Pada tahun 2000, Hamza Ali Mazari—saat itu dikenal sebagai Jaskirat Singh Rangi—meninggalkan kampung halamannya di Pathankot untuk mengikuti pelatihan militer. Namun selama kepergiannya, terjadi sengketa tanah berdarah yang melibatkan anggota legislatif daerah (MLA) Sukhwinder Singh. Keluarga Jaskirat menjadi sasaran keji sengketa tersebut: ayahnya tewas digantung, kedua saudarinya diperkosa secara beramai-ramai, bahkan sang kakak, Harleen, dibunuh dan adiknya, Jasleen, diculik. Sepulangnya dari pelatihan militer, Jaskirat yang didera duka langsung menyusun rencana pembebasan adiknya. Dibantu sahabatnya, Gurbaaz, untuk mendapatkan senjata dari seorang mafia Uttar Pradesh bernama Atif Ahmed, ia kemudian membunuh Sukhwinder beserta anggota keluarganya dan menyelamatkan Jasleen. Atas aksi balas dendam tersebut, Jaskirat ditangkap, diadili, dan dijatuhi hukuman mati. Sebelum mendekam di penjara, Jaskirat sempat menitipkan masa depan Jasleen kepada Gurbaaz.[14]
Pada tahun 2002, Jaskirat diculik saat proses pemindahan tahanan dan dibawa kepada pejabat intelijen Ajay Sanyal serta Sushant Bansal. Dua tahun kemudian, pada 2004, ia direkrut dalam sebuah program rahasia untuk menyusup ke jaringan teror di Pakistan. Jaskirat kemudian diberi identitas baru sebagai Hamza Ali Mazari dan ditempatkan di Lyari lewat Kabul di bawah pengawasan Mohammed Aalam.[b]
Pada tahun 2009, setelah kematian Rehman Dakait di Lyari,[c] Hamza mendorong sepupu Rehman, Uzair Baloch untuk mengambil alih kepemimpinan geng Baloch dan menuding geng Pathan sebagai penyebab kematian sepupunya. Tersulut oleh keinginan balas dendam dan ambisi untuk menguasai Lyari, geng Baloch mulai menyerang dan terjadilah konflik berdarah antara geng Baloch dan Pathan. Pertikaian tersebut menewaskan pemimpin geng Pathan, Arshad Pappu, serta berujung pada ditangkapnya Uzair Baloch. Peristiwa tersebut memperkuat pengaruh Hamza di Karachi terutama setelah dia beraliansi dengan dari Partai Pergerakan Islam (MMP). Hamza juga masuk ke lingkaran dalam Dawood Ibrahim (“Bade Sahab”), yang menugaskannya mengatur operasi narkotika guna mendanai kegiatan militer. Dawood bekerja sama dengan sekelompok pengedar narkoba asal Punjab, salah satunya adalah Gurbaaz, sahabat masa kecil Hamza. Dalam sebuah pesta di rumah Hamza, Gurbaaz yang sedang teler ternyata selama ini mengenali Hamza dan mengancam akan mengungkap identitas Hamza. Hamza meminta Gurbaaz untuk membatalkan transaksi dengan Dawood. Gurbaaz menolak dan terjadi perkelahian, yang berakhir dengan kematian Gurbaaz. Aalam berusaha melindungi Hamza dengan berpura-pura menjadi pelaku pembunuhan tersebut. Hamza kemudian mengeksekusi Aalam di depan para tamu.[15] Hal tersebut menyebabkan Chaudhary Aslam curiga dan mulai menyelidiki Hamza. Yalina akhirnya mengetahui identitas asli Hamza dan mengkonfrontasinya, namun Hamza berhasil meyakinkannya bahwa dia berjuang bukan untuk menghancurkan Pakistan melainkan untuk memberantas jaringan teroris yang ada di dalamnya.
Mengetahui bahwa Chaudhary tengah mengincarnya, Hamza meminta Balochistan United Force (BUF) untuk mengatur sebuah aksi pembunuhan kepada Chaudhary pada saat penjemputan Uzair Baloch. Di sebuah pertemuan rahasia di Dubai, Sanyal memberi Hamza kewenangan penuh untuk membongkar jaringan teror yang tersisa dan memulai operasi Daun Hijau, memungkinkan Hamza untuk memimpin sejumlah aksi pembunuhan sejumlah tokoh penting jaringan terorisme, termasuk pendana teror Javed Khanani dan Abdul Rehman Makki, serta pelaku pembajakan IC-814, Zahoor Mistry. Sementara itu, wakil Aslam, Omar, berhasil mengetahui identitas Hamza melalui Yalina setelah menyendera Zayan, lalu melaporkannya kepada Mayor Iqbal. Mayor Iqbal yang gusar mengetahui kenyataan tersebut membunuh ayahnya sendiri.
