Situs Jambansari merupakan salah satu situs kabuyutan yang berada di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Situs ini terletak di Jalan Achmad Dahlan, Rancapetir, Kelurahan Linggasari, Kecamatan Ciamis, pada ketinggian sekitar 233 meter di atas permukaan laut. Titik koordinat situs berada pada 07°19'48,7" LS dan 108°20'54,2" BT.[1]
Situs Jambansari berupa kompleks pemakaman yang menempati lahan seluas sekitar empat hektare.[1] Sekitar satu hektare digunakan sebagai area pemakaman, sedangkan bagian lainnya berupa kolam dan lahan persawahan yang mengelilingi kawasan tersebut. Kompleks ini dibangun pada tahun 1872 dan menjadi tempat pemakaman Raden Adipati Aria Kusumadiningrat[2], Bupati Ciamis ke-16 yang memerintah pada periode 1839–1886. Pengelolaan situs dilakukan oleh Yayasan Kusumadiningrat.[1][3]
Latar sejarah
Situs Jambansari dipandang sebagai salah satu situs kabuyutan penting di Kabupaten Ciamis karena berkaitan dengan sosok Raden Adipati Aria Kusumadiningrat. Menurut keterangan juru pelihara situs, ia merupakan keturunan ketujuh dari garis Kerajaan Galuh Gara Tengah dan keturunan ketiga dari Tumenggung Wiradikusumah yang masih memiliki hubungan dengan Adipati Panaekan di Situs Karangkamulyan.[1]
Sementara itu, menurut Sukardja, Raden Adipati Aria Kusumadiningrat adalah putra Raden Adipati Adikusuma, Bupati Galuh Ciamis II, dan Ni Raden Ayu Gilangkancana.[1] Salah seorang putranya adalah Raden Adipati Aria Kusumasubrata yang sempat melanjutkan kepemimpinan ayahnya sebelum meninggal dunia.[1]
Masa pemerintahan Raden Adipati Aria Kusumadiningrat
Raden Adipati Aria Kusumadiningrat digambarkan sebagai tokoh yang memberikan perhatian terhadap berbagai bidang kehidupan masyarakat. Pada bidang pendidikan, ia mendirikan sekolah kabupaten yang disebut sebagai pelopor di Jawa Barat.[1] Untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan tersebut, didatangkan tenaga pengajar Belanda bernama J. A. Uilkens yang kemudian digantikan oleh Bladergroen.[1] Sekolah tersebut diperuntukkan bagi putra-putri bangsawan lokal maupun pejabat Belanda.
Dalam bidang pembangunan fisik, sejumlah bangunan didirikan pada masa pemerintahannya, antara lain Gedung Asisten Residen yang kini dikenal sebagai Gedung Negara, tangsi prajurit, masjid, kantor pos, kantor telegraf, dan Gedung Sositeit atau Rumah Bola.[1] Pada sektor pertanian, pembangunan saluran irigasi dilakukan melalui pembuatan Selokan Gundawangi, Wangundireja, dan Cikatomas. Selain itu dibangun pula Bendungan Tanjung Manggu dan Bendungan Nagawiru.
Kebijakan lingkungan
Salah satu kebijakan yang dikaitkan dengan Raden Adipati Aria Kusumadiningrat adalah kewajiban bagi calon pengantin laki-laki untuk menyerahkan dua bibit pohon kelapa sebagai bagian dari seserahan pernikahan.[1] Bibit tersebut kemudian ditanam sehingga mendorong penanaman pohon kelapa secara luas di wilayah Galuh Ciamis.[1]
Kebijakan tersebut berkontribusi terhadap berkembangnya perkebunan kelapa di wilayah Ciamis.[1] Produksi kelapa yang melimpah kemudian mendukung berkembangnya industri pengolahan minyak kelapa. Beberapa pabrik yang disebutkan dalam sumber antara lain Gwan Hien, Haoe Yen, dan Olvado di kawasan Pawarang.[1]
Perhatian terhadap lingkungan juga diwujudkan melalui penanaman pohon gebang, lame, dan haur kuning. Daun pohon lame yang tersusun lima helai dikaitkan dengan semboyan yang terdiri atas unsur aing, asih, luhur, budi, dan adil.
