Portus JuliusSisa-sisa pelabuhan dan bangunan yang terendam (abu-abu)
Portus Julius (tulisan alternatif Portus Iulius) merupakan pelabuhan pertama yang dibangun secara khusus sebagai pangkalan bagi armada angkatan laut Romawi wilayah barat, classis Misenensis. Pelabuhan ini terletak di dekat Baiae dan terlindungi oleh Semenanjung Misenum di ujung barat laut Teluk Napoli. Portus Julius dinamai untuk menghormati paman buyut sekaligus ayah angkat Octavianus, Julius Caesar, serta klan Julian.[1]
Pembangunan Portus Julius
Alur menuju pelabuhanPila pelabuhan Romawi yang terendam
Selama masa perang saudara yang berlangsung sejak tahun 39 SM—menyusul Kesepakatan Misenum—Octavianus sangat membutuhkan pelabuhan laut yang aman untuk membangun dan melatih armada guna melancarkan kampanye militer melawan Sextus Pompeius (putra bungsu Pompeius Agung). Sextus saat itu kerap melancarkan serangan mendadak ke wilayah Italia serta mengganggu jalur pelayaran yang menjadi akses pasokan gandum bagi Roma. Untuk melaksanakan operasi ini, Octavianus mengandalkan rekan terdekat sekaligus yang paling cakap, Marcus Agrippa, serta arsitek pilihannya, Cocceius.
Agrippa menyadari bahwa Danau Avernus tidak terlihat dari perairan laut maupun teluk di sekitarnya; ia berpendapat bahwa keberadaan armada di sana dapat disembunyikan dari angkatan laut Sextus hingga saatnya tiba untuk melancarkan serangan. Rencana Agrippa tersebut dilaksanakan pada kurun waktu 37–36 SM.[2] Rencana tersebut adalah membangun kanal yang menghubungkan Danau Avernus menuju ke Lucrinus Lacus (Danau Lucrino) dan kanal kedua yang lebih pendek dengan pintu masuk tersembunyi di antara Danau Lucrino dan laut.[3] Sebuah terowongan akses jalan yang panjang, Grotta di Cocceio, juga digali dari Danau Avernus ke arah utara menuju kota Cumae.[4] Tantangan teknisnya sangat besar dan pencapaiannya begitu luar biasa hingga baik Virgil[5] maupun Pliny[6] menyebut pelabuhan tersebut sebagai salah satu keajaiban buatan manusia di Italia.
Pelabuhan tersebut dilindungi oleh tembok laut panjang yang membentang dari Punta dell'Epitaffio hingga Punta Caruso di tepi berpasir Danau Lucrinus, dan di atasnya melintas Via Herculanea. Pada tembok tersebut terdapat saluran yang memungkinkan kapal memasuki cekungan Lucrino (sementara lalu lintas darat melintas di atas jembatan kayu). Pelabuhan luar di balik Tanjung Misenum kemungkinan besar digunakan oleh kapal-kapal aktif angkatan laut Romawi dan menyediakan ruang untuk latihan, sedangkan bagian dalamnya[7] kemungkinan dirancang untuk armada cadangan, perbaikan kapal, serta tempat berlindung dari badai.
Strategi inovatif Agrippa terbukti berhasil karena pembangunan armada baru tersebut tidak diketahui oleh armada Sextus yang terus bergerak. Setelah rampung, lengkap dengan perlengkapan dan awak yang terlatih, armada Agrippa bertolak dari pangkalan rahasianya dan mengalahkan Sextus dalam Pertempuran Naulochus (di lepas pantai utara Sisilia)—sebuah pertempuran laut yang menjadi penentu jalannya kampanye militer tersebut.
Peninggalan dan Pelabuhan Baru di Misenum
Tanjung Miseno
Tak lama setelah berakhirnya perang melawan Sextus dengan kemenangan, Portus yang pertama ditinggalkan akibat penumpukan endapan lumpur yang mengganggu kelayakan navigasinya.[butuh rujukan] Karena kerahasiaan tidak lagi diperlukan, Misenum yang terletak di dekatnya menjadi lokasi bagi pangkalan angkatan laut kedua yang lebih besar pada tahun 12 SM.[8] Kawasan pelabuhan tersebut kembali menjadi tempat suci bagi dewa-dewa dunia bawah dan lokasi pemandian air panas, serta kawasan hunian mewah. Pada akhir abad ke-5, pemecah gelombang Portus Iulius tenggelam akibat fenomena Bradyseisme.[9]
Bangsa Romawi membangun pemecah gelombang baru di dekat Misenum, dan pangkalan tersebut memperoleh pasokan air dari saluran air Aqua Augusta yang juga melayani Cumae, Neapolis, Pompeii, serta kota-kota lain di sekitar teluk.
Berkat lokasinya, wilayah ini menguasai seluruh pesisir barat Italia, pulau-pulau sekitarnya, dan Selat Messina.
Kondisi sekarang
Perairan Portus Julius yang asli masih dapat dilihat hingga kini, meskipun ukurannya jauh lebih kecil. Hal ini disebabkan oleh menyusutnya luas Danau Lucrino—salah satu danau di pelabuhan Romawi tersebut—akibat munculnya bukit vulkanik besar di tengah danau pada abad ke-16 (yang kini dikenal sebagai Monte Nuovo atau "gunung baru") serta akibat penurunan permukaan garis pantai.
Bagian luar pelabuhan tersebut kini berada sekitar 5 meter di bawah permukaan laut akibat fenomena Bradyseisme vulkanik yang menyebabkan penurunan permukaan tanah selama berabad-abad; sebagian area pelabuhan dapat dilihat melalui perahu berlantai kaca atau dengan melakukan selam skuba.[10]