Persatuan Pedalangan IndonesiaDalang cilik/muda sebagai generasi penerus dari para dalang
Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) adalah organisasi profesi dari para dalangwayang kulit yang independen, dan beranggotakan para dalang, pengrawit, swarawati, pembuat wayang dan perorangan yang memenuhi persyaratan tertentu. Disebut organisasi profesi karena PEPADI dapat mewadahi kegiatan seni pedalangan yang merupakan keahlian berkesenian khusus, sebagai sarana pengabdian dan peningkatan kualitas hidup para seniman pewayangan dan pedalangan. Organisasi ini bersifat independen karena PEPADI merupakan perkumpulan seni pewayangan dan pedalangan yang merupakan milik dari semua golongan, aliran dan seluruh strata masyarakat Indonesia.[1][2] Pada tahun 2023, ada 5600 dalang yang dapat terwadahi dalam organisasi PEPADI ini.[3] Setiap tanggal 7 November dirayakan sebagai Hari Wayang Nasional yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat, sehingga setiap tahunnya para seniman yang menggeluti bidang ini mempunyai moment menggalang kebersamaan.[4]
Kantor Pusat dan Daerah
Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) yang didirikan pada 14 April 1971 oleh Jenderal Soerono, Pangkowilhan Jawa dan Madura, lahir dengan tujuan untuk mewadahi organisasi pedalangan dari tingkat daerah hingga ke tingkat nasional. Pada saat ini, Pepadi memiliki 22 komisariat di setiap provinsi dan lebih dari 160 komisariat di berbagai kabupaten dan kota di Indonesia. Pada tahun 2024 jumlah anggota yang tergabung dalam Pepadi sudah mencapai sekitar 47.000 orang di seluruh Indonesia. Kantor pusat Pepadi berada di:
Untuk Kota Yogyakarta, ketua umumnya adalah KRT. Praba Prayitno, SE saat beraudiensi dengan Walikota di ruang kerja Walikota mengatakan bahwa pelantikan pengurus PEPADI masa jabatan 2009-2013 akan digelar pentas wayang Purwa, wayang Goleg, dan wayang Kancil yang dilakukan oleh 15 dalang. Pada kesempatan itu Walikota Yogyakarta H. Herry Zudianto juga dimintai untuk mengisi acara limbugan. Walikota Yogyakarta, berharap seni pedalangan juga bisa dimasukkan dalam kegitan belajar mengajar di sekolah dan menjadi muatan lokal di sekolah sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas di wilayah Yogyakarta. Walikota juga meminta para pengurus Pepadi bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Dinas terkait untuk menerbitkan sebuah buku tentang wayang.[5]
Keistimewaan Pedalangan dan Wayang Indonesia
Keistimewaan Pedalangan dan Wayang Indonesia sebagai bentuk kesenian adalah sifat-sifatnya yang adiluhung dan edipeni, yaitu seni yang sarat dengan falsafah serta sangat indah. Wayang Indonesia mengandung nilai etika dan estetika. Pakar Budaya dunia barat mengatakan Wayang Indonesia sebagai bentuk drama yang canggih di dunia (The most complex and sophisticated theatrical form in the world). Wayang mempunyai peranan sebagai tuntunan dalam masyarakat Indonesia sejak berabad-abad yang lalu hingga sekarang.
Dalam sebuah pertunjukkan wayang, penonton tidak hanya disuguhi hiburan menarik, tetapi juga didorong untuk berfikir menggunakan kecerdasan, perasaan sosial dan filosofis mereka. Secara batiniah pergelaran Wayang merupakan perjalanan kerohanian untuk memahami makna kehidupan dalam proses mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa, Sedangkan secara lahiriah wayang menggambarkan perjuangan manusia untuk mencapai kesejahteraan hidup, memayu hayuning bawana. Karena itulah, Wayang Indonesia mendapatkan penghargaan dari UNESCO sebagai "a Masterpiece of The Oral and Intangiable Heritage of Humanity" (Karya Agung Budaya Dunia Tak Benda) pada tanggal 7 November 2003. Jika kita tidak melestarikannya bukan tidak mungkin penghargaan ini dicabut kembali oleh UNESCO.[4][6]