Satria (Sejahtera, Adil, Tertib, Rapi, Indah, dan Aman)
Purwokerto (bahasa Jawa:ꦥꦸꦂꦮꦏꦼꦂꦠ
, Pegon: ڤوروَاكۤرتاcode: jv is deprecated , translit.Purwåkertå) adalah sebuah wilayah yang menjadi pusat pemerintahan atau ibu kota Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia. Jumlah penduduknya 249.618 jiwa di Oktober tahun 2020 menurut data BPS Kabupaten Banyumas 2020.[2][3]
Julukan kota yang berada di jalur selatan Jawa Tengah ini adalah kota wisata, kota keripik, kota transit, kota pendidikan, sampai kota pensiunan karena begitu banyaknya pensiunan yang menetap di Purwokerto dengan alasan kenyamanan di wilayah ini. Di Purwokerto terdapat Museum Bank Rakyat Indonesia sebagai penanda bahwa Bank tersebut dulu didirikan oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja di Purwokerto.[6] Kota Ini memiliki nama kuno Purwocarito yang tercatat dalam catatan serat sejarah dalem pangiwa panengen.
Rumah Bupati PurwokertoEmplasemen sisi selatan Stasiun Barang Purwokerto milik Staatsspoorwegen (SS) berlatarkan Gunung SlametPeta Kabupaten Purwokerto sebelum dilebur dengan Kabupaten Banyumas tahun 1936.
Pemerintahan
Purwokerto bukan kota otonom melainkan kawasan di mana pusat pemerintahan Kabupaten Banyumas berada, dan secara de jure masih di bawah pemerintah daerah Kabupaten Banyumas sebagai pusat pemerintahan. Purwokerto terbagi menjadi 4 kecamatan dengan 27 kelurahan. Terdapat wacana pembentukan Kota Purwokerto yang lepas dari Kabupaten Banyumas menjadi daerah otonom.[7]
Apabila dilihat dari sejarahnya, Purwokerto dahulu berstatus Kota Administratif (Kotif), di mana sebagian kotif lain sudah menyandang status kota dengan otonomi tersendiri. Jika Purwokerto dimekarkan menjadi Kota, minimal ada 4 kecamatan yang akan digabung,[8] yaitu:
Purwokerto terletak di selatan Gunung Slamet, merupakan gunung tertinggi kedua di Pulau Jawa atau gunung tertinggi di Jawa Tengah. Secara geografi, Purwokerto berada di ketinggian 71 hingga 286 m dpl (ketinggian rata-rata 183,87 mdpl) dan terletak di koordinat 7°26′S109°14′E / 7.433°S 109.233°E / -7.433; 109.233. Selain itu, Purwokerto menjadi pusat pemerintahan karena merupakan pusat koordinasi daerah Jawa Tengah bagian Barat Bakorlin III. Purwokerto berbatasan dengan Sokaraja yang terdapat Kali Pelus.[11]
Rencana Pemekaran
Pada tahun 2020, Pemerintah Kabupaten Banyumas mengusulkan pemekaran wilayah Banyumas menjadi tiga daerah otonomi atas persetujuan Bupati dan DPRD Kabupaten Banyumas, yakni Kota Purwokerto, Kabupaten Banyumas Barat, dan Kabupaten Banyumas.[12]
Sebagai ibu kota Kabupaten Banyumas, Kota Purwokerto dinilai sudah layak dari berbagai sisi untuk dimekarkan menjadi kota otonom. Namun wacana pemekaran tersebut terhambat oleh kebijakan moratorium pemekaran daerah oleh pemerintah pusat.[13]
Daerah Otonomi Baru (DOB) Kota Purwokerto sendiri diperkirakan akan memiliki luas wilayah 288,39km² dengan jumlah penduduk 724.513 Jiwa (per 2023) yang wilayahnya meliputi eks-wilayah Kota Administratif Purwokerto beserta beberapa kecamatan penyangga disekitarnya. Berikut kecamatan yang diperkirakan akan dimekarkan menjadi Kota Purwokerto:[13]
Wacana pemekaran di Wilayah Purwokerto dan Banyumas Raya bukan hanya sebatas pemekaran kota/kabupaten saja tetapi mengemuka juga pembahasan di masyarakat maupun kalangan akademisi tentang pemekaran provinsi, terdapat dua wacana pemekaran provinsi yaitu, Provinsi Banyumas Raya dan Provinsi Jawa Selatan.[16]
Pada wacana yang mengemuka tersebut Provinsi Banyumas Raya akan meliputi wilayah - wilayah dengan penutur dialek Ngapak (Banyumasan), seperti Wilayah eks Karesidenan Banyumas dan sebagian Karesidenan Pekalongan seperti, Brebes, Tegal, dan Pemalang. Selain wacana Provinsi Banyumas Raya berkembang pula wacana Provinsi Jawa Selatan dikalangan akademisi.[17]
Bupati Purwokerto, Raden Tumenggung Mertadireja, koleksi KITLV 4740.
