Vipāka (Sanskerta dan Pali), umum diterjemahkan sebagai akibat, efek, hasil, atau resultan, adalah istilah dalam tradisi Buddhis dan Jain yang merujuk pada pematangan atau hasil dari karma (Pali: kamma), yakni perbuatan yang dilakukan dengan niat atau kehendak (cetanā). Konsep tentang hubungan antara perbuatan dan akibatnya (kamma-vipāka) merupakan salah satu ajaran pokok dalam Buddhisme.
Etimologi
Vipāka berasal dari vi+pac, yang secara literal berarti "buah" atau "hasil".[1][2] Kata kerja vipaccati berarti "dimasak" atau "berbuah", oleh karena itu secara kiasan vipāka melambangkan sesuatu yang telah siap melalui pemasakan atau pematangan.[2]
Dalam Tripitaka Pali, istilah vipāka sering disandingkan dengan phala (secara harfiah berarti "buah"),[web 1] seperti pada frasa kammānaṁ phalaṁ vipāko (phala dan vipāka dari kamma) yang menggambarkan hubungan kausalitas antara perbuatan dan konsekuensinya.[web 2][3]Nyanatiloka mengartikan vipāka sebagai hasil dari tindakan berkehendak (karma) di kehidupan ini maupun masa lalu.[4]Mahasi Sayadaw menjelaskan bahwa vipāka biasanya disertai dengan kondisi-kondisi eksternal baik yang menguntungkan (ānisaṁsa) maupun yang tidak menguntungkan (ādīnava). Seperti halnya karma yang didasari oleh niat, vipāka juga berhubungan dengan fenomena batin.[3] Menurut Nyanatiloka, vipāka merupakan fenomena mental yang bersifat netral secara moral, seperti perasaan menyenangkan atau menyakitkan.[4]
Lebih lanjut, pandangan bahwa segala hal semata-mata merupakan akibat dari perbuatan masa lalu dianggap sebagai pandangan keliru.[5][4][web 3] Meskipun kondisi dari fenomena dan pengalaman saat ini dipengaruhi oleh karma, tetapi kondisi tersebut juga disebabkan oleh sebab-sebab lain dan bukan semata-mata akibat karma.[a][6]
Dalam terjemahannya atas kitab Abhidhammatthasaṅgaha, Ashin Kheminda menjelaskan:[7]
Resultan (vipāka) adalah wujud alamiah yang asalnya dari kamma baik (kusala) atau kamma tidak baik (akusala) yang saling berlawanan satu dengan yang lainnya (aññamaññaviruddhānaṃ kusalākusalānaṃ pākāti vipākā, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Abhidhammatthavibhāvinīṭīkā).
Kata pāka di vipāka berarti masak atau matang—merujuk kepada keadaan buah yang sudah masak. Akan tetapi, di sini kita terjemahkan menjadi resultan. Resultan yang tidak-baik (akusala-vipāka), dengan demikian, berarti buah dari kamma tidak-baik yang telah dilakukan di masa lalu. Sebaliknya, resultan yang baik (kusala-vipāka) adalah buah dari kamma baik yang telah dilakukan di masa lalu.
Istilah resultan di sini hanya merujuk kepada dhamma nonmateri (arūpa dhamma) dan bukan merujuk kepada dhamma yang bersifat materi (rūpa). Memang benar bahwa di antara materi-materi tertentu terdapat materi yang berasal dari kamma, misalnya sensitivitas-mata dan lain-lain; tetapi materi tersebut tidak bisa dikatakan sebagai resultan. Dengan demikian, maka kesadaran (citta) yang merupakan buah dari kamma yang tidak-baik disebut sebagai kesadaran-resultan yang tidak-baik.
Dalam tradisi Abhidhamma Theravāda, secara teknis, kesadaran resultan (vipākacitta) muncul sebagai akibat masaknya benih kamma. Kesadaran resultan yang tidak-baik (akusalavipāka-citta) adalah jenis kesadaran yang merupakan buah kamma-buruk; sedangkan kesadaran resultan yang baik (kusalavipāka-citta) adalah jenis kesadaran yang merupakan buah kamma-baik.[8]
Terjemahan alternatif
Istilah vipāka sering diterjemahkan sebagai:
akibat atau efek (bahasa Inggris: effect) (Ven. D. Mahinda Thera[9])
pematangan (maturation) (Keown, 2000, loc 810–813)
↑Walaupun perbuatan lampau bukanlah satu-satunya penentu pengalaman, perbuatan masa lalu tetap akan menghasilkan akibat. Artinya, kondisi pengalaman saat ini memang bergantung pada berbagai sebab dan hal lain selain akibat karma, namun hal itu tidak berarti bahwa perbuatan sama sekali tidak menimbulkan hasil. Berdasarkan Sāmaññaphalasutta, pandangan bahwa karma tidak memiliki akibat apapun adalah paham Materialisme yang dikemukakan oleh Ajita Kesakambalī. Lihat entry Vipāka bagian Vipāka and the Denial of Causality di Malalasekera 1961, hlm.669
↑Widyadharma, Pandita S. (2010-11-02). "Bab II - Ajaran Sang Buddha". Samaggi Phala (dalam bahasa Indonesia). Diakses tanggal 2026-02-04. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)