Dora Marie Sigar (21 September 1919–23 Desember 2008) adalah seorang perawat, aktivis, dan ibu rumah tangga asal Indonesia. Ia paling dikenal sebagai ibu dari Prabowo Subianto, Presiden Indonesia kedelapan.
Masa muda
Sigar lahir pada tanggal 21 September 1919 di Langowan, Kabupaten Minahasa, sebagai putri dari Philip Frederik Laurens Sigar (1885–1946)—seorang pejabat pemerintah dan anggota Volksraad, serta Cornelie Emilia Maengkom (1888–1946). Keduanya berasal dari keluarga birokrat. Sigar memiliki darah Minahasa dan keturunan Jerman.[1][2][3]
Pendidikan
Pada usia 12 tahun, Dora pindah ke Belanda untuk melanjutkan pendidikannya di Christelijk Hogere Burgerschoolcode: nl is deprecated di Utrecht. Ia sudah menunjukkan kecerdasannya sejak usia muda. Di sana, ia mempelajari keperawatan pasca operasi dan aktif dalam kegiatan mahasiswa yang memperjuangkan hak-hak Indonesia, membentuk pandangannya sebagai seorang wanita yang terdidik dan berkomitmen.[1][2]
Karier
Dora bertemu dengan Soemitro Djojohadikoesoemo, seorang ekonom, dalam sebuah pertemuan yang diselenggarakan oleh Indonesia Christen Jongeren (terj. har.'Mahasiswa Kristen Indonesia') pada tahun 1945. Ia kemudian menjadi pasiennya setelah menjalani operasi usus besar akibat tumor. Pada tahun 1946, Soemitro kembali ke Indonesia, dan Dora menyusul setahun kemudian. Mereka menikah pada 7 Januari 1945 dan memiliki empat anak.[2][3] Setelah kembali ke Indonesia, Dora menjadi ibu rumah tangga dan fokus pada keluarganya, mendukung karier suaminya sebagai ekonom dan tokoh politik. Ketika Soemitro menjabat di kabinet, Dora menjadi tulang punggung keluarga, terutama ketika suaminya menjadi buronan akibat kasus politik dan ekonomi yang dituduhkan.[1]
Kehidupan pribadi
Dora menikah dengan Soemitro Djojohadikoesoemo pada 7 Januari 1945 di Matraman, Jakarta Timur, dan dikaruniai dua orang putra, Prabowo Subianto (lahir 1951), seorang politikus yang menjabat sebagai Presiden ke-8 Indonesia, dan Hashim Djojohadikusumo (lahir 1953), seorang pengusaha; dan dua orang putri, Biantiningsih Miderawati Djiwandono (lahir 1946) dan Maryani Ekowati Lemaistre (lahir 1948).[2][3][4] Mereka menghadapi tantangan politik yang serius di Indonesia pasca-kemerdekaan, tetapi pernikahan mereka berlangsung bahagia hingga kematian Sumitro pada 9 Maret 2001.[1]
Kematian
Sigar meninggal di Rumah Sakit Mount Elizabeth di Singapura pada usia 89 tahun pada tanggal 23 Desember 2008 setelah dirawat di rumah sakit selama setahun karena usia lanjut dan limfoma. Dia dimakamkan di Pemakaman Tanah Kusir pada 25 Desember.[5][6]