Kiprahnya dalam bidang pendidikan keinsinyuran terus berlanjut disela-sela revolusi kemerdekaan. Ia termasuk salah satu insinyur pribumi yang mengambil alih Bandung Kogyo Daigaku dari bala tentara Jepang kepada Republik Indonesia pada bulan Agustus 1945. Segera sesudah itu perguruan tinggi teknik dibuka kembali dengan nama Sekolah Tinggi Teknik Bandung (STT Bandung) di bawah pimpinan Prof. Ir. Roosseno. Ketika kondisi keamanan kota Bandung sudah tidak lagi kondusif dengan masuknya NICA, STT Bandung terpaksa dipindahkan ke Yogyakarta dengan nama barunya STT Bandung di Yogyakarta, di mana Ir. Soewandi bersama Prof. Ir. Roosseno, Ir. Goenarso, Ir. Soenarjo, Ir. Abdoelmoetalip Danoeningrat, Ir. Ali Djojoadinoto, dan Herman Johannes mengiringinya sebagai staf pengajar.[2]:27 Setelah Pemerintah RI mendirikan Universitit Negeri Gadjah Mada, maka STT di Yogyakarta dimasukkan ke dalamnya sebagai Fakultas Teknik, di mana Ir. Soewandi termasuk salah satu pengajarnya.
Pada tanggal 19 September 1954 ia diangkat menjadi Guru Besar Fakultas Teknik UGM pada bidang Ilmu Konstruksi Baja.[3]