bahkan dikemas dengan ular yang masih berada di dalam botol bersama campuran madu dan rempah-rempah.[5][6]
Terdapat dua cara utama dalam proses memasukkan ular ke dalam alkohol untuk membuat habushu. Metode pertama dilakukan dengan langsung merendam ular ke dalam alkohol dan menyegel botolnya sehingga ular mati tenggelam. Metode kedua melibatkan pembekuan ular di atas es hingga pingsan, kemudian isinya dikeluarkan dan tubuhnya dijahit kembali sebelum dimasukkan ke dalam cairan. Saat ular yang setengah beku tersebut mulai sadar, ia akan mati dengan cepat dan intens, suatu proses yang dianggap penting oleh sebagian pembuat habushu.[7] Setelah itu, ular direndam dalam etanol selama sekitar satu bulan untuk proses pengawetan. Tahapan berikutnya meliputi perendaman dalam campuran alkohol berkadar 59% selama 40 hari, lalu dipindahkan ke dalam awamori berkadar 35% agar siap dikonsumsi. Pengeluaran organ dalam ular, seperti pada metode kedua, dipercaya dapat mengurangi bau menyengat yang biasanya muncul pada minuman tersebut.[4]
Referensi
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.
↑Society for Science and the Public (1945), "Snakes from Okinawa", The Science News-Letter, 48 (14): 211–212, doi:10.2307/3922011, JSTOR3922011