Engkik Soepadmo (3 Maret 1937[1] – 6 Maret 2021[2])) adalah seorang ahli botani dan ekologi asal Indonesia yang berkarier di Malaysia. Penelitiannya berfokus pada hutan hujan tropis di Asia Tenggara, khususnya di Malaysia dan Indonesia. Ia menulis berbagai publikasi mengenai flora Malesia serta berkontribusi pada upaya konservasi hutan dan pembentukan kawasan lindung di Malaysia.[1]
Kehidupan awal dan pendidikan
Soepadmo lahir dan dibesarkan di Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah, Indonesia. Ia menempuh pendidikan awalnya di sekolah menengah di Solo. Ia lulus SMA pada tahun 1955, kemudian melanjutkan studi di Sekolah Tinggi Biologi di Bogor dan lulus pada tahun 1959 dengan gelar sarjana di bidang Botani Taksonomi. Ia sempat bekerja sebagai ahli botani muda di Herbarium Bogoriense sebelum melanjutkan studi ke Universitas Cambridge, tempat ia meraih gelar PhD pada bulan Juli 1966. Selama dua tahun berikutnya, ia menjalani program beasiswa penelitian dari Universitas Leiden di Belanda.[1]
Karier akademik dan penelitian
Dr. Soepadmo diangkat sebagai dosen Botani Tropis di Universitas Malaya pada tahun 1968. Ia menjadi lektor kepala di Departemen Botani pada tahun 1975, dan tak lama kemudian diangkat sebagai Profesor Ekologi di universitas tersebut. Ia juga menjalin kerja sama dengan Lembaga Penelitian Kehutanan Malaysia (FRIM).[1]
Publikasi
Ia menulis monograf untuk Flora Malesiana mengenai famili Fagaceae (famili yang terdiri dari pohon ek dan kastanye; Seri 1, volume 7, bagian 2 [1972]) dan Ulmaceae (keluarga pohon elm; volume 8, bagian 2 [1977]). Ia menyunting dan menulis tujuh volume Tree Flora of Sabah and Sarawak (1995–2011). Ia juga menyunting dan turut menyusun The Encyclopedia of Malaysia: Plants yang diterbitkan pada tahun 1998. Selain itu, ia telah menulis lebih dari 100 makalah ilmiah yang dipublikasikan.[1] Dr. Soepadmo menamai lebih dari 70 spesies tumbuhan, termasuk spesies dari genus Lithocarpus, Quercus, Castanopsis, dan Celtis.[3]
Dr. Soepadmo melakukan penelitian, menulis makalah, dan memimpin ekspedisi penelitian yang membantu merumuskan atau menciptakan strategi konservasi untuk berbagai kawasan lindung di Malaysia termasuk Taman Nasional Endau-Rompin, Taman Nasional Royal Belum, Hutan Lindung Bukit Tawai, Kawasan Konservasi Lintas Batas Lanjak-Entimau/Betung Kerihun, dan Taman Nasional Pulong Tau.[1]
Rekognisi
Pada tahun 2012, beliau dianugerahi Merdeka Award. Malaysian Nature Society (MNS) memberikan gelar Keanggotaan Seumur Hidup Kehormatan kepada Dr. Soepadmo sebagai bentuk pengakuan atas "kontribusi yang signifikan dan bermakna bagi Malaysian Nature Society serta studi mereka mengenai warisan alam Malaysia".[1] Pada tahun 2015, Linnean Society of London menganugerahkan Linnean Medal kepada Dr. Soepadmo sebagai penghargaan atas jasanya dalam dunia sains.[4]
Tumbuhan yang dinamai dengan tujuan tuntuk menghormati Dr. Soepadmo antara lain:[1]
↑Chung, R. C. K. (2002). "Madhuca Buch.-Ham. ex J.F.Gemlin". Dalam Soepadmo, E.; Saw, L. G.; Chung, R. C. K. (ed.). Tree Flora of Sabah and Sarawak. Vol. 4. Forest Research Institute Malaysia. hlm. 236–238. ISBN 983-2181-27-5.
↑Gandolfo, M. A., Nixon, K. C., Crepet, W. L., and Grimaldi, D. A.. 2018. A late Cretaceous fagalean inflorescence preserved in amber from New Jersey. American Journal of Botany 105( 8): 1424– 1435.