Tatah SunggingMenatah kulit dalam proses pembuatan wayangMewarnai pahatan dalam proses selanjutnyaTokoh Werkudara setelah ditatahTokoh Werkudara gagrag Yogyakarta setelah disungging
Tatah Sungging adalah salah satu bidang dalam seni kriya berupa pembuatan wayang kulit. Tatah sungging berasal dari kata tatah berarti memahat dan sungging berarti mewarnai. Tidak semua orang mampu mengerjakan kerajinan tatah sungging ini, mengingat tingkat kerumitan dalam membuatnya sangat tinggi, mulai dari memilih kulit kerbau atau sapi yang akan dijadikan bahan, menggambar hingga menatah (memahat) serta nyungging (mewarnai). Fungsi kerajinan tatah sungging ini adalah sebagai pemeliharan budaya, hiburan, dan termasuk sebagai media dakwah yang digunakan para wali zaman dahulu.[1][2]
Tatah dan sungging wayang ini merupakan suatu bentuk kesenian tradisional yang sudah ber-embrio sejak masa prasejarah Indonesia. Pada awalnya tatah ini dipakai untuk pertunjukan yang berhubungan dengan pemujaan akan roh nenek moyang. Kemudian dalam rentang waktu yang panjang sampai pada masa Hindu, pertunjukan wayang bertransformasi ke visualisasi pada dinding candi. Pada masa Islam (Sunan Kalijaga) perkembangan bentuk fisiknya bertransformasi ke bentuk-bentuk yang disesuaikan dengan ajaran Islam. Wayang distilasi, ditatah dan disungging dengan apik sehingga menjadi bentuk-bentuk yang unik dan menakjubkan, pada akhirnya wayang mencapai keklasikannya. Islam menjadikan wayang sebagai karya seni yang profan, sehingga mudah di manfaatkan untuk berbagai keperluan hidup manusia.[3]
Pada era globalisasi tatah sungging wayang kulit bertransformasi ke wayang untuk Cenderamata. Realitas ini menjadi lahan baru bagi seniman dan perajin tatah sungging wayang kulit dalam memenuhi kebutuhan ekonominya. Gelombang transformasi tatah sungging wayang kulit pedalangan ke wayang Cenderamata mampu mengerakkan roda perekonomian warga, memperluas kesempatan kerja, dan meningkatkan taraf kesejahteraan hidup mereka. Dalam mencermati transformasi tatah sungging wayang kulit pedalangan ke wayang Cenderamata ini digunakan pendekatan arkeologis dan pendekatan sosiologi. Untuk melihat faktor penyebab dan model transformasinya digunakan pendekatan arkeologis, dibantu oleh teori seni dalam dimensi bentuk, ruang, dan waktu serta teori quantum seni. Pendekatan sosiologis digunakan untuk mencermati dampak sosial budaya yang disebabkan oleh transformasi wayang pedalangan ke wayang Cenderamata terhadap masyarakat pendukungnya.[3]
Tatah sungging gaya Yogyakarta
Unsur tatahan wayang gaya Yogyakarta biasanya disusun sesuai dengan aturan-aturan dalam wayang agar dapat menghasilkan sesuatu yang rumit/teliti namun indah seperti yang dapat dinikmati pada tatahan wayang kulit saat ini. Unsur-unsur yang ada dalam tatahan kulit memiliki bentuk tersendiri dan memiliki nama atau sebutan masing-masing. Unsur wayang kulit inilah yang selama beberapa kurun waktu dipelajari dan dipertahankan secara turun-temurun sehingga tetap dikenal hingga sekarang. Dalam wayang kulit purwa diketahui sedikitnya ada empat belas unsur tatahan antara lain tatahan bubukan, tatahan semutdulur, tatahan langgatan, tatahan bubukiring, tatahan inten-intenan, tatahan langgatbubuk, tatahan sembuliyan, tatahan kawatan, tatahan seritan, tatahan patran, tatahan semen, tatahan srunen, tatahan wajikan dan tatahan mas-masan.[4]
Bagian wayang kulit yang banyak ditatah adalah busana bagian mahkota, busana bagian tubuh, busana bagian tangan dan busana bagian bawah atau kaki. Unsur sungging (pewarnaan) wayang kulit ini antara lain sungging tlancap, sunging sawutan, sungging kelopan, sungging cawen, sungging balesan, sungging drenjeman, sungging waleran, sungging bludiran, sungging cinden, sunging ulat-ulatan, dan sunggih kampuh. Bagian wayang kulit yang banyak disungging yaitu busana bagian mahkota, busana bagian tubuh, busana pada bagian tangan, dan busana pada bagian bawah atau kaki. Wayang kulit gaya Yogyakarta ini memiliki keunikan tersendiri yang belum banyak diketahui sehingga perlu disebarluaskan agar keistimewaannya dapat dinikmati oleh kalangan luas, sehingga wayang kulit gaya Yogyakarta akan terus lestari sebagai salah satu warisan budaya Indonesia.[4]
Pusat industri tatah sungging
Ada beberapa daerah sentra industri kerajinan tatah sungging kulit di Yogyakarta, salah satu di antaranya adalah di daerah Pucung Karangasem, Wukirsari, Imogiri, kabupaten Bantul. Daerah ini terletak di selatan kota Yogyakarta yaitu berjarak kurang lebih 23 km, tepatnya berada di daerah pegunungan Imogiri, di mana makam raja Mataram Yogyakarta berada. Di daerah Wukirsari Imogiri ini selain terdapat sentra industri kerajinan tatah sungging wayang, juga terdapat sentra industri tatah sungging untuk kap lampu, hiasan
dinding, kipas, hiasan gantung (maskot) dan penyekat ruangan, serta terdapat pusat kerajinan batik.[5]
Kerajinan tatah sungging kulit sudah lama berkembang di daerah ini, yaitu sejak sekitar tahun 1917-an, dan terus berlangsung hingga sampai sekarang. Di daerah ini sekarang terdapat sekitar 963 orang pengrajin yang cukup aktif memproduksi kerajinan kulit. Mereka
mendapatkan keahlian membuat kerajinan kulit secara turun temurun dari warisan nenek moyang, dan sebagian besar dari mereka menjadikan profesi pengrajin tatah sungging ini sebagai mata pencaharian utama.
Referensi
↑Sujatno, Wasana, dkk. (2005). Wursita Basa 6: Kangge kelas 6 SD/MI. Klaten:CV Rizqi Mandiri.