Maka pada tahun kesembilan dari pemerintahannya (Zedekia), dalam bulan yang kesepuluh, pada tanggal sepuluh bulan itu, datanglah Nebukadnezar, raja Babel, dengan segala tentaranya menyerang Yerusalem. Ia berkemah mengepungnya dan mendirikan tembok pengepungan sekelilingnya. (TB)[3]
Pada tanggal sembilan bulan yang keempat, ketika kelaparan sudah merajalela di kota itu dan tidak ada lagi makanan pada rakyat negeri itu, (TB)[10]
"Tanggal 9 bulan ke-4": 9 Tamus, menurut Thiele, jatuh pada tanggal 18 Juli586 SM.[4]
Ayat 8
Dalam bulan yang kelima pada tanggal tujuh bulan itu--itulah tahun kesembilan belas zaman raja Nebukadnezar, raja Babel--datanglah Nebuzaradan, kepala pasukan pengawal, pegawai raja Babel, ke Yerusalem. (TB)[11]
"Bulan ke-5": atau bulan Ab di kalender Yahudi merupakan bulan berkabung bagi orang Yahudi terutama pada hari raya Tisha B'Av, di mana diperingati sejumlah musibah besar dalam sejarah bangsa itu termasuk kehancuran Bait Allah yang pertama maupun yang kedua pada hari yang sama meskipun terpisah lebih dari 500 tahun.[12]
"Tanggal 7": di mana pada Yeremia 52:12 tertulis "tanggal 10". Gill menafsirkan bahwa Nebuzaradan berangkat dari Ribla tanggal 7 dan sampai di Yerusalem tanggal 10; atau ia sudah berada di sekitar Yerusalem tanggal 7, tetapi baru masuk kota yang terbakar habis tanggal 10.[13] Catatan orang Yahudi menulis:
"Orang-orang asing memasuki Bait Suci, dan makan di dalamnya, dan menajiskannya, pada hari ke-7 dan ke-8; dan pada hari ke-9 menjelang gelap, mereka menyulut api atasnya, dan terbakar dan terus menyala sampai sepanjang hari (ke-9) seperti yang tertulis pada Yeremia 6:4"[14]
"Tahun ke-19 zaman raja Nebukadnezar": Nebukadnezar naik tahta pada tahun 605 SM, yaitu tahun ke-4 Yoyakim[15] yang memerintah (menurut "metode tahun naik tahta") sekitar bulan Oktober609 SM sampai matinya pada tanggal 9 Desember 598 SM.[16] Tujuh tahun sisa pemerintahan Yoyakim, ditambah tiga bulan Yoyakhin dan sebelas tahun Zedekia, menghasilkan tahun ke-19 Nebukadnezar, yang bersamaan dengan tahun terakhir Zedekia pada tahun 586 SM.[15]
Ayat 14
Kuali-kuali, penyodok-penyodok, pisau-pisau dan cawan-cawan dan segala perkakas tembaga yang dipakai untuk menyelenggarakan kebaktian, diambil mereka, (TB)[17]
Ayat 21
Demikianlah orang Yehuda diangkut ke dalam pembuangan dari tanahnya. (TB)[18]
Ketika Yehuda dibawa sebagai tawanan, berakhirlah kerajaan politik duniawi Daud. Akan tetapi, sekalipun bangsa itu binasa, janji mengenai keturunan Daud tetap ada (lihat 2 Samuel 7:14–16) Allah melanjutkan persiapan-Nya bagi kedatangan Putra Daud, Kristus, yang kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan (Lukas 1:33). Melalui keturunan Daud, yaitu Mesias, Allah akhirnya membentuk "bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri" (1 Petrus 2:9).[7]
Ayat 27
Kemudian dalam tahun ketiga puluh tujuh sesudah Yoyakhin, raja Yehuda dibuang, dalam bulan yang kedua belas, pada tanggal dua puluh tujuh bulan itu, maka Ewil-Merodakh, raja Babel, dalam tahun ia menjadi raja, menunjukkan belas kasihannya kepada Yoyakhin, raja Yehuda, dengan melepaskannya dari penjara. (TB)[19]
"Tanggal 27 bulan itu": Menurut kronologi Thiele,[4] Yoyakhin dilepaskan dari penjara tanggal 2 April 561 SM.[22][23] Menurut Kitab Yeremiapasal 52:31, Ewil-Merodakh memberi perintah melepaskan Yoyakhin pada tanggal 25, tetapi rupanya baru pada tanggal 27 perintah itu dilaksanakan dan Yoyakhin dikeluarkan dari penjara.[13][24]
↑W.S. LaSor, D.A. Hubbard & F.W. Bush. Pengantar Perjanjian Lama 1. Diterjemahkan oleh Werner Tan dkk. Jakarta:BPK Gunung Mulia. 2008. ISBN 979-415-815-1, 9789794158159
↑J. Blommendaal. Pengantar kepada Perjanjian Lama. Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1983. ISBN 979-415-385-0, 9789794153857
12Joseph S. Exell; Henry Donald Maurice Spence-Jones (Editors). On "2 Kings 25". In: The Pulpit Commentary. 23 volumes. First publication: 1890. Diakses 24 April 2018. Artikel ini memuat teks dari sumber tersebut, yang berada dalam ranah publik.