Gusti Ngurah Karangasem, raja Buleleng ke-12, dan 400 pengikutnya memilih puputan daripada menyerah saat perang di Benteng Jagaraga (1849).
Puputan (Aksara Bali: ᬧᬸᬧᬸᬢᬦ᭄) adalah istilah dalam bahasa Bali yang mengacu pada ritual serangan bunuh diri massal[1] yang dilakukan saat perang daripada harus menyerah kepada musuh. Istilah ini berasal dari kata bahasa Bali "puput" yang artinya "selesai" / "putus" / "habis / "mati".