Penembakan masjid Christchurch adalah serangkaian serangan teror supremasis kulit putih yang terjadi di Masjid Al Noor dan Linwood Islamic Centre di Christchurch, Selandia Baru, pada pukul 13.40 tanggal 15 Maret 2019 NZDT (07.40 WIB). Sedikitnya 50 orang tewas dan 20 lainnya terluka akibat serangan ini. Tiga orang tersangka telah ditangkap, satu di antaranya telah didakwa di pengadilan. Perdana Menteri Jacinda Ardern dan kepala negara lainnya menyebut serangan ini sebagai serangan teroris.[2][3] Pelakunya adalah seorang pria Australia, Brenton Tarrant, yang saat itu berusia 28 tahun.
Tarrant ditangkap setelah kendaraannya ditabrak mobil polisi saat ia sedang berkendara menuju masjid ketiga di Ashburton. Ia menyiarkan langsung penembakan pertama di Facebook, menandai serangan teror sayap kanan pertama yang berhasil disiarkan langsung, dan telah menerbitkan manifesto daring sebelum serangan tersebut. Pada 26 Maret 2020, ia mengaku bersalah[4][5] atas 51 pembunuhan, 40 percobaan pembunuhan, dan terlibat dalam aksi teroris,[6] dan pada bulan Agustus dijatuhi hukuman penjara seumur hidup tanpa kemungkinan pembebasan bersyarat – hukuman pertama di Selandia Baru.[7][8]
Serangan itu dikaitkan dengan peningkatan supremasi kulit putih dan ekstremisme sayap kanan alternatif secara global[10][11][12] yang diamati sejak sekitar tahun 2015.[13][14] Para politisi dan pemimpin dunia mengutuknya,[15] dan Perdana Menteri, Jacinda Ardern, menggambarkannya sebagai "salah satu hari tergelap di Selandia Baru".[16] Pemerintah membentuk komisi kerajaan ke dalam badan keamanannya setelah penembakan tersebut, yang merupakan penembakan paling mematikan dalam sejarah Selandia Baru modern dan terburuk yang pernah dilakukan oleh warga negara Australia.[17][18] Komisi tersebut menyerahkan laporannya kepada pemerintah pada tanggal 26 November 2020,[26] yang rinciannya dipublikasikan pada tanggal 7 Desember.[19]
Serangan terjadi di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru. Informasi yang didapatkan menyatakan 49 orang tewas dan 20 orang lainnya mengalami luka-luka.[3][21][22] Menurut keterangan Perdana Menteri Jacinda Ardern, pelaku utama penyerangan memakai 5 senjata dalam aksinya ini: 2 senjata semi-otomatis, dan si penyerang berada pada posisi kepemilikan senjata. Ditemukan pula sebuah senjata api pengungkit. Lisensi senjata pelaku peroleh pada November 2017, dan senjata baru dibeli secara resmi pada Desember 2017.[23]Duta BesarIndonesia untuk Selandia Baru, Tantowi Yahya pada pukul 23.30 waktu setempat menyatakan bahwa total ada delapan warga negara berkebangsaan Indonesia di dua lokasi penembakan. Setidaknya ada dua orang warga negara berkebangsaan Indonesia yang menjadi korban penembakan yang berada di Linwood Islamic Centre.[24][25]Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia menyatakan bahwa ada 6 WNI yang berada di sekitar tempat kejadian perkara saat berlangsungnya peristiwa ini. 2 orang WNI tersebut dibawa ke rumah sakit setempat. Dari 6 WNI itu, 3 orang diketahui telah menyelamatkan diri.[26] Ini adalah penembakan massal pertama di Selandia Baru sejak pembantaian Raurimu tahun 1997[27][28][29] dan serangan paling mematikan di Selandia Baru sejak kerusuhan kamp tawanan perang Featherston tahun 1943 yang juga menewaskan 49 orang.[30]
Dalam video yang disiarkan, pelaku mula-mula memarkirkan mobilnya di sebuah gang dekat Masjid Al Noor dan membawa sebuah senapan laras panjang sebelum akhirnya menembak pria di depan masjid yang menyapanya "Hello brother" (Halo, saudaraku),[39][40][41] memasukki lorong masjid dan kemudian sampai ke ruang utama dimana para jamaah berlindung di sudut kiri dan kanan ruang utama dimana pelaku meneruskan penembakannya. Salah satu jamaah berniat untuk menerobosnya tetapi ikut tertembak. Pelaku kemudian kembali ke mobil sesambil melakukan tembakan lain di luar masjid dan mengambil senjata lain dimana ia langsung kembali ke ruang utama masjid untuk menembaki tumpukan kerumunan untuk memastikan keadaan mereka. Saat pelaku keluar masjid untuk kedua kalinya, pelaku menembaki seorang wanita dan kemudian kabur memakai mobilnya sebelum akhirnya dihadang oleh polisi.
