Ribuan orang turun ke jalan di kota Lyon, Prancis, pada 8 Maret 2026 untuk menyuarakan dukungan terhadap hak-hak perempuan. Aksi ini digelar bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional, dan jumlah pesertanya bahkan melampaui demonstrasi tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 9.000 orang.
Menurut laporan Le Progres, pihak kepolisian mencatat sekitar 9.600 orang ikut serta dalam aksi tersebut. Sementara itu, panitia penyelenggara memperkirakan jumlah peserta yang hadir mencapai sekitar 14.000 orang.
baca juga:Gaspol! PGM Indonesia Jawa Barat Kawal Nasib 72 Ribu Guru Madrasah Agar Cepat Sertifikasi
Lonjakan jumlah massa ini cukup mengejutkan bagi penyelenggara. Pasalnya, sekitar pukul 14.30 waktu setempat, area Place Jean-Macé yang menjadi titik kumpul masih terlihat relatif sepi dari kerumunan peserta.
Dalam aksi tersebut, kelompok Collectif Droits des Femmes 69 juga menyerukan mogok kerja domestik sebagai bentuk protes. Mereka menilai sistem patriarki masih menjadi penghambat bagi terpenuhinya hak-hak perempuan.
Isu kesenjangan pendapatan antara laki-laki dan perempuan juga menjadi salah satu sorotan utama. Beberapa serikat pekerja seperti Confédération Générale du Travail (CGT), Fédération Syndicale Unitaire (FSU), dan Solidaires ikut menyuarakan tuntutan kesetaraan upah bagi perempuan.
Selain itu, para demonstran juga menyampaikan sikap politik mereka secara tegas. Mereka menyatakan bahwa tidak ada yang disebut sebagai feminisme dari sayap kanan ekstrem dalam perjuangan mereka.
Tak hanya menyoroti isu domestik, aksi demonstrasi ini juga membawa pesan solidaritas internasional. Pesan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan global yang turut memengaruhi kondisi sosial dan politik di berbagai negara.
penulis:putra


Post Comment