Pada awal abad ke-20, Purwokerto mengalami babak baru dalam tata ruang yang tengah memasuki kota tersebut. Saat itu, kota-kota di Pulau Jawa tengah mengalami lonjakan penduduk. Hampir di setiap kota, pertambahan penduduk sekitar 10 kali sampai 20 kali lipat. Kota-kota tersebut pada umumnya mengalami masalah akut tentang tata ruang. Pemerintah kolonial Belanda yang kelimpungan menghadapi persoalan itu sibuk mencari model pembangunan bagi kota-kota di Jawa.[butuh rujukan]
Saat kesibukan meliputi Pemerintah Kolonial Belanda, Herman Thomas Kartsen menjejakkan kaki di Semarang pada 1914. Kota yang juga tengah mengalami persoalan pertambahan penduduk. Dalam catatan W.F. Wertheim melalui buku Masyarakat Indonesia dalam Transisi, pertambahan penduduk di kota itu hampir mencapai seratus persen. Di kota tersebut, Kartsen menemui Henri Maclaine Pont. Pont adalah teman Kartsen semasa kuliah di Insitut Teknologi Delf, Amsterdam, Belanda. Di Semarang, Pont mendirikan biro arsitek. Melalui Pont, Kartsen mendapat banyak informasi tentang keadaan Semarang dan kota lainnya. Kedatangan Kartsen di Semarang adalah guna merancang Kota Semarang dan kota-kota lainnya di Pulau Jawa, termasuk Purwokerto.[butuh rujukan]
Dalam sejarahnya, Purwokerto bukan merupakan kota industri maupun perdagangan. Sampai saat ini, aktivitas industri jarang ditemukan di Purwokerto. Kota ini bisa dikatakan tidak memiliki industri dalam skala besar yang dapat menyerap ribuan tenaga kerja atau mencakup wilayah puluhan hektare. Jika pun ada industri, itu umumnya industri-industri tradisional yang hanya mempekerjakan puluhan pekerja, seperti industri rokok rumahan, industri mi atau sohun kering, pabrik pengolah susu skala kecil, industri peralatan dari logam, dan industri oleh-oleh yang hanya ramai pada musim lebaran. Purwokerto tidak memiliki aktivitas perdagangan dalam skala besar dan tidak terdapat areal pergudangan yang dapat menyimpan komoditas dalam jumlah ribuan kubik. Pendek kata, dahulu kota ini sama sekali bukan kota industri dan perdagangan.[butuh rujukan]
Awal dekade 2000-an, kota ini lebih cocok disebut sebagai kota pegawai dan kota pelajar. Mata pencaharian penduduk yang bisa diandalkan untuk hidup cukup adalah dengan menjadi pegawai negeri maupun BUMN. Perubahan secara cukup signifikan terjadi mulai tahun 2000-an, yakni saat kota ini mulai dibanjiri mahasiswa-mahasiswa untuk menuntut ilmu di perguruan tinggi, terutama di Universitas Jenderal Soedirman dan Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Sejak saat itu, aktivitas ekonomi rakyat yang berkenaan dengan kebutuhan mahasiswa pun berkembang. Usaha indekos dibangun untuk disewakan kepada para mahasiswa pendatang. Usaha barang dan jasa didirikan untuk melayani kebutuhan mahasiswa. Kondisi ini membuat perekonomian kota Purwokerto tumbuh cukup signifikan sebagai kota jasa.[butuh rujukan]
Bahasa yang digunakan oleh masyarakat Purwokerto adalah bahasa Jawa dialek Banyumasan.[22] Wikipedia juga turut melestarikan bahasa banyumasan ini dengan menerbitkan Wikipedia bahasa Banyumasan.
Kenthongan atau musik thek-thek adalah seni musik Purwokerto yang dimainkan dengan alat musik bambu dan dimainkan oleh 20-40 orang.[23] Kebudayaan Begalan[24] dan Ronggeng adalah kesenian asli Banyumas yang sekarang sudah mulai pudar keberadaanya.[25]
Pariwisata urban di Purwokerto berpusat pada beberapa markah tanah, pusat kegiatan rakyat, dan taman perkotaan, seperti Alun-Alun Purwokerto, Taman Satria Berkoh, Taman Pangsar Soedirman Karanglewas Taman Andhang Pangrenan, Taman Maskemambang, dan Menara Pandang Teratai Purwokerto.
Pendidikan
Purwokerto dikenal sebagai salah satu kota pelajar di Pulau Jawa karena memiliki beberapa sekolah dan perguruan tinggi.
