Sekolapedia – 19 Maret 2026 | Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, tewas dalam serangan udara yang dilancarkan Israel pada Rabu 18 Maret 2026. Kematian beliau menambah daftar tinggi pejabat Iran yang menjadi target dalam konflik gabungan Amerika Serikat‑Israel yang kini meluas di seluruh kawasan Timur Tengah. Menjelang kematiannya, Larijani menyampaikan seruan keras kepada negara‑negara Muslim melalui enam poin yang dipublikasikan di platform X, menegaskan bahwa Israel merupakan musuh utama umat Islam dan menuntut persatuan di bawah pimpinan Iran.
Latar Belakang dan Peran Strategis
Larijani, yang pernah menjabat sebagai Ketua Parlemen Iran hingga 2020, dikenal sebagai tokoh akademis sekaligus praktisi kebijakan luar negeri. Lulusan Fakultas Matematika dan Ilmu Komputer Universitas Teknologi Sharif, ia juga menulis tentang filsafat Immanuel Kant dan berperan dalam negosiasi kesepakatan nuklir dengan Barat. Sejak penunjukan sebagai Sekjen Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, ia menjadi otak di balik strategi pertahanan Iran, terutama pada masa-masa krisis setelah pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei pada akhir Februari 2026.
Seruan Terakhir kepada Dunia Islam
Dalam enam poin yang diunggah di X, Larijani menyoroti kegagalan solidaritas negara‑negara Muslim dalam menghadapi “poros Amerika‑Zionis”. Ia menulis, “Peperangan hari ini di satu sisi ada Amerika Serikat dan Israel. Di sisi lain ada Muslim Iran dan pasukan pejuang, di sisi mana kalian berada?” Selanjutnya, ia menambahkan, “Pikirkan tentang masa depan dunia Islam. Kalian tahu, AS tak akan pernah bersetia kepada laian, dan Israel sejatinya musuh kalian.”
Larijani juga mengutip hadis Nabi Muhammad SAW: “Bila kamu tidak merespons tangis seorang Muslim, maka kamu bukanlah seorang Muslim,” lalu menutup dengan pertanyaan retoris, “Islam macam apa ini?” Pertanyaan itu mengundang kritik tajam terhadap negara‑negara yang, menurutnya, lebih condong pada kepentingan Barat daripada prinsip Islam.
Enam Poin Utama
- Penolakan tegas terhadap aliansi Amerika‑Israel sebagai ancaman eksistensial bagi umat Islam.
- Ajakan kepada negara‑negara Muslim untuk menempatkan Iran sebagai pusat perlawanan.
- Penekanan pada pentingnya solidaritas militer dan politik di antara negara‑negara Muslim.
- Peringatan bahwa dukungan Barat tidak akan pernah bersifat setia atau jangka panjang.
- Panggilan moral untuk menegakkan nilai‑nilai Islam dalam kebijakan luar negeri.
- Seruan untuk menolak pasifitas dan mengambil sikap proaktif melawan agresi Zionis.
Dampak Kematian Larijani
Kematian Larijani menandai kehilangan strategis bagi Tehran. Sebagai figur yang menggabungkan keahlian akademik dengan pengalaman kebijakan tinggi, ia menjadi jembatan antara elite revolusi dan aparat militer. Setelah penembakan yang menewaskan Larijani bersama putranya dan pengawalnya, Iran menegaskan bahwa beliau gugur sebagai “syahid”, menambah narasi religius dalam konflik yang semakin memanas.
Seruan Larijani juga memperkuat narasi Tehran yang menuduh Amerika Serikat dan Israel berusaha memecah belah persatuan internal Iran serta melemahkan pengaruhnya di kawasan. Meski dukungan dari negara‑negara Muslim masih terfragmentasi, pernyataan Larijani diharapkan menjadi katalis bagi upaya diplomatik dan militer yang lebih terkoordinasi.
Di luar Tehran, reaksi beragam. Beberapa pemerintah di negara Arab menolak menanggapi secara terbuka, sementara kelompok non‑negara dan jaringan aktivis menyoroti pentingnya solidaritas Islam dalam menentang intervensi Barat. Sejumlah analis politik menilai bahwa pesan Larijani, meski berisi retorika keras, mencerminkan keprihatinan nyata tentang keamanan umat Islam di tengah perang yang melibatkan kekuatan nuklir dan konvensional.
Kematian Larijani sekaligus menegaskan bahwa konflik ini tidak hanya bersifat militer, melainkan juga ideologis. Dengan menempatkan Israel sebagai musuh utama, ia berupaya membentuk identitas kolektif yang dapat memobilisasi dukungan lintas batas. Bagaimana respons akhir negara‑negara Muslim akan menentukan arah geopolitik Timur Tengah dalam beberapa bulan mendatang.
Secara keseluruhan, pernyataan terakhir Ali Larijani menyoroti dilema moral dan strategis yang dihadapi dunia Islam saat ini. Jika pesan‑pesan tersebut berhasil memicu tindakan konkrit, maka Iran dapat memperkuat posisi tawar dalam negosiasi internasional. Sebaliknya, kegagalan untuk merangkul seruan tersebut dapat memperdalam perpecahan dan memberikan keuntungan lebih besar bagi aliansi Amerika‑Israel.



Post Comment