Seni, budaya, dan keagamaan
Pada masa pemerintahannya, berbagai kesenian tradisional disebut berkembang di wilayah Galuh, antara lain angklung, reog, ronggeng, calung, terbang, rudat, wayang, penca, dan ibing.[1] Dalam bidang keagamaan, Raden Adipati Aria Kusumadiningrat disebut mendirikan masjid besar di lingkungan Keraton Selagangga serta mendorong pembangunan tajug di kampung-kampung dan masjid jami di setiap desa.[1] Ia juga mengangkat pemimpin masjid yang dianggap memahami ajaran agama.
Disebutkan bahwa berbagai artefak bercorak Hindu dan megalitik, seperti arca Nandi, Ganesha, lingga, yoni, lumpang batu, dan lapik arca, dikumpulkan di kawasan makam Jambansari.[1] Kebijakan tersebut dikaitkan dengan upaya memusatkan aktivitas keagamaan masyarakat di masjid.
Atas jasa dan kedudukannya dalam masyarakat, Raden Adipati Aria Kusumadiningrat memperoleh gelar kehormatan "Kangjeng Prebu". Makamnya kemudian menjadi salah satu tujuan ziarah masyarakat.[1]
Kompleks makam
Situs Jambansari merupakan bagian dari kawasan Keraton Selagangga yang pernah menjadi kediaman Raden Adipati Aria Kusumadiningrat. Di kompleks ini dimakamkan Raden Adipati Aria Kusumadiningrat beserta sejumlah anggota keluarga dan keturunannya.
Pada gapura situs terdapat guguritan pupuh Kinanti yang berbunyi:
Jambansari tinakdir Yang Agung
Caina tamba panyakit
Amal jariah kaula
Bupati Galuh Ciamis
Aria Kusumadiningrat
Medal Mas Payung Kuning
Situs ini juga dikenal karena keberadaan situ atau kolam yang mengelilingi kawasan tersebut. Dalam tradisi masyarakat setempat, air dari Situ Jambansari dikaitkan dengan berbagai praktik ritual dan ziarah.[1][2]
Tradisi dan ritual
Situs Jambansari menjadi lokasi penyelenggaraan berbagai tradisi ritual yang berlangsung secara berkala.[1] Kegiatan yang terjadwal dilaksanakan pada bulan Mulud dan Rajab. Pada masa lalu, masyarakat datang untuk mandi di kawasan situ sebagai bagian dari praktik penyucian diri.[1]
Pada bulan Mulud diselenggarakan pula upacara jamas pusaka atau pembersihan benda-benda pusaka.[1] Tradisi serupa dikenal dengan nama berbeda di sejumlah wilayah, seperti Nyiar Lumar di Kawali, Ngikis di Karangkamulyan, Misalin di Bojong Salawe, Nyipuh di Ciomas, dan Nyangku di Panjalu.[1]
Di luar waktu tersebut, masyarakat yang akan melaksanakan khitanan atau pernikahan masih melakukan tradisi mengambil air atau mandi terlebih dahulu sebagai bagian dari rangkaian adat. Dalam beberapa kesempatan, kegiatan tersebut disertai pertunjukan seni rudat dan kirab pusaka.[1]
Arsitektur dan koleksi artefak
Kompleks makam dikelilingi tembok setinggi sekitar dua meter. Gerbang utama berada di sisi timur dan memiliki bentuk menyerupai telur.[1] Dari gerbang, pengunjung memasuki area makam melalui tangga yang menghubungkan bagian luar dengan kawasan inti.[1]
Di tengah kompleks terdapat bangunan cungkup berbahan kayu jati berbentuk limas yang menaungi makam Raden Adipati Aria Kusumadiningrat.[1] Di sekelilingnya terdapat makam anggota keluarga dan keturunannya.[1]
Di dalam kawasan situs terdapat bangunan penyimpanan benda pusaka yang memuat berbagai artefak, antara lain yoni, lingga, menhir, arca Ganesha, gong, keris, dan keramik.[1] Sejumlah arca lainnya ditempatkan di bawah rerimbunan pohon weregu di sekitar situs. Menurut sumber, jumlah arca yang terdapat di kawasan ini mencapai tiga belas buah.[1]
Ziarah
Keberadaan artefak bercorak Hindu di dalam kompleks situs menjadikan Jambansari tidak hanya dikunjungi oleh peziarah Muslim, tetapi juga oleh penganut agama Hindu.[1] Selain itu, salah satu istri Raden Adipati Aria Kusumadiningrat yang dimakamkan di kawasan ini, yaitu Ni Raden Ayu Juwitaningsih atau Pit Nio, disebut berasal dari keturunan Tionghoa.[1] Oleh karena itu, situs ini juga menjadi tujuan penghormatan bagi sebagian peziarah penganut Konghucu.[1]