Artikel atau bagian ini sedang dalam perubahan besar untuk sementara waktu. Untuk menghindari konflik penyuntingan, dimohon jangan melakukan penyuntingan pada halaman ini selama pesan ini ditampilkan.
Halaman ini terakhir disunting pada 01.20, 17 Mei 2025 (UTC) (12 bulan lalu)– (hapus singgahan). Pesan ini dapat dihapus jika halaman ini sudah tidak disunting dalam beberapa jam. Jika Anda adalah penyunting yang menambahkan templat ini, harap diingat untuk menghapusnya setelah selesai atau menggantikannya dengan {{Akan dikerjakan}} di antara masa-masa menyunting Anda.
Bagan belakang uang kertas pecahan 50.000 rupiah yang menampilkan pelinggih meru di Pura Ulun Danu Bratan.
Pelinggih meru adalah bangunan utama di tempat ibadah umat HinduBali. Bangunan ini berbentuk menara dengan atap tumpang bertingkat dari ijuk (serat pohon aren) yang memiliki tiga sampai sebelas tingkatan. Pelinggih meru memiliki makna yang penting bagi masyarakat Hindu Bali karena menjadi perlambang Gunung Meru yang dipercaya sebagai tempat suci dan tempat bersemayamnya para dewa. Selain itu, bangunan ini juga bisa digunakan untuk menyimbolkan orang atau tokoh yang dianggap suci atau roh para leluhur.[1]
Dalam arsitektur Hindu India, pelinggih meru dianggap sepadan dengan shikhara (India Utara) atau vimana (India Selatan). Kebanyakan candi Hindu di Jawa dibangun mengikuti gaya Dravida sehingga banyak menggunakan elemen tersebut sebagai bagian utamanya, meski dengan bentuk yang sedikit berbeda. Contoh candi yang menggunakan elemen Dravida adalah Candi Prambanan, Candi Asu Sengi, Candi Umbul, Candi Gedong Songo, dan Candi Klero.
Deskripsi
Pelinggih meru dibangun di atas dasar batu setinggi satu meter. Di atasnya terdapat ruangan kayu yang diatapi dengan atap serat yang ukurannya semakin mengecil ke atas. Serat yang digunakan biasanya berasal dari ijuk atau serat aren hitam.[2]
Atap ijuk inilah yang menjadi ciri khas pelinggih meru. Atap pelinggih meru selalu berjumlah ganjil dan dipersembahkan untuk dewa yang dipuja di kuil tersebut. Jumlah atap meru bervariasi dari 3 tingkat hingga yang paling tinggi 11 tingkat.
Filosofi
Sebagai perlambang Gunung Meru, pelinggih meru dipercaya sebagai tempat singgah sementara para dewa selama upacara tertentu. Dalam Lontar Andha Bhuana, meru digambarkan sebagai penggabungan unsur ibu (me, meme) dan bapak (ru, guru). Penggabungan ini menjadikan meru sebagai sumber kekuatan yang menjadi cikal bakal segala sesuatu yang ada di bumi.[3]
“Matang nyan meru mateges, me, ngaran meme, ngaran ibu, ngaran pradana tattwa, muah ru, ngaran guru, ngaran bapa, ngaran purusa tattwa, panunggalannya meru ngaran batur kalawasan petak. Meru ngaran pratiwibha andhabhuana tumpangnya pawakan patalaning bhuana agung alit”.
Sehingga, meru berasal dari kata meme yang berarti ibu (pradana tattwa) dan guru yang berarti bapak (purusa tattwa). Penggabungannya berarti cikal bakal leluhur. Meru juga lambang alam semesta yang tingkatan (atap)nya merupakan simbol lapisan alam bhuana agung dan bhuana alit.[3]
Pelinggih meru yang bertingkat tiga biasanya dipersembahkan untuk arwah leluhur yang dituakan dan diagungkan. Pelinggih meru di Pura Taman Ayun melambangkan raja-raja Kerajaan Mengwi,[4] sementara pelinggih meru di Pura Luhur Uluwatu dipersembahkan untuk Dang Hyang Nirata, seorang pendeta abad ke-12 yang akhirnya juga didewakan sebagai Betara Sakti Wawu Rauh.[5]
Pelinggih meru yang bertingkat lima dibangun untuk dipersembahkan kepada Bhatara Mahajaya.
Pelinggih meru bertingkat sebelas biasanya dipersembahkan untuk dewa-dewa tertinggi, seperti tiga pelinggih meru di Pura Meru, Lombok, yang dipersembahkan untuk Trimurti, dan pelinggih meru di Pura Ulun Danu Bratan yang dipersembahkan untuk Siwa dan Parwati.
Fungsi lain
Pelinggih meru yang digunakan dalam upacara ngaben
Selain digunakan sebagai bangunan di pura, pelinggih meru juga digunakan sebagai menara kremasi jenazah dalam upacara ngaben. Pelinggih meru sendiri melambangkan surga yang akan dituju arwah almarhum. Tingginya bervariasi dari 10 hingga 20 meter. Semakin tinggi perlinggih meru yang digunakan, semakin tinggi status sosial keluarga almarhum.[6]
Atap tumpang tiga di Masjid Agung Demak
Pelinggih meru juga memengaruhi perkembangan arsitektur Islam. Masuknya Islam ke Jawa pada abad ke-15 dan ke-16 juga mengadopsi nilai-nilai filosofis bangunan pelinggih meru. Banyak masjid yang dibangun pada abad-abad tersebut memiliki atap tumpang, seperti Masjid Agung Demak yang memiliki atap tumpang tiga yang melambangkan Islam, Iman, dan Ihsan.[7]