Sakura

Bunga sakura, atau sakura, adalah bunga dari pepohonan dalam subgenus Prunus Cerasus. Istilah sakura umumnya merujuk pada bunga dari pohon ceri hias, seperti kultivar Prunus serrulata, bukan pohon ceri yang dibudidayakan untuk diambil buahnya[1]: 14–18 [2] (meskipun pohon-pohon tersebut juga menghasilkan bunga). Bunga sakura dideskripsikan memiliki aroma yang menyerupai vanila, yang terutama berasal dari kandungan kumarin.
Spesies liar pohon ceri tersebar luas, terutama di Belahan Bumi Utara.[3][4][5] Pohon-pohon ini umum dijumpai di Asia Timur, khususnya di Jepang, tempat berbagai varietas telah dikembangkan melalui budidaya.[6]: 40–42, 160–161
Sebagian besar pohon ceri hias yang ditanam di taman dan berbagai lokasi untuk dinikmati keindahannya merupakan kultivar yang dikembangkan dari berbagai spesies liar untuk tujuan ornamental. Untuk menghasilkan kultivar yang cocok sebagai tanaman hias, diperlukan spesies liar yang memiliki karakteristik estetis yang baik. Prunus speciosa (ceri Oshima), yang endemik di Jepang, menghasilkan banyak bunga berukuran besar, beraroma harum, mudah mengalami mutasi menjadi bunga ganda, serta tumbuh dengan cepat. Oleh karena itu, sejak abad ke-14 telah dihasilkan berbagai kultivar yang dikenal sebagai Kelompok Sato-zakura Cerasus, dan hingga kini terus memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan budaya hanami (tradisi menikmati bunga).[1]: 27, 89–91 [6]: 160–161 Sejak zaman modern, kultivar-kultivar tersebut terutama diperbanyak melalui okulasi, sehingga pohon ceri dengan karakteristik genetik yang sama seperti individu asal dapat dihasilkan dengan cepat, sekaligus memiliki nilai estetika yang tinggi.[6]: 89–91
Kata dalam bahasa Jepang sakura (桜code: ja is deprecated , pelafalan dalam bahasa Jepang: [sa.kɯ.ɾa][7]) dapat merujuk baik kepada pohonnya maupun bunganya (lihat 桜code: ja is deprecated ).[8] Bunga sakura dianggap sebagai bunga nasional Jepang dan menjadi unsur utama dalam tradisi hanami.[9]
Dalam bahasa Inggris, pohon sakura sering disebut Japanese cherry.[10] (Istilah ini juga merupakan nama umum untuk Prunus serrulata.)[11] Budidaya pohon sakura hias mulai menyebar ke Eropa dan Amerika Serikat pada awal abad ke-20, terutama setelah Jepang menghadiahkan pohon-pohon tersebut kepada Amerika Serikat sebagai lambang persahabatan pada tahun 1912.[1]: 119–123 Kolektor tanaman asal Britania Collingwood Ingram melakukan penelitian penting mengenai pohon ceri Jepang setelah Perang Dunia I.[12]
Klasifikasi
Klasifikasi pohon ceri sering kali membingungkan karena kelompok ini relatif mudah mengalami mutasi, memiliki keragaman bunga dan karakteristik yang tinggi, serta terdapat banyak varietas (penggolongan di bawah spesies), hibrida antargatun, dan kultivar.[1]: 32–37 Para peneliti juga telah memberikan nama ilmiah yang berbeda-beda untuk jenis pohon ceri yang sama pada berbagai periode.[1]: 32–37
Di Eropa dan Amerika Utara, pohon ceri hias diklasifikasikan dalam subgenus Cerasus ("ceri sejati"), yang termasuk dalam genus Prunus. Cerasus terdiri atas sekitar 100 spesies pohon ceri, tetapi tidak mencakup ceri semak, ceri burung, maupun ceri laurel (spesies lain dalam Prunus yang bukan termasuk Cerasus meliputi prem, persik, aprikot, dan almond). Cerasus mula-mula ditetapkan sebagai sebuah genus pada tahun 1700 oleh de Tournefort. Pada tahun 1753, Linnaeus menggabungkannya dengan beberapa kelompok lain untuk membentuk genus Prunus yang lebih luas. Selanjutnya, Cerasus diturunkan statusnya menjadi sebuah seksi dan kemudian subgenus, sehingga sistem ini diterima secara luas, meskipun sejumlah ahli botani kemudian mengembalikannya sebagai genus tersendiri.[13] Di Tiongkok dan Rusia, yang memiliki jauh lebih banyak spesies ceri liar dibandingkan Eropa, Cerasus masih tetap digunakan sebagai sebuah genus.[1]: 14–18
Di Jepang, pohon ceri hias secara tradisional juga diklasifikasikan dalam genus Prunus, sebagaimana di Eropa dan Amerika Utara. Namun, setelah diterbitkannya makalah oleh Hideaki Ohba dari Universitas Tokyo pada tahun 1992, klasifikasi ke dalam genus Cerasus menjadi semakin umum digunakan.[1]: 14–18 Dengan demikian, misalnya, nama ilmiah Cerasus incisa kini digunakan di Jepang sebagai pengganti Prunus incisa.[14]

Budaya menikmati bunga prem telah berkembang di daratan Tiongkok sejak zaman kuno. Meskipun pohon ceri memiliki banyak spesies liar, sebagian besar hanya menghasilkan bunga berukuran kecil, dan persebaran spesies ceri liar berbunga besar yang sesuai untuk dinikmati keindahannya sangat terbatas.[6]: 160–161 Di Eropa dan Amerika Utara juga hanya terdapat sedikit spesies ceri yang memiliki karakteristik sesuai untuk kegiatan menikmati bunga sakura.[1]: 122 Sebaliknya, di Jepang, Prunus speciosa (ceri Oshima) dan Prunus jamasakura (Yamazakura), yang menghasilkan bunga besar dan cenderung tumbuh menjadi pohon berukuran besar, tersebar luas di berbagai wilayah serta tumbuh dekat dengan kawasan permukiman. Oleh karena itu, perkembangan tradisi menikmati bunga sakura beserta pengembangan kultivarnya diyakini terutama berlangsung di Jepang.[6]: 160–161

Karena pohon ceri memiliki sifat yang mudah berubah, banyak kultivar telah dikembangkan untuk tujuan menikmati bunga sakura, terutama di Jepang. Sejak zaman Heian, masyarakat Jepang menghasilkan berbagai kultivar dengan menyeleksi pohon-pohon unggul maupun pohon hasil mutasi yang muncul dari persilangan alami antarpohon ceri liar. Kultivar juga dikembangkan melalui persilangan buatan, kemudian diperbanyak dengan okulasi dan stek. Ceri Oshima, Yamazakura, Prunus pendula f. ascendens (sin., Prunus itosakura, Edo higan), serta beberapa jenis lain yang tumbuh alami di Jepang, mudah mengalami mutasi. Ceri Oshima, yang merupakan spesies endemik Jepang, memiliki kecenderungan bermutasi menjadi pohon dengan bunga ganda, tumbuh cepat, menghasilkan banyak bunga berukuran besar, serta memiliki aroma yang kuat. Berkat sifat-sifat unggul tersebut, ceri Oshima digunakan sebagai tetua bagi banyak kultivar sakura (yang dikenal sebagai Kelompok Sato-zakura). Dua kultivar yang terkenal ialah ceri Yoshino dan Kanzan; ceri Yoshino banyak ditanam di negara-negara Asia, sedangkan Kanzan banyak ditanam di negara-negara Barat.[1]: 86–95, 106, 166–168 [15][16][6]: 40–42
Hanami: Menikmati bunga di Jepang

Hanami adalah tradisi yang telah berlangsung selama berabad-abad di Jepang berupa penyelenggaraan jamuan atau pesta di bawah pohon sakura (桜code: ja is deprecated atau 櫻code: ja is deprecated ; さくらcode: ja is deprecated atau サクラcode: ja is deprecated ) maupun pohon ume (梅code: ja is deprecated ; うめcode: ja is deprecated ) yang sedang berbunga. Pada zaman Nara (710–794), ketika tradisi ini diyakini bermula, bunga ume merupakan bunga yang paling banyak dikagumi. Namun, pada zaman Heian (794–1185), bunga sakura mulai lebih menarik perhatian, sehingga hanami menjadi sinonim dengan sakura.[17] Sejak saat itu, baik dalam waka maupun haiku, "bunga" (花code: ja is deprecated , hana) merujuk pada "bunga sakura", sebagaimana tersirat dalam salah satu puisi karya Izumi Shikibu.[18] Pada mulanya, tradisi ini hanya dilakukan oleh kalangan elit istana kekaisaran, tetapi kemudian menyebar ke masyarakat samurai dan, pada zaman Edo, juga menjadi tradisi masyarakat umum. Tokugawa Yoshimune menanam kawasan-kawasan yang dipenuhi pohon sakura untuk mendorong berkembangnya tradisi tersebut. Di bawah pohon-pohon sakura, masyarakat mengadakan pesta yang meriah sambil menikmati hidangan dan meminum sake.[1]: 2–7, 156–160
