Protobothrops flavoviridis atau yang juga dikenal sebagai ular habu atau habu okinawa merupakan spesies ular dari subfamili Crotalinae yang endemik di Kepulauan Ryukyu, Jepang.[3] Saat ini tidak ada subspesies yang diakui untuk jenis ini.[4][5] Ular ini dikenal dengan nama lokal “habu” saja atau “Kume Shima habu”.[6][7] Dalam bahasa Okinawa, istilah “habu” juga digunakan untuk menyebut ular berbisa lain, seperti Sakishima habu (Protobothrops elegans).
Deskripsi
Ular ini dapat mencapai panjang rata-rata sekitar 120–150cm, dan maksimum hingga 240cm, menjadikannya spesies terbesar dalam genusnya.[8] Tubuhnya ramping dengan proporsi yang elegan serta kepala berukuran besar yang ditutupi sisik-sisik kecil di bagian mahkota. Warna dasarnya bervariasi antara zaitun muda hingga cokelat, dihiasi pola bercak hijau tua atau kecokelatan yang memanjang. Setiap bercak memiliki tepi kekuningan, terkadang disertai bintik kuning di dalamnya, dan sering kali menyatu membentuk garis bergelombang di sepanjang tubuh. Bagian perut berwarna pucat keputihan dengan tepian yang cenderung lebih gelap.[3]
Bisa
Tingkat kejadian gigitan ular di Kepulauan Amami mencapai sekitar dua kasus per 1.000 penduduk, angka yang tergolong sangat tinggi. Racun spesies ini memiliki toksisitas yang kuat karena mengandung komponen sitotoksik dan hemoragin,[9] meskipun tingkat kematiannya relatif rendah, yakni kurang dari 1%.[10] Gigitan ular habu dapat menimbulkan gejala seperti mual, muntah, tekanan darah rendah, hingga kematian dalam kasus tertentu. Beberapa korban juga melaporkan kehilangan fungsi motorik pada tangan atau kaki setelah menjalani perawatan.[11] Meskipun gigitan umumnya tidak fatal bila segera ditangani secara medis, sekitar 6–8% penderita mengalami cacat permanen akibat luka tersebut.[3]
Kegunaan
Di Pulau Okinawa, spesies ini sering ditangkap untuk dijadikan bahan utama dalam pembuatan habushu (ハブ酒), sejenis minuman beralkohol berbasis awamori atau aamuri (泡盛) yang diyakini memiliki manfaat pengobatan. Seperti halnya pada pembuatan minuman anggur ular pada umumnya, ular dapat dimasukkan ke dalam wadah berisi alkohol dalam keadaan hidup hingga tenggelam, atau dibuat pingsan terlebih dahulu sebelum dimasukkan. Proses fermentasinya melibatkan tubuh ular, dan hasil akhirnya dipasarkan dalam botol yang terkadang berisi tubuh ular atau hewan lain seperti kadal maupun kalajengking.[12]
↑O'Shea, M. (2008). Venomous Snakes of the World. Sydney: New Holland Publishers.
↑"沖縄県における平成 23 年の毒蛇咬症"(PDF). Diarsipkan dari asli(PDF) tanggal 2013-05-02. Diakses tanggal 2013-03-11.. According to this report, 8901 snakebites from this snake were reported during 1964-2011 in Okinawa prefecture(Amami excluded). Among those, fatalities are 53. So, fatality rate is around 0.6%.
↑"An experimental study of emergency care for habu bites: estimation of amount of venom removed by suction". Ryukyu Medical Association. 5 (3): 196–200. 1982.