Undius Kogoya (meninggal 22 Oktober 2025) adalah seorang tokoh separatis Papua dan komandan TPNPB-OPM di Intan Jaya.
Biografi
Undius bergabung dengan OPM pada tahun yang tidak diketahui. Namanya pertama kali tercatat dalam catatan kriminal kepolisian pada tanggal 30 Mei 2020 ketika ia dan kelompoknya membunuh Yunus Sani. Pada tanggal yang sama, ia masuk ke dalam daftar pencarian orang (DPO).[1] Pada tanggal 9 Agustus 2022, Undius terpilih sebagai Panglima KODAP VIII Intan Jaya setelah kematian Ayub Waker.[2]
Selama menjadi komandan OPM, Undius beserta dengan pasukannya melancarkan aksi geriliya di Tembagapura, Timika, Intan Jaya dan Paniai.[3] Di Paniai, ia mendirikan markasnya di Distrik Bibida, Paniai.[4] Ia juga merekrut pembelot TNI bernama Danis Murib ke dalam pasukannya.[5] Kelompok pimpinannya dikenal suka melancarkan aksi kekerasan terhadap warga sipil dan juga pembakaran terhadap fasilitas umum. Pada bulan Juni 2024, pemerintah mengatakan bahwa kelompok Undius Kogoya telah melancarkan 21 aksi kejahatan.[6] Pada tahun 2025, kelompoknya melancarkan 12 aksi kekerasan.[7] Ia juga menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Intan Jaya dengan mengatakan bahwa program tersebut adalah senjata biologis pemerintah untuk meracuni generasi orang Papua di masa depan melewati makanannya. Di samping itu juga, ia tidak segan-segan untuk membakar sekolah dan pembunuh "pengkhianat" di Intan Jaya.[8]
Selain melancarkan serangan terhadap Pasukan TNI, ia juga menyerang pasukan West Papua Army (WPA) yang merupakan bagian dari ULMWP pimpinan Benny Wenda. Aksi perlawanan terhadap WPA pertama kali ia lakukan pada bulan Januari 2023 ketika ia menangkap anggota WPA yang memasuki wilayahnya di Paniai. Setelah menahan mereka, ia memberikan peringatan kepada anggota WPA untuk tidak memasuki Intan Jaya. Pada tanggal 20 April 2023, pasukannya melancarkan serangan pertama kali terhadap kelompok WPA pimpinan Joni Botak Beanal di Intan Jaya dan menewaskan empat pasukan Joni.[9]
Undius meninggal dunia pada tanggal 22 Oktober 2025 di Kampung Jae, Distrik Wandai karena sakit.[10] Tujuh hari sebelum kematiannya, ia pemimpin Penyerangan Soanggama. Dalam penyerangan tersebut, 14 anak buahnya tewas.[7]