Artikel bertopik psikiatri atau psikologi ini tidak dimaksudkan sebagai acuan analisa atau penentuan pengobatan atas kondisi diri sendiri atau orang lain. Silakan berkonsultasi dengan psikiater atau psikolog klinis yang berwenang melakukan hal tersebut. Silakan baca juga halaman mengenai sangkalan medis
Gangguan kepribadian antisosial (antisocial personality disorder) adalah sebuah gangguan kepribadian yang ditandai oleh perilaku yang tidak memedulikan atau melanggar hak asasi orang lain secara berkepanjangan. Ciri lainnya adalah rasa moral dan nurani yang rendah serta perilaku kriminal, impulsif, dan agresif.[1][2]
Versi pertama dari DSM pada tahun 1952 mencantumkan gangguan kepribadian sosiopatik. Gangguan ini berlaku pada individu yang dianggap "...sakit terutama dalam hal kemasyarakatan dan kesesuaian dengan lingkungan yang berlaku, dan ini tidak hanya mencakup dalam hal ketidaknyamanan pribadi melainkan juga pada hubungan dengan individu lain".[9] Ada empat subtipe yang disebut sebagai "reaksi" oleh DSM edisi pertama: antisosial, dissosial, seksual, dan kecanduan. Reaksi antisosial mencakup orang-orang yang "selalu dalam masalah" dan tidak dapat belajar darinya, bersikap "tidak setia", secara umum tidak berperasaan dan kurang bertanggung jawab, serta sering "merasionalisasi" perilakunya sendiri. Kategori tersebut digambarkan lebih spesifik daripada konsep yang ada tentang "keadaan psikopat konstitusional" atau "kepribadian psikopat" yang umumnya memiliki arti yang sangat luas. Definisi yang lebih spesifik ini sejalan dengan kriteria yang dikemukakan oleh Hervey M. Cleckley dari tahun 1941. Meski istilah sosiopat pernah dikemukakan oleh George Partridge pada tahun 1928 ketika mempelajari pengaruh lingkungan awal terhadap psikopat. Partridge menemukan hubungan antara gangguan psikopat antisosial dan penolakan orang tua yang dialami pada anak usia dini.[10]
DSM-I sebelumnya mengklasifikasikan beberapa kondisi yang terkait dengan gangguan kepribadian antisosial sebagai gangguan kepribadian sosiopatik tipe dissosial. DSM-II pada tahun 1968 kemudian mengatur ulang kategori gangguan serta memasukkan "kepribadian antisosial" sebagai salah satu dari sepuluh gangguan kepribadian meski gangguan tersebut masih didefinisikan dengan penjelasan yang sama dari edisi sebelumnya. Gangguan kepribadian antisosial dalam edisi ini untuk diberlakukan pada individu yang: "pada dasarnya tidak menyukai bersosialisasi", sedang dalam konflik berulang dengan masyarakat, tidak memiliki rasa loyalitas secara signifikan, egois, tidak bertanggung jawab, tidak dapat merasa bersalah atau belajar dari pengalaman sebelumnya, serta cenderung menyalahkan orang lain dan merasionalisasi tindakannya sendiri.[11] Kata pengantar dari manual tersebut berisi "instruksi khusus" yang menjelaskan bahwa "Kepribadian antisosial harus selalu dikategorikan dengan kadar ringan, sedang, atau berat." DSM-II memperingatkan bahwa riwayat pelanggaran hukum atau sosial tidak dengan sendirinya cukup untuk membenarkan diagnosis. DSM-II juga mencatat bahwa "reaksi kenakalan kelompok" ketika masa kanak-kanak atau remaja, atau "ketidaksesuaian sosial tanpa gangguan kejiwaan" harus disingkirkan terlebih dahulu sebelum diadakannya diagnosis pada gangguan kepribadian antisosial. Tipe kepribadian dissosial kemudian didefinisikan ulang dalam DSM-II menjadi "perilaku dissosial" bagi individu yang mengikuti lebih banyak atau sedikit tindakan kriminal, seperti pemerasan, perjudian yang ilegal, pelacuran, dan penjualan obat bius. Gangguan ini kemudian muncul kembali sebagai nama diagnosis dalam manual ICD yang diproduksi oleh WHO. Gangguan itu kemudian disebut sebagai gangguan kepribadian dissosial dan dianggap setara dengan diagnosis ASPD.[12]
