Karier
Razali Ismail pertama kali bergabung dengan Kementerian Luar Negeri Malaysia pada tahun 1962, lalu kemudian menjabat sebagai Asisten Komisaris Tinggi Malaysia di Madras, India, dari tahun 1963-1964. Kemudian kariernya berlanjut dengan menjadi Sekretaris Kedua Kedutaan Besar Malaysia di Paris, Prancis, pada tahun 1966-1968, selanjutnya menjadi Counsellor di Komisi Tinggi Malaysia di London, Inggris, dari tahun 1970 sampai tahun 1972 dan Chargé d'affaires di Vientiane, Laos, sejak tahun 1974 sampai 1976. Ia kemudian dipercaya sebagai Duta Besar Malaysia di Polandia dari tahun 1978-1982 dan di India antara tahun 1982-1985. Setelah itu ia menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Menteri Luar Negeri sejak tahun 1985
Setelah masa jabatannya sebagai Deputi Sekretaris Jenderal Menteri Luar Negeri Malaysia, ia menjadi semakin terlibat dengan PBB. Pada tahun 1989 dan 1990 ia memimpin delegasi Malaysia untuk PBB. Pada saat yang sama, dia adalah ketua Dewan Keamanan PBB. Dari tahun 1996 sampai 1997, ia pun dipercaya menjabat sebagai Presiden Majelis Umum PBB.
Hingga tahun 2005, ia ditugaskan sebagai utusan khusus Sekretaris Jenderal PBB ke Myanmar dan memainkan peran penting dalam membebaskan Aung San Suu Kyi dari tahanan rumah pada bulan Mei 2002. Namun, imparsialitas sebagai Utusan Khusus PBB dipertanyakan oleh para pejabat Amerika Serikat di kabel kedutaan yang dirilis melalui Wikileaks, yang menyatakan adanya hubungan bisnis dengan rezim militer Myanmar. Namun kemudian, junta militer Myanmar berulang kali membantahnya. Kejadian tersebut berakibat pada keputusannya untuk berhenti sebagai utusan khusus pada bulan Desember 2005.[3][4]
Di luar dunia diplomasi, Razali juga aktif sebagai Adjunct Professor of International Studies di Michigan State University dari tahun 1993-1995. Ia juga adalah anggota dari Dewan Penasehat Internasional Trust, Malaysia, aktif di Institut Lingkungan dan Pembangunan, Universitas Nasional Malaysia, dan anggota Dewan Penasihat dari Wetlands International Asia-Pasifik, Malaysia.