Publius Clodius Pulcher (sekitar 92 SM – 18 Januari 52 SM) adalah seorang politikus Romawi pada masa akhir Republik Romawi. Ia terkenal karena menjabat sebagai tribunus plebis pada 58 SM, memperluas pembagian gandum cuma-cuma kepada warga kota Roma, memulihkan perkumpulan-perkumpulan yang disebut collegia, dan mendorong pengasingan Cicero. Ia kemudian menjadi salah satu tokoh utama dalam persaingan politik dan kekerasan jalanan di Roma pada dasawarsa 50-an SM.[1][2]
Clodius lahir sebagai anggota patrisius dari keluarga Claudia, tetapi pada 59 SM berpindah secara hukum ke golongan plebs agar dapat mencalonkan diri sebagai tribunus plebis. Politiknya menggabungkan hubungan dengan kalangan aristokrasi, dukungan masyarakat miskin perkotaan, patronase terhadap perkumpulan warga, dan penggunaan kelompok bersenjata untuk menguasai ruang politik di kota. Penelitian modern umumnya menolak pandangan lama bahwa ia semata-mata alat Julius Caesar, Pompeius, atau Crassus, dan lebih memandangnya sebagai aktor politik yang berusaha memanfaatkan aliansi yang berubah-ubah untuk kepentingannya sendiri.[3][4]
Sebagian besar bukti sezaman mengenai Clodius berasal dari pidato dan surat Cicero, yang merupakan musuh politiknya. Oleh sebab itu, tuduhan mengenai watak, kehidupan pribadi, dan motif Clodius dalam sumber-sumber kuno perlu diperlakukan dengan hati-hati.[4]
Nama
Clodius dilahirkan dengan nama Publius Claudius Pulcher. Ia kemudian memakai bentuk rakyat Clodius, bukan bentuk aristokratik Claudius. Perubahan ejaan ini sering dianggap sebagai bagian dari citra politiknya setelah berpindah ke golongan plebs. Namun, tidak ada sumber kuno yang secara tegas menyatakan bahwa perubahan tersebut dilakukan sebagai pernyataan politik, dan bentuk Clodius telah digunakan sebelum perpindahannya secara resmi.[5]
Nama lengkapnya dalam bentuk filiasi Romawi adalah Publius Clodius Appii filius Appii nepos Pulcher, yang menunjukkan bahwa ia adalah putra dan cucu seorang Appius.
Identitas ibunya tidak pasti. Sebagian rekonstruksi silsilah menyebut seorang Caecilia Metella, tetapi bukti yang tersedia tidak memungkinkan kesimpulan yang sepenuhnya pasti.[2]
Clodius menikah dengan Fulvia, seorang perempuan dari keluarga kaya. Mereka mempunyai sekurang-kurangnya dua anak: seorang putra bernama Publius dan seorang putri, Claudia, yang kemudian menikah sebentar dengan Octavianus. Setelah Clodius meninggal, Fulvia menikah dengan Gaius Scribonius Curio dan kemudian Markus Antonius.[2]
Karier awal
Clodius pertama kali tampil jelas dalam catatan sejarah ketika bertugas di bawah saudara iparnya, Lucullus, dalam Perang Mithridates Ketiga. Pada 68 SM, saat pasukan Lucullus berkemah di Nisibis, Clodius mendorong ketidakpuasan para prajurit terhadap panglima mereka. Plutarkhos menghubungkan tindakannya dengan kebencian pribadi terhadap Lucullus, meskipun rincian dan motif peristiwa tersebut tidak pasti.[1][7]
Pada tahun berikutnya, ia bertugas di bawah Quintus Marcius Rex di Kilikia. Ketika memimpin armada, ia ditangkap oleh bajak laut. Clodius meminta bantuan raja Siprus, Ptolemaios dari Siprus, tetapi bantuan yang diberikan dianggap tidak memadai dan menimbulkan permusuhan yang kemudian berpengaruh terhadap nasib Siprus. Setelah dibebaskan, ia juga terlibat dalam urusan dinasti di Suriah, tetapi gagal mengembalikan Filipos II Filoromaios ke takhta.[2]
Sekembalinya ke Roma, Clodius menuntut Catilina atas tuduhan pemerasan pada 65 SM. Catilina dibebaskan. Cicero kemudian menuduh bahwa Clodius sengaja menjalankan penuntutan secara lemah, tetapi penelitian modern menilai bukti bagi tuduhan kolusi tersebut tidak meyakinkan.[1][8]