DSM-III pada tahun 1980 memasukkan penjelasan lengkap mengenai gangguan kepribadian antisosial. Seperti gangguan lainnya, gangguan kepribadian antisosial pafa edisi ini memiliki daftar gejala lengkap yang berfokus pada perilaku yang dapat diamati untuk meningkatkan konsistensi dalam diagnosis antara psikiater yang berbeda ('keandalan antar-penilai'). Daftar gejala ASPD didasarkan pada Kriteria Diagnostik Penelitian yang dikembangkan dari apa yang disebut Kriteria Feighner pada tahun 1972. Pada akhirnya, kriteria diagnostik untuk gangguan kepribadian antisosial kemudian merujuk pada penelitian yang berpengaruh oleh sosiolog Lee Robins. Penelitian tersebut diterbitkan pada tahun 1966 dan berjudul "Deviant Children Grown Up".[13] Namun, Robins sebelumnya telah mengklarifikasi bahwa meski kriteria baru mengenai masalah perilaku masa kanak-kanak sebelumnya dalam gangguan kepribadian antisosial berasal dari karyanya, dia dan rekan sesama penelitinya yang bernama Patricia O'Neal mendapatkan kriteria diagnostik yang mereka gunakan dari suami Robins yang merupakan seorang psikiater yang bernama Eli Robins. Ia adalah salah satu penulis kriteria Feighner yang telah menggunakan kriteria tersebut sebagai bagian dari wawancara diagnostik.[13]
Epidemiologi
Seperti yang terlihat dalam dua penelitian yang berasal dari Amerika Utara dan dua penelitian dari Eropa, ASPD lebih sering dijumpai pada pria daripada wanita, karena pria memiliki kemungkinan didiagnosis ASPD tiga hingga lima kali daripada wanita.[14][15] Prevalensi ASPD bahkan lebih tinggi pada populasi tertentu, seperti di penjara yang mana di sana terdapat lebih banyak pelaku kekerasan. Meski begitu, ditemukan adanya fakta bahwa prevalensi ASPD di antara narapidana hanya di bawah 50%.[14] Demikian pula, prevalensi ASPD lebih tinggi di antara pasien yang mengonsumsi alkohol atau obat-obatan lain (AOD) daripada pada populasi umum. Hal ini kemudian menunjukkan hubungan antara ASPD dengan AOD.[14][16] Dalam sebuah penelitian yang diadakan oleh Epidemiological Catchment Area (ECA), pria yang mengidap ASPD memiliki kemungkinan menggunakan alkohol dan zat terlarang secara berlebihan hingga tiga sampai lima kali lipat dibandingkan pria tanpa ASPD.[17] Meski ASPD lebih sering terjadi pada pria daripada wanita, tetapi ditemukan juga peningkatan frekuensi penggunaan zat ini pada wanita yang mengidap ASPD. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan dengan pria dan wanita dengan ASPD, wanita cenderung lebih banyak menyalahgunakan zat dibandingkan dengan para pria.[18]