Karena sebuah buku yang ditulis pada zaman Heian telah menyebut "sakura menangis" (しだり櫻; 糸櫻code: ja is deprecated ), salah satu kultivar dengan cabang yang menjuntai, Prunus itosakura 'Pendula' (Sidare-zakura) dianggap sebagai kultivar sakura tertua di Jepang. Pada zaman Kamakura, ketika jumlah penduduk di wilayah selatan Kantō meningkat, ceri Oshima yang berasal dari Pulau Izu Oshima dibawa ke Honshu untuk dibudidayakan, kemudian menyebar hingga ke ibu kota, Kyoto. Kelompok Sato-zakura pertama kali muncul pada zaman Muromachi.[1]
Prunus itosakura (sin. Prunus subhirtella, Edo higan) merupakan spesies liar yang tumbuh lambat. Namun, spesies ini memiliki umur paling panjang di antara seluruh pohon ceri dan mudah tumbuh menjadi pohon berukuran besar. Oleh karena itu, terdapat banyak pohon tua berukuran besar dari spesies ini di Jepang. Pohon-pohon tersebut sering dianggap suci dan menjadi penanda yang melambangkan kuil Shinto, kuil Buddha, maupun daerah setempat. Sebagai contoh, Jindai-zakura [ja], yang diperkirakan berusia sekitar 2.000 tahun, Usuzumi-zakura [ja], yang berusia sekitar 1.500 tahun, dan Daigo-zakura [ja], yang berusia sekitar 1.000 tahun, terkenal karena usianya yang sangat tua.[1]: 178–182

Pada zaman Edo, berbagai kultivar berbunga ganda dikembangkan dan ditanam di sepanjang tepi sungai, di kuil Buddha, kuil Shinto, serta taman milik daimyo di kota-kota seperti Edo, sehingga masyarakat perkotaan dapat menikmatinya. Buku-buku dari masa tersebut mencatat lebih dari 200 varietas bunga sakura dan menyebutkan banyak varietas yang masih dikenal hingga kini, seperti 'Kanzan'. Namun, kondisi ini terbatas di kawasan perkotaan; di sebagian besar wilayah Jepang, objek utama hanami tetap merupakan spesies liar seperti Prunus jamasakura (Yamazakura) dan ceri Oshima.[1]
Sejak Jepang mengalami modernisasi pada zaman Meiji, ceri Yoshino menyebar ke seluruh Jepang dan menjadi objek utama dalam tradisi hanami.[1]: 2–7, 156–160 Berbagai kultivar lain kemudian ditebang satu demi satu akibat perubahan yang menyertai modernisasi kota yang berlangsung pesat, seperti penimbunan saluran air dan pembongkaran taman-taman daimyo. Tukang kebun Takagi Magoemon dan kepala Desa Kohoku, Shimizu Kengo, merasa prihatin terhadap keadaan tersebut, lalu menyelamatkan beberapa kultivar dengan menanam deretan pohon sakura dari berbagai kultivar di sepanjang tepi Sungai Arakawa. Di Kyoto, tukang kebun Sano Toemon XIV mengumpulkan berbagai kultivar dan memperbanyaknya. Setelah Perang Dunia II, kultivar-kultivar tersebut diwariskan kepada National Institute of Genetics, Tama Forest Science Garden, dan Flower Association of Japan, lalu sejak dekade 1960-an kembali dimanfaatkan dalam tradisi hanami.[1]: 115–119


Sejak awal abad ke-21, kondisi yang berkaitan dengan tradisi menikmati bunga sakura di Jepang telah mengalami perubahan besar. Kumbang tanduk panjang invasif Aromia bungii, yang bukan merupakan spesies asli Jepang, diduga masuk ke negara tersebut melalui bahan kemasan kayu yang digunakan dalam pengiriman barang internasional, dan pertama kali terkonfirmasi keberadaannya pada tahun 2012. Spesies ini kemudian menyebar dengan cepat ke berbagai wilayah Jepang. Kerusakan akibat aktivitas makannya telah menimbulkan dampak yang sangat serius terhadap pohon sakura sehingga banyak cabang besar harus dipangkas, bahkan tidak sedikit pohon yang akhirnya ditebang seluruhnya.[19][20]
Pada saat yang sama, kultivar sakura yang paling populer, ceri Yoshino, semakin banyak digantikan oleh kultivar lain karena berbagai alasan. Kultivar ini sangat rentan terhadap penyakit Witch's broom, dan Flower Association of Japan bahkan telah menghentikan distribusi serta penjualannya sejak tahun 2009. Selain itu, karena tumbuh cepat menjadi pohon besar dengan tajuk yang lebar dan sistem perakaran yang luas, ceri Yoshino dapat merusak permukaan trotoar di sekitarnya, cabangnya menjulur ke lahan milik tetangga, dan secara umum kurang sesuai dijadikan pohon peneduh jalan di kawasan perkotaan yang sempit. Kurangnya perawatan serta bertambahnya usia pohon juga menyebabkan banyak pohon berbunga lebih sedikit dan meningkatkan risiko patahnya cabang mati. Akibatnya, semakin banyak ceri Yoshino yang digantikan oleh kultivar 'Jindai-akebono', yang berasal dari Kebun Raya Jindai. Kultivar ini memiliki bentuk, ukuran bunga, dan habitus pohon yang serupa, tetapi lebih tahan terhadap penyakit, berukuran lebih kecil, serta menghasilkan bunga berwarna merah muda yang sedikit lebih tua.[19][20] Kultivar lain, 'Yoko', yang dikembangkan di Prefektur Ehime pada tahun 1981, juga relatif cepat menyebar di seluruh Jepang sebagai alternatif. Kultivar ini dicirikan oleh bunga berukuran besar dengan warna merah muda tua serta waktu berbunga yang lebih awal, sehingga mudah dibedakan dari ceri Yoshino.[1]: 221
Setiap tahun, Badan Meteorologi Jepang (JMA) bersama masyarakat memantau sakura zensen ("garis depan mekarnya bunga sakura") yang bergerak ke arah utara melintasi Kepulauan Jepang seiring datangnya cuaca yang lebih hangat. Perkembangannya diumumkan melalui prakiraan cuaca setiap malam setelah segmen berita cuaca.[21][22] Sejak tahun 2009, pemantauan sakura zensen sebagian besar telah diambil alih oleh perusahaan prakiraan cuaca swasta, sementara JMA berfokus pada pengumpulan data, bukan lagi menerbitkan prakiraan.[23] Mekarnya bunga dimulai di Okinawa pada bulan Januari dan biasanya mencapai Kyoto serta Tokyo pada awal April, meskipun dalam beberapa tahun terakhir kecenderungannya bergeser menjadi lebih awal, yakni pada akhir Maret.[24] Selanjutnya, garis mekarnya bunga bergerak ke utara dan menuju daerah yang lebih tinggi hingga mencapai Hokkaido beberapa minggu kemudian. Masyarakat Jepang maupun wisatawan mancanegara memberikan perhatian besar terhadap prakiraan tersebut.[23]
Sebagian besar sekolah dan gedung-gedung publik di Jepang menanam pohon sakura di halamannya. Karena tahun fiskal dan tahun ajaran sama-sama dimulai pada bulan April, di banyak wilayah Honshu, hari pertama bekerja atau masuk sekolah bertepatan dengan musim mekarnya bunga sakura. Namun, meskipun sebagian besar pohon sakura berbunga pada musim semi, terdapat pula sakura musim dingin yang kurang dikenal (fuyuzakura dalam bahasa Jepang) yang berbunga antara bulan Oktober hingga Desember.[25]
Japan Cherry Blossom Association telah menerbitkan daftar 100 Lokasi Terbaik untuk Menikmati Bunga Sakura di Jepang (日本さくら名所100選 [ja]code: ja is deprecated ),[26] dengan sedikitnya satu lokasi terdapat di setiap prefektur.