Sebagai bagian dari rencana Dawood untuk melakukan serangan secara besar-besaran ke India, Hamza diminta untuk melakukan pengantaran senjata di madrasah milik Iqbal di Muridke. Di sana, saat berbincang-bincang di ruang pertemuan, Iqbal menusuk Hamza dari belakang. Tak lama kemudian, bom yang telah dipersiapkan Hamza meledak dan membunuh banyak milisi. Pada saat bersamaan, terjadi penyerangan BUF berseragam Pakistan Rangers untuk menghancurkan para mujahidin Iqbal yang sering melakukan pembunuhan pada kaumnya. Baku tembak pun terjadi antara para mujahidin Iqbal dan BUF. Hamza menghancurkan kendaraan Iqbal dengan RPG, lalu mengejar Iqbal hingga ke pelabuhan. Pertarungan berakhir dengan kematian Iqbal dalam ledakan tangki minyak tanah. Setelah panggilan terakhir dengan Yalina, Hamza ditangkap dan disiksa oleh Omar, hingga Sanyal memaksa pembebasannya dengan mengancam kepala intelijen Pakistan, Shamshad Hassan, menggunakan bukti kerja samanya dengan intelijen Israel. Uzair dijadikan kambing hitam dan difitnah sebagai mata-mata India.
Hamza kemudian dijemput oleh mertuanya, Jameel Jamali, yang terungkap sebagai aset lama India dan selama ini perlahan meracuni Dawood dari dalam jaringannya. Setelah misinya selesai, Hamza meninggalkan identitas samarannya, terpaksa berpisah dengan Yalina dan Zayan demi keselamatan mereka, lalu kembali ke India sebagai Jaskirat Singh Rangi. Meski mendapat pujian atas jasanya, Jaskirat menghilang sebelum menjalani tanya jawab resmi dan pulang ke rumah masa kecilnya, yang ia pandangi dengan penuh nostalgia dari kejauhan.[16]
Yami Gautam sebagai Shazia Bano (penampilan kameo)
Produksi
Sekuel ini dikembangkan sebagai bagian kedua sekaligus penutup dari duologi Dhurandhar. Awalnya direncanakan sebagai satu film tunggal, para pembuat film kemudian memutuskan untuk merilisnya dalam dua bagian.[21] Kedua bagian difilmkan secara bersamaan sebagai satu produksi.[22] Keputusan untuk membagi film diambil pada tahap pascaproduksi, karena banyaknya rekaman yang dihasilkan serta kompleksitas alur cerita.[23][24]Pengambilan gambar utama untuk kedua film berlangsung antara Juli 2024 hingga Oktober 2025 di berbagai lokasi di India dan Thailand.[25][26]Pengambilan gambar tambahan untuk bagian kedua dilakukan pada Januari dan Februari 2026.[27][28][29]
Perilisan
Bioskop
Dhurandhar: The Revenge dirilis secara global pada 19 Maret 2026, bertepatan dengan Gudi Padwa, Ugadi, dan Idulfitri.[30][31] Selain dalam bahasa asli Hindi, film ini juga dirilis dalam Telugu, Tamil, Malayalam, dan Kannada.[32][33] Film ini memperoleh sertifikat A (khusus dewasa) dari CBFC karena kekerasan yang intens, dengan durasi akhir 229 menit setelah beberapa adegan kekerasan dan kata-kata kasar dipotong.[1][34] Penayangan di luar negeri berlangsung selama 235 menit.[35][36] Pertunjukan pratayang berbayar dijadwalkan pada malam 18 Maret dalam semua bahasa,[37] meskipun beberapa penayangan ditunda atau dibatalkan; pertunjukan dalam bahasa Kannada dan Malayalam khususnya terdampak oleh masalah teknis dan sensor.[38][39] Seperti pendahulunya, film ini dilarang tayang di seluruh negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk.[11][40][41]
Media rumah
Hak siar digital pasca-rilis bioskop di seluruh India diperoleh JioHotstar dengan nilai ₹150 crore.[42] Di wilayah internasional, versi tanpa potongan film ini (dipasarkan sebagai "Raw & Undekha")[d] dirilis di Netflix pada 15 Mei 2026.[43] Versi tanpa potongan mencakup seluruh kata-kata kasar yang tidak disensor, adegan kekerasan yang diperpanjang, serta beberapa perubahan kecil dalam sejumlah adegan.[44][45] Di India, versi tanpa potongan film ini akan dirilis di JioHotstar pada 5 Juni 2026.[46]
