Kehidupan
Sa'id bin Jubair meriwayatkan hadis dari Anas bin Malik, Adh-Dhahhak bin Qais, Ibnu az-Zubair, Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan lain-lain. Sedangkan yang meriwayatkan darinya adalah kedua putranya Abdul Malik dan Abdullah, Ya'la bin Hakim, Ya'la bin Muslim, Abu Ishaq As-Sabi'i dan lain sebagainya. Ia berkulit hitam, rambut dan jenggotnya beruban dan memakai surban putih.[6]
Seseorang datang menghadap Ibnu Umar dan bertanya kepadanya tentang ilmu Faraidh, dia berkata, "Tanyakanlah kepada Said bin Jubair, karena dia lebih tahu tentang ilmu berhitung daripada saya, dia sangat ahli di bidangnya dan dapat membagi sesuai dengan ketentuannya (dalam pembagian warisan)."[6] Ia seorang murid senior dari Ibnu Abbas sehingga ia menguasai ilmu tafsir Quran.
Beberapa orang yang meriwayatkan hadits dari Said di ahtaranya; kedua puteranya yaitu Abdul Malik dan Abdullah, Ya'la bin Hukaim, Ya'la bin Muslim, Abu Ishaq As-Subai'i, Abu Az-Ztrbair Al-Makki, Adam bin Sulaiman, Asy'ats bin Abi Asy-Sya'tsa', Ayyub, Bakir bin Syihab, Tsabit bin'Ajalan, Hubaib bin Abi Tsabit, Ja'far bin Abi Wahsyiah, Ja'far hin Abi Al-Mughirah, Al-Hakam bin Utaibah, Hushain bin Abdirrahman, Sammak bin Harb, Al-A'masy, Ibnu Khutsaim, Dzarr bin Abdullah Al-Murbi'i, Salim Al-Afthas, Salamah bin Kahil, Thalhah bin Musharrif, Abdullah bin Sulaiman, 'Atha' bin As-Sa'ib, Amr bin Abi Amr Maula Al-Muthalib, Amr bin Murrah, Al-Qasim bin Abi Bazzah, Muhammad bin Sauqah, Manshur bin Al-Mu'tamir, Al-Minhal bin Amru, Al-Mughirah bin Syu'bah, Wabrah bin Abdirrahman dan Khalaq.[6]
Ibadahnya
Said yang sering menangis saat melakukan shalat malam hingga penglihatannya kabur karena rabun. Hilal bin Khabab, dia berkata, "Pada suatu ketika pada bulan Rajab, aku pergi bersama said bin Jubair. Dia berniat rnelakukan ihram dari Kufah untuk ibadah umrah, kemudian dia pulang dari umrahnya, lalu dia melakukan ihram untuk ibadah haji pada pertengahan bulan Dzulqa'dah. Setiap tahunnya dia pergi ke Makkah dua kali, sekali untuk melakukan ibadah haji dan sekaii untuk ibadah umrah."[6]
Abdullah bin Muslim berkata, "Aku tidak pernah melihatnya shalat kecuali bagaikan batu yang kokoh (khusyu')." Abu Syihab, dia berkata, "Di bulan Ramadhan, Said bin Jubair melakukan shalat Isya', kemudian dia pulang dan hanya berada di rumah sebentar, lalu dia kembali lagi ke masjid dan shalat tarawih bersama kami. Setelah itu melakukan shalat witir 3 rakaat dan membaca doa Qunut yang panjangnya sama dengan membaca 50 ayat Al-Qur'an."[6]
Konflik Penguasa
Sa'id bin Jubair ikut serta dalam pemberontakan Ibnul Asy'ats melawan gubernur Irak al-Hajjaj bin Yusuf dan pasukannya namun Sa'id dan pasukan Ibnul Asy'ats menderita kekalahan. Setelah itu Sa'id bersembunyi dan berpindah-pindah tempat, dan terakhir ia sembunyi di Mekah selama 12 tahun hingga ia tertangkap dan dibawa kepada al-Hajjaj. Abu Hushain dia berkata, "Aku pernah melihat Said di Makkah, lalu aku berkata kepadanya, "Sesungguhnya Khalid bin Abdullah (walikota Mekah) telah datang dan aku tidak yakin kamu wahai Said akan selamat." Dia menjawab, "Demi Allah, aku telah melarikan diri (dari peperangan dengan perusuh) sehingga aku merasa malu kepada Allah." Said bin Jubair berkata pada saat terjadi peristiwa Dir Al-Jamajim, dan mereka sedang berperang,"Perangilah mereka karena kezhaliman mereka dalam menialankan pemerintahan, keluarnya mereka dari agama, kesombongan mereka terhadap hamba-hamba Allah, mereka menghapuskan shalat dan merendahkan martabat kaum muslimin." Ia dan Isma'il bin Ausath Al-Bali ditangkap Khalid.[8] Al-Hajjaj kemudian memerintahkan agar Sa'id dibunuh setelah perdebatan panjang.