Pasukan Prancis pimpinan Charles menguasai Brittany timur dan menangkap Jean dari Montfort. Jeanne mengambil alih kepemimpinan perjuangan tersebut dan mengonsentrasikan sumber dayanya di Hennebont. Pada akhir Mei 1342, Charles bergerak menuju kota tersebut. Setibanya di sana, sebagian pasukannya maju melanggar perintah dan menyerang beberapa pasukan bertahan kota yang bersiap di luar gerbang. Lebih banyak pasukan ditarik ke dalam pertarungan ini sebelum pasukan Prancis terdesak mundur secara kacau. Kubu Montfort mengejar, menimbulkan banyak korban jiwa dan membakar perkemahan Prancis. Dua hari kemudian, pasukan Prancis melancarkan serangkaian serangan yang direncanakan dengan lebih baik, tetapi semuanya berhasil dipatahkan. Pasukan utama Prancis melanjutkan pergerakannya, meninggalkan sebuah detasemen untuk mencoba membuat kota tersebut kelaparan hingga menyerah. Pada akhir Juni, setelah sepasukan kecil tentara Inggris memperkuat kota tersebut melalui jalur laut, detasemen ini pun pergi. Pada bulan Juli, Charles mendapat bala bantuan besar dan kembali; kubu Montfort meninggalkan Hennebont dan mengatur ulang posisi lebih jauh ke barat, berharap mendapatkan bala bantuan Inggris.
Latar belakang
Brittany adalah sebuah provinsi di Prancis. Meskipun para adipati Brittany adalah vasal dari raja-raja Prancis, mereka memerintah kadipaten tersebut layaknya penguasa independen.[2][3][4] Kendati demikian, ketika Perang Seratus Tahun pecah pada tahun 1337 antara Prancis dan Inggris, Adipati Brittany, Jean III, bertempur di samping tuan feodal-nya, Raja Prancis, Philippe VI. Jean wafat pada 30 April 1341, meninggalkan perebutan takhta penerusan: baik keponakannya, Jeanne dari Penthièvre, maupun adik tiri laki-lakinya, Jean dari Montfort, sama-sama mengklaim kadipaten tersebut. Jeanne menikah dengan Charles dari Blois, seorang bangsawan Prancis berkoneksi luas dan berlatar belakang militer yang juga merupakan keponakan Raja Philippe.[5][6][7] Jean memiliki klaim hukum yang lebih kuat, tetapi kalangan bangsawan dan rohaniwan kurang mengenalnya dan lebih menyukai Charles. Dukungan Jean sebagian besar datang dari lapisan masyarakat bawah di pedesaan, serta kaum borjuis di perkotaan.[8][9][10]
Mulai awal Juni 1341, Jean merebut sebagian besar wilayah berbenteng di Brittany dan pada pertengahan Agustus ia telah berhasil menegaskan klaimnya atas kadipaten tersebut. Philippe awalnya mengabaikan situasi ini, tetapi setelah dengan tepat mengendus bahwa Jean sedang bernegosiasi dengan pihak Inggris, ia menyatakan Charles sebagai ahli waris yang sah pada 7 September. Raja Prancis menyukai gagasan bahwa adipati baru tersebut memiliki hubungan kekerabatan dengannya, karena hal itu akan membawa provinsi yang secara tradisional semi-otonom tersebut ke bawah kendali kerajaan secara lebih kuat. Ia bersedia mengerahkan sumber daya militer yang besar untuk mencapai hal ini dan mengirimkan sepasukan tentara yang dikomandoi oleh putra sulungnya, Jean, Adipati Normandia, untuk mendukung Charles. Hal ini memicu pecahnya Perang Saudara Breton.[11][12][13]
Peta Brittany, dengan batas-batas administratif modern, yang menunjukkan lokasi beberapa tempat yang disebutkan dalam teks
