Paolo Rudelli lahir pada 16 Juli 1970 di Gazzaniga, Lombardy, Italia.[1] Ia berasal dari Gandino di Provinsi Bergamo.[2] Ia masuk seminari lokal pada masa remaja dan merampungakn persiapannya untuk imamat di seminari mayor Keuskupan Roma.[3] Pada 10 Juni 1995, ia ditahbiskan menjadi imam Keuskupan Bergamo.[1] Ia meneruskan pembelajaran teologi di Universitas Kepausan Gregorian, Roma, tempat ia menerima gelar doktor dalam teologi moral dan lisensiat dalam hukum kanon.[2]
Karir diplomatik
Pada 1998, ia memulai persiapan untuk penugasan diplomatik di Akademi Gerejawi Kepausan. Pada 1 Juli 2001, ia masuk penugasan diplomatik Takhta Suci. Ia mengabdi di nunsiatur-nunsiatur di Ekuador (2001–2003) dan Polandia (2003–2006) dan kemudian dalam Seksi untuk Urusan Umum Sekretariat Negara.[2] Ia juga menjabat sebagai Bendahara Akademi Gerejawi Kepausan dari 2009 sampai 2014.[3]
Pada 20 September 2014, Paus Fransiskus mengangkatnya menjadi Pengamat Permanen Takhta Suci untuk Dewan Eropa di Strasbourg,[1] tepat sebulan sebelum Fransiskus mengunjungi Strasbourg.[2]
Pada 3 September 2019, Paus Fransiskus mengangkatnya menjadi uskup agung tituler dan memberikannya gelar nunsius apostolik.[4] Ia digantikan di Strasbourg pada 21 September 2019 oleh Marco Ganci.[5] Ia menerima penahbisan episkopal dari Fransiskus pada 4 Oktober.[6] Pada 25 Januari 2020, Paus Fransiskus mengangkatnya menjadi Nunsius Apostolik untuk Zimbabwe.[7]
Pada 19 Juli 2023, Paus Fransiskus mengangkatnya menjadi nunsius apostolik untuk Kolombia.[8]