Pasang surut Bumi (bahasa Inggris: Earth tide), dikenal juga sebagai pasang surut padatan Bumi (solid-Earth tide), pasang surut kerak (crustal tide), atau pasang surut daratan (land tide),[1] adalah deformasi periodik pada kerak Bumi yang disebabkan oleh gaya gravitasi Bulan dan Matahari. Tidak seperti pasang surut laut, fenomena ini melibatkan perubahan bentuk Bumi secara elastis, dengan amplitudo vertikal yang dapat mencapai sekitar 20 sentimeter.[2]
Bumi mengalami deformasi karena memiliki tingkat elastisitas tertentu. Apabila Bumi bersifat sepenuhnya kaku, fenomena ini tidak akan terjadi. Secara matematis, terdapat beberapa komponen pasang surut yang dapat diidentifikasi, tetapi hanya empat yang cukup besar untuk dapat diukur secara umum, yaitu pasang surut harian Bulan (lunar diurnal), pasang surut setengah harian Bulan (lunar semidiurnal), pasang surut harian Matahari (solar diurnal), dan pasang surut setengah harian Matahari (solar semidiurnal). Pasang surut harian memiliki periode sekitar 24 jam, sedangkan pasang surut setengah harian memiliki periode sekitar 12 jam.[3]
Dampak
Gerakan pasang surut Bumi yang teratur dan dapat diprediksi dimanfaatkan oleh ahli vulkanologi untuk melakukan kalibrasi dan menguji instrumen pemantauan deformasi gunung api yang sangat sensitif.[4][5] Pasang surut bumi dalam beberapa penelitian diduga berpengaruh terhadap frekuensi dan distribusi gempa bumi dan memicu aktivitas vulkanik.[6][7][8]
Amplitudo pasang surut setengah harian di daerah ekuator dapat mencapai sekitar 55 sentimeter, nilai yang penting dalam bidang geodesi menggunakan Global Positioning System (GPS), very-long-baseline interferometry (VLBI), dan pengukuran satellite laser ranging.[9] Fenomena ini juga memengaruhi laju rotasi Bumi serta gerak presesi dan nutasi, yang perlu diperhitungkan dalam pengukuran astronomi presisi tinggi.[10]
Dalam fisika partikel, pasang surut Bumi diperhitungkan dalam desain dan pengoperasian akselerator partikel besar,[11] seperti di CERN dan SLAC National Accelerator Laboratory, karena dapat memengaruhi kelengkungan lintasan dan energi berkas partikel.[12][13][14]
Fenomena serupa
Fenomena serupa juga terjadi pada benda langit lain, seperti planet dan satelit alami. Pada Bulan, amplitudo pasang surut padatan mencapai sekitar ±0,1 meter setiap bulan.[15] Efek ini berperan penting dalam dinamika jangka panjang sistem planet karena menyebabkan disipasi energi dan penguncian rotasi. Contohnya, Bulan terkunci dalam resonansi 1:1 dengan Bumi, sedangkan Merkurius berada dalam resonansi 3:2 dengan Matahari.[16] Fenomena serupa juga diduga terjadi pada banyak eksoplanet yang terperangkap dalam resonansi rotasi-orbit dengan bintang induknya.[17]
↑International Earth Rotation and Reference Systems Service (2010). Petit, Gérard (ed.). IERS Conventions (2010). IERS technical note. Frankfurt am Main: Verl. des Bundesamtes für Kartographie und Geodäsie. ISBN978-3-89888-989-6.
Artikel ini tidak memiliki konten kategori. Bantulah dengan menambah kategori yang sesuai sehingga artikel ini terkategori dengan artikel lain yang sejenis.