Musim berbunga

Banyak spesies dan kultivar pohon ceri berbunga antara bulan Maret dan April di Belahan Bumi Utara. Pohon ceri liar, bahkan yang berasal dari spesies yang sama, memiliki perbedaan genetik antarindividu. Meskipun ditanam di lokasi yang sama, waktu mencapai puncak mekarnya tetap menunjukkan variasi. Sebaliknya, kultivar merupakan klon yang diperbanyak melalui okulasi atau stek, sehingga setiap pohon dari kultivar yang sama yang ditanam di lokasi yang sama akan mencapai puncak mekarnya secara bersamaan karena memiliki kesamaan genetik.[27]
Beberapa spesies liar, seperti Edo higan, beserta kultivar yang dikembangkan darinya, mencapai puncak mekarnya sebelum daun mulai muncul. Ceri Yoshino menjadi populer sebagai objek menikmati bunga sakura karena memiliki sifat berbunga serempak dan mekar sebelum daun tumbuh. Selain itu, kultivar ini menghasilkan bunga dalam jumlah banyak dan dapat tumbuh menjadi pohon berukuran besar. Banyak kultivar dari Kelompok Sato-zakura, yang dikembangkan melalui hibridisasi kompleks antargatun dengan ceri Oshima sebagai tetuanya, sering dimanfaatkan sebagai tanaman hias. Kultivar-kultivar tersebut umumnya mencapai puncak mekarnya beberapa hari hingga dua minggu setelah ceri Yoshino.[1]: 40–56
Dampak perubahan iklim
Waktu berbunga pohon ceri diperkirakan dipengaruhi oleh pemanasan global dan efek pulau panas akibat urbanisasi. Berdasarkan catatan tanggal puncak mekarnya Prunus jamasakura (Yamazakura) di Kyoto, Jepang, yang telah terdokumentasi selama sekitar 1.200 tahun, waktu puncak mekarnya relatif stabil sejak tahun 812 hingga awal abad ke-19. Setelah itu, waktu puncak mekarnya bergeser semakin awal dengan cepat, dan pada tahun 2021 tercatat sebagai waktu puncak mekar paling awal dalam kurun 1.200 tahun. Pada dekade 1850-an, rata-rata puncak mekar terjadi sekitar 17 April, sedangkan pada dekade 2020-an bergeser menjadi sekitar 5 April. Dalam kurun waktu tersebut, suhu rata-rata meningkat sekitar 34 °C (61 °F). Berdasarkan catatan tanggal puncak mekar ceri Yoshino di Tidal Basin di Washington, D.C., puncak mekar terjadi pada 5 April pada tahun 1921, tetapi maju menjadi 31 Maret pada tahun 2021. Catatan-catatan tersebut sejalan dengan sejarah peningkatan suhu rata-rata global yang berlangsung pesat sejak pertengahan abad ke-19.[28][29]
Pohon sakura Jepang yang ditanam di Belahan Bumi Selatan berbunga pada waktu yang berbeda dalam setahun. Sebagai contoh, di Australia, pohon-pohon sakura di Taman dan Pusat Kebudayaan Jepang Cowra berbunga dari akhir September hingga pertengahan Oktober, sedangkan Festival Sakura Sydney diselenggarakan pada akhir Agustus.[30][31]
Meningkatnya dampak perubahan iklim menimbulkan kekhawatiran karena menjadi ancaman bagi kultivar-kultivar sakura yang sangat peka terhadap perubahan suhu dan fluktuasi cuaca. Perubahan tersebut, termasuk meningkatnya suhu lebih awal pada musim semi, dapat mengganggu waktu pembungaan, berpotensi mengurangi jumlah bunga yang dihasilkan, serta memengaruhi makna budaya yang melekat pada sakura.[32]
Pada tahun 2023, di Tiongkok, bunga sakura diamati mencapai puncak mekarnya beberapa minggu lebih awal dibandingkan beberapa dekade sebelumnya. Demikian pula, data dari Kyoto di Jepang dan Washington, D.C. di Amerika Serikat menunjukkan bahwa periode pembungaan di kedua lokasi tersebut juga semakin maju.[33]
Meskipun prakiraan yang sangat akurat pada umumnya sulit dilakukan, prediksi berbasis kecerdasan buatan dari Badan Meteorologi Jepang menunjukkan bahwa tanpa upaya yang berarti untuk menekan laju perubahan iklim, kultivar ceri Somei Yoshino dapat menghadapi tantangan yang serius, bahkan berisiko menghilang sepenuhnya dari beberapa wilayah Jepang, termasuk Prefektur Miyazaki, Nagasaki, dan Kagoshima di kawasan Kyushu, pada tahun 2100.[34]
Simbolisme di Jepang
Bunga sakura merupakan tema yang sering muncul dalam waka, yang umumnya melambangkan kefanaan.[18] Karena memiliki ciri khas mekar secara en massecode: fr is deprecated (serempak), bunga sakura dipandang sebagai metafora abadi bagi sifat kehidupan yang fana.[35] Bunga sakura juga sering muncul dalam seni Jepang, manga, anime, film, serta desain latar panggung untuk pertunjukan musik. Selain itu, terdapat setidaknya satu lagu rakyat yang populer, yang semula diperuntukkan bagi permainan shakuhachi (seruling bambu), berjudul "Sakura", di samping sejumlah lagu pop Jepang yang kemudian menggunakan nama yang sama. Motif bunga sakura juga digunakan pada berbagai barang konsumsi, baik tradisional maupun modern, seperti kimono,[36] alat tulis,[37] dan peralatan makan.[38]
Mono no aware
Simbolisme tradisional bunga sakura sebagai metafora bagi kefanaan hidup berkaitan erat dengan pengaruh Shinto,[39] yang diwujudkan dalam konsep mono no aware (物の哀れcode: ja is deprecated )[a] ("keharuan terhadap segala sesuatu").[40] Hubungan antara bunga sakura dan mono no aware telah ditelusuri sejak pemikiran sarjana abad ke-18, Motoori Norinaga.[40] Sifat bunga sakura yang cepat gugur, keindahannya, serta kerentanannya terhadap perubahan sering dikaitkan dengan kematian[35] dan penerimaan yang anggun serta tulus terhadap takdir dan karma.
Nasionalisme dan militerisme
Sakurakai, atau Perkumpulan Bunga Sakura, adalah nama yang dipilih oleh para perwira muda dalam Angkatan Darat Kekaisaran Jepang pada September 1930 untuk sebuah organisasi rahasia yang mereka dirikan dengan tujuan menata ulang negara berdasarkan prinsip-prinsip totaliter dan militerisme, melalui kudeta militer apabila diperlukan.[41]
Selama Perang Dunia II, bunga sakura dimanfaatkan sebagai simbol untuk membangkitkan semangat rakyat Jepang sekaligus menumbuhkan nasionalisme dan militerisme.[42]: 9–10 Peribahasa Jepang hana wa sakuragi, hito wa bushi ("bunga terbaik adalah bunga sakura, manusia terbaik adalah ksatria") digunakan oleh Angkatan Darat Kekaisaran Jepang sebagai sumber motivasi selama perang.[43] Bahkan sebelum perang, bunga sakura telah digunakan dalam propaganda untuk membangkitkan "semangat Jepang", seperti dalam lagu "Song of Young Japan", yang memuliakan para "prajurit" yang "siap berguguran laksana jutaan bunga sakura".[44] Pada tahun 1894, Sasaki Nobutsuna menggubah puisi Shina seibatsu no uta (Nyanyian Penaklukan Tiongkok) bertepatan dengan Perang Tiongkok-Jepang Pertama. Puisi tersebut membandingkan gugurnya bunga sakura dengan pengorbanan para prajurit Jepang yang gugur di medan perang demi negara dan kaisar mereka.[18][42] Pada tahun 1932, puisi-puisi Akiko Yosano mendorong para prajurit Jepang untuk tabah menghadapi penderitaan di Tiongkok dan membandingkan prajurit yang gugur dengan bunga sakura.[45] Ketika muncul perdebatan mengenai rencana Pertempuran Teluk Leyte, yang melibatkan seluruh armada Jepang dan berisiko besar apabila gagal, terdapat seruan agar Angkatan Laut diizinkan untuk "mekar sebagai bunga kematian".[46] Pesan terakhir pasukan Jepang di Peleliu adalah "Sakura, Sakura".[47] Para penerbang Jepang melukiskan bunga sakura pada sisi pesawat mereka sebelum menjalankan misi bunuh diri, atau bahkan membawa ranting sakura dalam penerbangan tersebut.[42] Lukisan bunga sakura pada badan pesawat pengebom melambangkan intensitas sekaligus kefanaan hidup;[48] dengan demikian, kelopak sakura yang berguguran menjadi lambang pengorbanan masa muda dalam misi bunuh diri demi menghormati kaisar.[42][49] Satuan kamikaze pertama memiliki sebuah subsatuan bernama Yamazakura, atau bunga sakura liar.[49] Pemerintah Jepang mendorong rakyat untuk meyakini bahwa arwah para prajurit yang gugur akan terlahir kembali sebagai bunga sakura.[42]