Tantowi Yahya menyatakan bahwa ada 6 warga negara Indonesia yang sedang melaksanakan shalat jumat di masjid Al Noor,[42] dari lima warga negara Indonesia telah melaporkan ke KBRI Wellington bahwa mereka dalam keadaan sehat dan selamat tetapi salah satu warga negara Indonesia yang teridentifikasi sebagai Lilik Abdul Hamid hingga kini belum diketahui keberadaanya,[24] pada 16 Maret 2019, Kementerian Luar Negeri RI melalui Kedutaan Besar di Wellington merilis bahwa korban telah meninggal dunia kabar ini disampaikan oleh pengurus masjid Al Noor pada sore hari waktu setempat.[43]Kedubes RI mengkonfirmasi bahwa ada dua warga negara Indonesia yang menjadi korban penembakan yang merupakan seorang ayah dan anak.[44] Warga yang rumahnya bersebelahan dengan masjid melaporkan bahwa ia melihat pelaku kabur dari masjid dan menjatuhkan senjata api di pintu masuk.[45]
Linwood Islamic Centre
Pelaku kedua menyerang Linwood Islamic Centre.[46][47] Seorang jamaah Muslim menggunakan senjata api pribadinya untuk menghentikan serangan di Linwood Centre. Ia menyerang pelaku dan menembak balik.[48] Polisi membenarkan bahwa kejadian ini adalah serangan ganda yang dilakukan secara bersamaan.[49] Tantowi juga menyatakan bahwa dua korban berkebangsaan Indonesia tersebut telah diidentifikasi sebagai ayah dan anak. Sang ayah bernama Zulfirman Syah yang merupakan seniman asal Padang yang kini tengah dirawat di ruang ICU Christchurch Hospital mengalami luka tembak pada kaki dan punggungnya, sedangkan anaknya dalam kondisi yang stabil dan sudah dapat bertemu dengan Alta Marie, istri Zulfirman Syah berkewarganegaraan Amerika Serikat yang memberikan informasi tentang korban di akun Facebook-nya.[24][50]
Alat peledak
Polisi juga menemukan dua alat peledak improvisasi yang terpasang di sebuah mobil, namun sebelum meledak Angkatan Pertahanan Selandia Baru telah menjinakkan bom tersebut.[51] Tidak ada bahan peledak yang ditemukan pada tersangka.[52]
Tersangka
Komisaris PolisiMike Bush awalnya mengatakan bahwa tiga laki-laki dan satu perempuan ditangkap dan diduga terlibat dalam serangan ini.[31][53] Mereka menganut pandangan ekstremis. Satu di antaranya diketahui tidak terlibat dan dibebaskan.[54][55]
Siaran langsung dari peristiwa ini tersebar di berbagai situs video, termasuk LiveLeak dan YouTube.[63] Polisi, organisasi Muslim, dan pemerintah meminta masyarakat untuk menghapus atau melaporkan rekaman tersebut.[64] Media Australia menuai kritik karena menyiarkan rekaman langsung peristiwa ini di televisi, terlebih setelah diketahui bahwa pelakunya warga negara Australia.[65]
Beberapa sekolah di dekat lokasi kejadian langsung ditutup.[53] Pihak berwenang meminta semua masjid di Selandia Baru ditutup sampai pemberitahuan lebih lanjut. Mereka juga mengerahkan personel untuk mengamankan semua masjid.[66] Sebagai upaya antisipasi, semua penerbangan Air New Zealand Link yang berangkat dari Bandar Udara Christchurch dibatalkan karena tidak ada pemeriksaan keamanan.[67]