Perguruan tinggi
Purwokerto dikenal sebagai Kota Pelajar karena letak yang strategis untuk menimba ilmu dan menjadi salah satu wilayah dengan biaya hidup murah di Indonesia.[27]
Universitas Jenderal Soedirman, perguruan tinggi negeri tertua di Purwokerto.
Perguruan tinggi yang terdapat di Purwokerto antara lain:
Olahraga yang banyak menetaskan atlet-atlet dari kota ini adalah atlet cabang bulu tangkis, atletik, dan renang. Ada dua stadion besar di Purwokerto, yakni GOR Satria (milik Pemerintah Kabupaten Banyumas) dan GOR Soesilo Soedarman Unsoed yang sering dijadikan lokasi Pelatnas Atletik karena memiliki trek lari yang berstandar Internasional.[28] Purwokerto pernah melahirkan pelari nasional Poernomo yang menjadi pelari jarak pendek Indonesia pertama yang mengikuti Olimpiade.[29] Pebulu tangkis Christian Hadinata dan Fung Permadi juga atlet kelahiran Purwokerto yang telah meraih berbagai macam penghargaan tingkat internasional,[30] lalu Meitri Widya Pangastika adalah atlet renang putri andalan nasional di zamannya.[31]
Begitu melekatnya cabang aletik di Purwokerto sehingga SMAN 3 Purwokerto mengkhususkan satu kelasnya untuk menjadi atlet.[32]Persibas Banyumas merupakan klub sepak bola daerah ini. Pendukungnya disebut "Bombastik".[33]
Kuliner
Mendoan khas Purwokerto
Makanan khas dari Purwokerto adalah:
Mendoan, makanan yang terbuat dari tempe yang tipis, kemudian dibalur tepung bumbu dan digoreng setengah matang
Tahu brontak, makanan yang terbuat dari tahu yang ditepungi, dibumbui, dan digoreng. Istilah "brontak" berasal dari sayuran yang keluar dari tahu ketika digoreng
Keripik tempe, Kota Keripik merupakan salah satu julukan dari kota Purwokerto
Getuk goreng, pusat pembuatannya adalah Kecamatan Sokaraja di pinggir Kota Purwokerto
Kraca, adalah keong sawah yang dimasak berkuah dengan bumbu pedas
Dage, kudapan mirip kue berbahan dasar ampas kacang yang digumpalkan dan dijamurkan. Biasa disajikan dengan tepung berbumbu dan disantap dengan cabe rawit
Semayi, lauk dari ampas kelapa yang dibumbui dan dipanggang. Makanan yang menjadi simbol kemelaratan ini sudah sulit ditemukan.
Tegean, adalah sebutan khas Banyumas untuk sup sayur berkuah bening. Tegean umumnya terdiri atas bayam, kecambah kedelai hitam, daun katuk, dan kedelai hitam. yang dibumbui bawang merah, bawang putih, dan kencur
Empal basah, adalah masakan berbahan dasar daging dan tetelan sapi yang dimasak dengan kuah santan yang kental. Kekhasan empal basah Banyumasan adalah sensasi gatal yang ditimbulkan oleh campuran serunding. Empal basah umumnya dimakan bersama ketupat berkulit janur
Themlek, kudapan ringan dari ampas tahu berbumbu yang digoreng dengan adonan tepung
Nopia, adalah kudapan manis asal Banyumas yang terdiri atas isian gula merah disalut kulit mirip pastri.
Mino, adalah versi mini dari nopia yaitu mino atau mini nopia yang sama juga terdiri dari isian gula merah disalut kulit mirip pastri.
Stasiun Purwokerto merupakan stasiun terbesar di wilayah Jawa Tengah bagian barat dan merupakan pusat dari Daerah Operasi V Purwokerto KAI. Per 2023, jalur ganda lintas tengah Pulau Jawa (Cirebon–Mojokerto) sudah sepenuhnya beroperasi sehingga mempercepat waktu tempuh dari Jakarta ke Purwokerto dengan waktu tempuh rata-rata 4 jam 16 menit per perjalanan.[34]
Seluruh kereta api yang melintasi Purwokerto berhenti di Stasiun Purwokerto. Stasiun Purwokerto melayani seluruh rute kereta api yang ada di Jawa, di antaranya dari serta tujuan menuju DKI Jakarta, Kota Bandung, dan Kota Surabaya melalui lintas tengah Pulau Jawa.