Penggunaan dalam seni dan budaya populer

Bunga sakura telah digunakan sebagai lambang simbolis dalam dunia olahraga Jepang. Tim nasional rugbi uni Jepang menggunakan bunga sakura sebagai lambang pada seragamnya sejak pertandingan internasional pertama tim tersebut pada dekade 1930-an, yang digambarkan dalam tiga tahap, yaitu kuncup, setengah mekar, dan mekar sempurna.[51] Tim tersebut dikenal dengan julukan "Brave Blossoms" (ブレイブ・ブロッサムズcode: ja is deprecated ) dan telah menggunakan logo yang sekarang sejak tahun 1952.[50] Lambang bunga sakura juga digunakan dalam logo Asosiasi Kriket Jepang[52] dan tim nasional sepak bola Amerika Jepang.[53][54]
Bunga sakura juga merupakan simbol yang umum dijumpai dalam irezumi, seni tato tradisional Jepang. Dalam bentuk seni ini, bunga sakura sering dipadukan dengan simbol-simbol klasik Jepang lainnya, seperti ikan koi, naga, atau harimau.[55]
Hingga saat ini, bunga sakura tetap menjadi simbol yang penting. Motif ini digunakan sebagai dasar bagi maskot Paralimpiade Tokyo 2020, Someity.[56] Bunga sakura juga lazim digunakan sebagai penanda datangnya musim semi, misalnya dalam seri permainan video Animal Crossing, yang menampilkan banyak pohon sakura sedang berbunga di dalam permainan.[57]
Kultivar


Jepang memiliki keragaman pohon sakura yang sangat tinggi, termasuk ratusan kultivar.[60] Menurut salah satu metode klasifikasi, terdapat lebih dari 600 kultivar di Jepang,[61][62] sedangkan Tokyo Shimbun menyebutkan jumlahnya mencapai 800 kultivar.[63] Berdasarkan hasil analisis DNA terhadap 215 kultivar yang dilakukan oleh Forestry and Forest Products Research Institute Jepang pada tahun 2014, banyak kultivar yang kini tersebar di seluruh dunia merupakan hibrida hasil persilangan antara ceri Oshima dan Prunus jamasakura (Yamazakura) dengan berbagai spesies liar.[15][16] Di antara kultivar-kultivar tersebut, Kelompok Sato-zakura beserta banyak kultivar lainnya memiliki jumlah mahkota bunga yang banyak, dan kultivar yang paling mewakili kelompok ini adalah Prunus serrulata 'Kanzan'.[1]: 137
Spesies, hibrida, dan varietas berikut digunakan sebagai dasar bagi kultivar sakura:[64][65]
- Prunus apetala (ceri cengkih)[66]
- Prunus campanulata[67][66][68]
- Prunus × furuseana (P. incisa × P. jamasakura[69])
- Prunus × incam (P. incisa × P. campanulata[70])
- Prunus incisa var. incisa[66]
- Prunus incisa var. kinkiensis[66]
- Prunus × introrsa[67][66]
- Prunus itosakura[15] (Prunus subhirtella, Prunus pendula)
- Prunus jamasakura[66]
- Prunus × kanzakura[67] (P. campanulata × P. jamasakura dan P. campanulata × P. speciosa[69])
- Prunus leveilleana[71] (Prunus verecunda)
- Prunus × miyoshii[66]
- Prunus nipponica[72]
- Prunus padus
- Prunus × parvifolia (P. incisa × P. speciosa[69])
- Prunus pseudocerasus[68]
- Prunus × sacra[67][66] (P. itosakura × P. jamasakura[69])
- Prunus sargentii[66][68]
- Prunus serrulata var. lannesiana, Prunus lannesiana (Kelompok Prunus Sato-zakura. Hibrida kompleks antarpesies yang berbasis pada Prunus speciosa.[1]: 86–95, 137 )
- Prunus × sieboldii[66]
- Prunus speciosa[73][1]: 89–95, 103–106, 166–170
- Prunus × subhirtella[66] (P. incisa × P. itosakura[69])
- Prunus × syodoi[67][66]
- Prunus × tajimensis[66]
- Prunus × takenakae[67][66]
- Prunus × yedoensis[67] (P. itosakura × P. speciosa[69])

Kultivar bunga sakura yang paling populer di Jepang adalah 'Somei-yoshino' (ceri Yoshino). Bunganya hampir seluruhnya berwarna putih dengan semburat merah muda yang sangat pucat, terutama di dekat pangkal tangkai. Bunganya mekar dan biasanya gugur dalam waktu sekitar satu minggu sebelum daun-daunnya muncul. Karena itu, pohonnya tampak hampir seluruhnya berwarna putih dari atas hingga bawah. Kultivar ini dinamai menurut Desa Somei, yang kini menjadi bagian dari Toshima di Tokyo. Kultivar ini dikembangkan pada pertengahan hingga akhir abad ke-19, menjelang berakhirnya zaman Edo dan pada awal zaman Meiji. 'Somei-yoshino' begitu lekat dengan citra bunga sakura sehingga drama jidaigeki dan berbagai karya fiksi lainnya sering menggambarkan kultivar ini telah dibudidayakan pada zaman Edo atau bahkan lebih awal, meskipun penggambaran tersebut bersifat anakronistis.[1]: 40–45
Prunus × kanzakura 'Kawazu-zakura' (ceri Kawazu) merupakan kultivar terkenal yang berbunga sebelum datangnya musim semi. Kultivar ini merupakan hibrida alami antara ceri Oshima dan Prunus campanulata, serta dicirikan oleh mahkota bunganya yang berwarna merah muda tua. Pohon sakura liar umumnya tidak berbunga pada musim dingin karena tidak dapat menghasilkan keturunan apabila berbunga sebelum musim semi, saat serangga penyerbuk mulai aktif. Namun, diduga 'Kawazu-zakura' berbunga lebih awal karena Prunus campanulata dari Okinawa, yang pada awalnya tidak tumbuh secara alami di Honshu, disilangkan dengan ceri Oshima. Pada spesies liar, berbunga sebelum musim semi merupakan sifat yang kurang menguntungkan dalam seleksi alam, tetapi pada kultivar seperti 'Kawazu-zakura', waktu berbunga yang lebih awal dan karakter bunganya justru diinginkan sehingga diperbanyak melalui penyambungan dan stek.[1]: 98–100

Pohon sakura pada umumnya diklasifikasikan berdasarkan spesies dan kultivarnya, tetapi di Jepang juga dikelompokkan berdasarkan ciri-ciri bunga dan bentuk pohonnya. Pohon sakura yang memiliki jumlah mahkota bunga lebih dari lima helai diklasifikasikan sebagai yae-zakura (sakura berbunga ganda), sedangkan yang memiliki cabang menjuntai diklasifikasikan sebagai shidare-zakura atau sakura menangis. Sebagian besar yae-zakura dan shidare-zakura merupakan kultivar. Kultivar shidare-zakura yang terkenal antara lain 'Shidare-zakura', 'Beni-shidare', dan 'Yae-beni-shidare', yang semuanya berasal dari spesies liar Prunus itosakura (sin. Prunus subhirtella atau Edo higan).[1]: 86–87
Warna bunga sakura pada umumnya membentuk gradasi antara putih dan merah, tetapi terdapat pula kultivar dengan warna yang tidak lazim, seperti kuning dan hijau. Kultivar yang paling mewakili warna-warna tersebut adalah ''Prunus serrulata'' 'Grandiflora' A. Wagner (Ukon) [ja] dan ''Prunus serrulata'' 'Gioiko' Koidz (Gyoiko) [ja], yang dikembangkan pada zaman Edo di Jepang.[1]: 86–95, 104
Pada tahun 2007, Riken menghasilkan kultivar baru bernama 'Nishina zao' dengan menyinari pohon sakura menggunakan berkas ion berat. Kultivar ini merupakan hasil mutasi dari ''Prunus serrulata'' 'Gioiko' (Gyoiko) [ja] yang memiliki mahkota bunga berwarna hijau; bunga kultivar ini berwarna putih kehijauan kekuningan saat mekar, lalu berubah menjadi merah muda kekuningan ketika berguguran. Dengan metode yang sama, Riken juga menghasilkan kultivar 'Nishina otome' (berbunga pada musim semi dan musim gugur, atau sepanjang tahun di rumah kaca), 'Nishina haruka' (berbunga lebih besar), dan 'Nishina komachi' (bunganya menyerupai lentera karena tetap setengah tertutup).[74][75]
- Prunus itosakura 'Plena Rosea' (Yae-beni-shidare), kultivar yang memiliki ciri-ciri yae-zakura sekaligus shidare-zakura.