Pada krisis Konspirasi Catilina tahun 63 SM, Clodius tampaknya tidak bergabung dengan para konspirator. Ia mungkin bertugas sebagai tribun militer dalam pasukan konsul Lucius Licinius Murena di Galia Cisalpina dan kemudian membantu kampanye Murena dalam pemilihan konsul.[2]
Skandal Bona Dea
Pada Desember 62 SM, upacara tahunan Bona Dea diselenggarakan di rumah Julius Caesar, yang ketika itu menjabat sebagai Pontifex Maximus. Upacara tersebut hanya boleh dihadiri perempuan. Menurut sumber-sumber kuno, Clodius memasuki rumah dengan menyamar sebagai perempuan. Ia ditemukan oleh para peserta dan upacara dihentikan serta kemudian diulang karena dianggap tercemar.[1][2]
Motif Clodius tidak dapat dipastikan. Tradisi yang bermusuhan dengannya menyatakan bahwa ia berusaha menemui Pompeia, istri Caesar, tetapi kajian modern tidak sepakat mengenai adanya hubungan di antara keduanya. Caesar tidak memberikan kesaksian melawan Clodius, tetapi menceraikan Pompeia setelah peristiwa tersebut.[4]
Setelah para pontifex menyatakan kejadian tersebut sebagai pelanggaran agama, Clodius diadili pada 61 SM atas tuduhan incestum, istilah yang dalam perkara ini digunakan bagi penodaan ritual. Clodius mengajukan alibi bahwa ia berada di Interamna ketika upacara berlangsung. Cicero bersaksi bahwa Clodius berada di Roma pada hari yang sama, sehingga merusak alibinya. Kesaksian ini menjadi salah satu penyebab utama permusuhan panjang antara keduanya.[1][8]
Clodius dibebaskan dengan suara 31 berbanding 25. Sumber-sumber kuno, khususnya Cicero, menyatakan bahwa para juri telah disuap. Kemungkinan terjadinya penyuapan diterima secara luas, tetapi pihak yang menyediakan uang dan skala praktik tersebut tidak dapat ditentukan dengan pasti.[2]
Perpindahan ke golongan plebs
Setelah bertugas sebagai quaestor di Sisilia pada 61–60 SM, Clodius berusaha berpindah dari status patrisius ke plebeius agar dapat menjadi tribunus plebis. Beberapa upaya awalnya gagal karena persoalan prosedural dan politik.[1]
Pada 59 SM, dengan dukungan Caesar, Clodius diadopsi oleh Publius Fonteius, seorang plebeius yang lebih muda darinya. Adopsi tersebut disahkan dalam comitia curiata yang dipimpin Caesar sebagai Pontifex Maximus. Clodius kemudian melepaskan diri dari kekuasaan ayah angkatnya dan terdaftar sebagai plebeius. Keabsahan serta kepantasan proses ini dipersoalkan oleh lawan-lawannya, tetapi tetap diakui secara hukum dan memungkinkannya terpilih sebagai tribunus plebis untuk 58 SM.[1][2]
Tribunus plebis
Clodius mulai menjabat pada 10 Desember 59 SM. Program legislatifnya pada awal 58 SM memperluas basis dukungannya di kalangan plebs perkotaan sekaligus menarik dukungan sebagian senator. Empat undang-undang pertamanya disahkan tanpa perlawanan besar.[2]
Pemulihan collegia
Salah satu undang-undangnya memulihkan collegia, yaitu perkumpulan profesi, keagamaan, lingkungan, dan sosial yang sebagian pernah dibatasi oleh Senat. Perkumpulan tersebut menyediakan jaringan sosial bagi warga miskin dan dapat dipakai untuk mengorganisasi dukungan politik. Clodius serta sekutunya, terutama Sextus Cloelius, menjadi patron sejumlah perkumpulan tersebut.[2][9]
Tidak semua anggota collegia merupakan kelompok bersenjata dan tidak dapat dipastikan bahwa Clodius sejak awal membentuknya sebagai pasukan pribadi. Namun, jaringan tersebut kemudian menjadi salah satu sarana mobilisasi massa dan kekerasan politik di Roma.
