Thaifah Sevilla (bahasa Arab:طائفة إشبيليّةcode: ar is deprecated Ta'ifat-u Isybiliyyah) adalah sebuah kerajaan Arab[1][2] yang diperintah oleh Dinasti Abbadiyah. Kerajaan ini didirikan pada tahun 1023 dan bertahan hingga tahun 1091, di wilayah yang sekarang merupakan wilayah Spanyol selatan dan Portugal.[3] Kerajaan ini memperoleh kemerdekaan dari Kekhalifahan Kordoba dan memperluas wilayah kekuasaannya pada pertengahan abad ke-11. Kekuatan Kastilia yang sedang bangkit membuat Sevilla meminta bantuan militer dari Murabithun, yang kemudian menduduki Sevilla.
Warisan
Sementara para sejarawan pada pertengahan abad ke-20 telah melukiskan gambaran bahwa thaifah, termasuk Sevilla, hanyalah orang-orang barbar,[1] para sejarawan modern telah menjelaskan bagaimana mereka secara geopolitik ditempatkan pada posisi di mana mereka harus bersikap pragmatis tanpa ampun untuk bertahan hidup. Mirip dengan thaifah lain pada abad ke-11, Thaifah Sevilla melihat kecanggihan dalam budaya di samping degradasi negara.[2] Thaifah ini adalah contoh bagaimana raja-raja thaifah akan bermanuver untuk menyatukan al-Andalus di bawah panji mereka sendiri, tetapi pertikaian antara raja-raja thaifah akan menyebabkan wilayah mereka menjadi tidak berkelanjutan pada tahun 1085.[3]
↑Fina Llorca Antolín (2008). Las mujeres entre la realidad y la ficción: una mirada feminista a la literatura española. Universidad de Granada. hlm.91. ISBN978-84-338-4892-5. Levi-Provençal ha demostrado que no era hija, sino nuera, del rey de Sevilla, y no se sabe bien si llegó a casarse o no con el rey Alfonso VI. (in English: Levi-Provençal has shown that she was not the daughter but the daughter-in-law of the King of Seville, and it is undetermined whether or not she married King Alfonso VI.