- ''Prunus serrulata'' 'Grandiflora' A. Wagner (Ukon) [ja] dengan bunga kuning yang langka, dikembangkan pada zaman Edo di Jepang. Salah satu kultivar yang menerima Award of Garden Merit dari Britania Raya.
- ''Prunus serrulata'' 'Gioiko' Koidz (Gyoiko) [ja] dengan bunga hijau yang langka, dikembangkan pada zaman Edo di Jepang.
- ''Prunus × sieboldii'' 'Beni-yutaka' [ja]. Salah satu kultivar yang menerima Award of Garden Merit dari Britania Raya.
Semua pohon sakura liar menghasilkan buah kecil yang kurang enak dimakan atau menghasilkan ceri yang dapat dimakan, tetapi beberapa kultivar mengalami perubahan struktur sehingga tanaman tersebut tidak lagi mampu berkembang biak secara alami.[76] Sebagai contoh, ''Prunus serrulata'' 'Hisakura' (Ichiyo) [ja] dan ''Prunus serrulata'' 'Albo-rosea' Makino (Fugenzo) [ja], yang berasal dari ceri Oshima, memiliki putik yang termodifikasi menjadi struktur menyerupai daun sehingga hanya dapat diperbanyak melalui cara buatan, seperti penyambungan dan stek.[1]: 107 Sementara itu, pohon ceri yang dibudidayakan untuk menghasilkan buah umumnya merupakan kultivar dari spesies berkerabat dekat, yaitu Prunus avium, Prunus cerasus, dan Prunus fruticosa.[77]
Budidaya menurut negara

Pada masa kini, pohon sakura hias telah tersebar dan dibudidayakan di seluruh dunia.[78] Meskipun pohon sakura berbunga secara historis telah tumbuh di Eropa, Amerika Utara, Filipina, dan Tiongkok,[1]: 122 tradisi membudidayakan pohon sakura hias berpusat di Jepang,[6]: 160–161 dan banyak kultivar yang kini ditanam di berbagai belahan dunia, seperti Prunus × yedoensis,[79] dikembangkan dari hibrida asal Jepang.
Penyebaran global pohon sakura hias beserta festival menikmati bunga atau hanami sebagian besar dimulai pada awal abad ke-20, sering kali sebagai hadiah dari Jepang.[80][81][82] Namun, beberapa kawasan sejak lama telah membudidayakan spesies asli pohon sakura berbunga mereka sendiri, salah satu yang paling menonjol ialah sakura liar Himalaya Prunus cerasoides.[83][84][85]
Asal usul spesies sakura liar
Sakura liar Himalaya, Prunus cerasoides, berasal dari kawasan Himalaya di Asia dan umum dijumpai di negara-negara seperti Nepal, India, Bhutan, Pakistan, dan Myanmar, tempat spesies ini juga dibudidayakan.[86][84][87][85][88]
Pada tahun 1975, tiga peneliti Jepang mengemukakan teori bahwa pohon sakura berasal dari kawasan Himalaya, kemudian menyebar ke arah timur hingga mencapai Jepang pada masa sebelum munculnya peradaban manusia, ketika Kepulauan Jepang masih terhubung dengan daratan Eurasia. Menurut teori tersebut, proses diferensiasi spesies sakura kemudian berlangsung secara intensif di Jepang.[89]
Menurut Masataka Somego, profesor di Universitas Pertanian Tokyo, pohon sakura berasal sekitar 10 juta tahun lalu di wilayah yang kini menjadi Nepal, kemudian mengalami diferensiasi di Kepulauan Jepang sehingga menghasilkan berbagai spesies yang endemik di Jepang.[90]
Menurut Institut Riset DNA Kazusa, penelitian DNA yang mendalam menunjukkan bahwa Prunus itosakura dan Prunus speciosa, yang merupakan spesies endemik Jepang, telah berpisah menjadi spesies yang berdiri sendiri sekitar 5,52 juta tahun yang lalu.[91][92]
Di sisi lain, menurut Ko Shimamoto, profesor di Institut Sains dan Teknologi Nara, teori modern yang didasarkan pada penelitian DNA yang lebih rinci menolak anggapan bahwa sakura Himalaya merupakan nenek moyang sakura Jepang. Sebaliknya, leluhur pohon sakura diperkirakan merupakan tumbuhan yang termasuk dalam kelompok Prunus grayana.[93]
Menurut HuffPost, terdapat konsensus yang luas bahwa asal mula sakura pertama berada di suatu wilayah di Himalaya, Eurasia, meskipun para ahli berpendapat bahwa bunga tersebut kemungkinan mencapai Jepang beberapa ribu tahun yang lalu. Di Jepang, proses hibridisasi yang berlangsung selama berabad-abad telah menghasilkan lebih dari 300 varietas sakura.[94]
Penggunaan kuliner
Bunga dan daun sakura dapat dimakan,[95] dan keduanya digunakan sebagai bahan pangan di Jepang:
- Bunganya diawetkan dengan garam dan umezu (cuka ume),[96] lalu digunakan untuk memperkaya cita rasa wagashi, penganan tradisional Jepang, maupun anpan, roti manis Jepang yang umumnya diisi pasta kacang merah.[97] Metode pengawetan yang dikenal sebagai sakurazuke (桜漬けcode: ja is deprecated ) ini diyakini telah ada sejak akhir zaman Edo,[98] meskipun teknik umum mengawetkan sayuran dengan garam untuk menghasilkan tsukemono telah dikenal sejak zaman Jōmon.[99]
- Bunga yang diasinkan kemudian diseduh dengan air panas menghasilkan sakurayu,[100] yang diminum pada acara-acara perayaan seperti pernikahan sebagai pengganti teh hijau.[98][101]
- Daunnya diasinkan dalam larutan garam dan digunakan untuk membuat sakuramochi.[96]
- Bunga sakura digunakan sebagai bahan botani pemberi aroma dalam gin Roku asal Jepang.[102]
Toksisitas
Daun dan bunga sakura mengandung kumarin,[103][104] yang berpotensi bersifat hepatotoksik dan dilarang penggunaannya dalam dosis tinggi oleh Food and Drug Administration.[105] Namun, kumarin memiliki aroma menyerupai vanila yang diinginkan, dan proses penggaraman yang dilakukan sebelum sebagian besar penggunaan kuliner—meliputi pencucian, pengeringan, dan penggaraman bunga atau daun selama satu hari penuh—menurunkan kadar kumarin hingga berada pada tingkat yang dapat diterima sekaligus mempertahankan aromanya.[95] Kumarin juga dapat diisolasi dari tanaman untuk digunakan dalam parfum,[106] tembakau pipa, atau sebagai adulteran dalam perisa vanila, meskipun kacang tonka merupakan sumber alami senyawa ini yang lebih umum.[107]
Biji dan kulit batang ceri mengandung amigdalin sehingga tidak boleh dikonsumsi.[108][109]
Lihat pula
- The Cherry Orchard: drama karya Anton Chekhov
- Taman Cherry Tree
- Kabazaiku: kerajinan kayu sakura
- Kigo: pembahasan mengenai peran sakura dalam puisi Jepang
- Daftar Award of Garden Merit untuk ceri berbunga
- Mayoi no Sakura, sebuah pohon sakura
- Ohka: pesawat serangan khusus yang digunakan pada Perang Dunia II
- Saigyōzakura
- Sakura Square
- Festival Sakura Subaru di Greater Philadelphia
- Festival Sakura Vancouver
Catatan
- ↑ Ortografi kana historis: もののあはれcode: ja is deprecated , kana modern: もののあわれcode: ja is deprecated . Bentuk kana lama tetap lebih umum digunakan dalam pemakaian modern.
Referensi
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Katsuki, Toshio (2015). Sakura (dalam bahasa Jepang). Iwanami Shoten. ISBN 978-4-00-431534-6.
- ↑ The history and cultural symbolism of both the seven wild species and the hundreds of forms known for centuries as sato-zakura, or garden cherries and information about growing and propagating is found in Kuitert, Wybe (6 March 2015). "Japanese Flowering Cherries". Timber Press.
- ↑ FAQ・桜の豆知識 [FAQ・Cherry Blossom Trivia]. The Flower Association of Japan (dalam bahasa Jepang). 日本以外にも桜は自生してるの? [Are cherry trees native to countries other than Japan?]. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 August 2014. Diakses tanggal 21 February 2024.
- ↑ さくらの基礎知識 [Basic knowledge of cherry blossoms]. JAPAN Cherry Blossom Association (dalam bahasa Jepang). Diakses tanggal 21 February 2024.
