Pernah nggak sih ngebayangin urusan bantuan sosial (bansos) yang biasanya ribet, penuh antrean, dan mungkin datanya kadang kurang update, tiba-tiba berubah jadi secepat kilat cuma lewat aplikasi? Nah, ini yang lagi digarap serius sama Pemerintah Kabupaten Buleleng. Mereka baru saja meluncurkan langkah besar buat mendigitalisasi penyaluran bansos lewat aplikasi yang namanya Perlinsos.
Bukan cuma soal ganti aplikasi, ini adalah langkah nyata supaya bantuan dari pemerintah beneran tepat sasaran. Jadi, buat warga Buleleng, siap-siap ya, karena prosesnya bakal makin transparan dan otomatis.
baca juga: THR & TPP ASN Mataram 2026: Siap Cair, Tapi PPPK Paruh Waktu Masih “Digantung”
Buleleng Jadi Pionir Digitalisasi Bansos
Kabar ini datang langsung dari Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Buleleng, Putu Ariadi Pribadi, pasca rapat penanggulangan kemiskinan di DPRD Buleleng pada Rabu, 4 Maret 2026 kemarin.
Jadi ceritanya begini: pemerintah pusat lagi gencar-gencarnya melakukan pemutakhiran data. Dulu kita kenal namanya DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial), sekarang datanya di-upgrade menjadi Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional atau disingkat DTSEN. Enggak main-main, Bali, termasuk Buleleng di dalamnya, dipilih jadi wilayah percontohan alias pilot project buat digitalisasi bansos nasional ini.
Kenapa harus pakai DTSEN? Karena sistem ini dianggap lebih komprehensif. Pemerintah daerah pun nggak kerja sendirian, mereka gandeng Badan Pusat Statistik (BPS) untuk urusan verifikasi data. Menurut Pak Ariadi, kewenangan soal data DTSEN ini memang ada di BPS, jadi kolaborasi antar instansi ini jadi kunci utama supaya data di lapangan valid. Bahkan, rencananya bulan Mei nanti bakal ada sensus lanjutan biar datanya makin fresh.
Mengatasi Gap Digital: Hadirkan 2.600 Agen Pendamping
Mungkin ada yang mikir, “Wah, pakai aplikasi? Gimana kalau warga yang nggak punya smartphone atau gaptek?” Nah, Pemkab Buleleng ternyata sudah mikirin itu jauh-jauh hari. Mereka sadar banget kalau nggak semua keluarga penerima manfaat (KPM) melek teknologi atau punya HP canggih yang mumpuni.
Buat mengatasi kendala itu, pemerintah menyiapkan sekitar 2.600 agen khusus di setiap desa. Agen-agen ini punya tugas mulia: mendampingi warga untuk mendaftar di aplikasi Perlinsos. Jadi, warga nggak perlu pusing sendirian, tinggal datang ke agen yang sudah disiapkan di desa masing-masing.
Siapa saja agennya? Rencananya, mereka adalah orang-orang yang sudah terbiasa bersentuhan dengan masyarakat, seperti pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), petugas dari Dinas Sosial, dan ada kemungkinan juga melibatkan kader PKK atau dasa wisma. Dengan total 264 ribu kepala keluarga (KK) di Buleleng, asumsinya satu agen bakal bertanggung jawab mendampingi sekitar 100 KK. Angka yang cukup realistis, kan?
Satu syarat mutlak buat jadi agen: mereka harus punya Identitas Kependudukan Digital (IKD) di ponselnya. Kenapa? Karena sistem ini bakal terintegrasi ke banyak instansi. Jadi, agennya harus “melek” teknologi dan punya sarana yang mumpuni.
Sistem Canggih: Nggak Bisa “Main-main” Lagi
Salah satu fitur paling keren dari aplikasi Perlinsos ini adalah kemampuannya yang sangat smart. Sistem ini bakal terhubung langsung dengan berbagai instansi terkait, seperti Badan Pertanahan Nasional (BPN), Samsat, hingga pihak perbankan.
Apa artinya? Artinya, sistem bakal secara otomatis membaca aset dan kondisi keuangan calon penerima bansos. Pak Ariadi menegaskan dengan nada lugas, kalau ada orang yang mengaku tidak mampu tapi ternyata punya tabungan banyak atau punya aset kendaraan, sistem akan langsung mengetahuinya.
“Kalau ada yang mengaku tidak mampu tapi ternyata punya tabungan atau aset kendaraan, sistem akan membaca itu. Tidak bisa dibohongi,” ujar Pak Ariadi. Ini adalah kabar baik, karena bantuan sosial yang terbatas jumlahnya itu harus benar-benar sampai ke orang yang paling membutuhkan, bukan ke orang yang “pura-pura” butuh.
Kapan Mulai Berjalan?
Rencananya, aplikasi Perlinsos ini bakal mulai “tancap gas” pada April 2026. Sekarang ini, tim di Buleleng lagi sibuk-sibuknya melakukan tahapan krusial, mulai dari menentukan siapa saja yang jadi agen di setiap desa, input data, sampai sosialisasi teknis ke lapangan.
Soal honor buat para agen ini, Pak Ariadi bilang masih terus dikoordinasikan. Tapi yang jelas, fokus utamanya adalah mendekatkan pelayanan. Dengan adanya agen di desa, warga yang tadinya harus bolak-balik ke kota atau kantor dinas buat urusan administrasi bansos, sekarang cukup ke tingkat desa saja. Lebih dekat, lebih cepat, dan tentunya lebih humanis.
Harapan ke Depan
Transformasi digital ini diharapkan jadi angin segar buat warga Buleleng. Bukan sekadar soal kecanggihan aplikasi, tapi soal bagaimana pemerintah ingin memastikan setiap rupiah bansos tepat sasaran. Dengan sistem yang terintegrasi, potensi salah sasaran atau data yang “nyangkut” bisa diminimalisir.
Jadi, buat warga Buleleng, mari kita dukung langkah ini. Kalau nanti ada agen yang datang atau sosialisasi tentang aplikasi Perlinsos di desa kalian, jangan ragu untuk bertanya dan bekerja sama. Ini semua demi mewujudkan Buleleng yang lebih sejahtera dan tertata datanya.
penulis: ridho


Post Comment