Terminal Bus Purwokerto, merupakan terminal tipe A terbesar kedua di Jawa Tengah setelah Terminal Tirtonadi di Solo
Terminal Bulupitu merupakan terminal bus tipe A di Purwokerto yang melayani tranportasi antarkota di Pulau Jawa.[35]
Angkutan antar jemput
Selain kereta api dan bus, tersedia juga layanan antar jemput atau lebih dikenal dengan istilah travel. Perusahaan travel di Purwokerto bervariasi dan menyediakan rute ke beberapa kota di Pulau Jawa. Beberapa perusahaan travel akan memperluas trayeknya hingga Pulau Sumatra dan Pulau Bali yang masih dalam proses pengembangan.[perinci lagi]
Angkutan dalam kota
Tersedia transportasi taksi dengan berbagai kelas dan dengan harga yang melayani 24 jam dan angkutan kota (angkot) dengan jam layanan dari pagi hingga sore hari. Terdapat dua angkutan massal berbasis jalan (BRT), yaitu Trans Jateng yang dikelola oleh Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah[36] dan Trans Banyumas yang dikelola oleh Teman Bus.[37]
Becak dapat dengan mudah ditemui hampir di semua sudut kota Purwokerto. Kendaraan ini masih menjadi pilihan alternatif bagi masyarakat Purwokerto karena harganya yang relatif terjangkau.
Dokar
Gerobak di Purwokerto, koleksi Troppenmuseum
Dokar tidak lagi digunakan sebagai sarana transportasi utama dan lebih sering digunakan untuk keperluan rekreasi yang umum dijumpai di sekitar kawasan GOR Satria, Taman Satria, dan Alun-Alun Purwokerto pada hari minggu atau perayaan tertentu.
Taksi
Layanan taksi yang beroperasi di Purwokerto adalah Kobata Taxi[38] dan Satria Taxi (bergabung dengan Kondang Prima Karya karena adanya aturan dalam UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang LLAJ) dengan tiga operator taksi resmi dan armada 170 unit.[39]
Pusat Perbelanjaan
Rita Supermall (RSM), salah satu pusat perbelanjaan modern di Purwokerto.
Purwokerto memiliki sejumlah pusat perbelanjaan, mulai dari pasar tradisional, mal, dan plaza.
Aston Imperium Hotel Purwokerto, bangunan modern di Purwokerto yang memiliki menara setinggi 12 lantaiTram Hotel Purwokerto, koleksi KITLV 181877
Purwokerto menyediakan banyak pilihan tempat menginap dari mulai losmen, hotel kelas melati, hingga hotel berbintang. Akomodasi yang tersedia di Purwokerto antara lain:
Purwokerto memiliki stasiun televisi lokal BMS TV, waktu mengudara adalah pukul 06.00 sampai 23.00. BMS TV memproduksi acara sendiri dan karya rumah produksi lokal dengan muatan gaya Banyumasan yang kental. Pada jam-jam tertentu juga me-relay stasiun televisi Kompas TV. Banyumas TV berlokasi di Jalan Prof. Dr. HR. Bunyamin. Selain BMS TV, Purwokerto juga memiliki Satelit TV yang beralamat di Jalan Dr. Angka No. 79, Glempang, Bancarkembar, Purwokerto Utara.
Berikut ini adalah daftar stasiun televisi yang bisa disaksikan di Purwokerto dan sekitarnya:
Analog
Stasiun analog (PAL) beroperasi hingga tahun 2023.[41]
SuaraPurwokerto.com, adalah media pertama di Purwokerto yang fokus pada portal daring;
iNewsPurwokerto.id adalah portal berita jaringan iNews.id, bagian dari MNC Portal Indonesia (MPI) perwakilan Jateng-DIY yang berkantor di Jalan Prof. M. Yamin, Karangklesem, Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas;
Tribunbanyumas.com adalah berita koran media daring Banyumas Raya yang berkantor di Purwokerto.
Radio
Stasiun radio yang ada di Purwokerto di antaranya adalah RRI, Mitra FM, Metro FM, Paduka FM, Dian Swara FM, Yasika FM, POP FM, Sonora Purwokerto FM, Suara Purwokerto FM, Amikom FM, Raden Mas FM, Gradiosta FM, dan SBC Sokaraja.
Musik
Purwokerto telah menyumbang beberapa warganya di pentas nasional, antara lain Titik Sandora yang cukup terkenal pada tahun 70-an, Mayangsari yang terkenal kontroversial, Eric yang menyanyi bersama Melly Goeslaw untuk film AADC. Dalam bidang musik independen (indi), Purwokerto menghasilkan musisi seperti: Tunas Bangsa Simphony, band independen yang merambah ke nasional: Supernova yang tengah naik daun dan sedang merambah ke industri musik nasional. Supernova merupakan salah satu grup musik asal Purwokerto.
Musisi asal Purwokerto, Danar Widianto, merupakan salah satu peserta dalam ajang pencarian bakat, X Factor Indonesiamusim ketiga dan berhasil meraih juara ketiga. Sebelum maju sebagai peserta dalam ajang tersebut, Danar Widianto merupakan anggota dalam grup vokal Putra Banyumas.
↑Purwaningsih, Dyah; Prasetyoningsih, Tri; Firmansyah, Dian. "Kenthongan". dinporabudpar.banyumaskab.go.id (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-02-04.