- ↑ Qingwei, Yao (February 1982). "Studies on the History of the Flowering Cherry". en.cnki.com.cn (dalam bahasa Inggris). Journal of Nanjing Forestry University. Diarsipkan dari asli tanggal 12 May 2022. Diakses tanggal 9 April 2019.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 Katsuki, Toshio (2018). Sakura no Kagaku [Science of Cherry Blossoms] (dalam bahasa Jepang). SB Creative. ISBN 978-4-7973-8931-9.
- ↑ NHK Broadcasting Culture Research Institute, ed. (24 May 2016). NHK日本語発音アクセント新辞典 (dalam bahasa Jepang). NHK Publishing.
- ↑ "sakura". Cambridge Dictionary: English Dictionary. Diakses tanggal 2024-01-17.
- ↑ Honoca (February 4, 2015). "The beauty and history of sakura, Japan's national flower". Tsunagu Japan. Diakses tanggal 6 January 2016.
- ↑ "Japanese cherry (n.)". Oxford English Dictionary. September 2023. doi:10.1093/OED/5455638245.
- ↑ BSBI List 2007 (xls). Botanical Society of Britain and Ireland. Diarsipkan dari asli (xls) tanggal 2015-06-26. Diakses tanggal 2024-01-17.
- ↑ Bandini, Rosemary. "The Forgotten British Collector: Captain Collingwood Ingram (1880-1981)". www.rosemarybandini.com. Diakses tanggal 17 January 2024.
- ↑ Lee, Sangtae; Wen, Jun (2001). "A phylogenetic analysis of Prunus and the Amygdaloideae (Rosaceae) using ITS sequences of nuclear ribosomal DNA". American Journal of Botany. 88 (1): 150–160. Bibcode:2001AmJB...88..150L. doi:10.2307/2657135. JSTOR 2657135. PMID 11159135.
- ↑ Ohba, Hideaki (1992). "Japanese Cherry Trees under the Genus Cerasus (Rosaceae)". The Journal of Japanese Botany. 67: 276–281.
- 1 2 3 4 Kato, Shuri; Matsumoto, Asako; Yoshimura, Kensuke; Katsuki, Toshio; Iwamoto, Kojiro; Kawahara, Takayuki; Mukai, Yuzuru; Tsuda, Yoshiaki; Ishio, Shogo; Nakamura, Kentaro; Moriwaki, Kazuo; Shiroishi, Toshihiko; Gojobori, Takashi; Yoshimaru, Hiroshi (30 January 2014). "Origins of Japanese flowering cherry (Prunus subgenus Cerasus) cultivars revealed using nuclear SSR markers". Tree Genetics & Genomes (dalam bahasa Inggris). 10 (3): 477–487. doi:10.1007/s11295-014-0697-1. ISSN 1614-2942. S2CID 255127026.
- 1 2 3 DNAからわかったサクラ品種の真実 ―そのほとんどは雑種が起源― [Origins of Japanese flowering cherry (Prunus subgenus Cerasus) cultivars revealed using nuclear SSR markers]. Forestry and Forest Products Research Institute (dalam bahasa Jepang). June 16, 2014. Diarsipkan dari asli tanggal 9 March 2019. Diakses tanggal February 27, 2021.
- ↑ Brooklyn Botanic Garden (2006). Mizue Sawano: The Art of the Cherry Tree. Brooklyn Botanic Garden. hlm. 12. ISBN 978-1-889538-25-9.
- 1 2 3 Citko-DuPlantis, Małgorzata (Gosia) K. (2024-03-07). "Cherry blossoms – celebrated in Japan for centuries and gifted to Americans – are an appreciation of impermanence and spring". The Conversation (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2024-03-11.
- 1 2 “町の桜”で進む老木化問題 今年の満開終われば伐採も…“次世代”の桜「ジンダイアケボノ」に注目 (dalam bahasa Jepang). Yahoo Japan News. 24 March 2026. Diarsipkan dari asli tanggal 30 March 2026. Diakses tanggal 30 March 2026.
- 1 2 ソメイヨシノに危機 伝染病などの被害で各地で伐採 次世代の桜に世代交代する動きも (dalam bahasa Jepang). Kansai Television. 19 March 2026. Diarsipkan dari asli tanggal 30 March 2026. Diakses tanggal 30 March 2026.
- ↑ 新しいサクラの開花予想 [Forecast of new cherry blossom blooms] (PDF) (dalam bahasa Jepang). Japan Meteorological Agency. December 1996. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 6 January 2013. Diakses tanggal 1 March 2012.
- ↑ Akasegawa, Genpei (2000). Sennin no sakura, zokujin no sakura: Nippon kaibo kiko (dalam bahasa Jepang). Osaka Seikei University, Kyoto, Japan: JTB Nihon Kotsu Kosha Shuppan Jigyokyoku. ISBN 978-4-533-01983-8. Diarsipkan dari asli tanggal 2007-04-28. Diakses tanggal 2010-10-22.
As cherry blossom front comes up, the whole Japan goes into a war; we just can't sit home and let it go.
- 1 2 Ha, Thu-huong (March 23, 2023). "In Japan, cherry blossom forecasting is a big deal. Warming is making it harder". The Japan Times.
- ↑ "Japan's cherry blossom 'earliest peak since 812'". BBC. 30 March 2021.
- ↑ "5 Places to See Japan's (Very Real) Winter Cherry Blossoms". GaijinPot Travel (dalam bahasa Inggris). Gaijin Pot. 12 December 2018. Diakses tanggal 28 July 2022.
- ↑ "Japan's Top 100 Cherry Blossom Spots – GoJapanGo (English language version of list)". Japan's Top 100 Cherry Blossom Spots – GoJapanGo. Mi Marketing Pty Ltd. Diarsipkan dari asli tanggal 15 May 2018. Diakses tanggal 9 November 2011.
- ↑ Kays, Stanley J. (3 October 2011). Cultivated vegetables of the world: a multilingual onomasticon. Springer. hlm. 15–. ISBN 978-90-8686-720-2.
- ↑ "Japan's Kyoto cherry blossoms peak on the earliest date in 1,200 years, a sign of climate change". The Washington Post. March 30, 2021. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-04-03.
- ↑ Aono, Yasuyuki (October 1, 2015). "Cherry blossom phenology and temperature reconstructions at Kyoto" (dalam bahasa Inggris). Osaka Prefecture University. Diarsipkan dari asli tanggal April 3, 2021.
- ↑ "Sakura Matsuri - Cherry Blossom Festival". www.visitnsw.com (dalam bahasa Australian English). Diakses tanggal 2024-01-14.
- ↑ Skidmore, Maya (14 July 2023). "Sydney Cherry Blossom Festival". Time Out (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-01-14.
- ↑ "Cherry Blossoms Are Coming Earlier Because of Climate Change". TIME (dalam bahasa Inggris). 2024-03-18. Diakses tanggal 2024-04-05.
- ↑ "In China, Climate Change Disrupts a Beloved Tradition: Cherry Blossom Season". #SixthTone. March 22, 2023. Diakses tanggal 2024-04-05.
- ↑ "Japan's most famous cherry blossom trees could disappear due to climate change". Yahoo News (dalam bahasa Australian English). 2024-03-25. Diakses tanggal 2024-04-05.
- 1 2 Choy Lee, Khoon (1995). Japan—between Myth and Reality. World Scientific. hlm. 142. ISBN 978-981-02-1865-2.
- ↑ "Court Lady's Garment (Kosode) with Swallows and Bells on Blossoming Cherry Tree", Asian Art at The Met, 1868–1912
- ↑ "Sakura: Cherry Blossoms as Living Symbols of Friendship". Library of Congress. Diakses tanggal 17 January 2024.
- ↑ "Large Dish with Cherry Blossoms", Asian Art at The Met, 1690–1720s
- ↑ Young, John; Nakajima-Okano, Kimiko (1985). Learn Japanese: New College Text. University of Hawaii Press. hlm. 268. ISBN 978-0-8248-0951-5.
- 1 2 Slaymaker, Douglas (2004). The Body in Postwar Japanese Fiction. Routledge. hlm. 122. ISBN 978-1-134-35403-0.
- ↑ McClain, James L. (2002). Japan: A Modern History. W. W. Norton & Company. hlm. 414. ISBN 0-393-04156-5.
- 1 2 3 4 5 Ohnuki-Tierney, Emiko (2002). Kamikaze, Cherry Blossoms, and Nationalisms. University of Chicago Press.
- ↑ Bruce Gamble (2014). Invasion Rabaul: The Epic Story of Lark Force, the Forgotten Garrison, January - July 1942. Zenith Press. hlm. 73–74. ISBN 978-0-7603-4591-7.
