Wayang kulit gagrak (gaya) Yogyakarta (bahasa Jawa:(Carakan): ꦫꦶꦁꦒꦶꦠ꧀ꦮꦕꦸꦕꦭ꧀ꦒꦒꦿꦏ꧀ ꦔꦪꦺꦴꦒꦾꦏꦂꦠcode: jv is deprecated , translit.Ringgit wacucal gagrak Ngayogyakarta) merupakan variasi wayang kulitpurwa yang secara morfologi memiliki ciri bentuk, pola tatahan, dan sunggingan (pewarnaan) yang khas. Wayang gaya ini merupakan bentuk turunan asli wayang kulit pakem Mataraman yang terus dilestarikan oleh Kesultanan Yogyakarta. Dalam pertunjukannya, wayang kulit gaya ini juga memiliki unsur-unsur khas seperti lakon (penyajian alur cerita dan maknanya), catur (narasi dan percakapan), dan karawitan (gendhing, sulukan, dan properti panggung).
Sejarah
Sejarah wayang kulit gagrak Yogyakarta berkaitan erat dengan tradisi pedalangan yang jauh lebih tua, yaitu Pakem Mataraman. Tokoh kunci dalam tradisi ini adalah Ki Lebdajiwa atau Ki Panjangmas, seorang dalang sekaligus ahli pembuat wayang yang berasal dari Kedu. Menurut Serat Centhini pupuh 139, Ki Panjangmas adalah seorang dalang wayang gedogpurwa yang hidup pada era pemerintahan Anyakrawati, ia kemudian diangkat menjadi abdi dalangKesultanan Mataram.[1][2][3][4] Dari garis keturunan Ki Panjangmas, seluruh tradisi pedalangan Jawa berawal sebelum kemudian terpecah menjadi beberapa gaya regional.
Peristiwa yang paling menentukan dalam sejarah wayang kulit gagrak Yogyakarta adalah perang saudara Kesultanan Mataram. Pada 19 Mei 1746, Pangeran Mangkubumi meninggalkan Keraton Mataram di Surakarta. Dalam rombongan pelariannya terdapat seorang abdi dalem kinasih ahli tatahsungging wayang bernama Ki Jayaprana dan putranya Jaka Penatas. Ketika rombongan singgah di wilayah Kedu, ayah-anak tersebut menetap di Desa Danaraja, dekat Wonosobo. Mereka tinggal di rumah seorang sesepuh desa bernama Ki Atak. Selama menetap di sana, Ki Jayaprana mengajarkan Ki Atak cara membuat wayang purwa sebagai balas budi. Jaka Penatas kemudian dikawinkan dengan putri Ki Atak bernama Sutiyah, dan dari perkawinan itu lahir seorang anak bernama Bagus Riwong.[2][3]
Perang berakhir dengan ditandatanganinya Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755. Isi perjanjian adalah membagi Kesultanan Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta. Dua hari kemudian, pada 15 Februari 1755, digelar Perjanjian Jatisari di Desa Jatisari, Sukoharjo. Dalam pertemuan itu Hamengkubuwana I dan Pakubuwana III membahas pembagian dasar kebudayaan kedua keraton yang tidak diatur Perjanjian Giyanti, termasuk tata cara berpakaian, adat istiadat, bahasa, gamelan, tari-tarian, hingga tradisi pedalangan. Hamengkubuwana I yang menjadi figur yang dituakan, memilih melanjutkan tradisi lama budaya Mataram, sementara Pakubuwana III sepakat memodifikasi dan mengembangkan bentuk budaya baru.[5][6][7][8]
Dari kisah Ki Jayaprana, Jaka Penatas, Ki Atak, dan Bagus Riwong melahirkan empat gaya wayang Jawa Tengahan yang saling berkaitan. Ki Jayaprana membuat wayang dengan menggambarkan sosok dalam posisi seperti menari atau andhadhap dengan ornamen titik (drajeman) pada sunggingannya. Jaka Penatas membuat wayang dengan menggambarkan sosok berdiri tegak atau jumeneng.[2][9][10] Ki Atak membuat wayang berciri tubuh pendek namun gagah atau kak-kong, yang menjadi asal-usul wayang kulit gaya Kedu. Sementara Bagus Riwong menghasilkan wayang dengan proporsi gaya Ki Jayaprana dan Jaka Penatas dengan penambahan sungging bercorak sinar, yang menjadi asal muasal wayang gaya Prayungan yang kini lebih dikenal berkembang di daerah Banyumas.[10][11]
Setelah Kasultanan Yogyakarta resmi berdiri, dengan dasar bentuk yang dibuat Ki Jayaprana, wayang kulit pakem Mataraman yang telah diwariskan kemudian disempurnakan. Dari proses penyempurnaan dan penyesuaian tersebut menghasilkan bentuk baru sebagai wayang kulit gagrak Yogyakarta. Wayang kulit gaya ini secara formal diciptakan oleh Hamengkubuwana I. Salah satu pusaka utama yang lahir dari era ini adalah tokoh wayang Arjuna yang dikenal dengan nama Kanjeng Kyai Jayaningrum.[12][13] Atas hal ini, gaya wayang yang dikembangkan oleh Jayaprana menjadi cikal bakal wayang gaya Yogyakarta, sementara gaya Jaka Penatas yang kemudian turut mengabdi di Keraton Yogyakarta menjadi salah satu akar dari wayang gaya Surakarta.[2]