Film ini meraih ₹75 crore dari penayangan prabayar pada 18 Maret 2026, sehari sebelum perilisan resmi, memecahkan rekor India sebelumnya yang dipegang oleh Stree 2 (2024) dan They Call Him OG (2025).[48][49] Film ini menghasilkan ₹130–174 crore pada hari pembukaan 19 Maret 2026, dengan total 196–240 crore di seluruh dunia termasuk penayangan perdana sehari sebelumnya. Hal ini menandai hari pembukaan tertinggi untuk sebuah film Bollywood, melampaui rekor sebelumnya yang dipegang oleh Adipurush.[50][51][52] Pendapatan global pada akhir pekan pembukaan mencapai lebih dari 80 juta dolar AS, hanya berada di belakang Project Hail Mary.[53][54][55] Hingga akhir pekan pembukaannya, film ini telah meraih ₹759,91 crore di seluruh dunia, dengan pendapatan luar negeri sekitar ₹209,60 crore.[56] Pendapatan global film ini mencapai ₹1.435 crore pada akhir pekan kedua dan melampaui ₹1.500 crore pada minggu keduanya.[57][58] Film ini menjadi film India tercepat yang melampaui ₹1.500 crore di seluruh dunia.[59][60]
Tanggapan kritikus
Dhurandhar: The Revenge menerima ulasan beragam dari para kritikus. Di situs web agregator ulasanRotten Tomatoes, 35% pada 20 ulasan para kritikus adalah positif.[61]Hindustan Times, dalam laporan pada 25 Maret 2026 ketika Rotten Tomatoes mencatat 13 ulasan, menemukan bahwa lima ulasan positif semuanya berasal dari publikasi atau pengulas India, sementara banyak ulasan dari publikasi internasional mengkritik film ini karena kekerasan dan muatan politiknya.[62]
Nicolas Rapold, menulis untuk The New York Times, menyatakan bahwa film ini "meningkatkan kekerasan ekstrem dan perpaduan provokatif antara aksi heroik dengan sejarah India-Pakistan."[63] Sowmya Rajendran, menulis untuk Newslaundry, mencatat bahwa meskipun film pertama sarat dengan pesan pro-pemerintah, kisah yang kuat membuatnya dapat diterima lintas garis ideologi, sementara sekuelnya dianggap "lebih marah, lebih bising, dan lebih gamblang dalam pesannya" serta "lebih kosong".[64] Shahana Yasmin dari The Independent menulis bahwa bagi sebagian penonton, perpaduan sejarah dan penciptaan mitos menghasilkan triler patriotik yang mendalam, sementara bagi yang lain hal itu justru mengaburkan batas antara sejarah dan propaganda.[6] Pengulas IGN Siddhant Adlakha menggambarkan film ini sebagai "mendukung propaganda politik yang terang-terangan".[65]
Agnivo Niyogi, menulis untuk The Telegraph, menyatakan bahwa film ini "memiliki lebih banyak darah, lebih banyak kekerasan, dan propaganda yang terang-terangan" serta "tidak memiliki kehalusan yang setidaknya bisa dibanggakan oleh Dhurandhar."[66]Taran Adarsh dari Bollywood Hungama memberikan penilaian 4 dari 5 bintang, dengan menyebut inti emosional film ini membedakannya dari sekadar tontonan spektakel.[67] Rishabh Suri dari Hindustan Times memberi nilai 4 dari 5, menggambarkannya sebagai "sebuah triler roller-coaster yang mungkin tidak menyamai presisi film pertama, tetapi ditopang oleh penampilan kuat Ranveer Singh dan paruh kedua yang menegangkan".[5] Radhika Sharma dari NDTV memberi penilaian 3 dari 5.[68] Divya Nair dari Rediff.com memberikan 4 dari 5 bintang, menyebut film ini sebagai "hiburan yang menarik, penuh kejutan, dengan penceritaan berlapis dan dampak kuat, meskipun sarat politik, kekerasan, dan ketidakselarasan."[69] Chirag Sehgal dari News18 memberi nilai 3,5 dari 5, menyoroti alur cerita yang menegangkan dengan sejumlah kejutan naratif.[70] Nandini Ramnath, menulis untuk Scroll, membandingkan film ini dengan Marco, L2: Empuraan, dan K.G.F: Chapter 2, tetapi dengan apa yang ia sebut sebagai propaganda pro-pemerintah yang terjalin dalam aksi.[71]
Akurasi faktual dan pesan politik
Film ini dibuka dengan sebuah penafian yang menyatakan bahwa karya tersebut adalah fiksi yang terinspirasi dari peristiwa nyata dan tidak boleh dianggap sebagai penggambaran akurat atas fakta sejarah.[72][73] Meskipun demikian, film ini memasukkan sejumlah serangan teroris di India nyata ke dalam alurnya[63] serta menafsirkan ulang peristiwa dan tokoh publik dari sejarah politik India terkini, termasuk Demonetisasi uang kertas India 2016 dan versi fiksi dari politisi sekaligus gangster yang terbunuh, Atiq Ahmed.[74]
