Dalam ajaran Islam, Taurat (bahasa Arab:توراةcode: ar is deprecated ) adalah salah satu kitab suci yang diwahyukan oleh Allah kepada salah satu nabi sekaligus rasul yaitu Musa.
Dalam tafsir Al-Qur'an
Metodologi Islam tentang tafsir al-Qur'an bi-l-Kitab (bahasa Arab:تفسير القرآن بالكتابcode: ar is deprecated ) mengacu pada penafsiran Al-Qur'an dengan/melalui Alkitab.[1] Pendekatan ini mengadopsi versi kanonik Alkitab dalam bahasa Arab, termasuk Taurat dan Injil, baik untuk menerangi maupun untuk menambah kedalaman penafsiran pada pembacaan Al-Qur'an. Mufassir Muslim terkenal dari Alkitab dan Al-Qur'an yang menggabungkan teks-teks Alkitab dengan teks-teks Al-Qur'an antara lain Abu al-Hakam Abd al-Salam bin al-Isbili dari Al-Andalus dan Ibrahim bin Umar bin Hasan al-Biqa'i.[1]
Ada beberapa ambiguitas di kalangan Muslim berbahasa Inggris mengenai penggunaan Taurat versus Torah. Bahasa Arab dalam Al-Qur'an dan hadis hanya mempunyai satu kata yaitu Taurat. Umumnya, dalam bahasa Inggris, keduanya digunakan secara bergantian. Namun, sebagian Muslim lebih memilih untuk menggunakan Taurat untuk merujuk hanya pada wahyu asli Tuhan kepada Musa yang diyakini sebagian Muslim kemudian diselewengkan, mungkin karena pembuangan di Babilonia, dan penulisan ulang Ezra (Uzair) (dan orang-orang dari Majelis Besar). Namun tidak mungkin menyatakan tanpa sumber autentik mengenai di mana, kapan, dan oleh siapa Taurat diubah. Karena Al-Qur'an menyebutkan nama Uzair dalam surat 9 ayat 30, dan tidak mengatakan bahwa ia memutarbalikkan Taurat dalam ayat ini, maka tidak dapat dikatakan bahwa Uzair melakukan hal tersebut.