Pembuatan kreosot ter kayu dari kayu yang mengandung resin[1]
Penyulingan kering atau distilasi kering adalah proses pemanasan bahan padat untuk menghasilkan produk berbentuk gas (yang kemudian dapat mengembun menjadi cairan atau padatan). Metode ini dapat melibatkan pirolisis atau termolisis, atau bahkan tidak melibatkan keduanya (misalnya, campuran sederhana antara es dan kaca dapat dipisahkan tanpa memutus ikatan kimia, sedangkan bahan organik mengandung keragaman molekul yang lebih besar sehingga sebagian di antaranya kemungkinan akan terurai).
Apabila tidak terjadi perubahan kimia, melainkan hanya perubahan wujud, proses ini menyerupai penyulingan klasik, meskipun umumnya memerlukan suhu yang lebih tinggi. Penyulingan kering yang melibatkan perubahan kimia merupakan salah satu bentuk penyulingan destruktif atau perengkahan.
Kegunaan
Metode ini telah digunakan untuk memperoleh bahan bakar cair dari batu bara dan kayu. Metode ini juga dapat digunakan untuk menguraikan garam mineral, seperti sulfat (SO42-) melalui proses termolisis. Dalam proses tersebut dihasilkan gas belerang dioksida (SO2) atau belerang trioksida (SO3), yang kemudian dapat dilarutkan dalam air untuk menghasilkan asam sulfat. Melalui metode inilah asam sulfat pertama kali dikenali dan diproduksi secara buatan. Ketika bahan-bahan yang berasal dari tumbuhan, seperti batu bara, minyak serpih, gambut, atau kayu dipanaskan tanpa adanya udara (penyulingan kering), bahan tersebut akan terurai menjadi gas, produk cair, dan kokas atau arang. Hasil serta sifat kimia produk-produk penguraian tersebut bergantung pada jenis bahan baku dan kondisi penyulingan kering yang dilakukan. Penguraian yang berlangsung pada kisaran suhu 450 °C hingga sekitar 600 °C disebut karbonisasi atau pengawagasan (degassing) suhu rendah. Pada suhu di atas 900 °C, proses tersebut disebut pembuatan kokas atau pengawagasan suhu tinggi.[2] Jika batu bara digasifikasi untuk menghasilkan gas batu bara atau dikarbonisasi menjadi kokas, maka ter batu bara merupakan salah satu produk sampingnya.
Kayu
Ketika kayu dipanaskan hingga suhu di atas 270 °C kayu mulai mengalami karbonisasi. Jika tidak ada udara, produk akhirnya adalah arang, karena tidak ada oksigen yang dapat bereaksi dengan kayu. Namun, jika terdapat udara (yang mengandung oksigen), kayu akan terbakar ketika mencapai suhu sekitar 400–500 °C, dan produk akhirnya adalah abu kayu. Jika kayu dipanaskan tanpa adanya udara, mula-mula kandungan airnya akan menguap. Selama proses penguapan ini berlangsung, suhu kayu tetap berada pada kisaran 100–110 °C. Setelah kayu benar-benar kering, suhunya mulai meningkat, dan pada sekitar 270 °C kayu mulai terurai secara spontan. Reaksi eksotermik inilah yang dikenal terjadi dalam proses pembuatan arang. Pada tahap tersebut, produk-produk samping karbonisasi kayu mulai terbentuk. Zat-zat tersebut dilepaskan secara bertahap seiring kenaikan suhu, dan pada sekitar 450 °C proses pelepasannya selesai. Residu padat yang tersisa berupa arang sebagian besar terdiri atas karbon (sekitar 70%) serta sejumlah kecil zat berter. Zat-zat berter ini hanya dapat dihilangkan atau diuraikan sepenuhnya dengan menaikkan suhu hingga lebih dari 600 °C.
Dalam praktik tradisional pembuatan arang, pemanasan dilakukan dengan membakar sebagian kayu sehingga seluruh uap dan gas hasil samping terlepas ke atmosfer sebagai asap. Produk-produk samping tersebut dapat dipulihkan dengan mengalirkan gas buang melalui serangkaian kondensor berpendingin air sehingga diperoleh cuka kayu. Sementara itu, gas kayu yang tidak mengembun akan terus melewati kondensor dan dapat dibakar sebagai bahan bakar. Gas kayu umumnya memiliki komposisi 17Â % metana; 2Â % hidrogen; 23Â % karbon monoksida; 38Â % karbon dioksida; 2Â % oksigen; dan 18Â % nitrogen. Nilai kalor gas kayu adalah sekitar 10,8 MJ/m3 (290 BTU/ft3), yaitu sekitar sepertiga dari nilai kalor gas alam.[3] Apabila kayu dari pohon peluruh disuling, produk yang dihasilkan adalah metanol (alkohol kayu) dan arang. Penyulingan kayu pinus akan menghasilkan ter pinus dan gegala, yang menetes keluar dari kayu dan menyisakan arang. Sementara itu, ter betula yang berasal dari kulit kayu betula merupakan ter berkualitas tinggi yang dikenal sebagai "minyak Rusia", dan banyak digunakan untuk melindungi kulit samak. Produk samping lain dari ter kayu meliputi terpentin dan arang.
Tungku ter merupakan tungku penyulingan kering yang secara historis digunakan di wilayah Skandinavia untuk memproduksi ter dari kayu. Tungku ini dibangun di dekat hutan, biasanya menggunakan batu kapur atau berupa lubang sederhana di dalam tanah. Bagian dasarnya dibuat miring menuju saluran keluaran agar ter dapat mengalir keluar. Kayu dibelah menjadi potongan seukuran jari, kemudian disusun rapat dan ditutup rapat menggunakan tanah serta lumut. Jika oksigen masuk ke dalam tungku, kayu dapat terbakar sehingga proses produksi ter akan gagal. Di bagian atas tungku dibuat tumpukan kayu bakar yang kemudian dinyalakan. Setelah beberapa jam, ter mulai mengalir keluar, dan proses ini terus berlangsung selama beberapa hari.