Southwest Airlines Penerbangan 1248 merupakan penerbangan penumpang berjadwal dari Baltimore menuju Chicago, yang kemudian dilanjutkan ke Salt Lake City dan Las Vegas. Pada 8 Desember 2005, pesawat Boeing 737-7H4 yang mengoperasikan penerbangan tersebut tergelincir keluar landasan pacu di Bandar Udara Internasional Midway saat mendarat di tengah badai salju, lalu menabrak lalu lintas kendaraan di sekitarnya, dan menewaskan seorang anak laki-laki berusia enam tahun.[1][2]
Pesawat yang terlibat kemudian diperbaiki dan kembali beroperasi, serta hingga kini tetap digunakan oleh maskapai tersebut dengan registrasi N286WN.
Latar belakang
Pesawat
Pesawat yang terlibat dalam kecelakaan adalah Boeing 737-7H4 berusia satu tahun dengan nomor seri 32471, yang semula terdaftar sebagai N471WN. Pesawat ini diproduksi oleh Boeing Commercial Airplanes pada tahun 2004, dan telah mencatat 5.273 jam terbang dalam 2.901 siklus lepas landas dan pendaratan. Pesawat tersebut ditenagai oleh dua mesin turbokipasCFM International CFM56-7B24.[1] Setelah diperbaiki, pesawat tersebut didaftarkan ulang menjadi N286WN pada September 2006.
Awak
Kapten penerbangan adalah Bruce Sutherland (59 tahun), mantan pilot Angkatan Udara Amerika Serikat dari tahun 1969 hingga 1995. Ia bergabung dengan Southwest Airlines pada Agustus 1995 dan memiliki total 15.000 jam terbang, termasuk 4.500 jam pada Boeing 737. Kopilotnya adalah Steven Oliver (34 tahun), yang bekerja di maskapai tersebut sejak Februari 2003, sebelumnya pernah menjadi kapten di Mesaba Airlines antara 1997 hingga 2003. Ia memiliki 8.500 jam terbang (dengan 4.000 jam sebagai kapten), termasuk 2.000 jam pada Boeing 737. Keduanya tidak pernah terlibat dalam kecelakaan atau insiden sebelumnya.[1]
Dalam penerbangan ini, Kapten Sutherland bertindak sebagai pilot yang mengendalikan pesawat (pilot flying atau PF), sementara Kopilot Oliver berperan sebagai pilot pemantau (pilot monitoring atau PM).
Sekitar pukul 19.15 waktu setempat, pilot mencoba mendarat saat salju setebal hampir 20 sentimeter menutupi area tersebut. Pihak bandara menyatakan bahwa landasan pacu telah dibersihkan sebelum pendaratan. Kondisi angin terakhir menunjukkan arah dari timur hingga timur-tenggara dengan kecepatan sekitar 11 knot (20Â km/h; 13Â mph).[1]
Secara normal, angin dari arah tersebut lebih menguntungkan pendaratan di landasan pacu 13C karena pesawat akan melawan arah angin. Namun, jarak pandang di landasan tersebut berada di bawah batas minimum sistem pendaratan instrumen (ILS). Satu-satunya landasan yang memenuhi syarat adalah arah sebaliknya, yaitu 31C, yang akhirnya dipilih oleh awak. Konsekuensinya, pesawat harus mendarat dengan angin dari belakang (tailwind), sehingga kecepatan relatif terhadap darat meningkat.[1]
Saat mendarat, pesawat tergelincir di landasan, dan menurut saksi, roda depan (nose gear) patah. Pesawat kemudian meluncur hingga keluar area bandara dan berhenti di Central Avenue, dekat persimpangan dengan 55th Street di sisi barat laut bandar udara.[1] Persimpangan tersebut dipenuhi kendaraan, dan pesawat menabrak sekurang-kuranya tiga mobil. Seorang anak laki-laki berusia enam tahun, Joshua Woods, tewas, sementara beberapa penumpang mobil lain mengalami luka kritis dan serius.[1][3] Sejumlah korban segera dilarikan ke rumah sakit, termasuk tiga penumpang pesawat yang mengalami luka ringan. Secara keseluruhan, 12 orang dirawat di rumah sakit akibat kejadian ini.
Investigasi
Penyelidikan dilakukan oleh Badan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB). Setelah penyelidikan di lokasi selesai, pesawat dipindahkan ke hanggar untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Pesawat ini telah dilengkapi dengan teknologi pengereman dan antiselip terbaru. Namun, laporan menemukan bahwa maskapai baru saja mulai menggunakan sistem pengereman otomatis, dan pelatihan pilot dalam menggunakannya dinilai belum memadai.