Pembagian gandum
Clodius mengubah sistem pembagian gandum yang sebelumnya menjual gandum bersubsidi menjadi pembagian cuma-cuma bagi warga yang terdaftar. Kebijakan ini sangat populer di kalangan penduduk miskin perkotaan, tetapi menimbulkan beban besar bagi perbendaharaan negara.[1][2]
Untuk membantu membiayai kebijakan itu, Clodius mengusulkan aneksasi Kerajaan Siprus. Pelaksanaan aneksasi dipercayakan kepada Cato Muda, yang pada saat yang sama disingkirkan untuk sementara waktu dari politik Roma. Harta kerajaan Siprus kemudian dimasukkan ke perbendaharaan Romawi.[2]
Hukum agama dan sensor
Undang-undang Clodius mengenai pertanda keagamaan membatasi penggunaan pengamatan langit sebagai cara menghentikan sidang rakyat dari luar tempat sidang. Ketentuan ini terutama berkaitan dengan taktik Marcus Calpurnius Bibulus ketika berusaha menghalangi undang-undang Caesar pada 59 SM. Cicero kemudian mengklaim bahwa Clodius telah menghapus hukum augural sebelumnya, tetapi penelitian modern menilai klaim tersebut berlebihan.[2][10]
Undang-undang lainnya membatasi kewenangan para sensor untuk mengeluarkan seseorang dari Senat. Kedua sensor diwajibkan mencapai kesepakatan dan memberikan kesempatan kepada orang yang diperiksa untuk membela diri. Aturan ini bukan penghapusan jabatan sensor, melainkan pembatasan prosedur dalam pelaksanaan teguran sensoris.[2]
Pengasingan Cicero
Clodius kemudian mengajukan undang-undang yang mengancam pengasingan terhadap siapa pun yang mengeksekusi warga Romawi tanpa pengadilan rakyat. Sasaran utamanya adalah Cicero, yang sebagai konsul pada 63 SM telah memerintahkan eksekusi beberapa anggota konspirasi Catilina berdasarkan keputusan Senat, tetapi tanpa pengadilan di hadapan rakyat.[1]
Cicero meninggalkan Roma sebelum undang-undang tersebut disahkan. Clodius kemudian memperoleh pengesahan undang-undang kedua yang secara khusus melarang Cicero tinggal dalam jarak tertentu dari Italia dan menyita hartanya. Rumah Cicero di Bukit Palatium diruntuhkan dan sebagian lahannya didedikasikan bagi dewi Libertas.[2]
Kebijakan Clodius terhadap Cicero tidak berarti serangan umum terhadap seluruh Senat. Banyak senator tidak menghalangi pengasingan tersebut, sementara kedua konsul tahun 58 SM memperoleh provinsi dan dukungan politik melalui undang-undang Clodius.[2]
Perselisihan dengan Pompeius
Pada paruh kedua 58 SM, Clodius berbalik menentang Pompeius. Ia membantu pelarian Tigranes Muda, seorang pangeran Armenia yang menjadi tahanan Pompeius, dan kelompok pengikutnya bentrok dengan pasukan seorang praetor di Via Appia. Clodius juga menyerang Aulus Gabinius, konsul yang bersekutu dengan Pompeius, serta meragukan keabsahan beberapa tindakan Caesar tahun sebelumnya.[1][2]
Setelah dugaan rencana pembunuhan terhadap Pompeius, sang jenderal menarik diri ke rumahnya. Pompeius kemudian mendukung gerakan untuk memulangkan Cicero. Pada 57 SM, meskipun Clodius dan para pendukungnya mencoba menghalangi pemungutan suara, Cicero dipanggil kembali melalui dukungan luas Senat, magistrat, dan komunitas-komunitas Italia.[2]
Karier setelah tribunat
Setelah Cicero kembali, persaingan antara kelompok Clodius dan kelompok Titus Annius Milo berkembang menjadi bentrokan bersenjata. Milo, yang menjabat tribunus plebis pada 57 SM, mengorganisasi kelompok pendukung untuk melawan massa Clodius. Kekerasan berulang kali mengganggu sidang Senat, pertemuan rakyat, dan pemilihan magistrat.[2]
Clodius terpilih sebagai aedilis curulis untuk 56 SM. Dalam jabatan itu ia menyelenggarakan permainan dan pekerjaan umum, serta berusaha menuntut Milo atas kekerasan publik. Persidangan berubah menjadi demonstrasi dan bentrokan sehingga tidak menghasilkan putusan.[1]
Pada awal 56 SM, Clodius sempat menyerang Caesar, Pompeius, dan Crassus. Setelah Konferensi Luca, ia dan anggota keluarganya berdamai dengan kelompok tersebut. Ia kemudian membantu menciptakan keadaan politik yang mendukung terpilihnya Pompeius dan Crassus sebagai konsul pada 55 SM.[2]
Clodius tetap mempunyai hubungan dengan berbagai kelompok aristokrat dan tidak dapat ditempatkan secara tetap dalam suatu “partai” modern. Pada saat berlainan ia bekerja sama dengan Caesar, Cato, Crassus, atau Pompeius, sekaligus mempertahankan jaringan pendukungnya sendiri di Roma.[3]