Di Kesunanan Surakarta, wayang kulit telah melakukan banyak penyempurnaan. Dimulai pada era Pakubuwana II dengan pembakuan bentuk, era Pakubuwana VII dengan pedoman Serat Pusaka Raja,[2] dan era Pakubuwana IX menghasilkan naskah pedoman pewayangan bernama Serat Sastramiruda melalui KPH Kusumadilaga. Di Kadipaten Mangkunegaran, pada era pemerintahan Mangkunegara IV diciptakan kotak wayang pusaka Kyai Sabet yang menjadi pola pokok seni rupa wayang kulit di Surakarta. Kesultanan Yogyakarta sebaliknya menempuh jalur pelestarian dan menggunakan pakem yang bersumber dari Serat Purwakandha, yang disusun pada era Hamengkubuwana V, sebagai acuan penyajian lakon.[2][14]
Ciri wayang
Ciri khas dari wayang kulit gaya Yogyakarta biasanya terlihat dari kakinya seperti orang menari. Kaki belakang wayang gaya Yogyakarta ini posisinya berjingkat (jinjit) dan jari-jari kakinya mengembang ke bawah. Panjang tangannya sampai jari kaki, sehingga lebih panjang dibandingkan dengan wayang kulit purwa gaya Surakarta.[15]
Wayang gaya Yogyakarta tampil lebih gagah, lebih ekspresif dan dinamis. Sunggingan siten-siten atau tanah yang menghubungkan kaki depan dan belakang warnanya merah polos. Ciri lainnya, pakaian wayang kulit gaya Yogyakarta kebanyakan mahkota (makutha), jamang sada saeler, jamang sulaman, sisir, ron, sumping, gelapan, (bledhegan), utah-utah, praba, kelat bahu, badhong, uncal-uncal diberi hiasan intan-intan. Tokoh raksasa terlihat lebih besar dan untuk manusia kera matanya dua, sementara tokoh wayang dewa mengenakan topi oncit seperti rumah siput (kethu keyongan). Tokoh wayang putri biasanya payudaranya besar dengan wiron jarik ke depan.[16]
Wayang kulit gaya Yogyakarta ini, secara ringkas, memiliki ciri yang pertama menggambarkan wayang (ringgit) bergerak, hal ini ditandai dengan tampilan posisi kaki yang melangkah lebar terutama pada tokoh jangkahan (gagahan). Ciri yang kedua memiliki tampilan bentuk tambun yaitu penggambaran bentuk tubuh yang sedikit lebih pendek dan kekar (gemuk) yang dinamakan dengan dhepah. Ciri yang ketiga yaitu pada umumnya tokoh-tokoh dalam wayang kulit gaya Yogyakarta mempunyai tangan yang sangat panjang hingga menyentuh kaki. Ciri yang keempat dari tatahannya dapat diketahui bahwa hampir semua tatahan tokoh wayang menggunakan unsur tatahan yang dinamakan inten-intenan, terutama pada pecahan uncal kencana, sumping, turida, dan bagian busana lainnya. Ciri yang kelima tokoh wayang kulit gaya Yogyakarta menggunakan sungging tlancap yang pada masa lampau disebut dengan sungging sorotan, yaitu unsur sungging yang berbentuk segitiga terbalik yang lancip-lancip seperti bentuk tumpal pada motif kain batik. Ciri keenam yaitu pada bagian sinten-sinten atau lemahan yaitu bagian di antara kaki depan dan kaki belakang umumnya diwarna dengan warna merah.[17]
↑Angst, Walter; Ramseyer, Urs (2007). Wayang Indonesia: die Phantastische Welt des Indonesischen Figurentheaters - The Fantastic World of Indonesia Puppet Theater (Edisi 1. Auflage). Konstanz: Stadler. ISBN978-3-7977-0534-1.Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
123456Sagio; Samsugi (1991). Wayang kulit gagrag Yogyakarta: morfologi, tatahan, sunggingan, dan teknik pembuatannya (Edisi Cet. 1). Jakarta: Haji Masagung. ISBN978-979-412-190-0.
↑Mulyono, Sri (2022). "Pengaruh Kitab Adiparwa dan Serat Purwakandha terhadap Pertunjukan Wayang Kulit Gaya Yogyakarta Lakon Abimanyu Lair: Kajian Intertekstualitas". Wayang Nusantara: Jurnal of Puppetry. 6 (1): 39–55. doi:10.24821/wayang.v6i1.13150.