Paradigma angsa terbang (Jepang: 雁行形態論code: ja is deprecated , Hepburn: Gankō keitai-ron) adalah pandangan para cendekiawan Jepang mengenai perkembangan teknologi di Asia Timur yang memandang Jepang sebagai kekuatan utama. Paradigma ini dikembangkan pada 1930-an, tetapi memperoleh popularitas yang lebih luas pada 1960-an, setelah pencetusnya, Kaname Akamatsu[ja], menerbitkan gagagasannya dalam Journal of Developing Economies.[butuh rujukan]
Paradigma angsa terbang ketiga Akamatsu
Paradigma angsa terbang
Paradigma angsa terbang ketiga Akamatsu adalah sebuah model mengenai pembagian kerja internasional di Asia Timur yang didasarkan pada keunggulan komparatif dinamis. Paradigma ini menyatakan bahwa negara-negara Asia akan mengejar ketertinggalan dari Barat sebagai bagian dari suatu hierarki regional, tempat produksi barang yang terkomodifikasi akan terus berpindah dari negara-negara yang lebih maju ke negara-negara yang kurang maju. Negara-negara terbelakang di kawasan tersebut dapat dianggap "berbaris secara berurutan di belakang negara-negara industri maju sesuai dengan urutan berbagai tahap pertumbuhan mereka dalam pola terbang angsa liar."[1] Angsa pemimpin dalam pola ini adalah Jepang sendiri, sedangkan lapis kedua negara terdiri atas ekonomi yang sedang mengalami industrialisasi (Korea Selatan, Singapura, Taiwan, dan Hong Kong). Setelah kedua kelompok tersebut terdapat negara-negara utama ASEAN: Thailand, Malaysia, Indonesia, dan Filipina. Terakhir, negara-negara utama yang paling kurang berkembang di kawasan tersebut, seperti Tiongkok, Vietnam, dan lain-lain, membentuk barisan belakang dalam formasi tersebut.[2]
Pendorong utama dalam model ini adalah "keharusan pemimpin untuk melakukan restrukturisasi internal"[3] akibat meningkatnya biaya tenaga kerja. Ketika keunggulan komparatif (dalam skala global) dari "angsa pemimpin" menyebabkannya semakin beralih dari produksi padat karya menuju kegiatan yang lebih padat modal, negara tersebut memindahkan kegiatan produksinya yang berproduktivitas rendah kepada negara-negara yang berada lebih rendah dalam hierarki, dalam pola yang kemudian terulang di antara negara-negara pada lapis yang lebih rendah. Dorongan untuk pembangunan selalu berasal dari lapis teratas sehingga banyak pihak menyebut paradigma tersebut sebagai model dari atas ke bawah.[4] Paradigma tersebut telah terbukti menjadi alat yang berguna untuk menggambarkan pola produksi regional di Asia Timur, karena industri seperti tekstil telah berpindah bukan hanya dari Jepang—negara Asia Timur yang paling maju—tetapi kemudian juga dari Korea Selatan, Taiwan, dan sebagainya. Negara-negara lapis kedua ini kini telah memantapkan diri, misalnya, dalam industri otomotif dan produksi elektronika konsumen yang maju dan sejenisnya.
Mekanisme transfer teknologi merupakan bagian yang paling kurang dikembangkan dalam kerangka Akamatsu. Meskipun demikian, ia menyatakan bahwa efek demonstrasi dari perdagangan internasional memainkan peranan penting, demikian pula "naluri hewani para pengusaha" di negara-negara berkembang. Belakangan ini, versi paradigma yang telah dimodifikasi—seperti yang dikemukakan dalam Ozawa (1995)—menekankan pentingnya perusahaan transnasional dalam bidang ini.[5]
Mengenai urutan internal negara-negara dalam model tersebut, Akamatsu tidak menganggap posisi relatif mereka sebagai sesuatu yang tetap secara permanen, melainkan secara inheren tidak stabil. Gagasan ini kemungkinan besar berkaitan dengan pengalaman perkembangan Jepang pada awal abad ke-20, ketika negara tersebut melesat dari negara yang tertinggal secara teknologi menjadi kekuatan industri yang matang. Namun, cendekiawan lain menekankan stabilitas dan keselarasan pertumbuhan berkelompok yang dibayangkan dalam paradigma angsa terbang, yang menyiratkan bahwa suatu negara akan sulit berpindah dari satu lapis ke lapis lainnya.[6]
Relevansi paradigma Akamatsu
Teori Akamatsu menekankan diferensiasi ekonomi dunia, yang menyebabkan penyebaran cepat teknik-teknik baru ke negara-negara industri yang sedang bangkit. Proses ini dimulai dengan impor komoditas baru oleh negara-negara tersebut. Seiring waktu, teknik dan barang modal juga diimpor, dan industri-industri yang homogen mulai terbentuk. Penyeragaman baik industri maupun pertanian menimbulkan persaingan sengit dan penuh konflik antara Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang pada seperempat terakhir abad ke-19. Ketika inovasi terjadi dalam beberapa industri di suatu negara maju, investasi terkonsentrasi di sana sehingga menyebabkan peningkatan dalam siklus perdagangan. Inovasi menyebabkan peningkatan ekspor, sementara kemakmuran negara tersebut menciptakan dan meningkatkan impor bahan mentah dan bahan pangan.[7] Akamatsu melihat adanya gerakan berlawanan di bagian dunia lainnya, yang berpusat pada meningkatnya produksi emas, yang menurutnya menyebabkan peningkatan permintaan efektif dan semakin mendorong ekspor negara yang melakukan inovasi. Dengan demikian, produksi dan perdagangan dunia berkembang, harga meningkat, dan terjadi kenaikan siklus perdagangan jangka panjang di seluruh dunia.
