Baginda Sjahriar Rasad (7 Desember 1920–9 Mei 1989) adalah seorang dokter Indonesia yang menjadi pakar radiologi di Universitas Indonesia (UI). Ia pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Kedokteran UI dari tahun 1964 hingga 1970. Di tingkat internasional, ia merupakan anggota American College of Radiology dan Australasian College of Radiologists.
Setelah menamatkan pendidikan dasar di Europeesche Lagere School, ia belajar di Koning Willem III School te Batavia dan menyelesaikan ujian akhir pada tahun 1939.[7] Ia selanjutnya masuk ke Geneeskundige Hoogeschool te Batavia (Sekolah Kedokteran Batavia). Setelah masa pendudukan Jepang di Hindia Belanda, nama sekolah ini diubah menjadi Djakarta Ika Daigaku (ジャカルタ医科大学). Sjahriar aktif dalam senat mahasiswa Ika Daigaku[1] dan melakukan protes terhadap pemerintahan Jepang. Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Sjahriar menyebarkan pamflet-pamflet tentang proklamasi.[8] Dia lulus pada tahun 1945 setelah magang di RS Dr. Cipto Mangunkusumo selama dua tahun.[9]
Karier akademik dan kesehatan
Setelah menyelesaikan pendidikan kedokterannya, Sjahriar bekerja di Departemen Kesehatan, dengan tugas pertama menjadi dokter di Aceh, Sumatra Barat,[10] Cikarang, dan RS Dr. Cipto Mangunkusumo. Ia selanjutnya menjadi asisten peneliti di Lembaga Penelitian Eijkman dari tahun 1946 hingga 1948. Selama periode ini, Sjahriar terlibat dalam pengembangan teknologi sinar-X di Indonesia di tengah berlangsungnya perang kemerdekaan.[11]
Sjahriar menjalani pelatihan lebih lanjut di bidang radiologi di berbagai lembaga kesehatan di Eropa setelah menerima surat rekomendasi dari pemerintah Indonesia yang masih baru. Dari tahun 1948 hingga 1949, Sjahriar pergi ke Inggris, mempelajari radiologi di University of London Royal Cancer Hospital dan Holt Radium Institute di Manchester. Dari tahun 1949 hingga 1950, ia menjalani pelatihan di Radiumhemmet, Swedia dan Fondation Curie, Perancis.[2] Sekitar periode yang sama, ia juga belajar radiologi di Columbia University College of Physicians and Surgeons dan menerima ijazah dari American Board of Radiology pada bulan Desember 1950. Selain belajar, Sjahriar juga terlibat dalam mengorganisasi demonstrasi mahasiswa untuk menekan pemerintah asing agar mendukung Indonesia..[8][9][12]
Sjahriar kembali ke almamaternya pada tahun 1950 sebagai peneliti, dan berikutnya menjadi instruktur radiologi. Pada tanggal 1 Februari 1957,[13] Sjahriar diangkat sebagai profesor penuh dalam bidang radiologi,[10] menjadikannya profesor penuh termuda UI pada usia 36 tahun dan dua bulan.[13] Pada tahun yang sama, ia ditunjuk sebagai kepala departemen radiologi di fakultas dan RS Dr. Cipto Mangunkusumo. Ia juga menjabat sebagai wakil dekan dan sekretaris fakultas[14] dari tahun 1960 hingga 1964.[3][10]
Pada tahun 1961, Rasjad dituduh terlibat dalam NIGO (Nederlandse Indische Guerilla Organisatie, Organisasi Gerilya Hindia Belanda), sebuah persekongkolan yang diduga untuk membunuh Presiden Soekarno dan melakukan kudeta. Meskipun tidak ada aktivitas politik dan tidak ada bukti yang memberatkannya, Rasjad tetap dikenai tahanan rumah.[15]
Pada tahun 1964, Sjahriar terpilih sebagai dekan fakultas, menggantikan dokter spesialis bedah Margono Soekarjo.[3][10] Selama masa jabatannya, ia menekankan pentingnya penelitian di universitas, dengan menyatakan bahwa “universitas yang tidak memiliki kegiatan penelitian tidak dapat dianggap sebagai lembaga ilmiah yang memiliki reputasi baik.”[16] Ia juga mengajukan standar minimum untuk sekolah tinggi kedokteran swasta agar mereka tidak “terjerumus ke dalam anarki.”[17] Ia menjabat sebagai dekan sampai dengan tahun 1970..[2][3]
Karier organisasi
Salah satu buku tentang radiologi karya Sjahriar Rasad
Di luar karier akademisnya, Sjahriar aktif di sejumlah organisasi profesi dan lembaga di berbagai tingkatan. Ia adalah ketua pusat nasional dan anggota dewan koordinasi Organisasi Menteri Pendidikan Asia Tenggara, beberapa kali mewakili Indonesia dalam sejumlah pertemuan regional.[18] Ia adalah ketua perdana Konsorsium Kedokteran Indonesia, menjabat sejak didirikan pada tahun 1969 hingga 1970.[1] Ia juga merupakan ketua Perhimpunan Radiologi Indonesia dan mengetuai komisi bersama antara Departemen Kesehatan dan Badan Tenaga Atom Nasional.[19]
Di luar Indonesia, Sjahriar merupakan anggota International Society of Radiology, Pan Pacific Surgical Association, Asian-Oceania Society of Radiology, dan American College of Radiology.[20] Sjahriar telah menjadi anggota yang terakhir ini sejak tahun 1950 dan menerima penghargaan dari perguruan tinggi ini[21] pada tanggal 9 Februari 1968.[22] Ia juga menerima penghargaan dari Australasian College of Radiologists dan German Radiological Society.[23]
Akhir kehidupan
Setelah menyelesaikan masa jabatannya sebagai dekan pada tahun 1970, Sjahriar melanjutkan kegiatannya dalam organisasi kedokteran. Ia menjadi perwakilan Indonesia di Governing Body Asean Scholarship Program pada tahun 1980 dan diakui sebagai ahli radiologi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 1981[1] Ia terus membimbing para mahasiswa di fakultas tersebut, termasuk Menteri Kesehatan pada masa depan, Farid Anfasa Moeloek[24][25] Ia pensiun dan mengundurkan diri dari semua jabatannya pada tahun 1985.[2][14] Sjahriar meninggal di kediamannya di Jalan Maluku, Jakarta, pada pagi hari tanggal 9 Mei 1989, dan dimakamkan di TPU Karet pada hari yang sama.[14] Beberapa tokoh terkemuka seperti Menteri Penerangan Boediardjo, Gubernur DKI Jakarta Wiyogo Atmodarminto, dan Sekretaris Jenderal Departemen Sosial Tulus Supranoto hadir menyampaikan belasungkawa.[3]
Kehidupan pribadi
Sjahriar menikah dengan Upik Rasad, atlet bridge.[14] Pasangan ini memiliki seorang anak.[20]
Referensi
1234Profil Dokter. Pengurus Ikatan Dokter Indonesia, Wilayah Jakarta Raya. 1981. hlm.65.
1234"Meninggal". Tempo. 20 May 1989. Diakses tanggal 22 April 2025.