- ↑ Brendon, Piers (2000). The Dark Valley: A Panorama of the 1930s. Johnathan Cape. hlm. 441. ISBN 0-375-40881-9.
- ↑ McClain 2002, hlm. 427.
- ↑ Toland, John (1970). The Rising Sun: The Decline and Fall of the Japanese Empire 1936–1945. Random House New York. hlm. 539.
- ↑ Harries, Meirion; Harries, Susie (1991). Soldiers of the Sun: The Rise and Fall of the Imperial Japanese Army. Random House. hlm. 424. ISBN 0-394-56935-0.
- ↑ Sakamoto, Kerri (2004). One Hundred Million Hearts. Vintage Book. ISBN 0-676-97512-7..
- 1 2 Morris, Ivan (1975). The Nobility of Failure: Tragic Heroes in the History of Japan. Holt, Rinehart and Winston. hlm. 290.
- 1 2 Shimbun, Kyoto. ""Rugby Grandma": Designer behind Japan team's cherry blossom emblem". Kyodo News+. Diakses tanggal 2024-02-22.
- ↑ ラグビー日本代表 初代ジャージー発見、京都で展示へ [Japan Rugby National Team's first jersey discovered, to be exhibited in Kyoto]. スポニチ Sponichi Annex (dalam bahasa Jepang). August 17, 2019.
- ↑ "Women's T20 Cricket: Nepal ends in third position". Newspolar (dalam bahasa Inggris). 19 November 2023.
- ↑ アメリカンフットボール日本代表オフィシャルサイト [Official site of the Japanese American Football National Team] (dalam bahasa Jepang). Diakses tanggal 22 February 2024.
- ↑ "Japan trounces South Korea, qualifies for IFAF World Championship | the Japan Times Online". The Japan Times. 27 February 2011. Diarsipkan dari asli tanggal 2011-03-02. Diakses tanggal 2011-03-25.
- ↑ "Cherry Blossom Tattoo Designs". Freetattoodesigns.org. Diarsipkan dari asli tanggal 22 June 2013. Diakses tanggal 2013-06-14.
- ↑ "Olympic mascots Miraitowa and Someity invoke the future and cherry trees for 2020 Games". The Japan Times. AFP-JIJI. 22 July 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 July 2018. Diakses tanggal 22 July 2018.
- ↑ Diller, Nathan (6 April 2020). "Locals Are Getting Their Cherry Blossom Fix In Animal Crossing". DCist (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 15 January 2024. Diakses tanggal 2024-01-15.
- ↑ "Visitors return to renowned cherry tree in Fukushima". Asahi Shimbun. April 26, 2012. Diarsipkan dari asli tanggal April 26, 2012. Diakses tanggal February 21, 2024.
- ↑ 小山市の花、木、鳥 [Flowers, trees, and birds of Oyama City] (dalam bahasa Jepang). Oyama City. Diakses tanggal 7 March 2021.
- ↑ Brandow Samuels, Gayle (January 3, 2005). Enduring Roots: Encounters with Trees, History, and the American Landscape. Rutgers University Press. hlm. 75. ISBN 978-0-8135-3539-5.
- ↑ 紹介!桜の品種 [Introduction! Varieties of cherry blossom]. Hibiya-Kadan (dalam bahasa Jepang). Diarsipkan dari asli tanggal September 26, 2020.
- ↑ 花のコーナー [Flower Corner]. General Incorporated Association Kitakyushu Ryokka Kyokai (dalam bahasa Jepang). April 2016. Diarsipkan dari asli tanggal February 12, 2019.
- ↑ 白の輝き 新種のしだれ桜 茨城の「博士」が上野で発見 (dalam bahasa Jepang). Tokyo Shimbun. 29 March 2022. Diarsipkan dari asli tanggal 28 March 2022. Diakses tanggal 12 January 2023.
- ↑ サクラ栽培品種の分類体系の再編とデータベース化 [Reorganization and database creation of classification system for cherry blossom cultivars] (PDF) (dalam bahasa Jepang). 2013. hlm. 58–59.
- ↑ Katsuki, Toshio; Iwamoto, Kojiro; Ishii, Yukio (March 2011). 多摩森林科学園サクラ保存林における30年間のサクラの開花期観測 [The observation of flowering dates in the Cherry Preservation Forest at the Tama Forest Science Garden over a 30 year period] (PDF). Bulletin of FFPRI (dalam bahasa Jepang). 10 (l): 7–48.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kato, Shuri; Matsumoto, Asako; Yoshimura, Kensuke; Katsuki, Toshio; Iwamoto, Kojiro; Tsuda, Yoshiaki; Ishio, Shogo; Nakamura, Kentaro; Moriwaki, Kazuo; Shiroishi, Toshihiko; Gojobori, Takashi; Yoshimaru, Hiroshi (2012). "Clone identification in Japanese flowering cherry (Prunus subgenus Cerasus) cultivars using nuclear SSR markers". Breeding Science. 62 (3): 248–255. Bibcode:2012BrSci..62..248K. doi:10.1270/jsbbs.62.248. PMC 3501942. PMID 23226085.
- 1 2 3 4 5 6 7 Kato, Shuri; Matsumoto, Asako; Yoshimura, Kensuke; Katsuki, Toshio; Iwamoto, Kojiro; Kawahara, Takayuki; Mukai, Yuzuru; Tsuda, Yoshiaki; Ishio, Shogo; Nakamura, Kentaro; Moriwaki, Kazuo; Shiroishi, Toshihiko; Gojobori, Takashi; Yoshimaru, Hiroshi (2014). "Origins of Japanese flowering cherry (Prunus subgenus Cerasus) cultivars revealed using nuclear SSR markers" (PDF). Tree Genetics & Genomes. 10 (3): 477–487. doi:10.1007/s11295-014-0697-1. S2CID 18606833. Diakses tanggal 2019-02-11.
- 1 2 3 桜の新しい系統保全 ―形質・遺伝子・病害研究に基づく取組― [Conservation of new lines of cherry blossoms - Efforts based on traits, genes, and disease research] (PDF) (dalam bahasa Jepang). Forestry and Forest Products Research Institute Tama Forest Science Garden. ISBN 978-4-905304-19-7. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 8 July 2014.
- 1 2 3 4 5 6 Katsuki, Toshio (2017). サクラの分類と形態による同定 [Classification and morphological identification of cherry trees] (dalam bahasa Jepang). hlm. 96–97. Diarsipkan dari asli tanggal March 1, 2021.
- ↑ Olsen, Richard T.; Whittemore, Alan T. (December 2009). "Validation of the Hybrid Flowering Cherry Prunus × incam (Rosaceae)". Novon. 19 (4): 490–493. Bibcode:2009Novon..19..490O. doi:10.3417/2007177. JSTOR 27765203. S2CID 86536702.
- ↑ "Sakura". Germplasm Resources Information Network (GRIN) online database.
- ↑ Ma, Hongmei; Olsen, Richard; Pooler, Margaret (2009). "Evaluation of Flowering Cherry Species, Hybrids, and Cultivars Using Simple Sequence Repeat Markers". Journal of the American Society for Horticultural Science. 134 (4): 435–444. doi:10.21273/JASHS.134.4.435. Diarsipkan dari asli tanggal 3 March 2016.
- ↑ Satoshi Ohta; Shinsuke Osumi; Toshio Katsuki; Ikuo Nakamura; Toshiya Yamamoto; Yo-Ichiro Sato (2006). "Genetic characterization of flowering cherries (Prunus subgenus Cerasus) using rpl16-rpl14 spacer sequences of chloroplast DNA". 園芸雑誌(J. Japan. Soc. Hort. Sci.). 75 (1): 72–78. doi:10.2503/jjshs.75.72. Diakses tanggal 2011-04-06.
- ↑ "Nishina Zao". Riken (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari asli tanggal March 2, 2021. Diakses tanggal 21 February 2024.
- ↑ 新種のサクラ [A new kind of cherry blossom]. Riken (dalam bahasa Jepang). Diakses tanggal 21 February 2024.
- ↑ "Prunus serrulata Auckland ban". New Zealand Plant Producers Incorporated. 3 August 2021.
- ↑ Iezzoni et al. 2017, p. 100, pp. 119–122.
- ↑ Moore, Di'Amond (March 1, 2023). "A look at Cherry Blossoms blooming around the world". USA Today.
- ↑ Rushforth, K. (1999). Trees of Britain and Europe. Collins ISBN 0-00-220013-9.
- ↑ "Cherry Trees: A First Lady's Legacy". National Park Service. Diakses tanggal February 20, 2024.
- ↑ "The Sakura Campaign – The State of Berlin". Berlin.de. Diakses tanggal 2 April 2017.
