Menjalankan bus perkotaan: Arion Paramita
Mangaradja Haolanan Hutagalung lahir dan dibesarkan di Tapanuli, Sumatra Utara dalam lingkungan keluarga sederhana. Ia bahkan pernah menjadi petani karet. Sebagai orang kepercayaan dari Jenderal Maraden Panggabean dan Jenderal T.B. Simatupang, ia pun akhirnya merantau ke Jakarta pada tahun 1957 dengan tekad untuk memperbaiki taraf hidup. Berbekal semangat dan ketekunan, Mangaradja memulai usahanya dari sebuah toko kecil yang menjual kebutuhan sandang dan pangan di daerah Jakarta. Ketekunan dan kemampuan membaca peluang menjadi kunci keberhasilannya dalam merintis bisnis di ibu kota yang saat itu sedang berkembang pesat..[1][2]
Perjalanan hidup Mangaradja mencapai titik penting ketika Jakarta dipercaya menjadi tuan rumah Pesta Olahraga Asia 1962. Pada saat itu, kebutuhan akan sistem transportasi umum meningkat tajam, dan pemerintah memercayakan kepadanya tanggung jawab untuk menyiapkan armada angkutan kota yang memadai. Dibentuklah CV Kawan & Co., yang aktif hingga tahun 1968.[1][3] Melalui pengalaman ini, lahirlah cikal bakal perusahaan transportasi yang kelak dikenal sebagai PT Arion Paramita, didirikan secara resmi pada 10 Maret 1969. Perusahaan ini mendapat penugasan sebagai operator bus perkotaan di wilayah DKI Jakarta. Arion Paramita menjadi salah satu pelopor dalam penyediaan transportasi umum modern di Jakarta pada era awal Orde Baru, di tengah minimnya infrastruktur transportasi yang terorganisir.[3]
Namun perjalanan usaha tersebut tidak selalu mulus. Pada tahun 1979, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memutuskan untuk mengambil alih delapan perusahaan swasta penyedia angkutan umum, termasuk usaha milik Mangaradja. Dari total 175 unit bus yang dikelola Arion, seluruh armada diambil alih oleh pemerintah dengan kompensasi sebesar Rp2 miliar.[1] Keputusan tersebut membuat bisnis transportasi keluarga Mangaradja harus berhenti sementara, dan menjadi titik balik dalam perjalanan hidup Mangaradja. Meskipun sempat mengalami keterpurukan, semangat pantang menyerah yang dimilikinya membuatnya segera bangkit dan mendiversifikasi arah bisnisnya. Ia mulai melirik sektor lain seperti manufaktur, lahan yasan, dan perdagangan.[3][2]
Mengoperasikan bus pariwisata
Tahun 1982, Departemen Perhubungan Republik Indonesia memberi izin kepada PT Arion Paramita, untuk berusaha kembali, di sektor transportasi nontrayek (bus pariwisata dan carteran).[3]
Mangaradja meninggal dunia pada 7 Mei 1987, meninggalkan warisan besar berupa nilai-nilai kerja keras, kejujuran, dan dedikasi kepada keluarganya. Salah satu pesan terkenalnya adalah larangan membagi-bagi perusahaan warisan, tetapi harus tetap menjaganya sebagai satu kesatuan dan mengembangkannya bersama. Wasiat tersebut menjadi pedoman moral dan manajerial bagi anak-anaknya dalam meneruskan Arion Paramita Group. Dua di antara anaknya, Murphy dan Maruli, kemudian tampil sebagai penerus generasi kedua yang membawa visi profesionalisasi manajemen keluarga.[1]
Lengan transportasi Arion Paramita Group sekarang dikelola oleh anak usahanya yang bernama Arion Indonesia Transport, yang bergerak di bidang transportasi pariwisata dan layanan antar-jemput karyawan. Armada bus Arion dikenal luas di berbagai kota besar di Indonesia, melayani kebutuhan wisata masyarakat, gathering perusahaan, hingga karyawisata. Perusahaan otobus ini juga dikenal biasa meremajakan armadanya agar tetap tampil modern sekaligus memenuhi standar keselamatan dan kenyamanan terkini. Misalnya pada 2016, mereka merilis bus berkaroseri Laksana Legacy Sky SR-2.[4]