Dia pernah bersekolah di Sekolah Adat dan MULOPadang, selanjutnya ia ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan ke HBS, namun tidak selesai karena Jepang telanjur menduduki Indonesia. Dia-pun kembali ke Padang dan masuk pendidikan calon perwira bentukan Jepang, Gyu Gun angkatan pertama. Dalam pendidikan militer itu Munir Latief satu angkatan dengan Dahlan Djambek, Ahmad Husein, Ismail Lengah, Dahlan Ibrahim dan lainnya. Selesai dari pendidikan tersebut dia mendapatkan pangkat Letnan Dua.[butuh rujukan]
Pada tahun 1946 di Bukittinggi didirikan Sekolah Pendidikan Opsir dan Mayor Munir Latif diangkat sebagai Direktur Pendidikan Opsir menggantikan pejabat sebelumnya yaitu Kolonel Ismail Lengah. Di bawah pimpinan Munir dilaksanakan pendidikan angkatan kedua yang diikuti 60 orang calon kadet. Pada tahun 1947 Mayor Munir Latif dipindahkan dan diangkat menjadi Komandan Batalyon III/Resimen II di Sungai Penuh. Selanjutnya ia dimutasi ke Bukittinggi dan memimpin Pendidikan Divisi IX.[butuh rujukan]
Gugur
Pada tgl 14 Januari 1949 di Lurah Kincia, Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, Munir Latief mengikuti rapat yang dipimpin oleh Chatib Sulaiman sebagai Ketua Markas Pertahanan Rakyat Daerah. Rapat tersebut sebagai bagian dari perjuangan PDRI membahas strategi perjuangan dalam menghadapi Agresi Militer Belanda II.[butuh rujukan]
Dalam suasana beristirahat seusai rapat, pada tgl 15 Januari 1949 pada subuh harinya sewaktu hendak shalat subuh, tiba-tiba pasukan Belanda datang menyerang dan memberondong para pejuang itu. Letnan Kolonel Munir Latief dan beberapa pimpinan pejuang lainnya beserta puluhan anggota pasukan Barisan Pengawal Nagari dan Kota (BPNK) tewas seketika.[butuh rujukan]