Sejumlah pengulas mempertanyakan akurasi klaim faktual tertentu. Dainik Bhaskar melaporkan bahwa penggambaran tokoh yang didasarkan pada Atiq Ahmed sebagai terlibat dalam jaringan uang palsu bertentangan dengan berkas dakwaan yang diajukan oleh Kepolisian Uttar Pradesh, serta bahwa garis waktu peristiwa seputar penangkapannya tidak sesuai.[75] Film ini juga menampilkan sebagai fakta sebuah klaim yang belum terbukti, yakni keterkaitan tokoh tersebut dengan penyelundupan senjata yang dikaitkan dengan Lashkar-e-Taiba dan ISI.[75][76]The Federal mencatat bahwa tidak ada dokumentasi yang mendukung adanya keterkaitan dengan Pakistan selain pernyataan dari Kepolisian Uttar Pradesh.[77]The Indian Express menggambarkan pendekatan sang sutradara sebagai upaya menggabungkan peristiwa nyata dengan fiksi sebagai perangkat penceritaan yang disengaja.[74]
Film ini menarik banyak komentar kritis terkait bingkai politiknya. Variety menulis bahwa film tersebut memperkuat sentimen patriotik yang sudah ada dan tingkat kekerasannya menempatkannya di atas contoh terbaru narasi anti-Muslim dalam sinema India.[8]The Federal menilai bahwa film ini menyiratkan bahwa keanggotaan dalam partai mana pun yang menentang Bharatiya Janata Party (BJP) sama dengan menerima pendanaan dari Pakistan.[77]The Economist mencatat bahwa para kritikus profesional di Rotten Tomatoes secara umum menggambarkan kedua film tersebut sebagai propaganda untuk Narendra Modi.[9]Nissim Mannathukkaren, menulis untuk The Hindu, berpendapat bahwa film ini menyamakan partai yang berkuasa dengan negara, sehingga bentuk kekerasan politik lain menjadi tidak terlihat, sementara kekerasan nasionalis ditampilkan secara spektakuler.[78] Prathyush Parasuraman, menulis untuk Frontline, berpendapat bahwa film ini memanfaatkan baik minoritas Pakistan maupun India dalam kerangka nasionalis.[79] Siddhant Adlakha, menulis untuk IGN, berpendapat bahwa pengulangan penyertaan peristiwa politik nyata ke dalam narasi fiksi film ini berisiko memperburuk ketegangan seputar hubungan India–Pakistan dan perlakuan terhadap Muslim India.[80] Vineeta Kumar, menulis untuk India Today, berpendapat bahwa sasaran film ini adalah terorisme yang disponsori negara Pakistan alih-alih Pakistan atau Muslim secara umum, dan bahwa posisinya sejalan dengan pemerintah India.[81]
The Independent melaporkan adanya perbedaan pendapat di kalangan penonton dan menyebutkan bahwa kesuksesan komersial film ini dapat memperkuat nasionalisme hipermaskulin sebagai formula yang bertahan lama dalam sinema Hindi arus utama.[6] Film ini menerima sejumlah karakterisasi dari para kritikus profesional, termasuk "propaganda politik yang terang-terangan",[80] "propaganda pro-pemerintah",[10] "propaganda pro-pemerintah",[82] dan "propaganda yang terang-terangan".[83]
Tidak semua komentator menerima pelabelan film ini sebagai propaganda. Yasser Usman, menulis untuk NDTV, berpendapat bahwa film tersebut sebaiknya dipahami dalam tradisi film masala Bollywood daripada diperlakukan sebagai sebuah manifesto politik.[84] Nirmalya Dutta, menulis untuk The Times of India, mempertanyakan apakah label propaganda diterapkan secara konsisten pada berbagai film.[85] Menulis untuk Open, seorang komentator berpendapat bahwa pembacaan sepihak serupa juga dapat diterapkan pada film-film Barat yang mendapat pujian, seperti Saving Private Ryan dan Zero Dark Thirty.[86]
↑Deshpande, Rajeev (25 Desember 2025). "Dhurandhar: Membingkai Bangsa Baru". Open (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 25 Desember 2025. Diakses tanggal 27 Januari 2026. Pengembangan karakter Mayor Iqbal dari ISI yang diperankan oleh Arjun Rampal didasarkan pada penangan misterius dari pelaku plot 26/11 David Coleman Headley, seorang warga Pakistan-Amerika, yang mensurvei target serangan Mumbai. Mayor Iqbal disebutkan dalam pernyataan tertulis yang diajukan oleh Biro Investigasi Federal (FBI).