Wilayah persebaran
Dari berbagai cabang tarekat Syadziliyah salah satunya ialah Fassiyatush,[3] banyak ditemukan di India, Sri Lanka, dan Pakistan. Cabang Darqawi kebanyakan ditemukan di Maroko, lalu cabang Darqawi Alawiyya dapat ditemukan di Aljazair; walaupun sekarang mudah ditemukan di seluruh dunia, khususnya di Suriah, Yordania, Prancis, dan di antara banyak komunitas berbahasa Inggris.
Cendekiawan Inggris, Martin Lings menulis biografi ekstensif pendiri cabang Darqawi Alawiyya, Ahmad al-Alawi yang berjudul A Sufi Saint of the 20th century.[4] Peringatan Quthb al-Aqtab, al-Ghawth al-Akbar, Mawlana al-Sayyid al-Shareef (رضي الله عنه) diadakan pada tanggal 12 Syawal (bulan kesepuluh kalender lunar) di Humaithara, Mesir.Thariqah ini mempunyai pengaruh yang besar di dunia Islam. Sekarang Thariqah ini terdapat di Afrika Utara, Mesir, Kenya, dan Tanzania Tengah, Sri langka, Indonesia dan beberapa tempat yang lainnya termasuk di Amerika Barat dan Amerika Utara. Di Mesir yang merupakan awal mula penyebaran thariqah ini, mempunyai beberapa cabang, yaitu: Al-Qasimiyyah, Al-Madaniyyah, Al-Idrīsiyyah, As-Salāmiyyah, Al-Handusiyyah, Al-Qauqau`iyyah, Al-Faidiyyah, Al-Jauhariyyah, Al-Wafa`iyyah, Al-Azhimiyyah, Al-Hamidiyyah, Al-Faisiyyah dan Al-Hasyimiyyah. Diantara Mursyid Thariqah Asy-Syādziliyyah yang terkenal di Indonesia adalah KH. 'Abdul-Jalil Mustaqim Tulungagung dan KH. Dalhar Watucongol Magelang.Menurut Syekh Syamsuddin Abu Mahmūd Al-Hanafi, kelebihan Syādziliyyah itu disebabkan tiga hal. Pertama, para wali Allah dari Thariqah Syadziliyyah sudah dipilih dan dicatat langsung dari Lauh Mahfuzh. Kedua, wali majdzub dari kalangan Thariqah Syādziliyyah bisa kembali ke maqam normal lagi. Ketiga, wali yang mendapatkan predikat Quthb dari kalangan Thariqah Syadziliyyah .Sepeninggal Imam Asy-Syādzili, kekhalifahan thariqah ini kemudian dilanjutkan oleh murid terkemuka beliau bernama Syekh Syihābuddin Abu Al-Abbas Ahmad bin Umar Al-Anshari Al-Mursi Asy-Syādzili atau lebih dikenal dengan nama Syekh Abu Al-Abbâs Al-Mursî (w. 686 H/1288 M). Di masa hidupnya, Syekh Abu Al-‘Abbās Al-Mursi banyak memiliki murid masyhur yang amat berpengaruh dalam dunia Islâm, di antaranya Shahibul-Hikam Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari (w. tahun 709 H/1309 M), Syekh Yaqut Al-‘Arsyi (w. 732H/1331 M), Syekh Abu Al-Fath Al-Maidumi, Shahibul-Burdah Syekh Muhammad bin Sa’id Al-Bushiri (wafat 649 H/1295 M), dan Syekh Najmuddin Al-Isfahani (w. 721 H/1321 M). Tiga nama pertama di atas, yaitu Syekh Ibnu Athaillah, Syekh Yaqut Al-Arsyi, dan Syekh Abu Al-Fath Al-Maidumi di kemudian hari menggantikan kedudukan Syekh Abu Al-‘Abbâs Al-Mursî sebagai khalifah Thariqah Syādziliyah.Thariqah Syādziliyah yang dibawa oleh Syekh Ibnu Athaillah secara umum lebih banyak berkembang ke wilayah barat Mesir, mulai dari kota Iskandariah (Alexandria) sampai ke negara Libya, Aljazair, Tunisia, dan Maroko. Selain itu juga ke sebagian besar negara-negara berpenduduk muslim lainnya di daerah Afrika Barat, hingga ke Spanyol dan beberapa negara lainnya di Eropa dan Amerika.Sedangkan perkembangan Thariqah Syadziliyah yang dibawa Syekh Yaqut Al-‘Arsyi lebih mendominasi wilayah dalam negeri Mesir sendiri dan negara-negara di sebelah selatannya, seperti Sudan, Ethiopia, Kenya, Somalia, dan Tanzania, hingga ke daerah timur Mesir, antara lain Yordania, Syiria, Turki, Irak, Iran, ke utara sampai ke semenanjung Balkan.Sementara itu, dakwah Syekh Al-Maidumi mendapat sambutan hangat di wilayah jazirah Arab, terutama di dua kota suci, Makkah dan Madinah. Justru dari kedua kota inilah pada akhirnya Thariqah Syādziliyah menyebar dengan pesat ke negara-negara timur, mulai dari India, Pakistan, Afganistan, hingga sampai ke Malaysia dan Indonesia. Dari jalur Syekh Al-Maidumi inilah silsilah Thariqah Syādziliyah sampai ke Indonesia.Thariqah Syadziliyah ini berkembang dan tersebar di Mesir, Sudan, Libia, Tunisia, Al-Jazair, Negeri utara Afrika, Syiria dan juga Indonesia. Dan belakangan thariqah ini kian digemari di Indonesia karena amalan wiridnya yang ringan, mudah dan tidak memakan banyak waktu, sangat cocok untuk kalangan pegawai atau karyawan yang jam kerjanya padat. Dan --untuk di Pulau Jawa saat ini— tentu karena ketokohan para mursyidnya, khususnya Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya.Thariqah Syadziliyyah diperkirakan telah masuk ke Jawa sejak zaman Wali Songo, yakni oleh Sunan Gunung Jati, Cirebon. Catatan lain memperkirakan Thariqah Syadziliyyah masuk ke Jawa Timur pada penghujung abad 18. Pembawanya adalah Mbah Mesir atau Syekh Maulana Abdul Qadir Khairi As-Sakandari, seorang ulama asal dari Iskandariyyah Mesir yang kini dimakamkan di makam auliya Desa Tambak, Kelurahan Ngadi, Kecamatan Mojo, Kediri, Jawa Timur.Demikianlah sekilas pengantar tentang Thariqah Syadziliyyah. Lebih rinci, kami persilakan datang ke mursyid, khalifah atau badal Asy-Syādziliyyah di daerah terdekat.[5]