Kabupaten Intan Jaya adalah salah satu kabupaten di ProvinsiPapua Tengah, Indonesia. Daerah ini dulunya pernah menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Paniai. Kabupaten ini diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia, H. Mardiyanto pada tanggal 26 November 2008. Kabupaten ini berpenduduk 137.696 jiwa pada akhir tahun 2024.[2][5]
Geografi
Kabupaten Intan Jaya terletak di kawasan Pegunungan Tengah Papua. Wilayahnya didominasi oleh dataran tinggi, tetapi wilayah dataran rendah dapat ditemukan di Distrik Tomosiga serta sebagian kecil wilayah Distrik Mbiandoga dan Agisiga.[6]
Intan Jaya terbagi atas beberapa Distrik yaitu:
Distrik Agisiga
Distrik Biandoga
Distrik Hitadipa
Distrik Sugapa (Ibukota)
Distrik Homeyo
Distrik Tomosiga
Distrik Ugimba
Distrik Wandai
Batas Wilayah
Batas Wilayah Kabupaten Intan Jaya adalah sebagai berikut;[5]
Letak geografis Kabupaten Intan Jaya yang berada di dataran tinggi menyebabkan suhu udara yang rendah di wilayah tersebut. Suhu udara maksimum adalah 25,02 derajat celcius dan suhu minimum adalah 12,15 derajat celcius di mana suhu tertinggi terjadi pada bulan April yaitu 28,8 derajat celcius sedangkan suhu terendah pada bulan September adalah 9,2 derajat celcius.
DPRD Intan Jaya beranggotakan 25 orang yang dipilih melalui pemilihan umum setiap lima tahun sekali. Anggota DPRD Intan Jaya yang sedang menjabat saat ini adalah hasil Pemilu 2019 yang dilantik pada 18 Desember2019 oleh Ketua Pengadilan Negeri Nabire, Erenst Jannes Ulaen, di Aula Maranatha Malompo, Nabire.[9][10] Komposisi anggota DPRD Intan Jaya periode 2019-2024 terdiri dari 12 partai politik di mana Partai Demokrat adalah partai politik pemilik kursi terbanyak setelah berhasil meraih 4 kursi, kemudian disusul oleh PDI Perjuangan, Partai NasDem, dan Partai Hanura yang masing-masing berhasil meraih 3 kursi.[11]Berikut ini adalah komposisi anggota DPR Kabupaten Intan Jaya dalam tiga periode terakhir.
17 September 2020: Pratu Dwi Akbar tewas ditembak oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kali Hiabu.[15] Pasca kejadian, TNI mengumpulkan warga setempat untuk mencari senjata api yang dirampas oleh KKB.[16]
19 September 2020: Pendeta Yeremia Zanambani ditemukan tewas tertembak. Pendeta Yeremia merupakan Ketua Klasis Gereja Kemah Injil IndonesiaHitadipa, Kabupaten Intan Jaya, Papua. Puteri korban meyakini bahwa pelaku penembakan merupakan anggota TNI yang memiliki kedekatan dengan keluarganya.[17] Pihak TNI membantah hal tesebut dan menuduh KKB memutarbalikkan fakta.[18] Berdasarkan hasil penyelidikan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) diduga ada keterlibatan aparat dan kemungkinan pihak ketiga dalam kasus penembakan ini.[19]
Pasca penembakan pendeta Yeremia, penduduk Hitadipa mengungsi.[20]
Setidaknya telah terjadi lima kali konflik bersenjata antara aparat keamanan dengan KKB yang menewaskan 2 prajurit TNI, 1 orang warga sipil, dan 1 orang anggota KKB sejak Januari sampai dengan Februari tahun 2021.[21]
Polres Intan Jaya menetapkan status keamanan siaga satu di Intan Jaya akibat aksi penembakan yang dilakukan oleh KKB. Gangguan keamanan ini juga membuat roda pemerintahan di Kabupaten Intan Jaya tidak berjalan. Bupati Intan Jaya dan jajarannya meninggalkan ibukota Sugapa. Diperkirakan sekitar 1.000 orang warga mengungsi ke Kompleks Pastoran Gereja Katholik Mikael Bilogai, Distrik Sugapa. Untuk mengatasi gangguan keamanan ini, pemerintah mengirimkan pasukan tambahan ke Kabupaten Intan Jaya.[22]
Intan Jaya merupakan basis (markas) dari 3 Kodap (Komando Daerah Perjuangan) OPM yaitu Kodap VIII/IntanJaya bermarkas di Kp. Soanggama dengan pimpinan Undius Kogoya,[23] Kodap III/D Dulla bermarkas di Kp. Tausiga dengan pimpinan Daniel Aibon Kogoya,[24] Kodap VIII/Kemabu bermarkas di Kp. Ugimba dengan pimpinan Sabinus Waker[25]
Beberapa Satgas Mobile yang pernah ditugaskan di wilayah Intan Jaya yaitu Yonif 433/JS,[26] Yonif 400/BR,[27] Yonif 501/BY,[28] Yonif 328/Dirgahayu,[29] Yonif 305/Tengkorak,[30] Yonif 330/TD,[31] Yonif 509/BY,[32] Yonif 500/Sikatan,[33] Yonif 712/Wiratama.[34]
Karena tingginya eskalasi konflik di Intan Jaya, Satgas TNI Koops HABEMA[35] ditugaskan untuk menjaga keamanan Dan menanggulangi konflik yang terjadi di Intanjaya.
Kontak tembak terjadi pada Selasa, 13 Mei 2025 yang mengakibatkan 18 TPNPB-OPM (Kelompok Daniel Aibon Kogoya dan Kelompok Undius Kogoya)[36][37] tewas saat operasi yang dilakukan oleh Tim Satgas Rajawali 2 Kopassus dan Yonif 500/Sikatan di Kp. Dugusiga, Bambu Kuning Dan Sugapa Lama serta didapatkan 1 pucuk AK47, sebelumnya diketahui Kelompok TPNPB-OPM tersebut sedang melaksanakan pertemuan di Kp. Sugapa Lama diduga mereka berkumpul dalam rangka perencanaan penyerangan heli dan personel pembangunan Tower B3 yang sedang berlangsung di perbatasan Beoga.[38]
Pasukan TNI Satgas Habema terpaksa menembak mati Komandan Batalyon Kodap 8 Soanggama Intan Jaya, Papua Tengah, Enos Tipagau.[39] Enos Tipagau ditembak karena melawan dan menyerang saat hendak diamankan dari tempat persembunyiannya.[40]
11 Agustus 2025, Pasukan TNI Satgas Habema (Tim Satgas Rajawali II Kopassus Dan Yonif 500/Sikatan) menyisir Kampung Mamba, pasukan kembali terlibat kontak senjata dengan kelompok OPM Kodap VIII Kemabu dengan hasil, satu anggota OPM meninggal dunia atas nama Dece Mujijau, Danyon Titigi Kodap VIII Kemabu. Ia merupakan tokoh di bawah pimpinan Sabinus Waker.[41][42]
15 Oktober 2025, Pasukan TNI Satgas Habema (Tim Satgas Rajawali II Kopassus, Yonif 500/Sikatan, dan Yonif 72/Wiratama) merebut markas TPNPB-OPM Kodap VIII/Soanggama yaitu di Kp.Soanggama serta berhasil menewaskan 14 OPM dengan 3 tokoh OPM dan Salah 1 nya kepala staf operasi Kodap VIII/Soanggama Dan adik kandung Undius Kogoya yaitu Ipe Kogoya.[43][44]