Gambaran umum
Kitab Sammohavinodanī terbagi menjadi 40 bhāṇavāra (bagian pembacaan). Isi utamanya adalah penjelasan tentang dhamma (dalam konteks analisis, dapat diartikan sebagai "fenomena") yang mendalam dari ajaran Abhidhamma. Abhidhamma sendiri merupakan penjabaran murni poin-poin dhamma tanpa disertai cerita pelengkap. Khususnya pada kitab Vibhaṅga, yang mengangkat kelompok dhamma sebagai topik utama lalu memilah, menjelaskan, dan menguraikannya secara terperinci, meskipun telah diuraikan dengan sangat rinci, teksnya masih tergolong sulit dipahami karena sifat informasinya yang sangat mendalam.
Oleh karena itu, penyusun kitab ini menggunakan metode penjelasan melalui perumpamaan, serta memberikan contoh dari kisah riwayat Buddha Gotama, para Buddha di masa lampau, maupun kisah-kisah pencerahan kuno lainnya. Terdapat pula analisis dan penjelasan mengenai kosakata yang muncul di dalam teks (analisis makna). Selain itu, terdapat penjelasan tentang dhamma yang dikaitkan dengan metode praktik vipassanā (pandangan-terang), seperti perenungan asubha-kammaṭṭhāna (objek ketidakindahan tubuh) dan pendekatan empat satipaṭṭhāna (landasan perhatian murni).
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa Sammohavinodanī memiliki karakteristik layaknya sebuah ensiklopedia, yang menjelaskan prinsip-prinsip dhamma melalui perumpamaan dan rujukan pada informasi serta peristiwa yang pernah terjadi. Kitab ini juga berciri layaknya sebuah kamus karena memuat analisis atas kosakata, serta bertindak sebagai buku panduan praktik meditasi yang berlandaskan pada ajaran dalam Tripitaka Pali. Poin terakhir ini menjadikan Sammohavinodanī memiliki banyak kemiripan dengan kitab Visuddhimagga, maha karya dari Buddhaghosa. Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, karena Sammohavinodanī disusun setelah Visuddhimagga, kitab ini sedikit banyak mendapat pengaruh darinya.
Analisis kosakata
Dalam Āyatanavibhaṅga, Suttantabhājanīya, Āyatanavibhaṅganiddesa, ulasan Suttantabhājanīya, penyusun kitab ini menjelaskan berbagai analisis kosakata yang muncul di bagian-bagian tersebut. Misalnya, dijelaskan bahwa "Suṇātīti sotaṃ" (Dinamakan telinga karena memiliki makna 'mendengar') dan "Attano lakkhaṇaṃ dhārayatīti dhammā" (Dinamakan dhamma karena maknanya 'menopang karakteristiknya sendiri').
Penjelasan melalui perumpamaan
Dalam Paccayākāravibhaṅga, Suttantabhājanīya, ulasan Paṭiccasamuppādavibhaṅga, yang membahas mengenai paṭiccasamuppāda (kemunculan yang bergantungan), misalnya, guru pengomentar (aṭṭhakathācariya) menggunakan berbagai jenis perumpamaan untuk menjelaskan prinsip ini secara tajam, jelas, dan sangat mendalam. Ulasan atas vibhaṅga ini berukuran lebih dari 100 halaman apabila dicetak dalam format modern. Secara garis besar, penyusun menguraikan paṭiccasamuppāda ke dalam 4 metode utama untuk menunjukkan sebab dan kondisi yang menimbulkan keberadaan (bhava) dan kelahiran (jāti), serta siklus kelahiran kembali (saṁsāra) yang tak berkesudahan. Pada akhirnya, penyusun menekankan bahwa seorang yang bijak "haruslah senantiasa memiliki perhatian-penuh (sati), berupaya terus-menerus, maka ia akan mampu menembus pemahaman atas struktur kondisi yang mendalam ini."
Penjelasan melalui cerita
Dalam ulasan Khuddakavatthuvibhaṅga, yang membahas tentang berbagai macam kesesatan (kemabukan), misalnya, penyusun mengangkat contoh-contoh cerita dan riwayat Buddha untuk memperjelas pemahaman. Contohnya, saat menjelaskan bagian Atricchatāniddesa atau penjelasan tentang keserakahan yang berlebihan, kitab ini memuat kisah Raja Benares (Vārāṇasī) yang sangat tergila-gila pada seorang kinnarī (manusia setengah burung) hingga meninggalkan permaisurinya, tetapi pada akhirnya ia kehilangan baik sang permaisuri maupun sang kinnarī akibat dari keserakahannya sendiri.
Pedoman praktik
Sebagai contoh, disebutkan panduan metode manasikāra (perhatian mendalam) atau perenungan terhadap 10 macam unsur (dhātu) yang membentuk tubuh, yang terdapat dalam bagian Dhātuvibhaṅga, Suttantabhājanīya, Dhātuvibhaṅganiddesa, ulasan Suttantabhājanīya. Penyusun kitab ini sangat menekankan bahwa dalam meditasi vipassanā untuk mencapai tingkat arahat, seseorang "harus memurnikan empat pārisuddhisīla, karena pengembangan meditasi (kammaṭṭhāna) niscaya akan berhasil bagi orang yang menjaga moralitas (sīla)." Lalu ditunjukkan bahwa, "Metode untuk memurnikan empat pārisuddhisīla dapat diketahui melalui panduan yang dijabarkan di dalam Visuddhimagga." Barulah setelah itu praktisi merenungkan bagian-bagian dari dalam tubuh seperti kesā (rambut kepala), lomā (bulu badan), nakhā (kuku), dantā (gigi), taco (kulit), dan sebagainya.