Dalam enam bulan sejak September 1341, pasukan Prancis menguasai seluruh Brittany timur selain Rennes dan menangkap Jean dari Montfort. Jean menyerah setelah dijanjikan jaminan keselamatan untuk pergi ke Paris dan kembali oleh Jean, Adipati Normandia, yang mengawalnya. Di Paris, Philippe mengajukan tawaran kepada Jean agar ia melepaskan seluruh klaim atas Brittany dan kepemilikannya di sana demi Charles dari Blois, dengan imbalan menerima anuitas dan tanah di Prancis. Jean menolak, yang membuat Philippe mencabut janji jaminan keselamatan dari putranya dan memenjarakan Jean.[14][15] Istri Jean, Jeanne dari Montfort, berada di Rennes bersama putra mereka yang berusia dua tahun, yang juga bernama Jean, serta perbendaharaan kadipaten ketika kabar penangkapan Jean tiba. Para sejarawan modern menganggapnya sebagai pemimpin yang energik dan efektif, serta bertindak secara tegas dan agresif. Ia memanggil kembali pasukan tempur dari Brittany barat, menggabungkannya dengan sejumlah pasukan di Rennes, dan mengambil alih komando. Ia menggempur kota Redon dan kemudian bergerak ke Hennebont, sebuah kota kecil tetapi berbenteng kokoh dengan akses ke laut. Dari sana, Jeanne mempertahankan kendali atas sebagian besar Brittany barat dan menjadikan putranya yang masih balita sebagai pemuka faksi dan ahli waris atas klaim ayahnya terhadap kadipaten tersebut.[16][17][18]
Pada 15 April, Charles bergerak menuju Rennes. Rakyat menangkap komandan yang ditinggalkan oleh Jeanne dan menyerahkan diri kepada pasukan Prancis. Tidak lama kemudian, sepasukan kecil tentara Inggris beranggotakan 234 prajurit di bawah pimpinan Sir Walter Mauny tiba di Brest di Brittany barat. Mereka dikirim mendahului pasukan utama Inggris untuk memperkuat garnisun pelabuhan-pelabuhan utama Breton; Mauny kemungkinan besar berada di bawah perintah untuk tidak menyerang pasukan Prancis sampai gencatan senjata berakhir.[23] Edward berencana untuk mendarat sendiri di Brittany pada bulan Juni dengan pasukan yang besar, tetapi mengalami kesulitan luar biasa dalam mengumpulkan kapal.[24][b] Pasukan Mauny melakukan bentrokan-bentrokan kecil di wilayah barat dengan sedikit hasil, sementara Charles memisahkan sebagian pasukannya untuk mengepung Vannes dan memimpin sisa pasukannya menuju Hennebont.[27]
Jeanne dan para wanitanya menyambut pasukan bantuan Inggris
Kota tersebut memiliki garnisun yang besar dan moral pasukannya tinggi. Pasukan Prancis tiba pada akhir Mei. Beberapa tentara bayaran Spanyol dan Italia maju melanggar perintah dan bertempur dengan sekelompok pasukan bertahan yang bersiap di depan gerbang kota. Anak buah Charles terdesak dalam pertarungan ini tetapi tidak dapat mundur; ia terpaksa mengirim lebih banyak pasukan ke depan dalam kelompok-kelompok kecil secara bertahap untuk mencoba memukul mundur kubu Montfort untuk sementara waktu dan memungkinkan pasukannya yang terburu-buru itu untuk mundur. Kubu Montfort juga menambah pasukan ke dalam pertarungan melalui gerbang, sehingga upaya Charles untuk memfasilitasi penarikan mundur yang terorganisir gagal; seluruh serangan berhasil dipukul mundur secara kacau dengan banyak korban tewas. Kubu Montfort mengejar pasukan Prancis dan membakar sebagian besar perkemahan mereka yang baru didirikan.[15] Menurut catatan sezaman, Jeanne menunggang kuda melewati pinggiran kota dengan zirah lengkap untuk memberi semangat kepada para prajurit.[15] Ia kelak diberi julukan Jeanne la Flamme (terj. har. 'Jeanne sang Api').[28]
Jeanne dari Flandria melihat armada Inggris yang tiba untuk membebaskan Hennebont, 1342. Ilustrasi dari Sejarah Prancis karya François Guizot, 1869
Keesokan harinya, Charles menjajaki pertahanan kota dan pada hari kedua setelah kedatangannya, ia berulang kali memerintahkan serangan terhadap kota tersebut; semuanya berhasil dipatahkan dengan kerugian besar di pihak penyerang.[29] Pada awal Juni, pasukan Prancis bersiap untuk melakukan pengepungan berkepanjangan dengan harapan bahwa kelaparan akan memaksa kota tersebut menyerah. Charles memindahkan pasukan utamanya ke Auray, meninggalkan sepasukan kecil tentara bayaran—yang sebagian besar berasal dari Spanyol—serta beberapa mesin kepung untuk melanjutkan pengepungan di Hennebont di bawah komando Louis dari Spanyol, seorang ekspatriat Spanyol yang sebelumnya menjabat sebagai laksamana Prancis.[30]