Pertandingan kriket ketiga antara Selandia Baru dan Bangladesh yang sebelumnya akan dilaksanakan di Hagley Oval, Christchurch, tanggal 16 Maret dibatalkan atas alasan keamanan.[69]Tim Bangladesh berencana beribadah di Masjid Al Noor dan belum sempat masuk masjid ketika penembakan terjadi.[70][71] Para pemain menyelamatkan diri ke Hagley Oval dan berlindung di ruang ganti stadion.[72]
Di Dunedin, Armed Offenders Squad dari Kepolisian Selandia Baru menggeledah sebuah rumah di Andersons Bay setelah pelaku menulis di media sosial bahwa ia berencana menyerang Masjid Al Huda. Polisi mensterilkan area di sekitar kawasan Somerville Street dan mengevakuasi warga di dekat rumah tersebut. Universitas Otago juga menunda parade dies natalis ke-150 tanggal 16 Maret atas alasan keamanan.[73][74]
Reaksi
Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern menyebut insiden ini sebagai "tindak kekerasan ekstrem yang mengejutkan" dan "hari kelam Selandia Baru"[75][76][77]
Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, mengutuk peristiwa ini dan mencapnya sebagai "serangan teroris sayap kanan ekstremis yang kejam". Ia membenarkan bahwa pihak berwenang Australia telah menangkap seseorang yang diduga terlibat dalam serangan ini.[78][79][80]
Mengenai serangan ini, Ratu Elizabeth II juga mengutarakan kesedihannya yang mendalam, "Pangeran Philip dan saya menyampaikan perasaan duka cita yang mendalam kepada keluarga dan sahabat yang telah ditinggalkan."[81]
YouTuber PewDiePie berkicau di Twitter, "Saya merasa benar-benar muak karena nama saya diucapkan oleh orang ini.", sebagai respon terhadap sang penembak yang meminta para penonton videonya untuk "berlanggan ke PewDiePie" di awal siaran langsungnya.[82]
SenatorQueenslandFraser Anning berpendapat bahwa serangan ini terjadi karena adanya ketakutan yang terus meningkat akibat bertambahnya keberadaan Muslim sebagai akibat kebijakan imigrasi di Selandia Baru. Pernyataan ini menuai kekecewaan dari banyak masyarakat Australia, termasuk oleh Perdana Menteri Scott Morrison yang menilainya menjijikkan.[83]
Pengendalian senjata
Di Selandia Baru, hukum pengendalian senjata dimula sejak 1996, terlebih senjata semi-militer bergaya otomatis sebagai respon daripada pembantaian di Port Arthur.[84] PM Ardern, mengomentari soal penembakan ini dengan beberapa patah kata: "hukum persenjataan kita akan berubah.... Rakyat telah menantikan perubahan, dan saya mengakui hal ini."[85] Tak lama berselang setelah pernyataan Perdana Menteri di atas, David Parker, Jaksa Agung Selandia Baru menyatakan bahwa pemerintahan akan melarang pemakaian senapan semi-otomatis,[86] dan tanpa diduga ia menyatakan bahwa pemerintahan takkan mengakui apapun dan regulasi mengenai senjata semi-otomatis merupakan "salah satu isu" yang juga dipertimbangkan dalam urusan pemerintah.[87]