Pencalonan praetor dan kematian
Pada 53 SM, Clodius mencalonkan diri sebagai praetor, sedangkan Milo mencalonkan diri sebagai konsul. Pemilihan tertunda berbulan-bulan akibat kekerasan, veto, dan ketidakmampuan negara menyelenggarakan pemungutan suara. Clodius mengumumkan rencana untuk mengubah pembagian warga merdeka bekas budak di antara suku-suku pemilih, kebijakan yang berpotensi meningkatkan pengaruh politik mereka.[11]
Pada 18 Januari 52 SM, Clodius sedang kembali dari Aricia menuju Roma melalui Via Appia. Di dekat Bovillae, rombongannya berpapasan dengan rombongan Milo yang jauh lebih besar. Setelah kedua kelompok lewat, terjadi pertengkaran antara Clodius dan salah seorang pengikut Milo. Clodius terkena lemparan tombak di bahu dan dibawa ke sebuah penginapan.[12]
Menurut komentar Asconius Pedianus atas pidato Pro Milone, Milo kemudian memerintahkan Marcus Saufeius untuk membunuh Clodius. Clodius diseret keluar dari penginapan dan ditikam hingga tewas. Narasi Asconius umumnya dipandang lebih dapat diandalkan daripada pembelaan Cicero dalam Pro Milone, yang menggambarkan Milo sebagai korban penyergapan terencana.[12]
Jenazah Clodius ditemukan oleh senator Sextus Tedius dan dibawa ke Roma. Fulvia mempertontonkan luka-lukanya kepada para pelayat. Pada hari berikutnya, para pendukung Clodius membawa jenazahnya ke Curia Hostilia dan membakarnya dengan perabot serta arsip Senat sebagai kayu bakar. Api menghancurkan gedung Senat dan merusak Basilica Porcia.[12]
Kekacauan setelah kematiannya berkontribusi pada pengangkatan Pompeius sebagai konsul tunggal. Milo diadili oleh pengadilan khusus atas kekerasan publik, dinyatakan bersalah, dan pergi ke pengasingan. Cicero menjadi pembelanya, tetapi pidato yang kemudian diterbitkan sebagai Pro Milone berbeda dari pidato yang disampaikan dalam persidangan.[12][13]
Warisan dan penilaian
Pembagian gandum cuma-cuma yang diperkenalkan Clodius bertahan setelah berakhirnya Republik dan menjadi bagian tetap kebijakan pangan pada masa Kekaisaran. Pemanfaatannya atas collegia, pertemuan rakyat, patronase, dan mobilisasi massa menunjukkan pentingnya plebs perkotaan dalam politik Republik akhir.[2][14]
Taktik Clodius juga memperkuat kekerasan politik, meskipun penggunaan massa dan kelompok bersenjata bukan penemuannya dan tidak terbatas pada satu faksi. Milo, Pompeius, dan politikus lain juga membentuk jaringan pengikut untuk menguasai jalan, tempat pemungutan suara, dan sidang politik.[2]
Reputasi Clodius selama berabad-abad didominasi oleh tulisan Cicero, yang menggambarkannya sebagai kriminal, penjahat seksual, dan musuh negara. Historiografi abad ke-19 dan awal abad ke-20 sering mengikuti gambaran tersebut atau memperlakukannya sebagai alat para triumvir. Sejak kajian Erich Gruen dan Andrew Lintott pada 1960-an, para sejarawan lebih banyak menekankan kemandirian politiknya, kemampuan membangun koalisi lintas kelompok, serta keterbatasan sumber-sumber yang bermusuhan dengannya.[3][15]
Clodius memengaruhi sejumlah politikus kemudian. Publius Cornelius Dolabella, seorang patrisius yang juga berpindah ke golongan plebs untuk menjadi tribunus plebis, mendirikan patung-patung Clodius dan menggunakan sebagian simbol politiknya pada 47 SM.[2]
Sumber utama mengenai Clodius meliputi surat dan pidato Cicero—terutama De domo sua, Pro Sestio, De haruspicum responsis, In Pisonem, dan Pro Milone—serta karya Asconius Pedianus, Kasius Dio, Plutarkhos, dan Velleius Paterculus. Karya-karya Cicero menyediakan informasi paling rinci, tetapi ditulis dalam konteks perseteruan politik dan retorika pengadilan. Asconius, yang menulis pada abad pertama Masehi dengan memanfaatkan sumber-sumber yang kini hilang, sangat penting bagi rekonstruksi kematian Clodius dan persidangan Milo.[12][2]
1234567891011Chilver, Guy Edward Farquhar; Lintott, Andrew (2016). "Clodius Pulcher, Publius". Oxford Classical Dictionary (dalam bahasa Inggris) (Edisi 4). Oxford University Press. doi:10.1093/acrefore/9780199381135.013.1686.
