Sejarah telah mencatat tentang keberadaan Pabrik Gula di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta yang dimulai pada masa Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda. Jumlah pabrik gula yang pernah berdiri di wilayah Yogyakarta berjumlah 19 pabrik. Akan tetapi saat ini dari 19 pabrik gula tersebut hanya satu pabrik gula saja yang masih aktif memproduksi gula, yakni PG Madukismo baru. Itulah alasan mengapa masyarakat Yogyakarta hanya mengetahui PG Madukismo sebagai satu-satunya pabrik gula yang pernah berdiri diwilayah Jogja.
Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki total area seluas atau hanya 3.185,8 Km2 terdapat begitu banyak Pabrik Gula, sehingga berdampak pada sajian kuliner di D.I.Yogyakarta yang mayoritas memiliki citarasa manis. Sembilan belas pabrik gula yang pernah berdiri diwilayah Yogyakarta di antaranya adalah: PG Medari, PG Cebongan, PG Sewugalur, PG Gesikan, PG Bantul, PG Gondanglipuro, PG Barongan, PG Padokan, PG Demakijo, PG Rewulu, PG Sedayu, PG Klaci, PG Sendangpitu, PG Kedaton Plered, PG Pundong, PG Kalasan, PG Randugunting, PG Wonocatur, PG Beran.[1]
Gedung Pabrik Gula Medari
Ketika tanaman tebu termasuk komoditas dalam program Tanam Paksa atau Cultuur-Stelsel (1830-1850), maka bermulalah Industri Gula di Indonesia. Baik Pabrik Gula yang milik pemerintah Hindia Belanda maupun swasta yang bertujuan untuk mengelola hasil panen perkebunan tebu menjadi gula. Hal ini didukung dengan dimulainya era Liberalisme (1870) dan diperkenalkan sistem Hak Sewa Tanah untuk masa sewa selama 70 tahun. Sistem transportasi yang menggunakan kereta api juga dibangun untuk mendukung dalam hal penggangkutan hasil industri gula, termasuk Lori pengangkut batang tebu.
Pabrik Gula Medari
Pegawai PG Medari
Pabrik Gula (PG) Medari merupakan salah satu pabrik gula yang dibangun oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Terletak di Caturharjo, Sleman, Yogyakarta, rencana pembangunan pabrik gula ini muncul pada tahun 1906 dan mulai dibangun pada tahun 1908 oleh Koloniale Bank.[2] Letaknya dekat dengan jalur kereta api Yogyakarta-Magelang-Ambarawa-Kedungjati yang dibangun oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Untuk mengakomodasi kegiatan produksi pabrik, di Stasiun Medari dibangun percabangan ke PG Medari. Keberadaan jalur cabang ini awalnya memudahkan proses pendatangan mesin-mesin pabrik buatan Machinefabriek Gebr Stork & Co menuju ke lokasi pembangunan pabrik. Setelah pabrik beroperasi, percabangan ini digunakan pula untuk mengangkut produksi seperti gula dan molase atau tetes tebu.[3]
PG Medari juga merupakan salah satu pabrik gula terbesar di Yogyakarta dengan luas ladang perkebunan mencapai 2.363 bouw atau 1.654 hektar. Luas tersebut bertambah sehubungan dengan pembelian lahan perkebunan di sekitarnya pada tahun 1920. Penambahan luas kebun ini selanjutnya diikuti dengan pembaruan mesin pabrik, yang sebelumnya menggunakan mesin uap kemudian diperbarui menjadi mesin listrik yang sumbernya berasal dari pembangkit. Di samping itu dibangun pula cerobong asap baru setinggi 45 meter pada tahun 1921.
Akhir Pabrik Gula Medari
Pada tahun 1929 perekonomian dunia mengalami kelesuan yang disebabkan oleh anjloknya bursa saham di New York waktu itu. krisis moneter global yang disebut dengan Mallaise ini berdampak pada Hindia – Belanda kehilangan negara tujuan ekspor, yang kemudian diikuti dengan pembatasan produksi gula. Sekitar tahun 1931 terjadi kesepakatan perdagangan gula yang dikenal dengan Charbourne Agreement. Salah satu isi perjanjan itu menyebutkan bahwa Pemerintah Hindia Belanda diharuskan untuk mengurangi pasokan produksi gula di Jawa dari sekitar 3 juta ton menjadi 1.4juta ton pertahun. Perjanjian ini tentu berdampak pada keberadaan Pabrik-pabrik Gula di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sehingga beberapa Pabrik Gula terpaksa ditutup untuk mengurangi biaya produksi dan beban perusahaan. Hingga akhirnya tinggal delapan Pabrik Gula yang dipertahankan di antaranya adalah PG. Tanjungtirto, PG. Kedaton Pleret, PG. Padokan, PG. Gondanglipuro,PG. Gresikan, PG. Cebongan, PG. Beran dan PG. Medari. Sejarah berlanjut hingga peristiwa Agresi Militer II ketika tentara Belanda ingin menduduki kembali wilayah Yogyakarta setelah proklamasi kemerdekaan. Peristiwa perjuangan rakyat di Yogyakarta ini mengharuskan menutup akses masuk dengan merusak jembatan, jalan, untuk menghalangi mobilisasi tentara Belanda hingga perusakan bekas Pabrik Gula agar tidak digunakan sebagai lokasi pertahanan. Hal tersebut menjadi salah satu faktor hilangnya bekas bangunan yang pernah menjadi saksi sejarah kejayaan produksi gula. Kini banyak pabrik gula yang sudah rata dengan tanah, beralih fungsi dan menjadi lokasi pemukiman penduduk.[4]
Gedung Bekas Pabrik Gula Medari
SMP N 1 Sleman | Bekas Pabrik Gula (PG) Medari
Merujuk pada peta lama tahun 1933, lokasi PG Medari sekarang telah berubah menjadi pabrik tekstil GKBI. Di sebelah utara pabrik tekstil ini, dulu terdapat emplasemen lori yang cukup luas. Pada waktu itu, emplasemen lori tersebut digunakan oleh PG Medari untuk membongkar tebu dari perkebunan sekitar. Di bekas PG Medari, masih ada beberapa bangunan bekas pabrik yang sekarang telah dialihfungsikan. Rumah administratur atau kepala pabrik gula kini telah menjadi bangunan SMP Negeri 1 Sleman. Lalu bangunan rumah dinas yang lokasinya tak jauh dari pabrik kini telah beralih fungsi, ada yang digunakan untuk sekolah, markas militer,[5] ada juga yang dibiarkan kosong.[6]