Individu pengidap ASPD sangat berisiko untuk melakukan bunuh diri.[19] Beberapa penelitian menunjukkan peningkatan peristiwa bunuh diri karena hubungan antara bunuh diri dengan gejala yang ada pada ASPD, seperti kriminalitas dan penggunaan narkoba.[20] Dalam sebuah penelitian dikatakan bahwa keturunan korban ASPD juga berisiko mengidap ASPD pula.[21] Penelitian menunjukkan bahwa pengalaman negatif atau traumatis seseorang pada masa kanak-kanak, mungkin disebabkan karena tindakan orang tua yang mengidap ASPD. Hal ini kemudian dapat menjadi alasan mengapa seseorang tersebut berbuat kenakalan atau kriminalitas di suatu hari nanti.[22] Selain itu, anak-anak dari orang tua dengan ASPD dapat berperilaku nakal jika mereka dibesarkan di lingkungan yang mana kejahatan dan kekerasan sudah biasa terjadi.[23] Bunuh diri adalah penyebab utama kematian di kalangan remaja yang menunjukkan gangguan kepribadian antisosial, terutama bila diiringi dengan kenakalan. Pemenjaraan yang dapat terjadi sebagai konsekuensi tindakan dari pelaku yang mengidap ASPD, merupakan salah satu alasan mengapa ide bunuh diri muncul pada remaja.[21][24]
Secara umum gangguan kepribadian antisoasial dapat dilihat dari gejala yang di tunjukan oleh buku Panduan Statistik Diagnosa (Diagnostic Statistical Manual/DSM).[25] Ciri yang paling menonjol dari mereka adalah tingkat kecemasan yang rendah ketika berhadapan dengan situasi yang mengancam dan kurangnya rasa bersalah dan menyesal atas kesalahan yang telah mereka lakukan. Hukuman biasanya hanya member sedikit dampak dalam perilaku mereka. Meski orang tua atau orang lain menghukum mereka untuk kesalahan yang mereka lakukan, mereka tetap menjalani kehidupan yang tidak bertanggung jawab dan impulsif.Diarsipkan 2022-04-22 di Wayback Machine. Laki-laki cenderung menerima diagnosis kepribadian antisosial daripada perempuan (Robins, Locke, & Reiger,). Sedangkan gejala-gejalanya menurut Cleckley ialah:
Cukup rendah rasa bersosialisasi dan kecerdasan di atas rata-rata.
Tidak adanya tanda-tanda lain pemikiran irasional.
Tidak adanya ketenangan,kecemasan neurotik atau gejala lainnya yang cukup besar.
Ketidaktulusan.
Kurangnya penyesalan, tidak ada rasa malu.
Perilaku yang antisosial tidak mempunyai cukup motivasi dan buruk merencanakan sesuatu.
Miskin penilaian dan kegagalan untuk belajar dari pengalaman.
Perkembangan teknologi juga dapat memberikan dampak negatif apabila digunakan untuk melakukan kejahatan atau merugikan orang lain, seperti salah satunya kejahatan melalui dunia maya(kejahatan dunia maya). Pelaku kejahatan media maya memanfaatkan kelengahan dari pengguna gawai dengan menggunakan data pribadi pengguna atau melakukan penipuan untuk memperoleh keuntungan dari para pengguna gawai.[26]
Membuat kecanduan
Tidak heran lagi, gawai merupakan konsol pintar yang bisa digunakan sesuai dengan kebutuhan atau keinginan penggunaannya. Semakin berkembanganya teknologi, gawai semakin menawarkan. Fitur yang membuat penggunanya tertarik dan berujung pada kecanduan dalam menggunakan gawai. Umumnya kecanduan gawai sebagian besar dialami oleh anak-anak hingga remaja yang menggunakan gawai untuk memenuhi kebutuhannya, seperti bermain game, berselancar di media sosial, menonton film, atau melakukan aktivitas lainnya yang dapat memuaskan keinginan mereka. [27]
Terapi
Penanganan ASPD bertujuan untuk mencegah perilaku yang membahayakan serta membantu individu beradaptasi dalam masyarakat. Berikut adalah beberapa pendekatan yang umum digunakan:
Psikoterapi: Terapi perilaku kognitif (CBT) dapat membantu individu mengenali dan mengubah pola pikir serta perilaku negatif. Selain itu, terapi keluarga dapat meningkatkan pemahaman dan komunikasi antara individu dengan anggota keluarga, mendukung perubahan perilaku positif.[28]