123Gruen, Erich S. (1966). "P. Clodius: Instrument or Independent Agent?". Phoenix (dalam bahasa Inggris). 20 (2): 120–130. doi:10.2307/1086053. JSTOR1086053.
↑Riggsby, Andrew M. (2002). "Clodius / Claudius". Historia: Zeitschrift für Alte Geschichte (dalam bahasa Inggris). 51 (1): 117–123. JSTOR4436643.
↑McDermott, William C. (1970). "The Sisters of P. Clodius". Phoenix (dalam bahasa Inggris). 24 (1): 39–47. doi:10.2307/1087402. JSTOR1087402.
12Broughton, T. Robert S. (1952). The Magistrates of the Roman Republic (dalam bahasa Inggris). Vol.2. New York: American Philological Association.
12Alexander, Michael Charles (1990). Trials in the Late Roman Republic, 149 BC to 50 BC (dalam bahasa Inggris). Toronto: University of Toronto Press. ISBN978-0-8020-5787-7.
↑Millar, Fergus (1998). The Crowd in Rome in the Late Republic (dalam bahasa Inggris). Ann Arbor: University of Michigan Press. ISBN978-0-472-10892-3.
↑Morrell, Kit (2023). "P. Clodius Pulcher and the Praetorship That Never Was". Historia: Zeitschrift für Alte Geschichte (dalam bahasa Inggris). 72 (1): 29–57. doi:10.25162/historia-2023-0002.
12345Berry, Dominic (2008). "Pro Milone: Introduction". Cicero: Defence Speeches (dalam bahasa Inggris). Oxford: Oxford University Press. hlm.162–182. ISBN978-0-19-953790-7.
↑Ramsey, John T. (2016). "How and Why Was Pompey Made Sole Consul in 52 BC?". Historia: Zeitschrift für Alte Geschichte (dalam bahasa Inggris). 65 (3): 298–324. doi:10.25162/historia-2016-0017. JSTOR45019234.
↑Millar, Fergus (1998). The Crowd in Rome in the Late Republic (dalam bahasa Inggris). Ann Arbor: University of Michigan Press. ISBN978-0-472-10892-3.
↑Lintott, Andrew W. (1967). "P. Clodius Pulcher—Felix Catilina?". Greece & Rome (dalam bahasa Inggris). 14 (2): 157–169. doi:10.1017/S0017383500017204. JSTOR642452.
Daftar pustaka
Alexander, Michael Charles (1990). Trials in the Late Roman Republic, 149 BC to 50 BC (dalam bahasa Inggris). Toronto: University of Toronto Press. ISBN978-0-8020-5787-7.
Berry, Dominic (2008). Cicero: Defence Speeches (dalam bahasa Inggris). Oxford: Oxford University Press. ISBN978-0-19-953790-7.
Broughton, T. Robert S. (1952). The Magistrates of the Roman Republic (dalam bahasa Inggris). Vol.2. New York: American Philological Association.
Chilver, Guy Edward Farquhar; Lintott, Andrew (2016). "Clodius Pulcher, Publius". Oxford Classical Dictionary (dalam bahasa Inggris) (Edisi 4). Oxford University Press. doi:10.1093/acrefore/9780199381135.013.1686.
Gruen, Erich S. (1966). "P. Clodius: Instrument or Independent Agent?". Phoenix (dalam bahasa Inggris). 20 (2): 120–130. doi:10.2307/1086053. JSTOR1086053.
Millar, Fergus (1998). The Crowd in Rome in the Late Republic (dalam bahasa Inggris). Ann Arbor: University of Michigan Press. ISBN978-0-472-10892-3.
Tatum, W. Jeffrey (1999). The Patrician Tribune: Publius Clodius Pulcher (dalam bahasa Inggris). Chapel Hill: University of North Carolina Press. ISBN978-0-8078-2480-1.
Bacaan lanjutan
Benner, Herbert (1987). Die Politik des P. Clodius Pulcher (dalam bahasa Jerman). Stuttgart: Franz Steiner Verlag.
Fezzi, Luca (2008). Il tribuno Clodio (dalam bahasa Italia). Laterza. ISBN978-88-420-8715-1.
Moreau, Philippe (1982). Clodiana religio: un procès politique en 61 av. J.-C (dalam bahasa Prancis). Paris: Les Belles Lettres.