Charles menjanjikan pengampunan dan insentif keuangan dalam upaya membujuk kubu Montfort agar kembali berpihak kepada Prancis. Beberapa di antaranya cenderung ingin mencari persyaratan damai sebaik yang bisa mereka dapatkan,[31] tetapi mayoritas dewan penasihat Jeanne tetap teguh bertahan. Pengkhianatan Philippe atas jaminan keselamatan yang sebelumnya diberikan oleh Adipati Jean kepada Jean dari Montfort menimbulkan ketidakpercayaan yang mendalam terhadap janji-janji semacam itu. Pada suatu waktu di bulan Juni, Mauny membawa pasukannya menyusuri muara sungai untuk memasok ulang perbekalan dan memperkuat Hennebont. Pada akhir Juni, para pengepung telah membongkar mesin-mesin kepung mereka dan pergi. Charles juga menarik mundur pasukannya dari pengepungan Auray.[31][32]
Dampak
Pasukan Prancis memobilisasi lebih dari 10.000 prajurit, mungkin jauh lebih banyak, pada akhir Juni untuk musim kampanye militer dan sebagian besar dari mereka dialokasikan untuk memperbarui serangan di Brittany. Pada awal Juli dampaknya mulai terasa: kubu Montfort di Auray kehabisan makanan dan meninggalkan kota tersebut di malam hari, Vannes menyepakati persyaratan penyerahan diri dan jatuh ke tangan Prancis, serta banyak tempat lainnya juga beralih memihak Prancis. Jeanne menganggap posisinya di Hennebont tidak dapat dipertahankan dan meninggalkannya menuju Brest, tempat Charles kembali mengepungnya pada bulan Agustus.[33] Lebih dari 2.000 tentara Inggris mendarat di Brest pada 18 Agustus, membebaskan kota tersebut dan menyebabkan Charles menarik pasukannya dari Brittany barat. Pasukan Inggris kemudian bergerak menuju Morlaix, sebuah kota di pantai utara dengan benteng yang kokoh dan pelabuhan yang aman sejauh 50 kilometer (30 mil) dari Brest, dan mengepungnya.[34][35] Charles kini menyadari bahwa pasukannya jauh mengungguli jumlah tentara Inggris dan ia berusaha membebaskan Morlaix, tetapi ia dikalahkan pada 30 September dalam Pertempuran Morlaix.[36][c]Edward III mendarat di Brest bersama 3.000 prajurit tambahan pada 26 Oktober, bergerak menuju dan mengepung Vannes, hingga akhirnya menyepakati Gencatan Senjata Malestroit pada 19 Januari 1343.[39][40] Permusuhan tidak berlanjut kembali hingga Juni 1345.[41] Jeanne pergi ke Inggris, tidak mengambil bagian lebih lanjut dalam perang tersebut, dan wafat pada September 1374. Ia tinggal di Kastel Tickhill dan pada saat itu tersiar kabar bahwa ia telah menjadi gila; hal ini diterima oleh sebagian besar sejarawan, meskipun ada anggapan bahwa ia dikurung karena alasan politik, bukan karena gangguan jiwa.[42][43] Suaminya wafat lebih dulu darinya pada tahun 1345.[44]
↑Joanna dari Montfort juga dirujuk dalam beberapa sumber sebagai Joan atau Joanna dari Flandria.[1]
↑Menurut hukum adat Inggris (common law), Mahkota Kerajaan diwajibkan memberikan kompensasi kepada pemilik kapal yang disita paksa untuk tugas militer, tetapi dalam praktiknya raja membayar sedikit dan terlambat, yang menyebabkan para pemilik kapal enggan memenuhi panggilan perang.[25][26]
↑Morlaix merupakan pertempuran darat besar pertama baik dalam Perang Saudara Breton maupun Perang Seratus Tahun.[37][38]
Graham-Goering, Erika (2020). Princely Power in Late Medieval France: Jeanne de Penthièvre and the War for Brittany. Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 978-1-108-80554-4.
Jones, Michael (1999). "War and Fourteenth-Century France". Dalam Curry, Anne; Hughes, Michael (ed.). Arms, Armies and Fortifications in the Hundred Years War. Woodbridge, Suffolk: Boydell & Brewer. hlm. 103–120. ISBN 978-0-85115-755-9.