Laporan awal menyatakan bahwa pesawat menyentuh landasan dengan sisa panjang sekitar 1.400 meter (4.600Â ft) dari total 1.988 meter (6.522Â ft). Dalam kondisi cuaca, angin, kecepatan, dan berat saat itu, pesawat membutuhkan sekitar 1.600 meter (5.200Â ft) untuk berhenti dengan aman. Selain itu, angin dari belakang tercatat mencapai 8 knot (15Â km/h; 9,2Â mph), melebihi batas 5 knot (9,3Â km/h; 5,8Â mph).[4]
Dalam pernyataan awal, disebutkan bahwa kapten tidak berhasil segera mengaktifkan pembalik dorong (thrust reverser) untuk membantu memperlambat pesawat setelah mendarat. Kopilot kemudian menyadari hal tersebut beberapa detik kemudian dan mengaktifkannya. Namun, keterlambatan sekitar 18 detik membuat jarak landasan yang tersisa sudah sangat terbatas.
Sebagai alternatif, awak dapat menunda pendaratan sambil menunggu cuaca membaik atau mengalihkan penerbangan ke Bandar Udara Internasional O'Hare yang memiliki landasan lebih panjang. Namun, tekanan psikologis untuk menyelesaikan penerbangan dinilai turut memengaruhi keputusan untuk tetap mendarat di Bandar Udara Internasional Midway.
Penyelidikan juga menemukan bahwa pengendali lalu lintas udara tidak menyampaikan seluruh laporan kondisi pengereman yang tersedia secara lengkap. Selain itu, laporan kondisi landasan memang dapat bervariasi tergantung jenis pesawat, kondisi cuaca, pengalaman petugas, dan waktu pelaporan.
Para pilot menyatakan bahwa berdasarkan perhitungan pada komputer performa di pesawat, mereka yakin dapat mendarat dengan aman. Namun, penyelidikan menemukan bahwa perhitungan tersebut didasarkan pada asumsi yang tidak terpenuhi, seperti kecepatan angin yang lebih rendah dan penggunaan pembalik dorong secara tepat waktu.
Selain itu, maskapai memiliki kebijakan untuk menggunakan laporan kondisi pengereman yang paling kritis jika terdapat perbedaan laporan. Namun, para pilot tidak mengetahui kebijakan tersebut. Pelatihan dan dokumentasi terkait juga dinilai tidak memadai.
NTSB menyimpulkan bahwa penyebab utama kecelakaan adalah kegagalan pilot dalam menggunakan pembalik dorong secara tepat waktu untuk memperlambat pesawat setelah mendarat, yang mengakibatkan pesawat keluar landasan.[1] Faktor yang turut membantu hal ini termasuk kurangnya pelatihan, desain sistem komputer performa yang tidak menampilkan asumsi penting, dan tidak adanya margin keselamatan tambahan dalam perhitungan pendaratan.[1] Selain itu, tidak adanya sistem penahan khusus di ujung landasan (engineered materials arrestor system atau EMAS) yang membantu memperlambat pesawat yang keluar landasan juga memperparah dampak kecelakaan.[1]
Pascakecelakaan
N286WN, kini dengan corak Southwest yang terbaru, difoto pada Oktober 2021
Setelah kejadian ini, praktik pembangunan landasan baru direkomendasikan untuk memiliki area aman tambahan sepanjang minimal 300 meter (980Â ft) di setiap ujungnya. Karena Bandar Udara Internasional Midway dibangun sebelum aturan tersebut berlaku, fasilitas tersebut belum tersedia saat kecelakaan terjadi.
Peristiwa ini kembali memicu perdebatan mengenai pentingnya pemasangan sistem EMAS di Midway, mengingat keterbatasan ruang dan lingkungan permukiman di sekitarnya. Pemerintah kota kemudian mulai mengakuisisi lahan tambahan untuk zona penyangga, dan pada tahun 2007 mulai memasang sistem EMAS di beberapa ujung landasan.[4]
Kecelakaan ini juga terjadi tepat 33 tahun setelah kecelakaan United Air Lines Penerbangan 553, yang juga melibatkan Boeing 737 di bandar udara yang sama.[5]
Peristiwa ini merupakan kecelakaan pertama dalam sejarah 35 tahun Southwest Airlines yang menimbulkan korban jiwa. Sebelumnya, insiden besar terjadi pada tahun 2000 ketika penerbangan 1455 tergelincir di Burbank, California, melukai puluhan orang.
Sebagai dampak langsung, Federal Aviation Administration membentuk komite khusus untuk mengevaluasi kinerja lepas landas dan pendaratan. Pada tahun 2016, sistem kode kondisi landasan baru diperkenalkan untuk meningkatkan komunikasi antara pengelola bandara dan awak pesawat.[6]
Meskipun korban jiwa berasal dari darat, maskapai tetap menghentikan penggunaan nomor penerbangan 1248 sebagai bagian dari kebijakan internal. Pesawat yang terlibat kemudian diperbaiki dan kembali beroperasi dengan registrasi baru, N286WN, yang masih digunakan hingga kini.
↑"Boy dies as jet skids off runway"[Seorang anak laki-laki tewas saat pesawat tergelincir di luar landasan pacu]. BBC NEWS (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 5 Mei 2026.
12"Chicago's Midway land rush"[Pertarungan untuk mendarat di Midway, Chicago]. Chicago Tribune (dalam bahasa Inggris). 16 Desember 2005. Diakses tanggal 5 Mei 2026.