Obat-obatan: Meskipun tidak ada obat khusus untuk ASPD, beberapa obat seperti penstabil mood, antipsikotik, atau antidepresan dapat digunakan untuk mengendalikan gejala seperti agresi atau impulsivitas. Penggunaan obat harus di bawah pengawasan dokter.[29]
Terapi tambahan: Pendekatan seperti konseling agama atau spiritual dapat memberikan kerangka moral dan dukungan tambahan bagi individu dengan ASPD, mendorong refleksi dan pertumbuhanpribadi.[30]
Hubungan Antara Penderita ASPD dengan Internet (Media sosial)
Melihat perkembangan teknologi yang semakin banyak mengirim pesan, memunculkan berbagai konsekuensi yang dapat disebabkan oleh pemakainya. Salah satu hasil dari perkembangan teknologi ini adalah munculnya gadget teknologi informasi. Dibalik perkembangan teknologi gadget, tentunya terdapat dampak baik dan buruk dari perkembangan teknologi tersebut. Tentunya baik atau buruknya dampak yang ditimbulkan dari sebuah teknologi terhadap penggunanya tergantung dari bagaimana pengguna menggunkan dan memanfaatkan teknologi tersebut.[31]
Pengaruh Media Sosial
Media sosial memicu sikap antisosial melalui intensitas penggunaan: Semakin tinggi intensitas penggunaan media sosial, semakin tinggi pula kecenderungan mereka (remaja) bersifat apatis dan mengabaikan interaksi sosial secara langsung.[32] Hal ini menunjukkan bahwa ketergantungan pada media sosial dapat membuat seseorang merasa lebih nyaman berkomunikasi melalui dunia maya dibandingkan bertatap muka secara langsung.
Media sosial menciptakan ilusi sosialisasi: Pengguna media sosial yang terlalu sering mengecek akun mereka dapat berisiko merasa kesepian dan terisolasi.[33] Hal ini terjadi karena media sosial dipandang sebagai pengganti interaksi nyata sehingga seorang menjadi “malas sosialisasi” di dunia nyata. Akibatnya, meskipun terlihat aktif secara daring, mereka mengalami penurunan kualitas hubungan sosial secara langsung.
Komunikasi digital mengganti interaksi tatap muka: Seseorang (remaja) yang menggunakan aplikasi LINE secara intens lebih memprioritaskan komunikasi digital daripada berinteraksi secara langsung.[34] Kondisi ini dapat membuat seseorang menjadi kurang peka terhadap norma sosial di lingkungan nyata dan berpotensi mengabaikan tanggung jawab sosial.
123National Collaborating Centre for Mental Health (UK) (2010). ANTISOCIAL PERSONALITY DISORDER (dalam bahasa Inggris). British Psychological Society. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2023-06-28. Diakses tanggal 2022-03-28.
↑Fisher, Kristy A.; Hany, Manassa (2022). Antisocial Personality Disorder. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing. PMID31536279. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-07-02. Diakses tanggal 2022-03-28.
↑Juvenile Crime, Juvenile Justice (dalam bahasa Inggris). National Research Council Institute of Medicine. hlm.66–106. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2022-03-24. Diakses tanggal 2022-03-28.
↑Azzahra, Darmawan, Karlina, Adelina, Imam, Ismi (2025). "ANALISIS DAMPAK KECANDUAN GADGET SEBAGAI PEMICU PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ANTI SOSIAL".Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
↑Azzahra, Adelina (2023). "ANALISIS DAMPAK KECANDUAN GADGET SEBAGAI PEMICU
PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN ANTI SOSIAL". PT. Media Akademik Publisher (Vol.3, No.6 Juni 2025): 7–8. doi:10.62281.; ;