- ↑ "Cherry Blossoms". City of Toronto (dalam bahasa Canadian English). 2017-08-16. Diakses tanggal 2024-02-06.
- ↑ "Sakura". Germplasm Resources Information Network (GRIN) online database.
- 1 2 Pāgé, Navendu. "Wild Himalayan Cherry". www.flowersofindia.net. Diakses tanggal 16 January 2024.
- 1 2 Chandel, V.; Rana, T.; Hallan, V.; Zaidi, A. A. (2007). "Wild Himalayan Cherry (Prunus cerasoides) as a Natural Host of Prunus necrotic ringspot virus in India". Plant Disease. 91 (12): 1686. Bibcode:2007PlDis..91.1686C. doi:10.1094/PDIS-91-12-1686C. PMID 30780621.
- ↑ "Prunus cerasoides Buch.-Ham. ex D.Don | Plants of the World Online | Kew Science". Plants of the World Online (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-07-18.
- ↑ Chandran, Divya (September 18, 2019). "SAKURA MAGIC IN THE NILGIRIS". thepapyrus.in. Diakses tanggal 16 January 2024.
- ↑ Naithani, H. B. (1990). Flowering Plants of India, Nepal & Bhutan: Not Recorded in Sir J.D. Hooker's Flora of British India (dalam bahasa Inggris). Surya Publications. ISBN 978-81-85276-20-5.
- ↑ Nobuhiko Tanaka (24 March 2021). 中国の人たちはなぜ花見をするようになったのか 日本を通じて桜を再発見した中国の人々 (dalam bahasa Jepang). Diarsipkan dari asli tanggal 24 April 2021. Diakses tanggal 5 April 2024.
- ↑ Masataka Somego. "How it became Sakura in Japan" (PDF). J stage. hlm. 4. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 28 March 2023. Diakses tanggal 5 April 2024.
- ↑ Kenta Shirasawa; Tomoya Esumi; Hideki Hirakawa; Hideyuki Tanaka; Akihiro Itai; Andrea Ghelfi; Hideki Nagasaki; Sachiko Isobe (2019). "Phased genome sequence of an interspecific hybrid flowering cherry, 'Somei-Yoshino' (Cerasus × yedoensis)". DNA Research. 26 (5): 379–389. bioRxiv 10.1101/573451. doi:10.1093/dnares/dsz016. PMID 31334758.
- ↑ ソメイヨシノのゲノム解読に成功、開花時期の予測が可能に (dalam bahasa Jepang). University Journal Online. 1 April 2019. Diarsipkan dari asli tanggal 7 April 2021.
- ↑ 秋咲きのサクラはヒマラヤザクラの先祖返り? (dalam bahasa Jepang). The Japanese Society of Plant Physiologists. Diarsipkan dari asli tanggal 5 April 2024. Diakses tanggal 5 April 2024.
- ↑ "Cherry Blossoms: History Behind the Bloom". HuffPost (dalam bahasa Inggris). 2013-04-16. Diakses tanggal 2024-04-04.
- 1 2 Friedman, Stephanie (2023-02-28). "How Toxic Cherry Blossoms Are Turned Into Edible Sakura". Tasting Table (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2024-02-20.
- 1 2 Mouritsen, Ole G.; Styrbæk, Klavs (2021). Tsukemono: Decoding the Art and Science of Japanese Pickling (dalam bahasa Inggris). Cham: Springer International Publishing. hlm. 120. doi:10.1007/978-3-030-57862-6. ISBN 978-3-030-57861-9. S2CID 241732185. "A traditional Japanese sweet confection (sakura-mochi) consists of a ball of sweet, glutinous rice wrapped in a salt-pickled cherry leaf. Even if one does not want to eat the leaf, one will still experience a cherry taste as it seeps into the rice."
- ↑ "Preserved Cherry Blossoms and Sakura Vinegar". Diversivore (dalam bahasa Canadian English). 2020-05-01. Diakses tanggal 2023-06-10.
- 1 2 Mok, Charmaine (25 March 2023). "How Japanese cherry blossom is used in food, what its tastes like, and where in Hong Kong you can find it". South China Morning Post.
- ↑ Reid, Libby (August 2008). TSUKEMONO: A Look at Japanese Pickling Techniques (PDF). Kanagawa International Foundation. hlm. 4. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 2010-11-24.
- ↑ Itoh, Makiko (March 23, 2012). "Cherry blossom captures the flavor of spring". The Japan Times.
- ↑ 【ホームメイト】桜湯|ウェディング用語辞書 [【Homemate】Sakura-yu|Wedding terminology dictionary]. Happy Pair (dalam bahasa Jepang). Diakses tanggal February 20, 2024.
- ↑ "Bartenders' guide to foraging: Cherry blossom". www.diffordsguide.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2023-06-06.
- ↑ Poonam, V.; Raunak, null; Kumar, G.; Reddy L, C. S.; Jain, R.; Sharma, S. K.; Prasad, A. K.; Parmar, V. S. (2011). "Chemical constituents of the genus Prunus and their medicinal properties". Current Medicinal Chemistry. 18 (25): 3758–3824. doi:10.2174/092986711803414386. ISSN 1875-533X. PMID 21831039.
- ↑ Shibato, Junko; Takenoya, Fumiko; Hirabayashi, Takahiro; Kimura, Ai; Iwasaki, Yusuke; Toyoda, Yoko; Hori, Motohide; Tamogami, Shigeru; Rakwal, Randeep; Shioda, Seiji (2019-07-25). "Towards identification of bioactive compounds in cold vacuum extracted double cherry blossom (Gosen-Sakura) leaves". Plant Signaling & Behavior. 14 (10) e1644594. Bibcode:2019PlSiB..14E4594S. doi:10.1080/15592324.2019.1644594. ISSN 1559-2316. PMC 6768248. PMID 31342859.
- ↑ Yamada, Takashi; Katsutani, Naruo; Maruyama, Taeko; Kawamura, Tomoko; Yamazaki, Hiroshi; Murayama, Norie; Tong, Weida; Yamazoe, Yasushi; Hirose, Akihiko (2022-09-23). "Combined Risk Assessment of Food-derived Coumarin with in Silico Approaches". Food Safety. 10 (3): 73–82. doi:10.14252/foodsafetyfscj.D-21-00015. ISSN 2187-8404. PMC 9509535. PMID 36237397.
- ↑ Lončar, Mirjana; Jakovljević, Martina; Šubarić, Drago; Pavlić, Martina; Buzjak Služek, Vlatka; Cindrić, Ines; Molnar, Maja (2020-05-18). "Coumarins in Food and Methods of Their Determination". Foods. 9 (5): 645. doi:10.3390/foods9050645. ISSN 2304-8158. PMC 7278589. PMID 32443406.
- ↑ "Principles of herbal pharmacology", Principles and Practice of Phytotherapy (dalam bahasa Inggris), Elsevier, 2013, hlm. 17–82, doi:10.1016/b978-0-443-06992-5.00002-5, ISBN 978-0-443-06992-5, diakses tanggal 2024-03-01
- ↑ Bricault, Robert (13 March 2017). "Cherry blossom toxicity? #388219". Ask Extension. Diakses tanggal 15 January 2024.
- ↑ Mekonnen, Serkalem. "I Swallowed A Cherry Pit!". Poison Control. Diakses tanggal 15 January 2024.
Sumber
- Iezzoni, Amy; Lang, Gregory; Pulawska, Joanna; Quero-García, José, ed. (2017). Cherries: Botany, Production and Uses. CABI. ISBN 978-1-78064-837-8.
- Katsuki, Toshio (2015). Sakura (dalam bahasa Jepang). Iwanami Shoten. ISBN 978-4-00-431534-6.
- Katsuki, Toshio (2018). Sakura no Kagaku [Science of Cherry Blossoms] (dalam bahasa Jepang). SB Creative. ISBN 978-4-7973-8931-9.
Pranala luar
- Japanese Cherry Blossom Events & Locations Diarsipkan 31 July 2016 di Wayback Machine.
- Copenhagen Sakura Festival
- Flowering cherry Database—Forestry and Forest Products Research Institute
- Flowering cherry introduction—Forestry and Forest Products Research Institute
- Vancouver Cherry Blossom Festival—Information about the 37,000 cherry trees in Greater Vancouver (Canada), What's in bloom now, Cherry Scout reports and maps, Cultivar identification.
- Subaru Cherry Blossom Festival of Greater Philadelphia (Diarsipkan 1 September 2009 di Wayback Machine.)—Information about cherry trees and the annual two-week Subaru Cherry Blossom Festival of Greater Philadelphia.
| Internasional | |
|---|---|
| Nasional | |
| Lain-lain | |