Namun, inovasi menyebar dari negara-negara yang melakukan inovasi ke negara-negara lain, yang mengarah pada perkembangan industri di negara-negara tersebut, sehingga menimbulkan hubungan yang penuh konflik dengan industri-industri di negara inovator. Ekspor negara inovator mengalami stagnasi, dan pada tingkat dunia terdapat kecenderungan menuju produksi berlebih, harga menurun, serta tingkat pertumbuhan produksi dan perdagangan merosot. Menurut Akamatsu, fase A pertama yang menanjak dari siklus Kondratiev merupakan periode diferensiasi dalam struktur ekonomi dunia, sementara "periode menurun" atau fase B dari siklus Kondratiev, menurut Akamatsu, bertepatan dengan proses penyeragaman dalam struktur ekonomi dunia.
Bagi Akamatsu, struktur khas hubungan Pusat–Periferi ditandai oleh kenyataan bahwa negara terbelakang akan mengekspor produk primer dan mengimpor barang industri untuk konsumsi. Kemudian, negara terbelakang akan berusaha memproduksi barang yang sebelumnya diimpor, mula-mula dalam bidang barang konsumsi dan kemudian dalam bidang barang modal. Sebagai tahap keempat dalam proses tersebut, negara terbelakang akan berusaha mengekspor barang modal. Meskipun demikian, akan terdapat kecenderungan diferensiasi "maju" dalam ekonomi dunia karena industri barang modal di negara-negara maju akan terus berkembang lebih jauh, sehingga menimbulkan "perbedaan ekstrem dalam biaya komparatif". Pola terbang angsa liar akan mencakup tiga subpola: pertama adalah urutan impor – produksi dalam negeri – ekspor. Kedua adalah urutan dari barang konsumsi menuju barang modal dan dari barang mentah dan sederhana menuju barang yang kompleks dan telah disempurnakan. Ketiga adalah urutan negara-negara maju hingga negara-negara terbelakang sesuai dengan tahap pertumbuhan masing-masing.
Namun, siklus-siklus ini juga memiliki sisi yang lebih kelam dan suram—kondisi ketidakseimbangan tersebut, menurut Akamatsu, akan diatasi melalui impor, sehingga menimbulkan ketidakseimbangan dalam neraca pembayaran serta tekanan untuk meningkatkan ekspor produk primer guna memperbaiki neraca tersebut. Ketimpangan juga akan menyebabkan pergeseran produksi dari industri dalam negeri di negara terbelakang menuju sektor ekspor; yang pada akhirnya juga menimbulkan masalah kelebihan kapasitas pasokan di negara terbelakang dan sebagainya.
Pada akhirnya, Akamatsu meyakini adanya dialektika Hegelian antara tiga ketimpangan dasar yang mencirikan proses pembangunan: ketimpangan pembangunan, ketimpangan siklis antara negara kaya dan negara miskin, serta ketimpangan struktural.
Kritik
Stagnasi keuangan Jepang yang terus berlangsung dan semakin dalam telah menimbulkan keraguan terhadap penerapan model pembangunan ekonomi Jepang. Ekonom Terutomo Ozawa berpendapat bahwa keberhasilan ekonomi awal Jepang ditopang oleh lembaga-lembaga keuangan yang kemudian menyebabkan kelesuan ekonomi negara tersebut saat ini.[8]