Setelah kegagalan Gerakan 30 September,Suharto beserta jajarannya dengan cepat menyalahkan PKI sebagai pelaku utama kudeta tersebut. Pada tanggal 3 Oktober 1965 Sukarno menunjuk Suharto untuk melakukan operasi militer guna menumpas pergerakan PKI di Indonesia. Di tanggal 10 Oktober 1965 Suharto mendirikan Kopkamtib dengan tujuan melakukan berbagai operasi militer termasuk Operasi Merapi dalam melawan PKI.[2]
Terbentuknya Komando Merapi
Pada tanggal 1 Desember 1965 guna mengintensifkan operasi pencarian dan penghancuran terhadap sisa gerombolan PKI,Sarwo Edhie Wibowo sebagai komandan membentuk struktur komando yang disebut sebagai Komando Merapi yang memiliki susunan sebagai berikut:[3]
Kompi Panzer 2 Ton (dibantu oleh 3 helikopter angkatan darat)
Operasi
Untuk meredam penyerangan dan pembunuhan yang dilakukan oleh gerombolan PKI di Klaten,Surakarta,dan Boyolali, maka Komando Merapi mengerahkan beberapa massa. Ratusan pemuda yang berada di kampung dilatih oleh RPKAD tentang cara menggunakan senjata dan keamanan di kampung masing-masing. Mereka dilatih juga untuk mengumpulkan informasi guna membantu ABRI dalam melawan PKI,taktik ini berhasil dan rakyat berhasil menumpas gerombolan PKI yang mengganggu mereka.[3][4]
Pada tanggal 8 Desember 1965 komando operasi merpati menerima informasi bahwa Kolonel Sahirman dan pasukannya berada di Merbabu. Untuk melakukan operasi pengejaran terhadap pasukan Sahirman maka dilakukan kontak dengan Battalion E bermarkas di Boyolali, Battalion E yang diikut oleh para permuda yang dilatih RPKAD menewaskan sebagian dari kelompok tersebut pada pukul 5 pagi. Selain menewaskan sebagian orang mereka juga menangkap seorang Gerwani yang bernama Lestari dan mengambil sebuah pistol milik Letkol Usman.[3] Pada pukul 11 siang Komando Merapi melakukan pengecekan di sekitar daerah tersebut dan menemukan yang tewas adalah:[4]
Di hari itu juga ditangkap nya Letnan Udara Soekarno dengan dukungan oleh rakyat,dan berhasil menyita sebuah pistol dari Letnan tersebut. Sisa gerombolan PKI yang melarikan diri diperkirakan berjumlah 9 orang. Pada tanggal 10 Desember 1965 pasukan RPKAD melakukan operasi pengejaran di daerah Cemorosewu, di hari yang sama pasukan RPKAD menangkap seorang gerombolan PKI bernama Pawirdono dan menyita sebuah senjata Sten. Pada tanggal 13 Desember 1965 pasukan Indonesia kembali melakukan operasi pengejaran di daerah tersebut.[5]
Dengan tekanan terus menerus dari pasukan Battalion E dan F para gerombolan PKI yang berada di daerah cemorosewu akhirnya para gerombolan PKI tersebut memutuskan untuk meninggalkan wilayah tersebut dan disergap oleh pasukan Indonesia lalu ditembak mati oleh para pasukan RPKAD dan Battalion E dan F.[5]
Dampak
Dengan selesainya Operasi Merapi para pasukan RPKAD akhirnya meninggalkan wilayah Jawa Tengah pada tanggal 25-30 Desember 1965. RPKAD menyerahkan keamanan di wilayah Jawa Tengah kepada Kodam Diponegoro dan pulang ke Jakarta untuk menerima tugas lain.[6][7][8]
Setelah Operasi Merapi para pasukan Diponegoro melancarkan berbagai operasi militer guna menumpas pergerakan gerombolan PKI di sekitaran daerah tersebut seperti Operasi Trisula dengan misi menumpas pergerakan PKI di wilayah Blitar. Serta melancarkan Operasi Kikis di daerah perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur yang menggabungkan unsur militer,territorial,dan intelijen.[9][10]
↑Sejarah nasional Indonesia. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasion. 1984. hlm. 401.